
Prankk
"Astagfirullah."
"Umi gak apa-apa kan?" Saqila bertanya panik seraya mendekati Umi yang kini sedang menatap shock pecahan piring yang berserakan di lantai.
"Umi baik-baik saja, hanya sedikit pusing." Ucap Umi lemas seraya mendudukkan dirinya di salah satu kursi.
"Tangan Umi mengalami luka bakar, bagaimana bisa ini di sebut baik-baik saja?" Keluh Saqila tidak habis pikir melihat betapa tenangnya Umi ketika mendapat luka bakar yang ia tebak begitu menyakitkan.
Hei, ini bukan tanpa alasan ia mengatakan hal ini karena ia pun pernah mengalaminya. Ia adalah perempuan jadi wajar saja ia akan mendapatkan sapaan akrab dari dapur yang sering ia repoti.
"Jangan khawatir Saqila karena ini hanya luka kecil dan tidak berdampak besar bagi Umi. Apalagi luka seperti ini bukan sekali dua kali Umi dapatkan jadi Umi sudah terbiasa dengan luka seperti ini." Ucap Umi menghibur kepanikan Saqila, memang luka bakar seperti ini adalah hal yang biasa ia dapatkan apalagi jika sedang bergelut di dalam dapur itu sudah pasti akan ia dapatkan ketika memasak.
Menghela nafasnya, Saqila tidak akan memperpanjang masalah ini dengan Umi karena ia tahu betapa keras kepalanya Umi ketika sudah memutuskan sesuatu. "Umi duduk di sini dulu sementara Saqila mengambil kotak P3K." Ucap Saqila tidak mau di bantah dan dengan begitu ia pergi meninggalkan Umi yang baru saja membuka mulut ingin bersuara namun melihat sikap tegas Saqila, ia akhirnya mengurungkannya.
Umi menatap lurus kepergian Saqila yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya. Matanya yang biasa terukir tajam kini meredup dan menyendu, menyiratkan sebuah kebingungan yang tidak berujung dan terus saja berputar-putar di dalam pikirannya selama beberapa hari ini. Saqila, putri keduanya yang lembut juga bijaksana mempunyai kesan yang halus dan murni. Apakah iya gadis semurni Saqila dapat melakukan perbuatan kotor hanya untuk menghitamkan kesan saudaranya di depan semua orang?
Umi pikir itu mustahil karena dilihat dari sisi manapun Saqila bukanlah orang yang seperti itu. Apalagi selama ini ia selalu berjuang membela Annisa dan menunda kebahagiaannya demi hanya untuk menghormati Annisa yang mengalami kegagalan dalam pernikahan, apakah iya Saqila akan melakukan semua kebaikan ini dengan berpura-pura?
Umi yakin itu tidak seperti yang selama ini ia duga karena ia begitu mengenal dengan baik anaknya sendiri lebih dari siapapun. Adapun masalah Gio, Umi pikir Saqila memang masuk akal. Ia tidak akan secara impulsif mengatakan Gio adalah calon suaminya jika di antara mereka memang tidak ada apa-apa oleh karena itu Umi yakin Saqila dan Gio punya hubungan yang halus namun tidak bisa dibuktikan dengan begitu mudah oleh Saqila kepadanya.
Lalu tentang Annisa, walaupun sedikit goyah akan kecurigaannya terhadap putri pertamanya Umi tidak bisa langsung mempercayai semua kecurigaannya kemarin karena seperti yang ia katakan tadi Saqila tidak mungkin sejahat itu kepada Annisa. Ini juga diperkuat karena Annisa gagal dalam pernikahannya dalam waktu satu malam yang singkat. Siapa yang tidak akan menebak kalau Annisa masih suci setelah dicampakkan begitu saja di malam pertama oleh suaminya, tidak, semua orang pasti akan berpikir bahwa Annisa sudah tidak suci lagi karena semuanya sudah jelas dari sikap suaminya.
Melayangkan surat cerai tanpa mengatakan alasan sebenarnya, sang suami bungkam dan memilih menghilang dari mereka semua. Jadi setelah melihat semua ini apakah semua orang tidak akan berpikir jika sang suami kecewa dengan Annisa dan memilih tidak ingin mengatakan apa-apa?
Tentu saja semua orang berpikir seperti ini bahkan Umi tidak terkecuali. Oleh karena itu Umi menghilangkan keraguannya terhadap Saqila dan lebih memilih percaya pada ketulusan Saqila walaupun di dalam hatinya ada sesuatu yang terasa kosong dan hampa, Umi memilih mengabaikan hal itu.
Di lain tempat, Saqila yang sedang sibuk mencari kotak P3K begitu tenggelam dalam pikirannya yang bergelombang. Ia begitu tenggelam dalam pikirannya tentang Umi yang akhir-akhir ini sedikit berbeda dari hari sebelumnya. Umi lebih banyak melamun dan kadang ia temukan dalam keadaan linglung saat bersamanya. Ini bukan tidak mungkin jika Saqila berpikir bahwa penyebab dari semua itu adalah karena pembicaraan mereka beberapa hari lalu.
Ia begitu ceroboh dan melupakan satu hal jika selama ini Safira juga mengamati semua yang ia lakukan. Yah, memang tidak semuanya dan hanya berfokus pada kejadian hari Annisa pergi saja akan tetapi hal itu tetap membahayakan posisinya di mata Umi.
Dan lagi, kenapa Puspa tidak mengatakan apapun pada hari dimana Annisa bertemu dengan Gio?
Mengapa Puspa tidak mengatakan tentang kehadiran Safira di sana?
Karena jika saja Puspa mengatakannya maka Safira tidak akan menemukan celah apapun pada rencananya yang sempurna. Ah, semua ini memang kecerobohan Puspa!
Gadis bodoh itu seharusnya ia berikan pelajaran juga setelah ini agar ia tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.
***
"Kenapa hal itu bisa terjadi? Bukankah sebelumnya kau sudah berjanji akan menjaganya dengan baik di sana dan segera menyelesaikan rencana mu secepat mungkin?" Wajah cantiknya tampak dingin dan berfluktuasi. Senyuman tipis yang kadang tercetak manis seakan membeku di telan kedinginan hatinya. Bahkan ada kerutan samar yang kadang muncul di wajahnya setiap mendengar jawaban dan penjelasan dari pihak yang ada di seberang sana.
Bagaimana menggambarkan suasana hatinya saat ini?
Benar, hatinya begitu dingin saat ini dan bisa disimpulkan bahwa ya, gadis ini sebenarnya dalam suasana yang buruk. Ia tidak pernah begitu semarah ini ketika mengikuti permainan lawan.
"Maafkan aku Safira, ini semua di luar perkiraan kami. Kami tidak pernah menyangka jika wanita itu akan seberani ini karena seperti yang ku katakan tadi bahwa saat kami sedang memasak di dapur kami tidak mendapati ada yang mencurigakan darinya. Ia bersikap biasa dan begitu tenang, seakan tidak akan ada yang terjadi hari ini." Gadis yang ada di seberang sana menjelaskan dengan panik. Ia mengatakan hal yang sejujurnya bahwa saat mereka ada di dapur semuanya tampak baik-baik saja dan tidak ada gerakan mencurigakan dari wanita itu. Jadi hal ini membuat mereka lengah dan tidak menyangka jika wanita telah melakukan sesuatu yang jahat.
Tersenyum dingin, Safira rasanya ingin sekali menertawakan lawan bicaranya yang ada di seberang sana. Betapa naifnya, "Nanda, kau sebenarnya bukan tidak menduga hal ini bisa terjadi tapi kau sengaja mengabaikan semua kemungkinan buruk itu karena kau hanya sibuk pada rencana mu saja tanpa memikirkan keselamatan Kakak ku. Jangan membuat alasan yang bodoh seperti itu karena aku bukan anak kecil lagi yang bisa kau bodohi." Safira bukan orang yang bodoh jika tidak bisa menyimpulkan semua kemungkinan yang ada. Kejadian ini terjadi karena Nanda terlalu fokus pada orang tuanya dan mengabaikan keselamatan Annisa.
Hal semacam ini, Safira begitu berpengalaman dengan keegoisan manusia. Bahkan ambisi kedua orang tuanya yang tinggi akan pendapat orang lain saja Safira sudah tahu betul itu. Orang tuanya buta akan kebenaran yang ada karena mereka begitu peduli dengan komentar orang lain tentang kehidupan mereka. Mereka menutup mata untuk anaknya dan lebih memilih mendengarkan komentar orang lain tentang anaknya. Padahal orang yang paling mengenal Annisa adalah kedua orang tuanya dan bukan orang lain jadi mengapa mereka harus mendengarkan orang luar daripada pembelaan anaknya sendiri?
Yah, itu karena mereka begitu tergila-gila dengan pandangan orang terhadap mereka.
Tidak berbeda dengan kedua orang tuanya, saudaranya yang bertopeng lemah lembut dan bijaksana juga begitu serakah akan perhatian dan kasih sayang orang lain. Menggunakan berbagai cara kotor ia merebut semua yang Annisa dapatkan dengan mudah, yah manusia memang egois. Penuh akan ambisi tidak masuk akal.
Menelan ludahnya kasar, Nanda tidak tahu jika Safira akan begitu mudah melihat kecerobohannya. Yah, ia akui jika hari ini fokusnya hanya pada menyenangkan kedua orang tuanya dan mengabaikan semua kemungkinan yang dapat terjadi pada Annisa. Tapi itu tidak seperti ia benar-benar tidak perduli dengan Annisa.
"Safira, itu tidak seperti yang kamu pikirkan-"
"Jika memang tidak seperti itu lalu mengapa kau tidak mengatakan apapun ketika masa lalu Kakak ku tersebar di pondok pesantren kemarin? Kau abai bukan? Tidak, selain abai kau juga tidak mampu melindunginya. Lalu kenapa aku harus membiarkan Kakak ku tinggal lebih lama lagi di sana? Apa hanya untuk membiarkannya sebagai umpan dari rencana mu dan membiarkannya tersakiti dengan mudah?. Hah..Nanda, aku tidak akan sebodoh itu lagi." Bahkan terbongkarnya masa lalu Kakaknya di sana tidak mampu Nanda atasi. Jangankan menyelesaikan semua itu, memberi tahunya saja Nanda tidak pernah jadi katakan alasan apa yang paling mungkin untuk Safira membiarkan Kakaknya terus berada di sana?
Safira pikir itu semua cukup sampai di sini, ia tidak akan perduli lagi dengan rencana Nanda.
Tertegun, Nanda seketika merasakan tubuhnya menegang. Ah, ia lupa jika masalah Annisa kemarin masih belum di selesaikan. Bahkan bertindak untuk mencari tahu pun ia tidak lakukan karena ia tahu siapa pelaku dibalik semua itu.
"Aku..aku tidak memberitahu mu karena aku pikir semua yang terjadi kemarin adalah pelaku yang sama dengan hari ini."
"Jika benar mereka adalah pelaku yang sama jadi kenapa? Kau bahkan tidak menyelesaikannya dan membiarkan wanita itu ada di atas angin. Nanda, sudah cukup aku tidak ingin berdebat lagi dengan mu. Kau...yah, kau memang teman ku tapi kau bersikap seolah kita tidak punya ikatan apapun. Kau sudah sangat mengecewakan ku, jadi ku pikir Annisa harus pulang bersama ku nanti. Ia tidak cocok tinggal di sana lebih lama lagi." Safira memutuskan secara sepihak, ia tidak ingin mendengarkan pembelaan apapun lagi dari Nanda. Membiarkan Kakaknya tinggal lebih lama lagi di sana bukanlah keputusan yang baik meskipun mereka berjanji untuk melindunginya itu sama sekali tidak merubah apapun karena faktanya Kakaknya akan tetap terluka selama ia lepas dari pengawasannya.
"Safira..tunggu..aku minta maaf dengan yang terjadi kemarin. Aku tidak bermaksud untuk mengabaikan semua itu karena kemarin kedua orang tua ku juga datang ke sini jadi fokus ku terbagi dua. Aku berencana untuk menyelesaikannya tapi setelah aku menyelesaikan urusan ku dengan keduaorang tuaku." Nanda menjelaskan dengan panik. Ia tahu kecerobohannya karena membiarkan masa lalu Annisa tersebar begitu saja, yah, alasan yang ia katakan tadi adalah sepenuhnya kebohongan. Ia memang mengabaikannya karena terlalu fokus pada rencananya yang akan segera berakhir.
"Jangan menipu ku, bahkan sekalipun kau bingung dengan situasi mu seharusnya kau menghubungi ku saja untuk menyelesaikan semuanya secara langsung tapi sayangnya kau tidak melakukannya karena kau memang sengaja mengabaikannya. Nanda, aku mempercayakan Annisa kepada mu tapi sayangnya kau mengecewakan ku. Jadi tidak ada lagi kesempatan untuk mu, aku akan membawa pulang Kakak ku." Lalu dengan kejam ia mematikan handphonenya. Melemparkannya ke salah satu sudut ranjangnya tanpa pikir panjang.
Masa lalu Annisa sekarang sudah tersebar di sana dan bahkan Nanda tidak melakukan tindakan apapun. Jika bukan karena Gio yang menghubunginya tadi malam mungkin ia tidak akan tahu apapun. Bahkan setelah Gio mengatakan semua yang terjadi pada Kakaknya, Safira masih memilih bersikap positif. Berpikir panjang bahwa Nanda dan Mira pasti akan menuntaskan semua itu dengan cara mereka, ya, ia bertahan dengan alasan ini jika tidak ia mungkin sudah berlari ke sana untuk memberikan pelajaran pada wanita itu.
Namun semua yang ia pikirkan tadi malam seketika hilang dam hancur bersama kepercayaannya terhadap teman yang selama ini ia anggap keluarga. Annisa sekarang berada di rumah sakit karena kecerobohan mereka. Annisa berjuang antara hidup dan mati hanya karena kelalaian mete berdua. Ah, betapa egoisnya.
Mengapa mereka begitu egois?
Ingin segera mengakhiri semua perdebatannya dengan orang tuanya karena Dimas?
Yakinlah, Safira tidak akan memberikan jalan lagi untuk mereka terus bertindak serakah. Adapun kebahagiaan Annisa sudah ada di depan mata dan ia tidak ragu menyelesaikan semua masalah dengan caranya sendiri.
Menghela nafas, Safira mencoba mengalihkan kemarahannya dengan menatap kebun bunga yang sempat Annisa rawat. Beberapa macam mawar yang Annisa tanam kini telah tumbuh subur karena mendapatkan perawatan giat dari Saqila dan dirinya. Bahkan bunga mawar hitam yang begitu di sukai Annisa, Safira rawat dengan hati-hati.
"Kak Annisa, jangan khawatir dan takut lagi. Aku akan datang menjemput mu, lalu mereka yang telah menyakiti mu akan aku hancurkan sama seperti cara mereka menghancurkan mu." Tersenyum kecil, Safira kemudian bergerak mengeluarkan koper kecilnya dari bawah dipan. Setelah itu ia dengan cepat mengeluarkan beberapa pakaian yang sopan dan bersih untuk ia gunakan beberapa hari ke depan. Menyusunnya dengan rapi di dalam koper kecil, ada senyum kepuasan yang tertarik dari bibir tipisnya.
Melihat kopernya yang sudah berdiri kokoh di sampingnya, Safira kemudian dengan dingin membawa pandangannya kembali menatap bunga mawar hitam yang tumbuh subur di bawah sana. Menatap dengan rakus pemandangan tersebut ia bertekad jika warna bunga mawar tersebut dapat berfluktuasi menjadi mawar merah pekat.
"Pesta yang sebenarnya sudah di mulai." Gumamnya bersemangat seraya menarik koper kecil tersebut mengikuti langkahnya keluar dari kamar. Melangkah dengan pasti dan mantap, ambisi yang sudah lama ia tahan akhirnya tidak bisa ia tanggung lagi.
Yah, sudah saatnya ia bertindak egois setelah semua yang terjadi.
***
**Tap
Tap
Tap**
Suara langkah yang ringan dan berderap mengalihkan perhatian Umi dan Saqila yang sedari tadi sibuk mengobati luka bakar Umi.
"Nak, kenapa kamu membawa koper? Apakah itu adalah pakaian yang akan kamu sumbangkan?" Tanya Umi bingung melihat Safira yang turun seraya membawa koper kecil mengikutinya.
Saqila pun bersikap sama, ia bingung dengan Safira yang tiba-tiba membawa koper bersamanya. Jika Safira ingin menyumbangkan pakaiannya seperti yang Umi katakan lalu mengapa ia harus menggunakan koper?
Bukankah sudah cukup dengan tas kain untuk membawa pakaian tersebut?
"Umi, beberapa hari ke depan Safira akan menginap di rumah teman itu sebabnya Safira membawa koper ini." Jawab Safira langsung menjawab kebingungan Umi dan Saqila yang tentu saja membuat mereka berdua terkejut.
Pasalnya Safira adalah gadis rumahan, tidak, bukan terlalu tertutup tapi ia hanya keluar jika itu berhubungan dengan kuliah atau urusan bisnis yang sedang ia pelajari dari Mbak Yana. Jadi, mendengar Safira akan menginap ke rumah temannya itu sedikit di luar dugaan karena seperti yang dikatakan tadi Safira bukanlah tipe orang yang mudah bergaul.
"Teman, teman yang mana?. Lagipula jika kalian mengerjakan tugas yang darurat mengapa tidak mengajak teman mu ke sini saja untuk menginap?" Umi bertanya bingung sekaligus memberikan saran.
Tersenyum ringan, "Tidak Umi, ini sangat darurat dan kami lebih aman jika melakukannya di rumah teman ku."
"Biarkan saja Umi, Saqila pikir tidak apa-apa jika Safira sesekali berkumpul bersama temannya. Lagipula ini adalah pertama kalinya Saqila mendengar jika Safira ternyata punya teman." Saqila menyentuh pundak Uminya yang terlihat begitu khawatir melihat Safira yang begitu mengejutkan.
"Bukan begitu Nak, Umi hanya takut jika Safira mengalami hal buruk seperti An-"
"Tenang saja Umi, ini tidak seperti yang Umi pikirkan. Safira hanya akan menyelesaikan bagian Safira, dan setelah semuanya selesai Safira akan langsung pulang ke rumah. Yah, tentunya ada oleh-oleh besar yang akan Safira berikan kepada kalian." Potong Safira cepat. Dalam suasana hati yang buruk itu tidak akan baik jika ia mendengar Uminya mengatakan sesuatu yang buruk kepada Annisa. Jadi daripada seperti itu lebih baik memotongnya secara langsung.
"Lalu, Kakak akan menunggu oleh-oleh besar itu." Sahut Saqila terdengar begitu antusias dengan janji yang Safira katakan. Ia tidak berharap banyak dan hanya berpikir jika oleh-oleh yang akan dibawanya adalah makanan ringan yang tidak ada di sini jadi Saqila sangat menunggu hal ini datang.
__ADS_1
Tersenyum kecil, Safira mengalihkan pandangannya menatap Saqila yang menatapnya dengan sangat antusias. "Hem, oleh-oleh yang akan ku bawa adalah oleh-oleh yang tidak akan pernah Kakak bayangkan jadi bersabarlah untuk itu." Mata besarnya yang menyipit karena senyum di bibirnya memberikan kesan bahwa Safira begitu menjamin hal itu.
"Jangan sampai membuat ku kecewa!" Peringat Saqila terdengar main-main.
"Tidak, itu tidak akan pernah mengecewakan kalian semua. Terutama Kakak, oleh-oleh ini sebenarnya aku khususkan untuk Kakak ku yang teristimewa." Menatap dalam matanya, Saqila seakan di bawa masuk ke dalam jurang yang tidak berujung. Mata hitam Safira yang tajam dan dalam menyeretnya dengan kuat ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan.
Di sana gelap.
Dan hanya ada kegelapan.
"Baiklah, jangan bicarakan tentang oleh-oleh dulu. Umi tidak perduli dengan apapun yang kau bawa kembali karena Umi hanya ingin kamu menjaga dirimu dengan baik di sana dan tetap hubungi kami yang ada di rumah. Jangan sampai membuat kami khawatir dan jika ada sesuatu jangan sungkan untuk hubungi Abi." Nasihat Umi khawatir tidak bisa menghilangkan kepanikannya.
"Umi, yakinlah apa yang ku bawa nanti tidak bisa membuat Umi tidak tertarik." Ucap Safira tanpa menghilangkan senyuman manisnya yang kini tertarik lebih lebar dari sebelumnya.
"Terserah, Umi tidak terlalu memikirkannya. Dan ya, Safira dimana tempat tinggal teman mu? Setidaknya kau harus memberitahu kami alamatnya." Tanya Umi bingung. Pasalnya jika itu ada di kota yang sama mengapa ia harus menjanjikan sebuah oleh-oleh?
"Ini ada di kota sebelah, aku tidak tahu persisnya dimana karena aku berangkat bersama yang lain. Jika sudah sampai nanti aku akan menghubungi Umi tentang alamat yang lebih jelasnya." Jawab Safira sepenuhnya berbohong. Ia tidak akan mungkin mengatakan jika alamat yang ia tuju adalah pondok pesantren Gio karena jika mereka tahu mungkin itu akan sangat membingungkan dan membuat mereka begitu penasaran.
Apalagi Saqila yang sudah mengaku-ngaku jika Gio adalah kekasihnya, Safira yakin Saqila akan bersikeras ingin ikut bersamanya. Dan jika benar seperti itu maka semua rencananya akan kacau.
Menghela nafas, Umi tidak bisa mengatakan apa-apa lagi karena ini adalah hak Safira berkumpul dengan teman-temannya. Ia hanya berharap jika Safira selalu dalam lindungan Allah dan tidak mengikuti jejak Annisa yang telah mengecewakan mereka begitu banyak. Cukup Annisa yang gagal mereka besarkan dan jangan sampai Safira mendapatkan hal yang sama.
"Baiklah, Umi hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Allah SWT agar kamu selalu dalam lindungan-Nya." Putus Umi.
Saqila dan Safira kemudian mengaminkan doa tersebut dengan tulus agar orang terkasih mereka selalu dalam lindungan Sang Maha Kuasa.
"Sudah meminta izin kepada Abi?" Tanya Umi memastikan jika langkah anaknya di ridhoi oleh sang suami.
Safira menganggukkan kepalanya dengan ringan, "Safira tadi mencoba menghubungi Abi tapi sepertinya ia sedang sibuk. Jadi karena tidak ingin mengganggu Safira mengirimkan Abi pesan untuk meminta izin kepadanya." Jawab Safira setengah berbohong. Ia sebenarnya tidak benar-benar menelpon Abi dan hanya mengirimkannya pesan, adapun balasan Abinya Safira tidak benar-benar perduli karena yang ia tahu sudah saatnya ia bersikap egois.
Umi mengangguk ringan dan tidak melanjutkan pembicaraannya lagi.
"Dek, jangan lupa kabari Kakak ya jika sudah sampai tujuan nanti." Peringat Saqila membuat Safira menganggukkan kepalanya dengan patuh.
Mengantar Safira sampai depan rumah, Umi dan Saqila menatap punggung Safira yang perlahan menjauh mendekati mobil Taksi yang sudah terparkir rapi di depan rumah mereka.
Membuka pintu taksi tersebut, Safira tidak langsung masuk ke dalam mobil. Ia mengalihkan pandangannya menatap dua orang yang yang sangat ia kasihi dan sayangi dengan sepenuh hatinya. Tersenyum lembut, Safira memfokuskan perhatiannya pada Umi yang masih terlihat tidak tenang dan sedikit gelisah.
"Umi?" Panggilnya dengan lembut.
"Ya, Nak?" Sahut Umi tidak kalah lembutnya.
Terdiam cukup lama, ia begitu menikmati kegelisahan Uminya yang terpampang jelas. Ia berpikir jauh apakah esok setelah ia berhasil membawanya pulang Umi akan memperlihatkan wajah seperti ini kepada Annisa?
Tidak, apakah Umi akan memperlihatkan wajah yang penuh akan penyesalan saat hari itu tiba?
Yah, Safira harap ia bisa melihat penyesalan itu. Tidak, Safira sesungguhnya tidak bermaksud kejam. Ia hanya berpikir jika Umi dan Abinya dapat mengambil pelajaran dari semua yang telah mereka lakukan. Safira ingin kedua orang tuanya merasakan malu bahwa mereka ternyata belum benar-benar mengenal anaknya seperti apa.
"Pernahkah Umi merindukan Kak Annisa?" Tidak keras juga tidak kecil, ia menyuarakan pertanyaan dari hati terdalamnya yang tidak berujung.
Umi seketika merasakan tubuhnya tiba-tiba berubah kaku. Bahkan wajahnya yang tertegun begitu jelas di mata Safira.
Yah, seperti yang ia duga bahwa Umi juga merindukan Annisa. Akan tetapi harga diri dan kehormatannya di depan orang lain adalah halangan terbesar ia mengakui kejujuran hatinya.
Tersenyum miris, Safira tidak bisa menyembunyikan perasaan dingin yang perlahan memenuhi hatinya.
Mengapa kalian se'egois ini?
"Safira pamit, assalamualaikum." Tidak ingin mendengarkan jawaban omong kosong lagi, Safira langsung masuk ke dalam mobil taksi dan meninggalkan Umi dan Saqila yang masih dilanda perasaan rumit.
Umi pikir...ya, Umi merindukannya karena biar bagaimanapun Umi adalah seorang Ibu. -Umi.
Safira, kenapa kau selalu membuat ku bingung? -Saqila.
***
Hari ketika ia pergi adalah hari dimana aku menyadari bahwa manusia memang sifatnya adalah egois, bahkan sekalipun mereka adalah orang tua tua yang membesarkannya itu tidak dapat mempengaruhi perasaan congkak hati manusia.
Safira-
Abi menatap kosong pada handphone yang ada di tangan kanannya. Di sana, sebuah tulisan yang rapi dari sistem menusuk tepat pada jantungnya. Membuatnya merasakan sakit dan perasaan putus asa yang telah menghantuinya selama satu bulanan ini.
Perasaan gagal menjadi orang tua sekali lagi menghantamnya untuk yang kedua kalinya. Setelah Annisa pergi dengan luka yang ia ciptakan kini putri ketiganya pun melayangkan perasaan tidak puasnya terhadap dirinya yang pengecut.
"Nak, sesungguhnya Abi sudah menyesali semua yang terjadi sejak Kakak mu memilih pergi dari rumah." Ia sudah menyesalinya dari hati itu dan dari hari itulah Abi terus berjuang keras mencari keberadaan Annisa. Entah itu melibatkan bawahannya bahkan polisi akan tetapi hasilnya tetap mengecewakan.
Annisa tidak dapat ditemukan, seolah bumi menyeretnya masuk ke suatu tempat dan menyembunyikannya dengan rapi dalam lindungannya.
Bahkan mungkin Annisa enggan untuk kembali bersama mereka, kembali hanya untuk mereka lukai.
"Annisa, dimana kamu, Nak?"
***
"Nanda, apa yang dikatakan Safira dan mengapa wajah mu menjadi seperti ini?" Mira mendekati Nanda yang baru saja mengakhiri pembicaraannya dengan Safira. Di lihat dari jauh, Mira dapat melihat jika Safira di luar sana pasti marah besar. Akan tetapi meskipun Safira marah lalu mengapa Nanda terlihat kurang baik?
Apakah Nanda masih mengkhawatirkan Annisa?
Tapi Annisa sudah tidak dalam keadaan bahaya lagi dan hanya perlu menerima perawatan intensif untuk beberapa hari ke depan jadi mereka tidak perlu sepanik tadi.
"Mira, ini gawat." Nanda akhirnya mengeluarkan suaranya, ini bukan jawaban yang Mira ingin dengarkan. Akan tetapi mendengar Nanda seputus ada ini pasti ada sesuatu yang tidak beres dengannya.
"Apa ini tentang Annisa? Jika iya maka kita tidak perlu khawatir lagi karena Annisa sudah melewati masa kritisnya."
Menggeleng takut, "Ini bukan tentang Annisa tapi ini tentang Safira!" Bantah Nanda dengan suara putus asa.
"Safira? Ada apa dengan Safira?" Panik Mira, apakah mungkin Safira mengalami sesuatu yang buruk di sana sehingga ia tidak dapat mengunjungi Annisa yang sedang sakit?
"Safira marah kepada ku karena ia bilang aku telah mengecewakannya."
"Kenapa Safira bisa mengatakan hal seperti itu?" Tanya Mira meragu karena ia tahu betul seperti apa Safira. Safira itu cuek dan dingin tapi yakinlah pikirannya jauh lebih dewasa dari mereka bertiga jadi jika Safira sampai mengatakan hal ini pasti ada penjelasan yang logis di baliknya.
"Dia bilang aku mengecewakannya karena aku telah lalai dari menjaga Annisa. Bahkan saat rumor Annisa tersebar Safira bilang aku hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Aku hanya memperdulikan rencana ku saja dan melupakan keselamatan Annisa di sini itulah yang Safira katakan. Mira, kau mengenal aku bukan? Aku tidak seperti yang ia katakan bukan?" Nanda mengguncang bahu Mira dengan panik, meminta jawaban yang ingin di dengarkan dari Mira. Yah, ia tidak seperti itu dan Safira hanya salah paham saja.
Mendengar penjelasan Nanda, Mira hanya diam membisu melihat betapa paniknya ia. Sejujurnya ia pun berpikir sama dengan Safira, Nanda terlalu berambisi untuk menyelesaikan rencananya bahkan tanpa sadar mengabaikan Annisa yang seharusnya menjadi fokus utama mereka berdua.
"Nanda, aku pikir kau harus menenangkan dirimu." Ucap Mira mengambil jalan tengah. Ia ingin Nanda merenungi semua yang terjadi akhir-akhir ini tanpa mendapatkan perhatian darinya.
"Kenapa?" Tanya Nanda tersinggung.
Menghela nafas, Mira tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Nanda yang terlihat tertekan seperti ini.
"Tenangkan hati mu lalu kita akan membicarakannya dengan kepala dingin." Ucap Mira memberikan saran.
Menggeleng kuat, "Apa kau juga berpikiran sama seperti Safira?" Tanyanya tepat sasaran.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa tiba-tiba menumpahkan semua kesalahan ini kepada ku dan bukannya pada wanita gila itu! Aku tidak bersalah sama sekali!" Ia tidak bersalah sama sekali di sini dan seharusnya orang yang mereka salahi adalah Reina, gadis gila yang selama ini mengejar Gio dengan berbagai cara.
Reina, gadis ini yang bersalah tapi mengapa Safira dan Mira malah menumpahkan kesalahan itu kepadanya?
"Nanda, tolong dengarkan aku." Pinta Mira setenang mungkin. Jujur, melihat Nanda seputus ada ini membuatnya berpikir jika Nanda punya riwayat gangguan jiwa. Karena ini adalah pertama kalinya Mira melihat Nanda begitu lepas kendali dan penuh kemarahan.
"Sebenarnya apa yang dikatakan Safira memang masuk akal- dengarkan aku dulu!"
Nanda menutup mulutnya kembali.
"Begini, kemarin saat ke rumah Umi bukankah aku sudah mengatakannya kepada mu bahwa aku mendengar orang-orang pondok membicarakan masa lalu Annisa dan bahkan aku meminta pendapat mu untuk menyelesaikan permasalahan masalah ini dengan cara apa. Tapi, bukannya berdiskusi dengan ku, kau malah mengatakan jika kita menunda hal ini dulu karena kau punya urusan mendadak yang tidak bisa di tunda."
__ADS_1
"Bagaimana kau tahu aku mengabaikannya hanya karena aku meno-"
"Dengar! Aku tahu jika kemarin kau sudah tahu kedatangan orang tuamu di sini karena pada waktu yang sama aku juga melihat Mas Gio bermain bersama Naila. Dan aku pun juga tahu bahwa kemarin kau hanya bersikap pura-pura tidak tahu tentang kedatangan kedua orang tua mu. Nanda, dari sini apakah kau tidak pernah berpikir jika kau sedikit egois?"
"Yah, kau tidak bisa melupakan hal ini jika Safira mengijinkan Annisa tetap tinggal di sini karena ia ingin kita melindungi Annisa di samping menyelesaikan rencana mu. Nanda, tapi kita gagal dan Safira benar, kita telah mengecewakannya dan mengingkari janji yang kita buat jadi aku pikir wajar saja rasanya Safira mengatakan hal ini." Yah, Mira tahu jika kedua orang tua Nanda sudah ada di sini sejak kemarin karena pada saat ia ada di rumah Umi tanpa sengaja ia melihat Gio bermain dengan Naila. Mira juga sempat melihat jika Nanda begitu memperhatikan Gio dan Naila yang asik bermain, maka dari sini Mira dapat simpulkan bahwa Nanda sudah tahu semua ini tapi ia hanya berputar-putar seakan kedatangan orang tuanya begitu mengejutkannya.
Sejujurnya, Mira tidak pernah mengira jika Nanda juga bisa bertindak ceroboh seperti ini karena selama ia mengenal Nanda, Nanda selalu bisa mengendalikan dirinya agar tetap melangkah pada langkah yang benar.
Tapi melihat kekacauan yang terjadi hari ini seakan membuktikan bahwa manusia juga punya sisi egoisnya, dan hari ini adalah salah satu dari buah keegoisan Nanda.
"Baiklah, aku memang berpura-pura tidak tahu tapi aku sungguh tidak menyangka jika Annisa akan-"
"Kau bukannya tidak tahu, tapi kau sengaja mengabaikannya. Bahkan kemarin kau tidak melakukan apapun untuk membersihkan rumor Annisa."
"Mira, aku..aku-"
"Nanda, sebaiknya kau pergi istirahat untuk menenangkan dirimu sedangkan aku akan pergi ke kamar Annisa untuk menemani Umi berjaga di sana." Ucap Mira seraya menepuk hangat pundak Nanda.
"Mira, aku hanya-"
"Nanda, aku yakin sebentar lagi Safira akan datang jadi sampai saat itu tiba tolong persiapkan dirimu." Pesan Mira serius seraya membawa langkahnya menjauh dari tempat Nanda berdiri.
"Mira!" Panggil Nanda keras berhasil menghentikan langkah Mira. Berbalik, Mira menatap Nanda dengan pandangan lelahnya.
"Apakah kau yang memberi tahu Safira tentang rumor Annisa yang sudah menyebar di pondok pesantren?" Safira bilang ia tahu jika masalah masa lalu Annisa telah menyebar di pondok pesantren jadi bukan tidak mungkin orang yang telah membocorkan hal ini adalah Mira. Jadi untuk memastikannya langsung, Nanda ingin mendengar langsung semuanya dari mulut Mira langsung.
Terdiam, Mira menatap dalam Nanda yang kini juga sedang menatapnya. Lalu beberapa saat kemudian ia akhirnya membuka mulutnya, "Itu bukan aku, percayalah." Jawab Mira singkat seraya berbalik dan melanjutkan lagi langkahnya.
Berdiri kaku, Nanda memperhatikan punggung lurus Mira yang perlahan menghilang dari pandangannya. Bahkan meskipun Mira telah pergi jauh, ia masih saja belum bisa mengalihkan pandangannya.
Tidak, sebenarnya pandangan Nanda saat ini kosong. Ia memang menatap jauh akan tetapi pikirannya sudah terbang jauh dari apa yang dilakukan fisiknya.
Mira melihat semua yang ia sembunyikan?
Jadi selama ini Mira telah memperhatikan sikapnya dari kemarin?
Bahkan ia sengaja mengujinya dengan mengajaknya berdiskusi untuk menyelesaikan masalah Annisa yang sudah menyebar di pondok pesantren tapi bodohnya ia mengabaikan semua itu karena ia terlalu memfokuskan diri pada rencananya saja.
Ia lupa jika ada predator yang selama ini mengintai Annisa, bahkan hampir saja orang yang berbaring di dalam sana adalah Naila. Ini semua karena keegoisannya. Yah, egonya benar-benar menguasainya selama ini dan Mira tahu bahwa Safira tidak akan semudah itu memaafkannya.
Apa yang harus aku lakukan ya Allah?
***
Safira menatap diam pada pemandangan yang terus-terusan berganti dari penglihatannya. Bahkan walaupun terus-menerus mengalami pergantian hal itu tidak dapat membunuh rasa bosan yang sedang menyelimutinya saat ini.
"Bagaimana bisa mereka begitu ceroboh?" Safira tidak bisa mengatakan apa-apa lagi selain perasaan kecewanya kepada orang yang selama ini ia percaya dapat melindungi Kakaknya. Ia juga secara sukarela memberikan Nanda kesempatan untuk membayar semua yang telah Dimas lakukan kepada Annisa. Akan tetapi ternyata Nanda memilih melangkahi kesempatan itu jadi untuk apa lagi Safira membiarkan Kakaknya masih di sana?
Mengejar kebahagiaannya?
Safira pikir itu sudah tidak berlaku lagi karena orang yang Annisa sukai juga ternyata menyukainya. Jadi mengapa bersusah payah membiarkan Kakaknya hidup terombang-ambing di sana sedangkan kebahagiaan yang ia cari kini bersedia mengejar kemana pun ia pergi.
"Mbak, kita sudah sampai." Suara kebapakan supir tersebut membuyarkan Safira dari lamunannya. Tersadar, Safira kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil taksi. Di sana ada tugu selamat datang dari pondok pesantren yang sudah tidak asing lagi baginya. Memang ia bukanlah salah satu santriwati yang ada di sini atau pernah bersekolah di sini akan tetapi ia adalah salah satu murid Gio saat pondok bambu dulu.
Jadi, berkunjung ke tempat ini seharusnya bukanlah yang pertama kali.
Menatap lama, Safira akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit tempat Annisa di rawat.
"Pak, bisa antar saya ke rumah sakit kota S gak?" Tanya Safira memastikan karena perjalanan yang mereka lalui tadi tidaklah dekat jadi Safira takut jika supir taksi ini mengalami kelelahan.
"Oh, bisa Mbak. Apa kita langsung jalan Mbak?" Dengan sopan supir taksi itu melayani Safira yang dalam keraguan.
Tersenyum, Safira tidak bisa menyembunyikan kelegaannya. "Kita langsung aja Pak, di sana teman saya udah ada yang nunggu." Jawab Safira lugas yang langsung di angguki Pak supir tersebut. Perlahan mobil yang tadinya tidak bergerak mulai bergerak menjauhi tugu tersebut.
"Udah biasa ke sini yah, Mbak?" Tanya supir taksi itu mulai pembicaraan. Mungkin ia sedikit bosan dengan perjalanan ini.
"Eh, enggak juga sih Pak. Dulu saat saya masih pelatihan tilawah saya terkadang berkunjung ke sini bersama teman-teman saya. Tapi setelah saya sudah khatam, saya mulai jarang ke sini bahkan tahun ini adalah ini yang pertama kalinya saya ke sini." Jawab Safira menjelaskan. Itu tepatnya setelah Annisa menikah dan dia sudah tidak bisa terus belajar lagi karena khatam. Akan tetapi alasan yang sebenarnya adalah pada saat itu Gio berhenti mengajar tilawah sehingga Safira juga memutuskan untuk berhenti belajar.
Sederhana saja, waktu itu ia masih berharap Gio bersama dengan Saqila tapi karena Gio menghilang akhirnya Safira pun juga menghilang.
Setelah itu pembicaraan mereka benar-benar hidup dan lancar sampai akhirnya Safira sampai tepat di depan pintu masuk rumah sakit.
"Terimakasih, Pak." Ucap Safira berterima kasih seraya memberikan supir itu bayaran jasanya. Bahkan Safira juga menyelipkan beberapa uang lebih untuk layanan supir taksi itu yang baik dan sopan santun.
"Eh, Mbak uangnya kelebihan ini--"
"Tidak apa-apa Pak, itu untuk layanan bapak yang begitu baik. Terimakasih karena sudah mengantarkan saya sampai ke sini dengan hati-hati." Potong Safira sopan tidak ingin menyinggung supir tersebut.
Lalu setelah itu supir taksi tersebut mengucapkan ucapan terimakasih berkali-kali untuk menyampaikan rasa senangnya.
Menyeret kopernya dengan langkah yang cepat dan lugas, Safira langsung membawa jalannya masuk ke rumah sakit dan berjalan menuju kamar rawat inap Annisa yang memang tidak terlalu jauh. Kebetulan itu ada di lantai pertama jadi ini sangat menguntungkan Safira.
"Mas Gio," Panggil Safira sopan setelah melihat Gio yang baru saja keluar dari kantin rumah sakit dengan beberapa makanan ringan dan satu mangkuk bubur hangat.
Terkejut, "Safira, kamu..kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanya Gio tidak bisa menghilangkan ekspresi terkejutnya.
Safira tersenyum tipis, "Tadi siang Nanda nelpon aku Mas, dia bilang Kak Annisa keracunan saat makan siang tadi di rumah Mas Gio." Jawab Safira langsung tanpa menyembunyikan apapun dari Gio.
Tiba-tiba setelah mendengar jawaban Safira suasana di antara mereka menjadi canggung.
"Maafkan Mas, Safira. Ini semua adalah kesalahan Mas yang tidak bisa menjaga Kakak mu di sini. Mas begitu lalai sehingga membuat nyawa Annisa terancam dan dalam keadaan bahaya, Safira, Mas tahu ini semua adalah salah ku." Gio tidak pernah merasa semenyesal ini kecuali hari ini. Melihat betapa tidak berdayanya orang yang ia sukai membuat Gio benar-benar ketakutan. Bahkan pikiran jahat yang seharusnya bisa ia singkirkan begitu sulit ia hadapi.
Menggeleng pelan, Safira tahu jika ini bukan kesalahan Gio. "Mas, ini bukan kesalahan Mas Gio. Juga ini adalah permainan mereka jadi wajar saja Mas tidak punya andil untuk menyelesaikan masalah ini. Lagipula Mas adalah seorang laki-laki jadi jangan pernah berpikir untuk ikut campur dalam situasi ini karena sangat tidak wajar rasanya Mas mencampuri urusan perempuan meskipun Annisa adalah korbannya." Gio hanya perlu menyediakan tempat untuk Annisa tinggal karena sudah ada Nanda dan Mira yang menjamin keselamatan Kakaknya di sini. Jadi Safira tidak menyalahkan apapun kepada Gio karena sejujurnya Gio tidak tahu apapun tentang rencana yang Nanda buat.
"Tidak Safira, akulah yang membawa Annisa ke sini jadi-"
"Maka dari itu aku sangat berterima kasih karena Mas sudah mau menerima Annisa di sini bahkan memberikannya tempat untuk berteduh. Aku juga berterima kasih kepada Mas karena sudah memberikan ku informasi tentang kehidupan Kakak ku di sini, Mas Gio terimakasih untuk semuanya."
"Adapun tentang Annisa yang mendapatkan hal ini, itu dikarenakan Nanda yang memang melalaikan janjinya. Oleh karena itu kedatangan ku kali ini ke sini adalah selain menyelesaikan masalah Annisa aku juga akan membawanya pulang ke rumah."
"Pulang..ke rumah?" Gio bertanya ragu.
"Benar, aku akan membawanya pulang. Lagipula jika Mas benar-benar menginginkan Kakak ku maka datanglah bertamu ke rumah kami, aku jamin kedatangan Mas Gio tidak akan membawa penyesalan untuk Mas." Tersenyum miring, Safira mengalihkan pandangannya menuju lorong rumah sakit yang memperlihatkan beberapa orang yang sibuk berjalan ke sana kemari. Terlihat begitu gugup dan gelisah.
"Yah, kecuali perempuan yang Mas Gio inginkan adalah Saqila maka aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi." Suaranya samar namun tetap bisa di dengar dengan jelas oleh Gio.
"Saqila? Mengapa kau membawa nama Saqila di sini?." Gio bertanya bingung, pasalnya ia sama sekali tidak punya hubungan apapun dengan Saqila bahkan saat mengajarinya tilawah dulu saja ia tidak pernah memandang Saqila sebagai seseorang yang berbeda karena di matanya Saqila hanyalah muridnya sama seperti yang lain.
Pura-pura terkejut, "Oh benarkah Mas Gio tidak tahu ini?" Ia kembali menatap Gio yang terlihat semakin kebingungan.
"Tahu tentang apa?"
Tersenyum samar, "Yah..tahu tentang Saqila lah Mas Gio. Ia bilang Mas Gio sudah mengikatnya menjadi kekasih dan akan segera menikahinya. Hah, apa-apaan ini Mas, bukankah Mas sudah bersama Saqila lalu mengapa hari ini Mas menunjukkan minat pada Kak Annisa?" Ekspresi Safira tidak menunjukkan ketakutan apapun. Yah, ini karena ia begitu menikmati ekspresi kebingungan Gio yang semakin jelas.
"Astagfirullah, kenapa Saqila bisa mengatakan hal itu? Mas sama sekali tidak pernah menjanjikan apapun kepada Saqila karena di mata Mas, Saqila hanyalah kerabat biasa sama seperti yang lain. Nah Safira, kenapa kamu baru memberitahu Mas sekarang? Kenapa tidak tadi malam saat Mas menghubungi mu?" Ia tidak bisa menahan rasa terkejutnya setelah mendengar ini karena ia tidak pernah merasa mengatakan apapun kepada Saqila. Jangankan mengatakannya saling menghubungi saja tidak pernah karena semenjak ia berhenti mengajar maka hubungan guru dan murid mereka hanya bisa bertahan sampai saat itu pula. Tidak ada perasaan lebih untuk Saqila karena sesungguhnya seluruh hatinya sudah di bawa pergi oleh wanita lain. Yah.. wanita yang selama ini ia bisikkan dalam sholat penuh rindunya pada malam-malam panjang. Baginya, entah hati atau perhatiannya sudah di bawa pergi oleh wanita terkasihnya.
"Mas tahu alasan mengapa Annisa pergi dari rumah?" Tanpa sadar nada bicara Safira kini berubah serius. Ada kedinginan di dalam sana.
"Apa.. Annisa tidak mengatakan apapun tentang hal ini dan hanya mengatakan bahwa keberadaannya di sini harus di rahasiakan." Jawab Gio jujur. Semenjak ia tinggal di sini Annisa tidak pernah mengatakan hal apapun tentang penyebab ia pergi dari rumah, ia hanya menyebutkan dulu dalam suratnya bahwa Gio harus menjaga rahasia keberadaannya di sini karena ia tidak ingin keluarganya tahu ia tinggal di sini. Yah hanya itu saja yang ia pinta.
"Tentu saja Kak Annisa akan menyembunyikan alasan mengapa ia keluar dari rumah karena sebenarnya ini ada hubungannya dengan Mas Gio dan Saqila." Ini adalah lukanya dan mana mungkin Annisa mengatakan hal yang paling menyakitinya kepada Gio.
Bingung, "Apa maksud mu Safira?" Penyebab Annisa keluar dari rumah adalah karena mereka berdua?
Tapi mengapa bisa begitu?
"Ini tidak masuk akal karena Mas dan Saqila tidak punya hubungan apapun lalu mengapa bisa kamu mengatakan bahwa Annisa keluar dari rumah karena kami?" Yah, ini begitu sulit ia terima karena seperti yang ia jelaskan bahwa ia tidak punya hubungan apapun dengan Saqila jadi mengapa Safira bisa mengatakan hal itu?
__ADS_1
Tersenyum dingin, "Itulah masalahnya karena kalian tidak punya hubungan apapun."
Bersambung...