Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Season II: Part 8


__ADS_3

"Rio?" Gumam Dea terkejut.


Laki-laki yang telah ia cintai dengan sepenuh hati dan dengan kejam menduakannya bersama sahabat Dea sendiri, mengapa ia ada di sini?


Bukankah sudah jelas kemarin Dea memutuskan untuk tidak ingin terus terlibat dalam kehidupan Rio. Mereka sudah berpisah ingat?


Lagipula jika Rio bermaksud datang mencarinya maka Dea tidak akan segan menolak. Perasaan dikhianati dan dikecewakan itu sangat menyakitinya, tidak ada yang tersisa di antara mereka berdua kecuali hanya sebuah perasaan asing yang jelas.


Dea tidak bisa bersamanya dan Dea tidak akan pernah bisa kembali kepadanya!


"Dea, kamu kenapa?" Tanya Masha panik melihat wajah Dea yang terlihat bermasalah. Ia bahkan lupa jika ustadz Aldi dan Ali ada di depannya, bukan hanya lupa saja namun ia telah menyia-nyiakan kesempatan untuk dekat dengan salah satu orang tampan ini, ah!


"Kamu ngapain ke sini Ri-"


Wush


Sebuah angin sepoi membelai wajah Dea, membuatnya langsung tersadar jika ada sesuatu yang salah di sini. Ia bahkan tidak bereaksi sejenak ketika melihat ustadz Aldi dan Ali melewatinya. Jangankan menyapanya, meliriknya saja Ali tidak pernah.


"Dia bukan Rio.." Suaranya shock sekaligus merasa lega.


Tidak, laki-laki itu bukanlah Rio. Memang sekilas ia terlihat mirip dengan Rio namun jika diperhatikan lebih dekat laki-laki ini punya banyak perbedaan dengan Rio.


Entah itu mulai dari tinggi badan, bentuk tubuh dan senyumnya yang menenangkan. Dea bisa dengan jelas melihatnya jika mereka bukan orang yang sama.


Yah, dia bukan Rio!


"Dea? Kamu ngomong apa sih?" Ini masih siang dan tidak lucu rasanya melihat Dea tiba-tiba kesurupan di sini. Jika itu diarea ruangan maka Masha tidak khawatir tapi ini di tempat umum dan Masha khawatir jin yang merasuki Dea adalah jin yang suka bertingkah di depan banyak orang!


"Tidak..aku gak ngomong apa-apa kok cuma kepala aku rasanya sedikit pusing." Hampir saja pingsan di tempat jika itu benar Rio.


Namun syukurnya laki-laki itu bukan Rio sehingga ia bisa bernafas dengan lega sekarang.


Ah, jika dilihat dari tampilannya mungkinkah laki-laki tadi punya hubungan darah dengan Rio?


Yah, sesungguhnya ini patut dicurigai karena mereka terlihat persis mirip. Namun karena laki-laki tadi lebih tinggi dan wajahnya lebih meneduhkan Rio, Dea bisa membedakan bahwa mereka bukan orang yang sama.


Apalagi sekilas Dea melihat jika mata laki-laki tadi sebenarnya tajam dan hitam pekat, hanya sekilas dan ia tidak bisa memastikannya.


Mereka terlihat mirip namun di saat yang bersamaan berbeda jauh!


"Astagfirullah..lalu apakah kita harus kembali saja? Aku takut di jalan nanti kau bisa saja pingsan." Masha tidak berbohong ketika mengatakan ini karena faktanya wajah Dea terlihat begitu pucat dan kekurangan darah.


Masha takut jika diperjalanan nanti Dea tiba-tiba tumbang dan berakhir tidak sadarkan diri. Jika seperti itu maka penyakit Dea bukannya membaik malah bertambah buruk, ah!


Dea menggeleng dengan jujur, "Aku sungguh baik-baik saja dan pusingnya juga tidak terlalu parah sampai ke tingkat aku harus pingsan." Lagian ia sudah membaik dan perasaan pusing yang menyerangnya tiba-tiba juga sudah pergi jadi mengapa harus kembali ke kamar?


Lagipula suasana hatinya saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya dan entah mengapa ia lega setelah melihat bahwa laki-laki itu bukan Rio. Mungkin..yah, mungkin karena patah hati Dea bertekad tidak ingin melihat Rio lagi sehingga sungguh melegakan jika laki-laki tadi bukan Rio.


Mungkin.


"Apa kau yakin?" Tanya Masha ragu karena siapapun pasti bisa melihat betapa kurang sehatnya Dea.


Masha tidak ingin memperburuk kesehatan Dea.


"Aku yakin jadi kau tidak perlu khawatir." Ia sungguh baik-baik saja jadi mengapa Masha begitu khawatir melihatnya?


"Kau tahu wajah mu terlihat pucat, seakan-akan tensi darah mu berada di bawah angka 70." Ucap Masha menggambarkan betapa pucatnya sekarang Dea.

__ADS_1


"Benarkah?" Tanya Dea tidak percaya.


Masha dengan serius mengangguk membenarkan.


"Terserahlah, tidak perduli apa sekarang aku sungguh baik-baik saja." Putus Dea tidak mau tahu sambil melanjutkan perjalanannya ke tempat ustazah Nurul.


Masha yang lagi-lagi di tinggal mau tidak mau harus berlari lagi mengikuti langkah cepat Dea yang sudah jauh di depan.


"Aku mohon berjalanlah pelan-pelan." Pinta Masha memohon karena Dea benar-benar cepat saat melangkah, bahkan disaat keadaannya yang seperti ini tenaganya sama sekali tidak berkurang.


Ah, betapa membuat cemburu!


"Masha, aku ingin menanyakan sesuatu kepada mu." Suara Dea setelah menyesuaikan langkahnya dengan Masha.


"Ya, aku akan menjawabnya jika aku bisa." Ucap Masha tidak keberatan sama sekali.


"Apa kau lihat dua laki-laki yang lewat tadi?" Tanya Dea mengingatkan Masha pada dua sosok tampan yang sempat ia abaikan tadi.


Ah, memikirkannya membuat Masha benar-benar menyesal!


Mengapa ia tidak menyapa mereka, ah!


"Ya, aku melihat mereka." Jawabnya setelah menenangkan perasaan jengkelnya.


"Lalu apakah kau mengenal mereka?" Tanya Dea santai namun sarat akan rasa penasaran yang tinggi.


Pasalnya Dea baru ingat jika hanya laki-laki yang ada di samping Rio itu yang sudah dua kali ia temui, dan Dea pun sadar jika kemarin dia benar-benar konyol berpikir jika orang itu adalah mahluk halus.


Sementara yang mirip Rio, ini adalah pertama kalinya Dea bertemu dengannya sehingga ia ingin mencari informasi laki-laki itu. Mungkin saja laki-laki itu punya hubungan darah dengan Rio yang ada di kota.


"Aku hanya kenal satu tapi yang satunya lagi enggak." Jawab Masha jujur.


"Lalu kau ceritakan kepada ku." Pinta Dea santai.


Meskipun tidak mendapatkan informasi seperti yang ia harapkan itu tidak apa-apa asalkan ia tahu sedikit tentang mereka.


"Yang ada di sebelah kiri itu namanya Ustadz Aldi, Ustadz yang baru saja pulang dari Mesir kemarin dan menjadi idola orang-orang santri." Mulai Masha memperkenalkan.


Masha tidak sadar jika Dea yang ada di sampingnya benar-benar membeku. Oh tidak, dia sudah berperilaku kurang ajar pada idola pondok pesantren!


Jika ia tahu sebelumnya bahwa laki-laki itu adalah seorang ustadz, bahkan ia adalah ustadz Aldi maka Dea berjanji tidak akan pernah bertemu dengannya.


Dan pantas saja setiap kali bertemu orang ini terlalu cerdas dalam mengolah kata sehingga Dea kebingungan dibuatnya. Bertanya-tanya mungkin laki-laki itu adalah salah satu santri yang berprestasi, tapi ia tidak pernah melihatnya sebelum itu.


Nah, sekarang jawabannya sudah ada dan Dea tidak terkejut mengapa ia begitu cerdas. Dasarnya dia adalah seorang ustadz, lulusan Kairo Mesir, ah!


"Nah, kalau yang disebelahnya aku gak kenal tapi orang bilang dia itu sahabat ustadz Aldi dulu waktu mondok di sini. Dengar-dengar kedatangannya untuk mengabdi di sini sama halnya seperti ustadz Aldi. Oh yah, kalau tidak salah namanya Ustadz Ali, idola baru juga di pondok pesantren ini." Iya, Masha dengar namanya Ustadz Ali.


Tapi berbahaya!


Dia terlalu tampan untuk tinggal di sini, ah!


"Ustadz Ali?" Ia tidak pernah mendengar nama ini sebelumnya maka sudah dipastikan jika mereka tidak pernah bertemu.


"Iya, ustadz Aldi dan ustadz Ali terlalu tampan, Dea. Kita kan jadi bingung mau deketin yang mana soalnya mereka suami-suami idaman banget!"


Kenapa bisa ada dua ustadz yang tiba-tiba masuk ke pondok pesantren ini?

__ADS_1


Apalagi tampang mereka sudah sangat tidak diragukan lagi, terlalu sempurna ah!


"Jadi seperti itu." Gumam Dea abai dengan ocehan Masha selanjutnya.


Sekarang ini yang ada di pikirannya adalah bagaimana caranya agar bisa dekat dengan ustadz Ali. Mencari tahu asalnya-


Oh tidak!


Jangan seperti ini, jangan.


Apalagi sampai harus mencari tahu hubungan mereka, memangnya jika mereka punya hubungan lalu kenapa?


Bukankah mereka orang yang tidak sama?


\*\*\*


"Sudah masuk waktu sahur, yah?" Tanya Mira dengan rasa kantuk yang masih enggan pergi dari matanya, begitu berat rasanya untuk berkedip.


Safira yang sudah siap dengan mukenanya mengangguk ringan, "Ini sudah jam setengah tiga, kata Mas Gio kita sholat tahajud dulu sebelum makan sahur. Kamu bangun dong kalau gak mau aku tinggal." Ini baru setengah dua dini hari, tapi karena pengaturan pondok pesantren yang berubah setelah masuk bulan puasa maka mereka harus bangun lebih awal dari jam tidur sebelumnya.


"Iya..iya sabar." Dengan susah payah Mira beranjak dari posisi tidurnya, mengambil mukena serta mushaf Al-Qur'an ke dalam pelukannya, lantas mereka pun langsung meninggalkan kamar.


Setelah menyelesaikan wudhu, Mira dan Safira sudah duduk manis di dalam masjid menunggu santri yang lain berkumpul untuk memulai sholat.


"Mbak Mira, kita boleh sholat di sini gak?" Tiba-tiba suara lembut Masha menginterupsi mereka.


Melirik asal suara sudah mereka dapati Masha dan Dea tersenyum manis-ah tidak, itu lebih tepatnya hanya Masha yang tersenyum karena Dea hanya berdiri canggung di sampingnya.


"Boleh kok, lha yang punya masjid kan pondok pesantren bukan aku." Ucap Mira bercanda, mempersilakan Masha dan Dea sholat di samping mereka.


Mendapatkan jawaban positif dari Mira, lantas Dea dan Masha langsung saja menggelar sajadah mereka menghadap kiblat bersiap untuk memulai sholat.


"Dea?"


Terkejut, Dea langsung mengalihkan pandangannya menatap sang pemilik suara yang juga sedang menatapnya dengan tatapan rumit.


"Y-ya?" Jawabnya gugup karena ini adalah pertama kalinya Safira mau menyapanya. Di sekolah dulu mereka tidak di dekat dan di tambah kemarin ia sudah menyakiti Annisa maka hubungannya dengan Safira benar-benar buruk, tidak bisa ditolong lagi.


Tapi tiba-tiba Safira menyapanya, apakah ini sesuatu yang baik?


Safira menatap diam wajah tirus Dea yang benar-benar menurun banyak. Safira sadar jika gadis ini pasti sudah terlalu banyak mendapatkan tekanan sehingga berat badannya turun sebanyak ini.


Dia terlihat terlalu rapuh dan Safira akui, ia merasa sedih untuk pertama kalinya ketika melihat keadaan Dea yang seperti ini. Apalagi ia juga sempat mendengar jika Dea sering dibuli di asramanya, hah..pasti hidupnya di sini benar-benar sulit.


"Kau harus makan sahur yang banyak nanti." Ucap Safira akhirnya karena tersulut emosi yang menyedihkan.


Hah, meskipun ia kecewa terhadapnya tapi jauh dari dalam hatinya Safira berpikir bahwa gadis ini terlalu kasihan. Ia terlihat kesepian di sini, keluarganya sudah angkat tangan terhadapnya dan mungkin sudah tidak perduli lagi.


Lalu mengapa ia harus memendam kemarahan ini di dalam hati di saat objek yang ia marah justru berdiri dengan tekanan dunia yang menyedihkan?


"Ah..." Benar-benar merasa terkejut, "Ya, akan ku coba." Lanjutnya dengan suara yang tipis, bahkan jika tidak diperhatikan dengan baik maka itu bisa saja terlewati.


Safira tiba-tiba perhatian kepadanya tentu saja ia merasa terkejut, ini terlalu langka untuk Dea.


Sementara Dea dan Safira yang tersemat dalam udara canggung, Mira justru kini menatap aneh pada Safira. Bagaimana tidak merasa aneh karena ia begitu mengenal bagaimana sifat Safira ini. Dia masih marah dengan Dea tapi mengapa tiba-tiba rasanya hati Safira menjadi lunak ketika melihat Dea?


Apakah sudah ada maaf untuk Dea?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2