
Pagi harinya ketika Annisa baru membuka mata sudah ia dapati Safira yang terlihat segar dan cantik seperti terakhir kali mereka bertemu. Semalam karena baru datang dari perjalanan jauh mungkin membuatnya cukup kelelahan.
"Pagi Kak. " Sapanya ramah seraya mendekati Annisa dengan semangkok bubur hangat di atas bagi yang di bawanya. Tidak lupa juga ada segelas susu hangat yang masih mengepul uap panasnya.
Tersenyum canggung, ingatan akan tangisannya tadi malam membuat Annisa merasa malu pada Safira. "Pagi.. Safira." Sapa Annisa balik dengan suara yang sedikit gugup.
Tersenyum maklum, Safira tahu betul jika apa yang di pikirkan Annisa. Kakaknya ini mudah sekali merasa canggung dan gugup ketika bersamanya, mungkin ini karena ia sedikit mirip dengan Umi. Orang-orang yang ada di sekitarnya juga mengatakan hal itu. "Saatnya sarapan pagi, Kakak gak boleh ngeluh dengan makanan kali ini dan harus langsung habis." Ucap Safira memperingatkan Kakaknya agar tidak membuang-buang makanan.
"Akan Kakak coba." Walaupun ragu, Annisa tidak ingin mengecewakan harapan Safira.
"Safira, kedatangan mu ke sini apakah Umi dan Abi mengetahuinya?" Lalu dengan gerakan kaku ia membawa setengah sendok bubur ke dalam mulutnya.
Tertegun, Safira kemudian meraih handphonenya yang sudah ia abaikan dari semalam. "Mereka tahu aku pergi dan tidak tahu aku aku pergi ke tempat mu." Jawab Safira tidak menyembunyikan apapun dari Annisa.
Menundukkan kepalanya, ada rasa bersalah yang tergambar jelas di wajah pucat Annisa yang sudah terlihat lebih baik dari kemarin. "Kakak pikir seharusnya kamu pulang saja Safira karena Umi dan Abi akan sangat marah jika mereka tahu kamu ada di sini." Safira adalah saudaranya jadi wajar saja Annisa merindukannya akan tetapi ketika mengingat kemarahan Umi dan Abi kepadanya, Annisa pikir Safira tidak bisa menanggung semua itu hanya karena ia datang ke sini. Ia tidak ingin melibatkan Safira juga ia tidak ingin orang tuanya membenci Safira.
Meletakkan handphonenya, "Itu jika mereka tahu, tapi bagaimana jika mereka tidak tahu?" Bahkan jika Annisa khawatir kedua orang tuanya tidak akan tahu keberadaan Safira di sini.
Siapa yang akan begitu gamblang mengatakan kepada kedua orangtuanya tentang keberadaannya di sini?
"Jika mereka tidak tahu-"
"Baik jika mereka tidak tahu, aku akan merasa lebih santai di sini menemani Kakak. Bahkan jika mereka tahu sakalipun lalu apa? Bukankah aku ke sini untuk bertemu saudara ku?. Lagipula aku juga di sini hanya beberapa hari dan tidak seperti sepuluh tahun saja." Potong Safira marah. Bahkan jika Umi dan Abi tahu keberadaannya di sini memangnya kenapa?
Apakah ia salah mengunjungi Kakaknya yang sudah lama mereka tidak pernah bertemu. Lagipula ia juga di sini hanya beberapa hari, jadi mengapa mereka harus marah?
Baiklah meskipun mereka marah sekalipun Safira benar-benar tidak perduli tentang semua itu. Bukankah sudah ia bilang jika kali ini ia akan bertindak egois. Setelah mereka semua bersikap egois seperti itu apakah Safira akan diam saja melihat semua itu?
Sayang sekali tidak karena kali ini adalah kesempatan Safira untuk menggunakan bagiannya. Ia ingin egois.
Tidak berani mengangkat kepalanya, "Safira, mungkin kamu tidak bisa mengerti ini Dek. Umi dan Abi tidak bisa menerima Kakak lagi karena Kakak sudah mengecewakan mereka berdua. Bahkan Abi yang tidak pernah marah juga mengatakan bahwa Kakak ini adalah kegagalan mereka dalam membesarkan anak, jadi Kakak pikir kehadiran mu di sini akan membuat mereka marah dan Kakak tidak bisa membiarkan itu terjadi." Sampai kapanpun kata-kata penuh kecewa Umi dan Abi tidak akan pernah bisa Annisa lupakan. Ini adalah sebuah kekecewaan kedua orang tuanya yang ia kasihi jadi begitu menyakitkan rasanya setiap mengingat ekspresi marah dan kecewa mereka.
Annisa tidak bisa menyembunyikan perasaan bersalahnya.
"Jadi apakah yang dikatakan Umi dan Abi tentang mu itu benar?" Tanya Safira ingin tahu.
Ia menatap Annisa dengan ekspresi tersenyum tapi tidak tersenyum, menciptakan lubang yang dalam dan tidak berujung di gelapnya mata hitam indah itu.
Terkejut, "Apa maksud mu?" Annisa tidak mengerti.
"Kau sudah tidak suci lagi dan kau berani menggoda calon suami Saqila, apakah semua ini benar?" Ia ingin tahu kebenaran itu datang dari mulut Kakaknya sendiri meskipun ia tahu apa yang jawaban yang akan diberikan Annisa tapi tetap saja itu akan terdengar berbeda jika Annisa sendiri yang mengatakannya secara langsung.
Sejenak, Annisa bimbang harus mengatakan kebenarannya atau tidak karena ia takut Safira akan bersikap seperti yang lain. Ia takut Safira akan mengelak semua yang ia katakan padahal semuanya adalah kebenaran.
Tapi bukankah Safira mengatakan ia percaya pada ku?
Menghela nafas gugup, Annisa memberanikan dirinya menatap langsung mata gelap Safira yang indah namun menyiratkan sebuah jurang yang tidak berujung. Sejenak Annisa tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan Safira.
"Itu tidak benar, itu tidak benar Safira. Kakak tidak seperti yang mereka katakan karena Kakak masih suci. Adapun saat malam dimana Dimas meninggalkan Kakak di kamar pengantin, Kakak tidak tahu dengan jelas alasan ia pergi karena ia menolak mengatakannya. Ia hanya bilang bahwa kita tidak bisa bersama lagi, itu saja. Ini adalah kebenaran Safira tapi mereka semua tidak mempercayai apa yang aku katakan meskipun aku mengatakannya berulang-ulang kali mereka akan selalu membantah berulang-ulang kali. Adapun mengenai Mas Gio, saat itu Kakak tidak tahu orang yang selama ini sering bertemu kakak adalah Mas Gio. Bahkan semua pertemuan yang tidak terjadi adalah sebuah ketidak sengajaan jadi mengapa Saqila mengatakan bahwa Kakak merayu Mas Gio?. Bukankah Mas Gio bukan calon suaminya karena itulah yang ku dengar dari Mas Gio, ia masih belum melamar siapa pun jadi mengapa Saqila mengatakan hal itu kepada Umi dan Abi?" Entah mendapatkan keberanian dari mana Annisa akhirnya mengatakan semua yang terkubur di dalam hatinya. Rasa sakit karena tidak dipercaya, dipandang hina, diremehkan meluap begitu saja di depan Safira.
Mengapa orang-orang begitu naif dan bersikap sok tahu dengan segala yang ia alami?
Dan kenapa Saqila mengatakan hal buruk itu kepada Umi dan Abinya?
Annisa tidak bisa mengerti semua ini!
Tersenyum lembut, "Aku mengerti, Kakak tidak perlu mengkhawatirkan apapun sekarang karena semuanya akan segera berakhir. Penderitaan dan rasa sakit Kakak akan segera berakhir jadi bersabarlah sedikit lagi." Ucap Safira tulus. Sekarang setelah semua yang dikatakan Kakaknya Safira bisa bernafas dengan lega karena seperti yang ia simpulkan bahwa Annisa tidak tahu apa-apa dengan semua masalah ini. Bahkan kabar baiknya adalah Annisa masih belum mengerti semua yang terjadi menimpanya adalah karena seseorang ingin menghancurkannya.
"Kalau begitu aku keluar dulu sebentar ke kantin, ada makanan ringan yang ingin ku beli." Ucap Safira bangun dari kursinya setelah mendapatkan anggukan dari Annisa. Melangkah pasti di tangan kanannya ia dengan gerakan alami membawa handphone genggam yang sedari tadi ia abaikan selama melakukan percakapan dengan Annisa.
Menutup pintu kamar Annisa, ia langsung membawa langkahnya menjauh dari kamar Annisa.
"Mas mendengarnya bukan?" Tanya Safira tenang setelah menjaga jarak yang cukup dengan kamar Annisa.
"Sebenarnya kau tidak perlu melakukannya Safira karena seperti apapun Annisa aku akan tetap menikahinya. Tapi tetap saja aku harus berterima kasih atas semua usaha mu." Orang yang ada di seberang sana berterima kasih dengan tulus kepada Safira walaupun sebenarnya ia tidak perduli dengan usaha yang dilakukan oleh Safira.
"Aku tahu bahwa Mas Gio memang tidak perduli dengan informasi ini." Abai, ada senyuman kepuasan yang tercetak manis di wajah cantik Safira.
"Dan kau tetap saja melakukannya." Suara Gio pasrah di ujung sana.
"Itu karena aku ingin Annisa bahagia." Elak Safira dengan suara yang mengecil.
"Maka aku tidak akan pernah mengecewakan mu." Ucap Gio meyakinkan Safira.
"Mas Gio, apakah aku bisa meminta bantuan mu?" Tanya Safira terdengar serius yang langsung direspon serius juga oleh Gio yang ada di seberang sana.
"Katakan saja." Jawab Gio terdengar antusias.
Tersenyum tipis, "Safira ingin Mas Gio menyelidiki ini, apakah Mas bisa?"
Bingung, "Tentang apa itu?"
Mengalihkan pandangannya menatap kamar rawat inap Annisa, "Tolong selidiki Reina apakah ia pernah atau menyembunyikan racun nate." Ucapnya terdengar dingin.
Tertegun, "Safira, apakah maksud mu Reina-"
"Aku yakin. Jadi untuk mengungkapkannya Mas Gio harus membantu ku dan ingat, tolong jangan beritahu siapa pun tentang hal ini karena aku ingin mengakhirinya dengan caraku." Potong Safira yakin. Apalagi saat memperhatikan perubahan ekspresi Reina saat mendengar tentang racun nate membuat Safira benar-benar yakin akan dugaannya.
"Aku mengerti." Suara Gio menyanggupi. Walaupun sedikit terkejut dengan kesimpulan yang sedang berkembang di kepalanya tapi Gio harus tetap menjalankan tugasnya ini. Meskipun Reina tidak terlihat seperti itu Gio tidak bisa mempercayai penampilannya begitu saja. Apalagi saat Gio mengingat Saqila, gadis itu terlihat cantik dan lembut. Memikirkannya berbuat jahat pasti sangat mustahil karena penampilan luarnya tidak seperti itu. Akan tetapi setelah mengetahui fakta bahwa penampilan lembut itu hanya topeng Gio jadi lebih yakin bahwa apa yang terlihat di luar belum tentu seperti yang ada di dalam.
"Tapi Safira, aku dengar sekarang kau sudah kuliah. Apakah jurusan yang kau ambil adalah ilmu hukum?" Gio bertanya penasaran yang langsung di angguki tanpa ragu oleh Safira.
"Itu benar jadi mengapa Mas Gio menanyakan ini?" Kemudian ia membawa langkahnya berjalan melewati koridor rumah sakit. Mata tajamnya memperhatikan kantin rumah sakit yang terlihat ramai pengunjung.
Tertawa kecil, "Sudah ku duga, tempat mu memang ada di sana." Ucap Gio seraya tertawa puas. Melihat betapa berdedikasinya Safira saat menangani masalah Annisa, Gio yakin bahwa Safira pasti sekolah di jurusan hukum. Apalagi saat mendengarkan rekaman yang Safira kirim 3 minggu lalu membuatnya semakin meyakini dugaannya.
Safira memang tajam dan juga sedikit menakutkan untuk ukuran seorang gadis.
***
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum Mas Gio?" Gio mengangkat kepalanya dari beberapa dokumen yang ada di atas meja kerjanya.
"Waalaikumussalam, silakan duduk Ra." Ucap Gio menjawab salam seraya mempersilakan seorang gadis yang ada di depannya.
Namanya Rara, ia adalah sepupu Gio yang kebetulan baru saja lulus kemarin dari pondok pesantren. Adapun keberadaannya masih di sini karena sedang mempersiapkan berkas untuk lanjutan sekolah ke Mesir, universitas terkemuka yang sudah tidak asing lagi bagi kebanyakan mahasiswa Indonesia.
"Terimakasih Mas Gio." Rara berterima kasih dengan sopan seraya mendudukkan dirinya di kursi kosong depan meja kerja Gio.
Menatap lurus, ada senyuman ambigu yang tertarik lebar di wajahnya yang cantik.
"Rara, aku ingin meminta bantuan kepada mu." Menutup beberapa dokumen yang sempat ia perhatikan, kini fokusnya ia berikan kepada Rara yang sedari tadi sedang menatapnya.
Tersenyum manis, "Tentang apa ini sehingga membuat pangeran pondok pesantren kami terlihat putus asa dan kesulitan?" Ada ungkapan ejekan yang ia layangkan pada Gio yang memang benar tidak terlihat seperti biasanya.
Mengangguk tidak berdaya, "Ini masalah penting, sungguh." Ucap Gio tidak ingin bermain-main lagi dengannya.
"Baiklah, aku akan serius." Putus Rara berusaha terdengar serius pula.
"Rara, aku dengar dari Umi bahwa kau dan Reina adalah teman sekamar bukan?" Gio memulai obrolan serius mereka.
Mengangguk membenarkan, Rara dan Reina sudah satu kamar semenjak Reina datang ke tempat ini. "Kami satu kamar Mas, memangnya kenapa?" Bingung, ada pikiran ambigu yang berkelebat di dalam kepalanya.
"Jangan bilang Mas Gio ingin mendekati Reina setelah habis menghisap madu Annisa. Astagfirullah, apa Mas pikir semua wanita itu gampangan? Apa hati Mas sama sekali tidak tersentuh melihat Annisa yang masih tidak sadarkan diri di dalam rumah sakit?" Jika apa yang ada di dalam pikiran Rara benar tentang Mas Gio maka Rara tidak bisa menerima semua itu. Ia adalah perempuan dan ikut sakit rasanya ketika melihat sesama perempuannya di campakkan oleh Gio. Ini bukan tidak mungkin Rara bisa memikirkan hal ini karena ia sudah sering mendengar rumor tentang perselisihan Reina dan Annisa yang sedang berebut perhatian Gio.
"Apa maksud mu?" Gio bertanya spontan.
Menatap miris, "Mas, aku juga memang sempat mendengar tentang rumor Annisa yang sudah menyebar di pondok pesantren. Tapi Mas tidak boleh bersikap sekasar ini kepada Annisa hanya karena rumor tidak sedap itu." Ia kemarin memang sempat mendengar rumor ini akan tetapi walaupun begitu Rara tidak perduli. Baginya Annisa tetaplah Annisa meskipun ia sekarang adalah janda. Toh, pernikahannya hanya semalam dan rumor yang menyebarkan tentang Annisa sudah tidak suci lagi belum tentu benar karena sekali lagi yang hanya tahu kebenaran itu hanya Allah, Annisa dan suaminya yang pergi.
Menghela nafas panjang, "Aku tidak pernah bermaksud mendekati Reina. Adapun tentang rumor yang masih menyebar sekarang itu sepenuhnya tidak benar. Aku sudah mengkonfirmasi sendiri kebenaran tentang itu semua melalui Safira, saudara Annisa yang sedang menemaninya di rumah sakit." Memikirkan untuk mendekati Reina saja tidak pernah berkelebat di dalam kepalanya. Baginya Reina sama seperti yang lain, hanya sebatas kerabat. Toh dari semua kemungkinan mengapa Rara bisa dengan gamblang menuduhnya ingin mendekati Reina?
Bukankah wanita yang mengejarnya tidak hanya Reina?
"Safira? Safira juga ada di sini?" Tanya Rara tidak percaya karena setahunya gadis itu benar-benar acuh dengan yang ada di sekitarnya. Ia tidak akan bergerak kecuali hal itu benar-benar menarik perhatiannya.
__ADS_1
"Ya, karena ini adalah masalah serius ia jadi harus ke sini untuk menyelesaikan masalah Annisa langsung." Jawab Gio jujur. Seperti yang ia katakan tadi kedatangan Safira ke sini untuk menyelesaikan masalah Annisa dan setelah itu ia harus membawa Annisa pulang ke rumah mereka yang ada di kota.
"Hem, aku dengar Mira dan Nanda juga sedang berusaha menghilangkan rumor." Tadi pagi ia dengar Mira dan Nanda sedang mencari tahu siapa dalang di balik rumor tersebut.
Bernafas lega, ia tidak bisa membayangkan Annisa terluka jika Gio memang bermaksud mendekati Reina. "Lalu kenapa Mas Gio menanyakan tentang Reina kepada ku?" Mereka kembali pada pembicaraan serius yang sempat terabaikan.
"Tentang Reina ini sangat serius. Safira bilang dibalik makanan yang Annisa makan kemarin ada kandungan racun yang memang sengaja dimasukkan ke dalam bubur dan bukan dari bahan makanan yang sudah kadaluarsa. Safira mengatakan bahwa racun tersebut adalah racun nate yang biasa kita gunakan untuk membersihkan hama dan serangga di kebun pondok pesantren, itu adalah laporan resmi dari dokter yang menangani Annisa. Lalu mengapa Safira harus curiga pada Reina dan bukan orang lain? Mas pun sempat bingung dan menanyakannya kepada Safira. Setelah menanyakan hal ini Safira langsung membalas pertanyaan ku melalui pesan. Di sana ia mengatakan bahwa tadi malam saat aku dan Reina berkunjung ke rumah sakit, Safira sempat menyinggung masalah racun nate yang kita gunakan. Dari sana, Safira bisa mengetahui ada perubahan ekspresi dan sikap yang terjadi pada Reina. Jadi melihat perubahan warna pada wajahnya bukan tidak mungkin Safira tidak bisa menyimpulkan bahwa dalang dibalik bubur beracun itu adalah Reina sendiri." Jelas Gio panjang lebar yang langsung membuat Rara tidak bisa mengatakan apa-apa.
Sejenak kepalanya memutar balik sikap ramah Reina di depannya. Ia tidak pernah menyangka jika Reina adalah orang yang seperti itu, kejam dan tidak berhati.
"Ya Allah, aku tidak tahu harus mengatakan apa tentang hal ini." Ucap Rara masih dalam perasaan shocknya.
Menghela nafas, "Namun ini hanya dugaan sementara oleh karena itu aku memanggil mu ke sini untuk memastikan kebenaran ini." Ucap Gio serius yang langsung di respon serius pula oleh Rara.
"Kalau begitu apa yang bisa ku bantu Mas?" Tanyanya tulus ingin memecahkan masalah ini. Ia ingin tahu apakah apa yang Gio katakan tentang Reina itu benar atau tidak agar ia tahu sikap seperti apa yang Rara akan berikan padanya nanti.
"Tolong geledah tempat Reina tidur, berhubung kalian satu kamar itu akan lebih mudah kamu lakukan. Adapun jika hipotesis Safira benar, Mas harap sisa racun itu tidak dibuang oleh Reina dan masih disimpan di kamarnya." Instruksi Gio memberikan arahan. Rara dan Reina adalah teman sekamar jadi akses Rara untuk bergerak di sana lebih mudah dan leluasa.
"Aku mengerti, nanti setelah pulang dari sini aku akan langsung menjalankan semuanya." Ucap Rara semangat ingin segera kembali ke kamarnya untuk langsung menjalankan tugasnya!
Tersenyum lega, "Ra, usahakan tidak ada yang tahu tentang ini bahkan kepada kedua orang tua kita sekalipun. Karena jika sudah saatnya mereka tahu maka mereka akan segera tahu." Pesan Gio yang langsung di angguki cepat oleh Rara.
"Kalau begitu aku permisi Mas, assalamualaikum." Pamit Rara seraya membawa langkahnya keluar dari ruangan kerja Gio, meninggalkan Gio yang sekali lagi di lingkupi kesunyian.
"Kapan semua ini berakhir ya Allah?"
***
"Assalamualaikum Annisa, Safira." Suara bersemangat Mira memasuki kamar rawat inap Annisa. Safira dan Annisa yang sedari tadi sibuk mengobrol akhirnya tidak bisa tidak mengalihkan perhatian mereka.
"Waalaikumussalam." Jawab Annisa tersenyum lembut menatap kedatangan Mira dan Nanda dengan tatapan antusias.
"Annisa, bagaimana kabar mu hari ini?" Meletakkan barang bawaan mereka di atas laci samping ranjang Annisa.
Tersenyum, "Alhamdulillah..aku baik-baik saja seperti yang kau lihat sekarang." Sejak semalam tubuhnya sudah mulai membaik bahkan sudah tidak selemas awal ia siuman.
Mendorong Safira menyingkir dari tempat duduknya, ia lalu dengan sikap alami mendudukkan dirinya di atas kursi tersebut. "Alhamdulillah, aku lega jika kau sudah merasa lebih baik."
Memutar bola matanya malas, Safira kemudian mendudukkan dirinya dengan santai di salah satu sofa yang ada di kamar Annisa.
"Safira, apa kabar? Kenapa kau tidak memberi tahu ku tentang kedatangan mu kemarin?" Nanda yang sedari tadi berdiri di samping Mira akhirnya berjalan mendekati Safira yang sedang menatap handphonenya malas.
Meletakkan handphonenya di atas meja, Safira kemudian mengangkat kepalanya menatap Nanda yang terlihat sedikit gugup.
"Hem, apa itu penting untuk mu?" Tanyanya datar, terlihat begitu enggan melayani obrolannya dengan Nanda.
Tertegun, Nanda kemudian dengan hati-hati menatap wajah cantik Safira yang sekilas terlihat seperti Annisa. Gelap, mata hitam pekat itu seakan menariknya masuk ke jurang gelap yang tidak mendasar. Membuatnya terpaku untuk beberapa saat dan tidak bisa mengatakan apa-apa secara bersamaan.
Tersadar, ia dengan kaku memberikan Safira senyuman yang bersahabat. "Tentu saja itu sangat penting bagi ku, bukankah kita adalah sahabat?" Dengan hati-hati ia mendudukkan dirinya di samping Safira yang masih terlihat bosan memperhatikan sikapnya.
"Sahabat? Apakah kau yakin?" Tanya Safira sarkas. Jika mereka adalah sahabat lalu mengapa ia bertindak dan bersikap seolah mereka tidak punya hubungan sahabat?
Sekali lagi, manusia itu memang sifatnya egois bukan? Hah, betapa naifnya.
Mengepalkan tangannya kuat, tidak ada ekspresi tersinggung atau kemarahan yang terlintas di wajah cantik Nanda.
"Safira, aku salah." Akuinya dengan sungguh-sungguh.
"Aku tahu semua ini memang kesalahan ku." Kemarin ketika ia selesai berbicara dengan Mira, Nanda akhirnya merenungkan semua yang telah ia lakukan. Ia tersadar jika selama ini ia terlalu terburu-buru untuk menyelesaikan semua rencananya sehingga tanpa sadar ia menjadi serakah dan egois secara bersamaan untuk segera kebahagiaannya sendiri.
Dan ia abai terhadap Annisa yang seharusnya ia utamakan terlebih dahulu.
Tersenyum dingin, ada ekspresi ejekan yang tersirat di wajah cantik Safira. "Lalu apa?" Tanyanya bosan.
Bingung, "Ya?"
Mengalihkan pandangannya menatap Annisa yang begitu antusias mengobrol dengan Mira, ia merasa lega dengan itu. "Setelah kau menyadari semuanya jadi kenapa? Apakah ada sesuatu yang bisa kau perbaiki dengan pengakuan basi mu?" Bertanya dingin Safira kemudian membawa mata cantik nan indahnya menatap wajah pucat Nanda, menatapnya dengan anggun namun sarat akan kedinginan.
"Nanda, jangan terlalu naif lah. Meskipun kau berlutut di depan Kakak ku untuk mengakui segala perbuatan mu semuanya tidak akan merubah apapun di sini. Kau masihlah kau yang egois, bahkan buah dari keegoisan tidak akan pernah dapat dihapuskan sampai kapanpun." Tersenyum miris.
"Jika saja Annisa telat sampai ke rumah sakit mungkin nyawanya tidak bisa di selamatkan. Nanda, apakah kau tidak pernah membayangkan konsekuensi dari perbuatan mu sendiri?" Safira bertanya tajam membuat Nanda tanpa sadar kembali kaku.
"Maka bersikaplah seolah kita tidak pernah saling mengenal." Sambar Safira memutuskan.
Terkejut, "Safira.. bukankah ini terlalu berlebihan?" Tanya Nanda tidak terima.
Tersenyum muram, "Ini tidak bisa di anggap berlebihan jika di sandingkan dengan nyawa Kakak ku."
"Safira-"
"Apa yang kalian sedang bicarakan?" Terdengar suara ingin tahu Annisa yang lembut dan ringan.
Tersenyum dingin, Safira kemudian memperbaiki ekspresi wajahnya dan beralih menatap Annisa dan Mira yang juga sedang menatap mereka dengan ekspresi penasaran.
Tersenyum ringan, "Tidak ada yang penting, ini hanya tentang masa lalu." Jawab Safira santai.
"Oh yah, kebetulan sekali kalau begitu. Aku dan Mira sedari tadi juga membicarakan tentang masa lalu kalian bertiga. Mira bilang bahwa kau sering berkunjung ke pondok pesantren sehingga kalian bertiga menjalin pertemanan. Safira, kenapa kamu tidak memberi tahu ku hal sepenting ini?" Tuntut Annisa dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.
Menggelengkan kepalanya ringan, "Itu tidak penting sehingga aku tidak menceritakannya kepada mu." Ucap Safira santai acuh terhadap perubahan ekspresi di wajah Mira.
"Ei, ini penting bagi Kakak jika bersangkutan dengan mereka." Keluh Annisa.
"Berbicara tentang ini Kakak teringat dengan Puspa, Safira bagaimana dengan keadaan Puspa di kota? Apakah ia pernah mencari atau bertanya tentang Kakak di sana?" Annisa bertanya dengan gugup, begitu penasaran dengan keadaan sahabatnya yang ada di luar sana. Puspa adalah keluarga sekaligus sahabat untuknya jadi Annisa tidak bisa melepaskan kekhawatirannya terhadap Puspa.
Mendengar nama Puspa keluar dari mulut Annisa, senyuman ringan yang tadinya bersemayam di wajahnya kini digantikan dengan senyuman kaku yang terkesan dipaksakan. "Puspa, gadis itu baik-baik saja di sana. Ia tidak pernah bertanya soal Kakak atau mencari keberadaan Kakak karena ia tahu betul bagaimana Kakak saat ini." Jawab Safira menyiratkan sesuatu. Puspa, gadis itu lebih tahu dari siapa pun bagaimana keadaan Annisa saat ini. Seperti yang mereka rencanakan, kehidupan Annisa hancur bahkan keberadaannya saja begitu enggan di terima kedua orang tuanya.
Gadis naif ini, Safira tidak akan pernah melupakannya.
Tersenyum miris, "Yah, kamu benar bahwa Puspa pasti mengerti keadaan Kakak saat ini." Gumam Annisa sedih. Ia berpikir bahwa Puspa pasti begitu mengkhawatirkannya di sini karena ia tahu bahwa Puspa adalah seseorang yang tulus.
"Hem, ia mengerti." Gumam Safira datar.
"Safira, aku ingin ke kantin untuk membeli beberapa kebutuhan. Ayo temani aku." Bangun dari duduknya Mira kemudian menarik Safira dari tempat duduknya saat ini.
"Hem." Respon Safira enggan seraya mengikuti langkah Mira. Melihat sikap Mira seperti ini Safira tahu bahwa gadis ini ingin membicarakan sesuatu kepadanya jadi mau tidak mau ia harus mengikuti langkahnya.
***
"Apakah kau tidak tahu bahwa waktu ini begitu berharga untuk ku? Sialan kau mengganggu ku saja." Umpat Dea ketika melihat kedatangan Reina di kamar medis yang sedang ia tempati sekarang.
"Oh, aku tidak tahu jika kau punya sesuatu yang penting di otak mu." Ejek Reina malas seraya menutup pintu kamar dan memastikan tidak ada siapa pun di luar sana.
"Brengsek! Kau jangan mengejek ku. gara-gara rencana gila mu, aku harus berpura-pura sakit di dalam kelas untuk menghindari pengejaran gadis sialan yang mengaku-ngaku menjadi ketua asrama putri. Jika ku tahu hal ini akan terjadi aku akan berpikir dua kali masuk ke pondok pesantren ini dengan rencana gila mu." Keluh Dea seraya menarik selimutnya untuk menutupi sebagian tubuhnya agar terasa hangat.
Mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang, "Bahkan sekalipun kau berpikir seratus kali kau akan tetapi di bawa ke sini oleh Mama dan Papa. Apakah kau pernah memikirkannya bahwa sekolah mana yang akan mau menerima siswa bermasalah seperti mu? Jawabannya adalah tidak ada apakah kau mengerti?"
"Lagian kau ini sudah cacat di mata orang lain jadi ku pikir tinggal di sini adalah pilihan yang terbaik. Kau tidak bisa mengeluh karena ini adalah konsekuensi dari perbuatan mu sendiri, dengan gila bercinta di dalam kelas bahkan saat kalian ketahuan dan dituntut untuk menikah kekasih tercinta mu itu menolak menikahi mu. Katakan apakah semua yang terjadi padamu ini karena aku?" Dengan santai Reina mengungkapkan masa lalu saudaranya. Bahkan warna wajah Dea sekarang sudah tidak sesantai tadi. Jika diperhatikan baik-baik dapat di temukan bahwa Dea terlihat murung. Yah, ia akui bahwa siapa yang akan tidak terluka setelah diingatkan tentang masa lalunya yang pahit.
Mengingat hari dimana ia begitu mencintai seorang laki-laki dan bahkan begitu mudahnya menyerahkan harta berharganya sebagai seorang perempuan, itu karena ia percaya bahwa laki-laki ini tidak akan pernah meninggalkannya.
Tapi faktanya apa yang ia harapkan selama ini tidak sesuai dengan apa yang ia temukan.
Merebut harga dirinya kekasihnya menolak untuk menikahinya, ia beralasan jika laki-laki yang pernah meniduri Dea bukan hanya dirinya. Jujur, ketika Dea mendengarkan alasan kekasihnya ingin sekali ia menangis meraung. Berteriak bahwa laki-laki ini munafik! Ia pembohong karena sebenarnya satu-satunya laki-laki yang ia izinkan menyentuhnya sampai sejauh ini hanya laki-laki ini seorang.
Laki-laki yang ia panggil sebagai kekasih, hah betapa lucunya.
"Baiklah, lalu apa?" Ucap Dea tidak tertarik seraya menggerakkan tubuhnya menghadap tembok. Ia memunggungi Reina dengan sengaja.
"Lalu apa kau bilang? Apakah kau tidak tahu rahasia menjijikkan mu ini sudah di ketahui oleh Mas Gio?" Tanya Reina marah, apalagi saat melihat ekspresi mengejek yang Safira layangkan kepadanya membuat Reina benar-benar marah. Ia rasanya malam itu ingin muntah darah karena menahan malu dan marah dari ucapan omong kosong Safira.
Ia benci gadis iblis itu, bahkan tekatnya untuk menghancurkan Annisa semakin besar ketika mengingat tatapan mengejek Safira yang berani.
Tertegun, Dea langsung membalikkan badannya menghadap Reina yang kini terlihat begitu marah. "Kenapa bisa begitu?..tidak, bagaimana bisa Mas Gio tahu tentang masa lalu ku?" Tanya Dea bingung karena setelah beberapa bulan tinggal di sini Dea tidak pernah menemukan seseorang yang juga mengenalnya dari kota lalu mengapa rahasia hitam ini bisa diketahui oleh Gio?
Mendengar pertanyaan kebingungan Dea membuat Reina semakin marah, betapa tidak bergunanya. "Apakah kau mengenal Safira? Gadis iblis itu tidak jauh berbeda dari pada Kakaknya yang munafik. Apalagi saat ia berbicara dengan ku di rumah sakit tadi malam, ia mengejek ku dengan segala hal yang sangat menyakiti telinga ku. Ia mengatakan dengan gamblang penyebab kau di kirim ke pondok pesantren dan dengan sengaja mempermalukan di Mas Gio. Gadis iblis itu bahkan sama persis seperti Kakaknya yang bermuka dua!" Keluh Reina menceritakan kemarahannya pada sosok Safira yang begitu licik dan bengis.
Terdiam, Dea tidak dapat mengatakan apa-apa selain perasaan malu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Safira?
__ADS_1
Tentu saja ia mengenal gadis ini dengan baik. Sikap cuek dan acuh tak acuh itu dulunya selalu memancing amarah Dea saat berdekatan dengannya. Dea selalu merasa bahwa Safira tidak sesederhana yang mereka semua lihat, sikapnya yang abai terhadap apapun Dea pikir hanyalah sikap samar saja karena apa yang Dea rasakan adalah Safira sebenarnya sedang memperhatikan mereka semua.
Menonton dan diam-diam menertawakan kebodohan mereka semua yang begitu menggelikan, entah mengapa hal inilah yang dirasakan Dea.
"Jangan dekati dia." Hanya inilah yang bisa dikatakan Dea kepada Reina.
Membelalakkan matanya marah, Reina tidak bisa lagi menahan kemarahannya kepada Dea yang benar-benar tidak berguna. "Kenapa? Kau takut karena Safira tahu kelemahan mu?" Menatap dengan ejekan.
"Sudah ku bilang bukan kau tidak bisa mengeluhkan semua yang terjadi sekarang karena itu terjadi karena dirimu yang terlalu murah di hadapan laki-laki. Jika saja otak mu dapat berguna maka semua yang terjadi hari itu tidak akan mempersulit hidup mu. Yah, tapi faktanya otak mu memang tidak berguna. Isinya kosong dan tidak berbobot sehingga kau begitu impulsif saat bertindak. Hah, betapa bodohnya!" Cecar Reina marah. Jika saja Dea seperti dirinya yang cerdas dan mampu menjaga diri pasti semua yang terjadi di hari itu tidak akan pernah terjadi. Tapi hal itu sekali lagi hanya angan-angan saja karena seperti yang ia katakan tadi Dea memang tidak punya otak yang berguna sehingga ia begitu mudah melakukan hal buruk.
Dea terdiam, sulit baginya untuk membantah semua yang dikatakan Kakaknya karena nyatanya semua itu benar. Ia bodoh dan tidak berguna sehingga masa depan dan mimpinya ia hancurkan.
Bahkan ia juga menghancurkan wajah orang tuanya di depan orang banyak, membuat mereka merasa malu dan dicemooh orang-orang di sekitar mereka.
Jika bisa Dea ingin kembali ke waktu dimana ia masih kecil dan ingin memperbaiki semua kesalahan yang ia lakukan.
"Dea, mengikuti mu ke dalam rencana ku ternyata lebih banyak kerugiannya. Jika saja aku tahu akan ada orang yang mengenal mu di sini dan membocorkan rahasia mu maka aku akan berpikir ulang untuk memasukkan mu ke dalam pondok pesantren ini. Cerita hidup mu yang berantakan dan hancur membuat ku benar-benar malu di depan Mas Gio, aku takut dan bingung sikap Mas Gio akan berubah kepada ku hanya karena gara-gara kesialan mu itu." Reina mengeluh lagi, meratapi betapa malunya ia malam itu di depan Gio. Bahkan ia takut jika Gio akan bersikap lain kepadanya sekarang karena mengetahui bahwa Dea tidak sebaik yang Gio kira.
"Maka menyesal lah." Putus Dea tidak perduli. Ah, itu lebih tepat dikatakan jika sebenarnya Dea sudah muak dan lelah mendengarkan ocehan Reina yang terus menyalahkannya. Ia tahu kesalahannya maka kenapa harus diingatkan lagi. Ini seperti ia akan mengulangi kesalahannya saja!
"Dasar sialan, apakah kau tidak punya-"
Dea memilih menutup matanya dan berusaha mengabaikan umpatan Reina yang semakin menjadi-jadi. Memunggungi Reina lagi, ia tidak ingin memperlihatkan air mata kelelahannya yang sudah mulai mengalir tidak patuh.
Yah, Reina memang kejam tapi hal terkejam yang paling Dea takuti adalah umpatan kasarnya tentang dirinya yang tidak berguna. Karena setiap kata-kata merendahkan yang keluar dari bibirnya akan terdengar berbeda untuk Dea. Itu terdengar begitu kejam.
Sudahlah, aku tidak akan pernah perduli lagi.
***
"Ra, aku ke kamar medis sebentar yah soalnya di sana ada Dea yang lagi kurang sehat." Reina berjalan keluar dari kamar seraya mengucapkan pamit kepada Rara yang terlihat sibuk melipat pakaian yang baru saja mengering.
Menampilkan ekspresi terkejut, "Astagfirullah, Dea sakit apa Rein? Itu parah atau gak? Kalau parah nanti aku bilang Mas Gio suruh antar ke rumah sakit."
Tersenyum tipis, Reina tahu jika ini hanya akal-akalan Dea agar dapat bersantai di sana. "In shaa Allah enggak kok, ini paling cuma sakit biasa." Bantah Reina yakin jika Dea hanya berpura-pura saja. Lagipula Reina tahu betul bahwa Dea tidak akan selemah itu.
"Aku harap juga begitu." Ucap Rara terlihat lebih nyaman dari sebelumnya.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, assalamualaikum." Ucap Reina memberikan salam seraya membawa langkahnya menjauh dari kamar yang mereka tempati.
Perlahan mata penuh senyuman yang tadinya begitu antusias saat berbicara dengan Reina kini mulai menghilang menampilkan ekspresi yang rumit.
"Jika benar dugaannya maka aku pikir Reina memancing di kolam yang salah." Gumam Rara seraya bangun dari duduknya dan menutup pintu kamar mereka dengan gerakan alami. Lalu ia menguncinya dengan hati-hati dan mulai melakukan pencariannya.
Hal pertama yang Rara tuju adalah lemari pakaian Reina. Membuka lemari sudah ia dapati pakaian Reina yang masih tertata rapi, kemudian dengan gerakan hati-hati ia mulai mencari bukti penting yang ada dalam pikirannya.
Menghela nafas, tidak ada apapun yang dapat membuatnya lega.
Menutup lemari ia lalu mencari ke tempat yang lain. Menggeledah kasur dan selimutnya masih belum Rata temukan apa-apa yang menarik perhatiannya.
Menyerah, mungkin Reina bukanlah pelaku keracunan tersebut atau sebenarnya Reina sudah membuang bukti tersebut ke tempat yang tidak pernah ia jangkau sekalipun.
Mendudukkan dirinya, Rara pikir tidak ada lagi yang bisa digeledah sampai akhirnya mata penuh kebingungannya jatuh pada vas bunga bening yang ada di samping ranjang Reina.
Bukan bunganya yang menarik perhatiannya tapi ada sesuatu yang sedikit mencurigakan di sana.
Ya, ada benda yang sedikit merusak tatanan bunga yang ada di dalam vas tersebut. Jika diperhatikan lebih tajam lagi itu sebenarnya adalah benda yang sengaja di sembunyikan di antara batang-batang bunga yang rimbun.
Bangun dari duduknya Rara dengan gerakan tidak sabar mengeluarkan bunga yang ada di dalam dan menemukan sebuah botol kecil transparan yang masih berisi bubuk putih yang terlihat halus dan lembut.
"Astagfirullah.." Rara menatap terkejut pada botol kecil yang sekarang ada di dalam genggamannya. Gemetar, Rara menggenggam kuat botol tersebut di tangan kanannya. Ia takut kehilangan kendali dan berakhir menjatuhkannya.
Menarik nafas perlahan, ia mencoba menenangkan dirinya seraya memasukkan botol kecil transparan tersebut ke dalam kantong bajunya.
Tidak lupa juga Rara memperbaiki lagi vas bunga yang sempat ia kacaukan barusan dengan penampilan terakhir kali ia temukan.
Ia dengan hati-hati menciptakan ruang di dalam batang yang rimbun seakan-akan ada benda tersembunyi yang ada di sana.
Setelah selesai ia memperhatikan sekeliling dan menilai apakah ia meninggalkan jejak. Bernafas lega ia kemudian meraih gagang pintu seraya membuka kunci kamarnya dengan gerakan yang sedikit kaku.
Melihat kiri dan kanan, tidak ada seorang pun yang memperhatikan sikapnya sehingga ia menjadi lebih santai lagi keluar dari kamar.
Sebenarnya orang gila mana yang mencurigainya melakukan sesuatu di kamarnya sendiri, ini seakan ia ingin mencuri sesuatu.
"Reina, aku tidak pernah berpikir jika kamu adalah orang yang seperti ini. Betapa bejatnya!" Begitu marah, Rara tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya sekarang. Reina yang ia kenal diluar ternyata tidak seperti itu yang ada di dalam.
Wajahnya cantik, tutur katanya lembut dan sikapnya begitu menyejukkan. Ternyata semua itu hanyalah topeng untuk menutupi hatinya yang hitam gelap.
Rara tidak menyangka jika orang yang seperti itu selama ini berada di kamar yang sama dengannya. Ia menghirup udara bahkan berada di tempat yang sama dengan perempuan kejam seperti itu.
Menakutkan.
***
Tok
Tok
Tok
"Mas Gio, ini aku."
Mengangkat wajahnya dari layar laptop yang sudah 3 jam ia tatapi. "Masuk, Ra." Ucap Gio mempersilakan seraya mengetik sedikit lagi di laptopnya.
"Assalamualaikum, Mas." Salam Rara terdengar akrab seraya mendudukkan dirinya di kursi depan meja Gio.
"Waalaikumussalam." Ucap Gio masih serius menatap laptopnya yang menampilkan angka yang begitu rumit.
Melihat Gio yang masih sibuk, Rara sedikit ragu mengatakan apa yang telah ditemukan. Akan tetapi ketika mengingat wajah manis Reina tekadnya untuk segera menyelesaikan masalah itu akhirnya kembali tinggi.
"Mas, aku sudah menemukannya." Ucap Rara pelan terdengar yakin.
Sunyi.
Suara ribut saat tangannya mengetik tadi akhirnya hilang dalam beberapa detik saja.
Menutup laptopnya cepat, Gio membawa fokusnya melihat sepupunya yang terlihat sedikit pucat dan tidak nyaman.
"Apa kau mengatakan sesuatu tadi?" Tanya Gio ingin memastikan.
Mengangguk ringan, "Mas, aku sudah menemukan bukti itu. Seperti yang Mas bilang pelakunya memang Reina." Ucap mengulangi ucapan dengan suara dan ekspresi yang meyakinkan.
"Ini adalah racun nate yang biasa pondok pesantren gunakan." Lalu dengan tangan gemetar yang masih belum reda ia mengeluarkan botol kecil transparan yang tadi ada di dalam kantong pakaiannya. Dan dengan gerakan hati-hati ia meletakkannya di atas meja kerja Gio.
Tertegun, Gio meraih botol kecil transparan yang ada di depannya dengan gerakan hati-hati. "Jadi ini memang dia." Gumam Gio masih belum mempercayai apa yang sedang berkelebat di dalam pikirannya.
"Tapi.. bagaimana bisa Reina mendapatkan racun ini? Seingat ku santriwati tidak diizinkan melakukan pekerjaan kasar di kebun karena ini adalah tugas laki-laki di pondok pesantren." Bingung Gio. Setahunya pondok pesantren memang mengizinkan adanya berkebun tapi untuk masalah menuntaskan hama atau serangga itu adalah tugas laki-laki karena racun yang mereka gunakan cukup berbahaya.
Tertegun, Rara kemudian diingatkan kembali tentang percakapannya tempo hari bersama Reina. "Mas, aku ingat bahwa beberapa hari yang lalu kami sempat berdiskusi tentang serangga yang sering masuk ke kamar kami. Berhubung kamar yang kami tempati berdekatan dengan kebun jagung jadi terkadang beberapa serangga akan masuk ke kamar kami. Nah, lalu Reina mengatakan kepada ku untuk mendiskusikan masalah ini kepada Umi. Bahkan aku juga ingat sebenarnya yang memberi tahunya tentang racun ini adalah aku sendiri. Jadi Reina memutuskan untuk langsung menemui Umi untuk berdiskusi juga meminta racun ini sedikit." Ia ingat percakapannya dengan Reina tentang gangguan serangga yang sering mengganggu mereka di kamar. Jadi karena Reina tidak tahan ia akhirnya membawa masalah ini ke Umi untuk di diskusikan.
Terdiam, Gio memandangi botol kecil yang sedari tadi sudah ada dalam genggamannya.
"Aku akan menanyakan hal ini kepada Umi." Putus Gio seraya menaruh botol tersebut ke dalam laci meja kerjanya.
"Mas Gio ingin menceritakan masalah ini kepada Umi?" Tanya Rara tidak yakin.
Menggeleng pelan, "Bukan begitu, aku hanya akan pergi bertanya dan tidak akan menceritakan masalah ini kepada Umi. Kalaupun nanti Umi tahu itu pasti hari yang tepat untuk mengatakannya." Bantah Gio seraya membawa laptop yang sempat ia abaikan ke depannya lagi.
"Lalu apakah masalah ini akan dibawa ke kantor polisi?" Tanya Rara ingin tahu.
Bingung, Gio juga belum tahu tindakan apa yang akan di ambil Safira tentang kasus ini. "Aku menyerahkan sepenuhnya masalah ini kepada Safira karena bagaimanapun Safira adalah satu-satunya keluarga Annisa di sini." Biarkan semuanya di selesaikan oleh Safira karena seperti yang mereka bicarakan di rumah sakit kemarin bahwa Gio sebagai laki-laki tidak perlu ikut campur dalam masalah ini.
"Itu memang benar tapi bukankah ini adalah masalah yang serius? Aku tidak yakin Safira mau membawa masalah ini ke meja hijau." Ragu Rara tidak yakin. Menurut tempramen Safira, Rara yakin ia lebih suka bermain daripada menghadapinya secara serius.
Tersenyum tipis, "Rara, yakinlah Safira tidak akan semudah itu menyelesaikan masalah ini dengan gamblang. Kau mungkin tidak tahu ini bahwa Safira adalah gadis yang sedikit menakutkan. Ia pandai menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri." Jelas Gio menghilangkan keraguan Rara. Safira adalah gadis yang cukup menakutkan, ini bisa Gio lihat dari caranya menyikapi masalah Annisa yang begitu rumit dan berbelit-belit. Jika itu orang lain mungkin mereka enggan dan cukup menonton saja. Tapi Safira tidak, ia lebih memilih mencari akar masalah ini sampai ke dalam-dalamnya. Bahkan cara yang ia gunakan adalah cara yang tidak pernah bisa mereka bayangkan dan duga.
Tanpa melakukan kekerasan tapi ia bergerak dengan cukup halus, bahkan mangsanya saja tidak dapat mencium pergerakannya.
"Baiklah, aku mengerti." Ucap Rara masih meragu. Karena bagaimanapun juga Safira masih kecil untuk ukuran kasus sebesar ini.
__ADS_1
Bersambung...