
وَا صْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِى ۚ
"Dan aku telah memilihmu untuk diriku."
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 41)
****
"Selesai, Annisa sekarang lihat dirimu di dalam cermin ini." Kayla dengan pandangan puas dan takjub membantu Annisa memutar badannya menghadap cermin yang ada di dalam kamarnya.
Dengan gerakan hati-hati Annisa perlahan mengangkat kepalanya dan menatap cermin yang kini sedang memantulkan bayangannya.
Untuk sejenak, Annisa tidak bisa mengatakan apa-apa karena sungguh tidak yakin bahwa gadis yang ada di dalam cermin itu adalah dirinya. Mereka terlihat jauh berbeda saat menggunakan pakaian biasa, apalagi riasan yang wajahnya gunakan sebenarnya tipis karena menyesuaikan dengan wajah Annisa yang sudah cantik aslinya.
"Huah, Kakak terlihat begitu cantik hari ini.." Suara penuh takjub Safira memasuki pendengaran mereka berdua.
"Benar bukan? Siapa dulu dong yang make upin, Kayla!" Sahut Kayla percaya diri juga membanggakan dirinya.
Melirik Kayla yang terlihat bersemangat di samping Kakaknya, Safira hanya memutar bola matanya malas. "Ini sih emang dasar Kakak ku aja yang cantik bukan karena make up-nya." Ucap Safira tidak perduli.
Sebenarnya hasil make up Kayla memang terlihat sangat baik dan Safira pun mengagumi ini jauh dari dalam hatinya. Ia pun sempat berpikir bahwa saat pernikahannya nanti ia akan menggunakan make up yang Kayla buat.
"Cih, bilang saja kau iri dengan ku." Tuduh Kayla merasa jengkel. Ia memang mengatakannya dengan suara yang kecil karena masih merasa canggung dengan suasana yang Safira ciptakan di sekitar tubuhnya.
Tok
Tok
Tok
Mereka semua mengalihkan pandangan ke arah pintu yang sedari tadi tertutup kini terbuka dan menampilkan wajah cantik Umi.
"Assalamualaikum?" Salam Umi seraya masuk dan menutup pintu kamar Annisa.
"Waalaikumussalam, Umi." Suara mereka menjawab salam tidak beraturan.
Masuk ke dalam kamar Annisa dengan langkah yang sedikit goyah, Umi memperhatikan sekeliling kamar anaknya yang sudah di rubah menjadi tempat yang begitu indah, sekali lagi.
Umi begitu berharap jika perubahan yang kedua ini tidak akan mengecewakan putrinya lagi, ia ingin melihat anaknya bahagia di kamar ini.
"Bisakah kalian keluar sebentar, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Annisa." Pinta Umi lembut yang langsung dimengerti oleh Safira dan Kayla secara bersamaan.
Paham, ini adalah momen yang paling berat bagi Umi dan Abi jadi wajar saja mereka butuh waktu untuk sedikit berbincang sebelum melepas putrinya pergi. Pergi untuk berbakti kepada suaminya dan tidak lagi pada mereka, sepenuhnya menyerahkan surga putrinya ke genggaman tangan sang suami dan tidak lagi pada kedua orang tuanya.
Hei, ini adalah momen sakral yang penuh akan makna yang dalam. Selain menjalankan kehidupan baru bersama orang lain, pernikahan juga merupakan sebuah hari dimana semua ikatan spritual diputuskan.
Mulai dari beralihnya surga yang sang putri perjuangkan hingga tempat sang putri berbakti pun tidak lagi kepada kedua orang tuanya.
Sesungguhnya, ini adalah saat-saat dimana semua orang merasa bahagia sekaligus bersedih.
Menutup pintu kamar Annisa, sekarang hanya ada Umi dan Annisa yang ada di dalam kamar Annisa-ah, tepatnya di dalam kamar pengantin Annisa dan Gio.
"Annisa, bagaimana perasaan mu hari ini, Nak?" Tanya Umi setelah mendudukkan dirinya dengan nyaman di kursi samping Annisa duduk.
Tersenyum lembut, Annisa dengan perasaan gugup meraih tangan Umi yang terasa begitu halus dan lembut. "Umi, Annisa takut juga gugup." Akui Annisa tidak bisa menyembunyikan perasaan takut dan gugup yang bercampur aduk.
Ini adalah pernikahan keduanya tapi entah mengapa perasaan gugup itu tidak pernah seintens saat ini.
Apakah ini karena laki-laki yang menikahinya adalah Gio?
Balik menggenggam tangan putrinya yang terasa dingin dan sedikit gemetar, "Jangan takut sayang, hari ini adalah hari yang paling bersejarah dalam hidup mu dan Gio. Jangan takut okay?" Suara Umi menenangkan Annisa.
Annisa walaupun merasa sulit menghilangkan rasa takutnya tetap saja ia menganggukkan kepalanya dengan patuh, ia tidak ingin membebani Uminya.
"Adapun rasa gugup ini adalah hal yang wajar, Nak, karena semua mempelai wanita yang ada di seluruh dunia juga merasakannya. Kita gugup karena hal sesakral ini akhirnya mendatangi kita juga. Jadi, jangan khawatir dan atur nafas mu semampu mungkin untuk menenangkan hati mu walaupun sulit dan nikmati saat-saat menegangkan seperti ini karena pernikahan hanya terjadi sekali seumur hidup jika Gio adalah jodoh mu." Nikmati saat-saat gugup seperti ini karena ini hanya terjadi sekali seumur hidup. Lagipula perasaan menegangkan seperti ini juga adalah sebuah pengalaman yang paling tersimpan jauh di dalam hati. Tersimpan apik dan tidak akan pernah terlupakan dimakan waktu.
"Umi, Annisa akan mencoba melakukan apa yang Umi katakan dan terimakasih karena sudah mengajarkan Annisa bagaimana menenangkan diri Annisa di momen sepenting ini." Meremat tangan Uminya, Annisa bisa melihat ekspresi Uminya perlahan menjadi sedih?
"Umi, kenapa?" Tanyanya terdengar panik.
Menggelengkan kepalanya, "Annisa, hari ini adalah hari dimana kau bukan lagi tanggungan kami dan surga mu bahkan tidak lagi ada pada kami sebagai orang tua. Lalu, berbaktilah kepada suami mu dan bantu ia menjadi imam yang baik untuk mu dan untuk keluarganya. Jangan hancurkan jalan suami mu untuk terus berjalan ke jalan Allah bahkan sampai membuat suami mu tidak bisa mencium surganya yang ada pada kedua orang tuanya. Annisa, tidak Nak, jangan pernah kau lakukan itu. Karena jika kau lakukan itu maka tidak ada lagi tempat bagi kalian untuk bernaung dan murka Allah akan selalu menyertai langkah kalian kemanapun, maka jangan pernah lakukan itu. Justru dengan adanya kamu maka per'eratlah hubungan antara Gio dan kedua orang tuanya. Jadilah jembatan untuk suami mu meraih ridho kedua orang tuanya sehingga Allah pun akan ridho pada kalian, mengerti?" Nasihat Umi dengan emosi yang bercampur aduk di dalam hatinya. Ia khawatir melihat Annisa hidup di dalam lembaran barunya tanpa mengetahui jalan yang pantas untuk dilalui. Maka karena itulah ia mengatakan ini, menyelamatkan anaknya dari jalan yang salah dan membantu anaknya meraih surga yang dijanjikan Allah kepada hamba-Nya yang berbakti. Hanya itu..hanya itu yang seorang Ibu inginkan untuk masa depan anak-anaknya.
Menganggukkan kepalanya mengerti, Annisa dengan perasaan sedih menundukkan kepalanya untuk mencium kedua tangan Uminya yang sedari tadi ia genggam dengan rasa gugup.
"Annisa mengerti Umi dan Annisa in shaa Allah akan terus membantu Mas Gio tetap berbakti kepada kedua orang tuanya. Annisa tidak akan menjadi penghalang untuk mereka dan justru Annisa akan menjadi jembatan pengikat untuk mereka, Umi. Annisa juga tidak mau melihat suami Annisa di benci Allah sehingga surganya pun Allah tutup untuknya. Tidak Umi, Annisa tidak bisa melihat masa depan suami Annisa seperti itu."
"Nak, jangan menangis. Ingat, riasan di wajah mu baru saja dibuat oleh Kayla. Jika kau menangis sekarang maka Kayla juga harus kerja keras untuk mengulangi riasan ini." Dengan gerakan panik Umi menarik Annisa dari acara menunduknya. Ia juga tidak tahan melihat Annisa bersedih padahal hari ini adalah hari pernikahannya dengan Gio. Seharusnya hari ini sepenuhnya diwarnai dengan kebahagiaan bukan?
"Umi-"
Cklak
Pintu kamar Annisa langsung dibuka oleh seseorang, kemudian wajah tegas Abi yang sudah rapi dengan pakaian seragamnya dengan Umi muncul dari balik pintu itu.
Melihat Annisa dan istrinya sedang berbincang-bincang, Abi dengan ekspresi tegasnya kemudian berjalan cepat mendatangi mereka. Tidak, lebih tepatnya ia mendatangi Annisa yang terlihat kaget melihat Abinya.
Setelah berada di depan Annisa, Abi dengan satu gerakan langsung membawa Annisa ke pelukannya. Pelukan hangat seorang Ayah yang begitu langka Annisa dapatkan.
"Abi kena-" Suara Annisa tertahan, ada cairan hangat yang membasahi pundak kanannya.
Apakah Abi menangis?
Annisa terdiam dan hanya bisa membalas pelukan Abinya dengan kuat pula. Jarang sekali melihat Abinya seperti ini. Mungkinkah ini adalah pelukan terakhir Abi untuk putrinya yang akan hidup bersama laki-laki yang berhasil meminangnya?
Jika itu adalah pertanyaannya maka jawabannya adalah iya, ini adalah pelukan terakhir Abi kepada Annisa yang akan segera menikah hari ini.
"Hidup berbahagialah, Nak." Suara Abi seraya melepaskan pelukannya dan dengan sayang mengecup kening Annisa.
"Dan jika kau datang berkunjung ke rumah ini lagi Abi mohon jangan datang dengan wajah yang bersedih karena jika itu terjadi, Abi tidak akan pernah bisa menahan amarah Abi terhadap suami mu. Tapi datanglah dengan wajah yang berseri-seri dan tersenyum bahagia, tunjukkan kepada Abi bahwa pilihan Abi kali ini melepaskan mu bersama Gio adalah pilihan terbaik. Annisa, jangan buat Abi menyesal lagi." Mencium kening Annisa sekali lagi, Abi dengan ekspresi sedihnya kemudian berjalan keluar dari kamar Annisa. Menutup pintu, Abi dengan hati-hati memperhatikan wajah cantik Annisa yang terlihat begitu rapuh.
"Keluarga Gio sudah ada di depan, Annisa bersiaplah." Lalu dengan begitu Abi langsung menutup pintu kamar Annisa. Memperbaiki ekspresi wajahnya yang sempat goyah, ia pun kemudian membawa langkah tegapnya berjalan turun ke lantai bawah. Meneguhkan dan menguatkan hatinya untuk menyambut, ya, menyambut datangnya masa depan Annisa.
***
Gio dengan langkah gugup dan berani melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah calon mertuanya. Di temani keluarga besar, bahkan beberapa santri dan santriwati pilihan keberanian Gio semakin melambung tinggi.
Lalu, langkah tegapnya tertahan di depan pintu rumah Annisa. Menghembuskan nafas untuk mengurangi kegugupannya, Gio dengan pandangan tegasnya mengedar ke sekeliling rumah. Lingkungan rumah ini kini benar-benar indah dan megah. Bahkan tamu-tamu yang berdatangan tidak bisa menghalangi betapa indahnya dekorasi yang ada di sekelilingnya.
"Nak Gio," Lalu suara berat seseorang menginterupsi kegiatan Gio, mengalihkan pandangannya sudah ia dapati Abi Annisa yang berjarak beberapa meter darinya juga sedang menatapnya.
"Kemarilah, Nak." Perintah Abi hanya untuk Gio seorang.
Mengerti adab keluarga Annisa, Gio dengan langkah pasti dan berani berjalan mendekati calon mertuanya yang kemudian di sambut dengan rentangan tangan jantan dari sang calon mertua.
Sebuah pelukan sebagai tanda diterimanya calon mempelai laki-laki untuk memasuki rumah calon mempelai wanita.
"Ku mohon, jagalah putri ku dan jangan pernah sakiti ia." Bisik Abi dengan suara khas seorang Ayah kepada putranya.
"In shaa Allah Abi, Gio berjanji." Jawab Gio tegas pula balik berbisik kepada calon mertuanya.
Melepaskan pelukannya, Abi dengan senyuman ramahnya memberikan sebuah gerakan'silakan masuk' memberikan jalan kepada keluarga besar Gio memasuki rumah mereka.
"Selamat datang, Pak Kyai." Ucap Abi ramah setelah berpapasan dengan orang tua Gio.
"Terimakasih atas sambutannya calon besan." Tawa Pak Kyai tidak kalah ramah pula pada Abi Annisa. Membuat semua orang yang mendengar obrolan singkat mereka namun bermakna dalam tertawa lega.
Masuk, mereka dibimbing masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas. Ini seperti sebuah aula, tapi Gio tidak yakin jika ruangan ini nyatanya adalah aula atau tidak.
"Silakan duduk." Berjalan ke tengah-tengah ruangan yang sudah didekorasi khusus dan indah, Gio dengan perasaan gugup mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang terasa begitu nyaman ketika di dudukinya. Menenangkan pikirannya, sesekali mata tajam Gio melirik ruangan luas yang sudah dihuni ratusan tamu ini gerakan samar. Memperhatikan mereka, Gio pikir ruangan ini cukup sunyi dan tamunya pun bertindak cerdas dengan menutup mulut mereka segera setelah ia duduk di sini.
Gio dengan perasaan campur aduk menegakkan posisi duduknya menjadi posisi yang jantan, ini bukan karena ia ingin terlihat luar biasa tapi ini ia lakukan untuk menenangkan pikirannya yang sedang diuji oleh berbagai macam jenis tatapan yang tajam. Bahkan tatapan mereka begitu menusuk punggung Gio sehingga mau tidak mau Gio harus bertindak seolah-olah itu bukan apa-apa dan tidak mengganggunya sama sekali.
Ah, ini tentang kebiasaan perempuan jika dilihat dari situasinya. Memang ruangan ini terkesan sunyi tapi jika ada perempuan maka itu tidak dapat menciptakan kesunyian yang haqiqi dan istiqomah. Gio dapat merasakannya, selain pandangan menusuk juga ada berbagai macam suara yang ingin tahu yang terus memasuki telinganya. Ini memang tidak terlalu keras namun tetap saja Gio masih bisa mendengarkannya.
Yah.. entah kenapa Gio merasa bahwa para perempuan ini sedikit lucu?
Entahlah.
"Para tamu undangan dimohon untuk menahan diri karena acara akan segera kami mulai." Lalu suara seorang laki-laki yang sudah paruh baya bergema di ruangan ini dan berhasil menciptakan kesunyian yang haqiqi.
Sunyi dan diwarnai dengan perasaan yang menegangkan lagi mendebarkan, ah perasaan ini hanya Gio tepatnya yang paling merasakan.
Menghela nafas panjang, Gio meluruskan pandangannya dan bertemu dengan mata tajam Abi Annisa yang kini duduk berhadapan dengannya.
"Terimakasih," Ucap laki-laki paruh baya itu terdengar tenang. Lalu ia kemudian mengalihkan perhatiannya pada Gio yang terlihat begitu tenang.
"Apakah mempelai laki-laki sudah siap memulai acaranya?" Tanya laki-laki itu ingin memastikan kelancaran acara ini.
Menganggukkan kepalanya dengan mantap, tidak ada alasan untuk mengatakan tidak siap ketika ia sudah duduk di sini. Lagipula saat-saat sakral seperti ini dulunya tidak pernah Gio bayangkan akan datang harinya.
Jadi, ketika ia sudah diberikan kesempatan maka kesempatan itu akan menjadi kesempatan terpenting dalam kehidupannya dan akan berlaku sakali seumur hidup, Gio berdoa.
"Saya siap, Pak." Suara Gio teguh.
Lalu pertanyaan yang sama pun orang itu lemparkan kepada calon mertuanya yang mana langsung diangguki teguh juga oleh Abi Annisa.
"Maka acaranya dengan resmi dimulai." Putus orang itu dengan suara yang masih tenang dan terdengar begitu terbiasa.
"Kepada mempelai laki-laki silakan jabat tangan pihak wali wanita begitu pun sebaliknya kepada wali wanita silakan menjabat tangan mempelai laki-laki." Intruksi orang itu yang langsung dilaksanakan dengan patuh oleh Gio dan Abi Annisa.
Abi Annisa meraih tangan Gio dan menjabatnya dengan kuat, ini seolah-olah Abi mengatakan kepada Gio bahwa putrinya adalah amanah yang paling berharga di dunia ini.
"Kepada wali silakan memulai ijab dan mempelai laki-laki akan mengucapkan kabul dengan waktu berurutan." Intruksi orang itu lagi yang dengan gerakan berat diangguki oleh Abi.
Mengatur nafasnya agar setenang mungkin, Abi dengan perasaan yang campur aduk mulai membisikkan basmalah untuk awal hidup putrinya yang lebih baik lagi.
"Bismillah," Bisiknya.
“Saya nikahkan dan saya jodohkan anak kandung perempuan saya Annisa Sauqi, dengan engkau Muhammad Gio Rafadillah Bin Muhammad Ridho Rafadillah dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas seberat 80 gram dibayar tunai.” Ucap Abi dengan suara lantangnya yang tenang juga berwibawa.
Menerima sentakan dari tangan Abi Annisa, Gio dengan teguh menguatkan jabatan tangan mereka seraya menyerukan sebuah penerimaan yang sakral dan merupakan sebuah jembatan akan kebahagiaannya di masa depan nanti. "Saya terima nikah dan jodohnya Annisa Sauqi Bin Muhammad Affirul Sauqi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 80 gram dibayar tunai," Sentak Gio dengan satu kali nafas yang mantap dan berani.
"Sah?" Teriak laki-laki yang sudah dengan fasih membimbing acara ini ketika suara Gio jatuh dalam kemantapannya yang teguh.
"SAH!" Teriak para tamu ikut berbahagia menyambut suksesnya acara ijab kabul tersebut.
Tidak hanya para tamu yang ikut berbahagia, namun Gio yang menjadi pemeran utama dalam acara ini pun tidak mampu menahan rasa bahagianya yang terus meluap-luap di dalam tubuhnya.
Ya Allah, terimakasih. Batin Gio bersyukur amat sangat bersyukur. Bahkan matanya yang hitam pekat dan bersorot tajam kini memerah menahan air mata kebahagiaan.
Tidak, jangan sampai menangis karena ia adalah laki-laki sejati di sini. Lagipula ada banyak tamu di sini dan Gio tidak akan pernah mau terlihat memalukan di depan orang lain.
Yah, dia hanya akan menunjukkan air matanya kepada istri dan Ibu dari anak-anaknya kelak. Bahkan sekalipun itu air mata kesedihan, Gio hanya akan menunjukkannya kepada tulang rusuknya yang lembut lagi indah.
__ADS_1
Hanya ialah satu-satunya yang dapat melihatnya.
***
"Annisa!"
Terkejut, Annisa dengan gerakan spontan mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamarnya yang terbuka.
"Ya Allah, Mira!" Kaget Annisa senang seraya ingin bangun dari duduknya.
"Tahan dulu, okay." Kemudian Nanda masuk ke dalam kamar mendahului Mira yang hanya menatap kosong ke arah Annisa.
"Ma shaa Allah, kamu teh cantik pisan An, makin penasaran aku rahasia perawatan kamu apa sih." Tersadar dari terkejutnya, Mira dengan langkah lebar berjalan mendekati Annisa yang sudah dikelilingi Safira, Puspa, dan seorang gadis yang ia tidak tahu siapa itu.
Tersenyum malu, Annisa dengan gerakan alami menundukkan kepalanya. Namun ini hanya bertahan beberapa detik saja karena setelah itu Annisa dengan sopan mempersilakan mereka duduk di atas ranjangnya yang sudah di taburi berbagai macam kelopak bunga mawar.
Ingin segera mendudukkan dirinya ke tempat yang Annisa intruksikan, Nanda dengan kejam menarik Mira agar tetap pada posisi berdirinya seraya membisikkannya sesuatu yang langsung membuat kedua pipi Mira memerah.
"Dasar mesum, ternyata pikiran mu sekotor ini Nanda, aku tidak menyangka!" Mendorong Nanda menjauh, Mira dengan gerakan cepat memposisikan dirinya di samping Safira yang begitu bosan melihat interaksi mereka berdua.
"Berhenti membuat keributan dan tolong perbaiki sikap kekanak-kanakan kalian khusus hari ini. Aku tidak ingin yah pernikahan Kakak ku mengalami masalah karena perilaku primitif kalian berdua."
"Apa kau bilang?" Kesal Mira tidak terima dengan julukan barunya.
"Hem, dia memang sangat primitif." Bisik Nanda halus yang mana masih dapat di dengar oleh semua orang yang ada di sini.
"Yang lebih primitif adalah ka-"
"SAH!" Suara keras dari para tamu memasuki kamar Annisa. Seketika semua orang langsung membeku, saling menatap satu sama lain dengan tatapan kosong juga sedikit bermasalah?
"Yah, kita melewatkan momen terpentingnya karena ulah kalian berdua." Suara Safira lemah seraya membantu Annisa bangun dari duduknya untuk acara yang paling mereka nantikan.
Berpikir lama, "Bagaimana jika kita meminta Mas Gio untuk mengulangi ijab lagi?" Saran Mira memberikan jalan yang mana langsung dihadiahkan tepukan keras di pundak dari Nanda.
"Itu akan berlaku di pernikahan mu nanti." Ucap Nanda malas.
"Tidak apa-apa, ini tidak apa-apa. Lagipula rasa tegang yang ku rasakan juga langsung berkurang banyak jadi aku pikir ini adalah pernikahan yang unik." Bisik Annisa bersemu merah mencoba menghentikan perdebatan Nanda, Mira, dan Safira yang akan berbuntut panjang.
Menghela nafas, mereka berdua juga sebenarnya merasa bersalah karena Annisa tidak bisa mendengar suara lantang Gio saat memintanya dari sang Abi.
"Kami minta maaf-"
Tok
Tok
Tok
Seketika ruangan itu menjadi sunyi lagi, namun kali ini debaran jantung mereka begitu cepat beradu seakan-akan mereka semua adalah mempelai wanita yang sedang diketuk pintu kamarnya oleh sang suami.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh?" Suara tenang dan meneduhkan Gio memasuki pendengaran mereka semua. Membuat Annisa yang sudah membeku sedari tadi meremat kuat tangan Safira dengan kegugupan yang luar biasa.
Merasakan tangan Kakaknya yang gemetaran dan terasa dingin, Safira tanpa sadar mengalihkan pandangannya menatap sang pengantin yang sudah terbalut baju pengantin yang indah lagi mengagumkan. Bahkan kecantikan sang pengantin sangat berpadu harmonis dengan pakaiannya yang indah, menciptakan keindahan yang memabukkan lagi menyihir.
Safira pikir, Annisa memang gadis yang pantas mendapatkan semua perhatian orang-orang karena faktanya ia terlihat begitu sempurna.
Apakah ini perasaan yang Saqila rasakan ketika bersanding dengan Annisa?
Mungkin iya, tapi Safira tidak perduli karena Kakaknya hari ini sudah menjadi milik orang lain dan tidak ada alasan bagi Safira untuk merasa cemburu lagi iri padanya.
Ingat, semua akan mendapatkan bagian masing-masing ketika waktunya tiba.
"Dia datang..dia datang..dia-"
"Buka pintunya bodoh!" Kesal Nanda mencoba mengingatkan tugas Mira saat ini.
"Ah..iya." Panik Mira seraya berjalan cepat meraih gagang pintu. Mengedarkan pandangannya menatap Annisa yang terlihat begitu gugup dan pipinya pun bersemu merah, Mira dengan senyuman tulus yang menyiratkan kebahagiaannya pada pengantin langsung menggerakkan jari-jari tangannya untuk menarik gagang pintu tersebut. Menariknya, ia dengan gerakan hati-hati membuka celah yang luas untuk orang yang ada di balik pintu tersebut.
Sunyi.
Semua orang tiba-tiba terdiam ketika melihat kecantikan yang ada di dalam kamar pengantin ini. Sejenak mereka berpikir dan akhirnya mengerti bahwa pasangan ini memang pasangan yang sempurna. Mereka terlihat begitu saling melengkapi dan yah... mereka menjadi iri dengan keberuntungan pasangan ini.
"Nak, ayo masuk dan jemput istri mu." Gio tersadar dari lamunannya dan mendapati sudah ada kedua Uminya mengapitnya.
Umi mertuanya ada di samping kanan dan Umi kandungnya ada di samping kiri.
Menganggukkan kepalanya kaku, Gio kemudian dengan langkah hati-hati berjalan memasuki kamar Annisa. Mendekati sang istri, ia dihadiahkan berbagai macam teriakan menggoda yang Gio akui memang membuatnya cukup malu.
"Waalaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh, Mas." Berdiri di depan sang istri, Gio dihadiahkan dengan jawaban salam termanis yang pernah ia dengar di dunia ini. Tidak hanya sampai di situ, Gio bahkan sempat terkejut ketika mendapati tangan lembut nan lentik Annisa yang sudah dihiasi hena pilihannya menyentuh tangan Gio. Mengangkatnya penuh bakti, Annisa dengan lembut kemudian mencium tangan laki-laki yang sudah ia cintai begitu dalam kini menjadi suaminya, Ayah dari anak-anaknya kelak.
Mengikuti suasana hatinya yang begitu hangat, Gio kemudian menyambut kasih sayang Annisa dengan mencium puncak kepalanya. Menciumnya lembut, Gio menyesap wangi lembut yang menguar dari tubuh rapuh Annisa.
Ah, betapa manisnya. Batin Gio merasa mabuk.
Setelah beberapa detik menyesap wangi Annisa, Gio dengan gerakan hati-hati kemudian menjauhkan diri dari Annisa. Meraih sakunya, ia kemudian mengeluarkan sebuah kotak merah yang semua orang yakini adalah cincin pernikahan Gio dan Annisa.
"Mas..ini.." Kaget Annisa begitu mendapati bahwa cincin yang ada di dalam kotak itu adalah cincin yang pernah Gio pasangkan untuknya ketika diganggu oleh preman dulu.
Tersenyum tulus, Gio dengan lembut menganggukkan kepalanya kepada Annisa. "Ini adalah cincin yang aku beli satu tahun yang lalu ketika akan datang melamar mu, skenario Allah indah bukan?" Bisik Gio dengan suara lembutnya seraya menarik tangan lentik Annisa yang begitu indah dan mengagumkan.
"Aku harus menahan satu tahu sebelum benar-benar memiliki mu seutuhnya, Annisa kau adalah ujian terberat ku dalam hidup ini." Sambung Gio menceritakan betapa menderitanya ia pada saat itu. Perjalanan cinta mereka, Gio tidak pernah menyangka jika hari ini akan datang. Ia tidak pernah sama sekali berpikir bahwa akan ada saatnya ia bersanding dengan seseorang yang selalu ia layangkan namanya di langit-langit malam yang dingin lagi memberatkan mata.
Berbisik dalam sujudnya yang khusyuk, Gio hanya berharap jika ia dan Annisa mendapatkan kebahagiaan yang Allah janjikan kepada hamba-Nya tapi tidak dengan bersanding seperti ini.
Rencana Allah... begitu indah, bukan?
Bahkan cairan bening yang hangat dan menyiratkan kebahagiaan penuh tidak pernah Annisa sadari sudah mengalir lembut di pipi mulusnya.
"Mas.. Annisa.. Annisa tidak pernah menyangka jika hari ini akan datang kepada Annisa. Annisa tidak pernah menyangka jika kebahagiaan itu akan datang juga hari ini..Mas Gio, Annisa sangat bahagia." Bisik Annisa bahagia menceritakan perasaan hatinya saat ini yang begitu campur aduk lagi membuatnya melayang.
Tidak tahan melihat Annisa yang seperti ini, Gio dengan perasaan bahagia kemudian menarik Annisa ke dalam pelukan hangatnya yang kokoh lagi menenangkan.
Ah, sudah lama sekali..sudah lama sekali Gio ingin melakukan ini kepada Annisa. Memeluknya ketika bersedih dan merasa putus asa, mendekapnya ketika Annisa merasa putus asa dan hilang, memeluk dan mendekapnya kuat untuk membawanya meraih kebahagiaan mereka.
Gio sudah lama menginginkan hal ini, ia ingin melindungi gadis ini dengan tangannya sendiri dan ia ingin membahagiakan gadis ini dengan tangannya pula.
Annisa..Gio akhirnya dapat memiliki mu sepenuhnya.
"Aku sangat mencintaimu, Annisa." Bisik Gio begitu tulus dan lembut.
Mendengar bisikan lembut itu, Annisa yang berada dalam dekapan Gio tanpa sadar merasakan pipinya yang panas. Bahkan debaran jantungnya yang kuat membuat Annisa mengeratkan pelukannya pada Gio dan menyesap kuat wangi tubuh Gio yang menenangkan, kemudian Annisa dengan malu-malu menganggukkan kepalanya seraya berbisik,
"Aku juga mencintaimu, Mas."
"An-"
"Kalian bisa meneruskannya malam ini karena acara selanjutnya tidak dapat ditunda lagi, tenang malam ini tidak akan ada yang mengganggu waktu sakral kalian. Kami semua sangat memahami hal ini." Tiba-tiba suara laki-laki paruh baya yang sudah mengarahkan acara mereka menginterupsi acara temu kangen mereka berdua. Membuat mereka sontak menjaga jarak sehingga mengundang tawa menggoda dari para tamu yang sedari tadi menyaksikan momen ini.
"Ayo, silakan bergabung bersama tamu-tamu kalian."
Tersenyum kikuk, Gio dengan tersenyum malu-malu meraih tangan Annisa yang juga sama malunya. Menggenggamnya lembut, ia dengan hati-hati membimbing Annisa mengikuti langkahnya keluar dari kamar pengantin mereka.
Ah, kamar pengantin.
Gio dengar jika kamar ini adalah saksi dari penderitaan Annisa dulu maka malam ini Gio akan merubah kenangan itu dan membuat Annisa tidak akan pernah melupakan bahwa kamar ini adalah saksi dari kebahagiaan mereka dan menjadi awal dari langkah mereka melihat dunia.
Memikirkannya, Gio tidak bisa menahan senyuman kepuasannya.
Ia sudah tidak sabar!
***
"Annisa?" Panggil Umi dengan sebuah senyuman yang begitu manis dan cantik.
Tersenyum balik, Annisa dengan penuh kerinduan mendatangi Umi yang kini berdiri kokoh dengan sang Abi.
"Maafkan Annisa karena belum bisa membahagiakan kalian dan terimakasih karena telah merawat Annisa dengan penuh kasih, terimakasih Umi!" Ucap Annisa seraya menundukkan kepalanya untuk mencium kaki Umi yang juga begitu shock dengan sikap Annisa yang terlalu cepat.
"Nak, jangan.." Larang Umi seraya meraih bahu Annisa agar bangun dari acara sujudnya.
Menggeleng keras kepala, Annisa dengan sepenuh hati terus mencium kaki Uminya yang telah membesarkannya dengan susah payah. Kaki ini dulunya adalah tempat surganya dan berada dan itu akan tetap berlaku sama meski ia sudah menikah. Tidak ada perbedaan untuk Annisa dan ia pun juga tetap menganggap bahwa orang tuanya adalah surganya. Bahkan suaminya pun tetap menjadi surga baginya sehingga berbakti kepada kedua orang tua dan suami adalah hal yang terpenting untuknya. Annisa juga tidak lupa bahwa ia mempunyai tugas menjadi jembatan antara Gio dengan kedua orang tuanya sehingga surga tempat suaminya kembali nanti tetap terjaga dan bahkan diridhoi oleh Allah SWT.
"Sudah, Nak, ayo bangun." Suara Umi serak menahan tangisannya.
Annisa kini patuh dan bangun dari acara sujudnya.
"Bagi kami melihat mu berdiri di atas pelaminan adalah hal yang paling membuat kami bahagia, Annisa." Ucap Umi meyakinkan sambil mengusap air mata hangat yang sudah mengalir deras di wajah cantik putrinya.
"Umi.." Lalu dengan emosi yang kuat Annisa memeluk Uminya, menyampaikan sebuah perasaan bahwa ia juga begitu bahagia saat ini. Ia bahagia jadi mereka tidak perlu cemas dengan dirinya di masa depan.
"Hiduplah dengan bahagia, Nak." Ucap Umi tulus seraya mengelus lembut punggung Annisa yang ramping dan terasa bergetar.
Melepaskan pelukannya, Annisa kemudian beralih kepada Abi yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka.
"Maafkan Annisa, Abi atas semua yang terjadi dan terimakasih karena telah merawat dan membesarkan Annisa dengan penuh kasih sayang, Annisa sangat bersyukur terlahir dan dibesarkan oleh kalian." Melakukan hal yang sama, Annisa dengan bakti mencium kaki Abi yang telah dengan begitu sabar membesarkan dan merawatnya dengan penuh kasih.
"Sudah, ayo bangun." Ucap Abi dengan suaranya berat lagi menahan tangis, ia menarik Annisa bangun dan memeluknya erat dengan penuh kerinduan.
"Kami yang seharusnya berterima kasih kepada mu karena masih mau menerima kami menjadi orang tua setelah semua yang terjadi, Annisa, Abi dan Umi bangga padamu, Nak." Bisik Abi dengan suasana hati yang begitu campur aduk dan tulus.
"Sudah, ayo sekarang temui suami mu di dalam, kalian perlu istirahat." Putus Abi seraya mendorong Annisa untuk naik tangga dan berjalan menuju kamarnya.
Menahan malu, Annisa dengan kiku membawa langkahnya menyusuri tangga yang akan mengantarkannya ke dalam kamarnya.
"Kalian..tolong jangan terlalu bersemangat." Teriak Kayla heboh yang mana membuat semua orang menertawakan Annisa.
Mengusap air matanya dengan gugup, ia pun mencoba menyembunyikan rona merah yang pasti kini sedang bersinar terang di kedua pipinya.
Ah, rasanya begitu panas namun entah mengapa ia serasa dibawa melayang tinggi olehnya.
"Mas?" Panggil Annisa terkejut juga gugup karena mendapati Gio berdiri di depan pintu kamarnya, ah lebih tepatnya berdiri di depan kamar pengantin mereka.
"Ayo masuk, sudah saatnya istirahat." Menarik tangan Annisa agar mengikuti langkahnya, Gio juga sebenarnya merasa sangat malu saat ini. Tapi jiwa laki-lakinya berteriak dan mengatakan bahwa tidak pantas rasanya membiarkan seorang perempuan lepas kendali, apalagi ini adalah Annisa.. istrinya yang lemah lembut lagi cantik.
Menutup pintu kamar pengantin mereka, Annisa dengan gugup kemudian mendudukkan dirinya di atas ranjang empuk yang sudah di taburi berbagai macam bunga pengantin, begitu menggoda dan wangi, melahirkan kesan ambigu yang menggelitik hati mereka.
"Aku..aku harus melepaskan-"
"Jangan Annisa!" Teriak Gio panik menghentikan gerakan Annisa yang ingin menyentuh hijapnya.
"Ya?" Tanya Annisa gugup juga bingung.
"Ini..kita harus membersihkan diri dulu sebelum masuk ritual itu." Bisik Gio merasakan telinganya menjadi panas.
__ADS_1
Tertegun, Annisa dengan malu langsung menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona wajah yang pasti terlihat jelas.
"Bukan begitu, Mas.. maksud.. maksud Annisa adalah ingin melepaskan aksesoris yang ada di kepala Annisa..dan..bukan 'itu'" Ucap Annisa berbisik yang mana membuat tiba-tiba tidak dapat merasakan pijakan kakinya.
Ya Allah, bagaimana bisa ia mengatakan hal seperti itu dan salah paham dengan mudahnya?
Annisa pasti sedang menertawakan kekonyolannya di dalam hati!
"Ah..yah, kalau begitu aku akan bantu." Ucap Gio setelah memperbaiki suasana hatinya yang sempat lemah. Karena walau bagaimanapun ini adalah malam pernikahan mereka sehingga Gio tidak ingin kehilangan wajah lebih banyak lagi di depan istrinya.
"Hem, terimakasih Mas." Angguk Annisa lembut.
Kemudian Annisa merasakan sebuah sensasi hangat menyelimuti kepalanya, jari-jari ramping namun tegas Gio mengembara dengan telaten menyingkirkan berbagai macam aksesoris yang sesungguhnya itu tidak terlalu banyak juga tidak berat untuk seorang pengantin.
"Apakah..kain ini juga?" Bisik Gio terdengar serak seraya menunjukkan kain putih yang merupakan pelindung aurat Annisa selama pernikahan.
Ini adalah hijap panjang yang Mbak Yana khusus rancang untuknya.
Annisa dengan patuh mengangguk setelah berpikir bahwa Gio bukanlah orang asing lagi baginya jadi Gio berhak melihat apa yang seharusnya dilihat dan berhak menyentuh apa yang seharusnya disentuh.
Tidak ada bantahan jarak untuk mereka lagi.
Menetralkan detak jantungnya, Gio dengan gerakan lembut menarik hijap panjang yang menutupi kepala Annisa. Menariknya dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri dengan nafas yang sedikit goyah.
Lalu, setelah beberapa detik bergelut dengan kegiatan ini akhirnya kain tersebut benar-benar terlepas dari kepala Annisa. Menyingkap sebuah rahasia yang sudah lama Annisa jaga dan tutupi hanya untuk suaminya nanti. Kini suaminya akhirnya bisa melihat rahasia yang sudah Annisa begitu jaga dengan hati-hati, memperlihatkan kepada Gio bahwa orang yang selama ini menutupi sebagian dari tubuhnya dengan kain adalah harta yang paling tidak ternilai di dunia ini.
Pantas saja Allah mengatakan bahwa bidadari dunia jauh lebih istimewa dan berharga dibandingkan bidadari surga, ternyata jawabannya Gio dapatkan saat ini.
Takjub, Gio dengan lembut meraih wajah merah Annisa yang terlihat begitu cantik dan mempesona.
Menatapnya dalam dan penuh akan pemujaan, mata Gio kini sudah dipenuhi oleh gelombang kasih sayang untuk sang istri tercinta.
"Annisa, aku tidak pernah tahu bahwa bidadari dunia ternyata sekarang ada di depan ku." Bisik Gio lembut membuat pipi Annisa semakin merona merah.
Mengangkat tangannya meraih tangan Gio, "Dan aku juga tidak pernah tahu bahwa bidadari di dunia kini sedang berada di depan ku, Mas." Balik Annisa berbisik. Membuat suasana bahkan lebih manis lagi dari yang pernah mereka pikirkan.
"Kalau begitu aku yang pertama membersihkan diri di kamar mandi dan setelah itu istri tercinta ku akan segera menyusul." Bisik Gio tidak tahan lagi dengan suasana hangat mereka dan secepat kilat membawa langkahnya ke dalam kamar mandi untuk menetralkan degupan jantungnya yang begitu menggebu-gebu.
"Begitu manis." Gumam Gio pada dirinya sendiri seraya menutup pintu kamar mandi.
Sepeninggal Gio, Annisa dengan gugup pula menepuk wajahnya main-main. Menepuk ringan Annisa berharap jika rona pipinya segera menghilang karena sebenarnya ia begitu malu menghadapi suaminya dengan keadaan yang begitu pemalu seperti.
Sambil menunggu sang suami membersihkan diri, Annisa kemudian memilih menyiapkan persiapan sholat mereka untuk menghilangkan kegugupannya yang memang Annisa akui semakin tidak terkendali saja.
Menggelar sajadah menghadap kiblat, pandangan Annisa kemudian jatuh pada mukena yang menjadi mas kawinnya dari Gio. Mukena putih yang memang tidak mempunyai harga atau keistimewaan yang tinggi akan tetapi mempunyai tanggungan yang amat sangat berat. Dengan mukena ini, hari-hari Annisa akan jauh lebih indah lagi karena bersama sang suami, ia akan terus berjalan mendekati keridhoan Allah SWT.
Cklak
Mengalihkan pandangannya, Annisa sudah dapati Gio yang bersih dan jauh lebih segar dari beberapa menit yang lalu.
"Silakan." Ucap Gio mempersilakan Annisa masuk ke dalam kamar mandi, tak lupa juga Annisa membawa mukena yang akan ia gunakan sholat nanti.
Menunduk, Annisa dengan sopan mengucapkan terimakasih sambil menutup pintu kamar mandi dengan malu-malu.
Setelah kepergian Annisa, Gio dengan hati yang berdebar-debar lalu berjalan menduduki sajadah yang sudah digelar rapi menghadap kiblat dan mulai menenangkan dirinya dengan bacaan-bacaan Al-Qur'an yang begitu indah dan mengalun lembut.
Mengisi kamar pengantin ini dengan ayat-ayat cinta yang manis lagi menenangkan, menciptakan perasaan manis yang begitu memabukkan lagi melayang.
Annisa yang ada di dalam kamar mandi pun tidak bisa menahan senyuman takjubnya pada sang suami yang ada di dalam kamarnya.
Setelah selesai membersihkan diri, ia kemudian langsung menggunakan mukena tersebut dengan rapi dan keluar dari kamar mandi.
Alunan ayat suci berhenti, sang asal suara menatap diam pada sang istri yang kini juga sedang menatapnya. Merona, Annisa dengan langkah kaki pelan mendekati sang suami guna melaksanakan sholat sunnah setelah memasuki kamar pengantin.
"Kalo begitu kita mulai saja." Gio berdiri dari duduknya setelah tersadar dari lamunannya yang kesekian kali hari ini.
"Allahuakbar." Suara Gio memulai sholat mereka. Annisa yang menjadi makmum pun dengan patuh dan khusyuk mengikuti jejak sang suami. Menghamba pada Sang Maha Kuasa yang telah dengan indahnya menyatukan mereka dalam skenario yang tidak terduga.
Lalu, suasana manis itu pun bertambah kuat dengan suara Gio yang mengalun lembut melantunkan ayat-ayat cinta yang Allah hadiahkan kepada hamba-hamba-Nya.
Tidak ada yang menyia-nyiakan kesempatan ini dan mereka begitu terbuai akan cinta mereka pada Sang Kekasih yang sesungguhnya. Menceritakan perasaan mereka melalui ketertundukan dan hati penuh penghambaan kepada Sang Dzat Maha Kuasa, ah, betapa lembutnya suasana saat ini.
"Assalamualaikum warahmatullahi," Salam Gio ke kanan.
"Assalamualaikum." Salamnya ke kiri.
Mengusap kedua tangannya ke wajah, Gio kemudian mulai membaca ayat-ayat pendek untuk ritual dzikir mereka. Tidak lupa juga ia membaca shalawat kepada nabi Muhammad Saw yang telah berjuang membawa mereka ke jalan seterang ini. Bahkan dilahirkan dalam keadaan Islam adalah hadiah terbaik yang paling mereka syukuri karena dengan begitu ini membuktikan bahwa Allah begitu menyayangi mereka.
Terlahir dalam Islam adalah sebuah bukti bahwa kita terlahir dalam lindungan Allah SWT, benar bukan?
"Aamiin.. aamiin ya Rabbal alaamiin." Tutup Gio mengakhiri doa penghambaan mereka.
Berbalik, Gio kemudian di sambut dengan ukuran tangan Annisa kepadanya. Mengecupnya penuh bakti, Gio bisa merasakan perasaan hangat yang menggebu-gebu dalam dirinya.
"Alhamdulillah.." Bisik Gio seraya meraih puncak kepala Annisa dan mengecupnya dengan ketulusan yang amat sangat dalam.
Beberapa detik kemudian mereka saling menjauh, menatap dari mata ke mata seakan-akan tidak ada jarak yang menghalangi mereka berdua untuk saling mendekat.
"Kenapa menangis?" Tanya Gio lembut sambil mengangkat kedua tangannya untuk mengusap pipi lembut sang istri.
Meraih tangan sang suami, "Annisa.. Annisa hanya merasa bahagia Mas.. Annisa sangat bahagia.." Jawab Annisa malu namun masih tetap tidak bisa menghentikan air matanya mengalir.
Tersenyum lembut, Gio mengecup kening Annisa dengan lembut beberapa kali. "Hem, aku juga sangat bahagia Annisa..aku tidak pernah menduga bahwa yang akan menjadi Ibu untuk anak-anak ku adalah kamu, yang akan menjadi madrasah pertama anak-anak ku adalah kamu... Allah Maha Besar, bukan?" Gio juga tidak pernah menyangka jika orang itu adalah Annisa yang juga menjadi cinta pertamanya.
Skenario yang Allah buat untuk mereka memang sangat tidak terduga.
"Annisa juga Mas, Annisa tidak pernah menyangka bahwa yang akan menjadi Ayah dari anak-anak ku adalah Mas Gio, laki-laki pertama yang berhasil mencuri hati Annisa. Mas benar, Allah memang kuasa atas segalanya.. sangat manis."
"Maka dari itu aku tidak bisa menahannya lagi,"
Mengelus lembut pipi Annisa yang begitu lembut dan hangat, "Mas akan mencoba selembut mungkin.." Bisik Gio meminta izin untuk memulai langkah terakhir malam pengantin mereka.
Tersipu, Annisa dengan anggukan pelan mengizinkan sang suami untuk memulai tahapan terakhir mereka. "Ini..ini adalah yang pertama bagi Annisa, jadi.. tolonglah lebih lembut." Bisik Annisa malu-malu.
"Mas janji." Bisik Gio lembut begitu lembut seraya menarik Annisa lebih dekat lagi dengannya, meraih puncak kepala Annisa, Gio kemudian mencoba mengatur detak jantungnya dan rasa gugupnya dengan menutup mata.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
"Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa." Doa Gio lirih, membuka matanya ia kemudian meniup puncak kepala Annisa dengan sayang.
Mengecup puncak kepala Annisa, perlahan ia turun pada daerah kening Annisa yang menjadi tempat favoritnya selain puncak kepala Annisa. Mengecup kening Annisa penuh kasih sayang, lantas Gio menahan kecupan itu lebih lama dari yang pertama. Setelah puas dengan kening Annisa, Gio kemudian merendahkan kepalanya untuk mengecup mata kanan Annisa yang dilanjutkan ke mata kiri Annisa.
Kelopak Annisa yang sudah basah dan lembab terlihat bergetar, menghibur Gio yang juga sama gugupnya dengan dia.
Turun lebih rendah lagi, Gio mencium ujung hidung Annisa yang begitu indah dan mempesona. Selesai dengan hidung, Gio beralih lagi dengan teratur mengecup pipi kanan Annisa dan setelah itu ke pipi kirinya.
Dan yang terakhir, bibir Annisa. Gio tidak langsung menyentuhnya, tapi ia menahan diri dulu. Menatap wajah terpejam Annisa yang begitu merah bahkan pipinya pun sudah berwarna jambu terang, begitu manis.
"Buka matamu, sayang.." Bisik Gio yang langsung disambut dengan mata hitam Annisa yang sudah lembab.
Tersenyum, "Kita akan melakukannya secara bersama-sama karena ini adalah yang pertama bagi kita berdua." Ucap Gio pada sang istri yang lagi membuat Annisa merasakan panas di wajahnya.
"Darimana Mas tahu jika ini adalah yang pertama bagi Annisa?" Tanya Annisa malu.
Ini memang akan menjadi ciuman pertama bagi Annisa tapi bingung mengapa Gio bisa mengetahui ini karena tidak ada yang tahu akan hal ini setelah gagalnya pernikahan pertama Annisa.
Tersenyum lembut, "Rahasia, sayang." Bisik Gio tidak ingin merusak suasana manis mereka dengan menyebut nama seseorang yang sudah menghancurkan kehidupan Annisa.
Bagaimana mungkin Gio bisa mengatakan bahwa sebelumnya ia sudah mengintrogasi Dimas dengan ketat tentang malam pernikahan mereka. Dan Gio bersyukur bahwa ciuman pertama Annisa masih belum direbut siapapun yang artinya bahwa satu-satunya laki-laki yang akan mendapatkannya adalah dia seorang.
"Tatap mataku dan jangan pernah pejamkan matamu." Bisik Gio mengintegrasikan yang langsung diangguki malu-malu oleh Annisa.
Perlahan, Gio menipiskan jarak antara ia dan Annisa yang sempat meregang tadi. Menghapus jarak mereka, Annisa bisa merasakan hembusan nafas panas di wajahnya. Nafas hangat yang begitu ambigu, Annisa sama sekali tidak merasa terganggu dengan keintiman ini. Ia malah juga memberanikan diri untuk memperpendek jarak antara mereka sampai hidung mereka saling bersentuhan.
Menatap penuh cinta, Gio kemudian dengan hati-hati menyentuh bibir tipis Annisa. Perasaan ini begitu berbeda dan membuat Gio langsung kecanduan dengan manisnya.
Lagi, ia menyentuh bibir Annisa semakin dalam bahkan kedua tangannya sudah bergerak merengkuh Annisa agar lebih dekat lagi dengannya yang langsung direspon baik lagi oleh Annisa.
Annisa spontan mengangkat kedua tangannya untuk memeluk leher Gio, memeluknya begitu erat dan penuh kasih.
Mereka berdua acuh dengan lingkungan sekitar dan mereka juga sudah lupa dengan kegugupan yang sempat mengikat mereka sebelumnya. Kini hanya ada rasa manis dan keinginan yang menggebu-gebu di antara mereka berdua. Tentu saja ini halal dan diridhoi oleh Allah, bahkan syeitan tidak diizinkan mendekati dua mahluk yang sedang dimabuk cinta yang penuh penghambaan kepada Allah SWT.
Begitu manis bukan.
\*\*\*
Pukul 04.35 pagi.
Gio sudah berpakaian rapi dengan baju koko dan sarung putihnya yang bersih dan nyaman. Memasang pecinya, Gio kemudian membawa pandangannya pada sang istri yang masih tertidur lelap dari kegiatan melelahkan mereka berdua.
Mendekati sang istri yang tertidur lelap, dengan lembut Gio mengguncang tubuh Annisa agar segera bangun dari tidurnya.
"Ya, Mas?" Tanya Annisa yang terlihat masih mengantuk dan kelelahan. Melihat ini sebenarnya Gio tidak tega membangunkan Annisa sepagi ini.
"Mas akan pergi sholat berjamaah ke masjid bersama Abi, kamu sholat di sini saja yah bersama Umi dan Safira. Jika masih lelah setelah sholat istirahat saja, jangan terlalu memaksakan diri." Ucap Gio dengan rasa bersalah yang jelas.
Tersipu, Annisa seakan sudah lupa dengan rasa kantuknya. Ia dengan hati-hati menarik selimut hangat yang menutupi tubuhnya lebih tinggi pula, hampir menutupi wajahnya yang sudah memerah.
"Ini bukan apa-apa Mas dan Annisa juga tidak merasa lelah lagi, mungkin justru sebaliknya Annisa justru merasa lebih semangat menjalani hari ini." Ucap Annisa malu-malu.
Tersenyum lembut, Gio sangat menyukai sikap malu-malu istrinya ini.
"Baiklah, kalau begitu Mas pamit ke masjid dulu yah." Pamit Gio seraya mengecup kepala Annisa dan berjalan menjauh dari posisi Annisa.
"Mas.." Panggil Annisa berhasil menghentikan langkah Gio.
Mencoba bangun dari posisi tidurnya, Annisa dengan telaten menutupi tubuhnya yang masih memalukan dengan selimut hangat tersebut. Mencoba turun dari ranjang lantas Gio tidak bisa melihat Annisa kesusahan sehingga ia dengan cepat menghentikan langkah Annisa.
"Ada apa, sayang?" Tanya Gio lembut.
Menunduk malu, tangan Annisa kemudian dengan lembut meraih tangan kanan sang suami dan mengecupnya dengan sayang.
"Hati-hati, Mas." Ucap Annisa mengingatkan.
Tersenyum sayang, Gio sekali lagi mengecup kening Annisa dengan perasaan yang menggebu-gebu.
"Kamu juga, sayang." Peringat Gio balik seraya mengucapkan salam dan berjalan menjauh dari Annisa.
Setelah Gio menutup pintu kamar mereka, Annisa kemudian dengan perasaan lega menjatuhkan dirinya di atas ranjang kembali. Meraba kedua pipinya yang terasa panas, Annisa tidak bisa menahan perasaan bahagianya yang membuncah.
"Bunga pengantin yang kedua ini entah mengapa terasa lebih hangat dan manis wanginya, berbeda dengan bunga pengantin yang pertama."
Hem, bunga pengantin ini jauh lebih baik dari bunga pengantin yang kedua, entah mengapa.
__ADS_1
TAMAT
GAYS, akan ada extra part yah..tapi mungkin agak lama😂😂😂