
"Makan yang banyak De biar puasa kamu besok lancar." Pesan Masha mengulangi kata-kata Dea.
Dea dengan gerakan acuh tak acuh mengambil satu porsi makanan dari tangan Masha dan meletakkannya di atas meja. Memang porsinya tidak sebanyak saat makan biasanya karena ketika makan sahur kebanyakan orang-orang malas makan. Dan lauknya pun bukan jenis lauk yang wah, namun hanya sebuah lauk ringan yang tidak akan membuat bosan ketika memakannya.
"Hoo...besok ratu kita juga mau puasa yah?" Tiba-tiba sebuah suara yang membosankan masuk ke dalam pendengaran Dea dan Masha.
Siapa lagi yang bisa melakukannya kecuali Ana dan Diva, kedua orang ini tidak akan puas melihat Dea kecuali Dea menderita.
"Aku juga baru tahu kalau dia bisa puasa, eh, atau ini adalah puasa pertamanya?" Lanjut Ana seraya melakukan sebuah pose berpikir yang sengaja dibuat-buat, membuat beberapa orang tertawa kecil ketika melihatnya.
"Kalau iya, pasti besok dia akan berusaha tidak bolong-bolong seperti tahun-tahun sebelumnya. Cup-cup, kasian ratu kita. Jauh dari rumah dia jadi gak bisa ngapa-ngapain, udah gitu saat ini dia lagi kesusahan mencari sang kekasih yang hilang entah kemana. Nana, kamu bisa bayangin dong betapa menderitanya dia?" Diva yang selalu membenci keberadaan Dea tidak bisa menutup mulutnya.
Bahkan di saat seperti ini pun ia dan Ana tidak bisa melepaskan Dea begitu saja. Mereka harus mengeluarkan kata-kata yang penuh cemooh dan ejekan kepada Dea baru bisa merasa santai.
"Ouh, lalu kenapa kalian tidak menghabiskan sahur kalian dengan cepat? Aku ingat jika kalian berdua masih punya tugas yang harus diselesaikan hari ini." Lia, ketua kedisplinan asrama putri yang kebetulan mendengarkan ejekan Ana dan Diva tentu saja tidak bisa tinggal diam.
Ini adalah tugasnya sebagai ketua dan ia tidak mau tempat yang seharusnya bersahabat ini sama seperti sekolah pada umumnya yang penuh akan senioritas. Ini bukan sekolah tapi pondok pesantren yang damai, di tempat ini tidak diizinkan mengganggu yang lain karena mereka semua adalah saudara.
Terkejut, Ana dan Diva tidak pernah menyangka akan bertemu Lia di sini. Karena di antara satu ribu lebih santriwati, akan minim sekali pertemuan mereka dengan sang ketua kedisplinan asrama putri.
"Baik Kak, kami akan segera menyelesaikan sahur kami." Ucap Diva panik seraya menenggelamkan diri mereka ke dalam makanan yang ada di atas meja. Makan secepat yang mereka bisa agar segera menyelesaikan tugas yang Lia berikan kepada mereka semalam.
"Di pondok pesantren membuli adalah sebuah perbuatan yang amat fatal dan jika ketahuan, bukankah kalian tahu sendiri betapa beratnya hukuman yang kalian dapatkan?" Suara Lia lirih, menimbulkan suasana sunyi di sekitarnya.
Para santriwati yang tadinya asik dan tidak terlibat dalam masalah ini pun harus rela menjeda acara sahur mereka, melihat dan mendengarkan suara ketua kedisplinan mereka yang terkenal tidak kenal ampun jika menyangkut sebuah kesalahan.
Diam, Ana dan Diva tidak mengucapkan apa-apa. Mereka hanya bisa menyembunyikan perasaan malu dan takut mereka pada sepiring nasi yang ada di depannya.
"Lain kali jika aku menemukannya lagi maka urusan ini lebih baik aku serahkan kepada ustadz Ali langsung, ia tahu bagaimana cara menghadapi orang-orang bebal seperti ini." Ucapnya acuh seraya berjalan menjauh dari mereka.
Melirik Dea yang sedari tadi hanya diam dan tidak pernah mengatakan apa-apa ketika diganggu, di dalam hati Lia merasal lega dengannya. Dea, gadis yang dulu selalu mencari masalah dengannya kini telah berubah banyak. Ia tidak seangkuh dulu dan tidak pernah lagi melakukan sesuatu yang menjengkelkan pondok pesantren.
Ia membawa dirinya menyendiri ke suatu tempat dan entah bagaimana Lia sepertinya melihat bahwa Dea sedang berusaha menyembunyikan dirinya. Ya, sembunyi di suatu tempat agar orang-orang tidak bisa melihat bahkan menjangkaunya.
Hem, dia sudah berubah terlalu banyak.
"Masyaa Allah, Mbak Lia teh keren pisan. Aku sampai merinding dibuatnya." Bisik Masha merasa takjub dan kagum secara bersamaan pada Lia.
Iya, dari tadi Masha tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Lia. Dari caranya berbicara dan menatap orang, Masha tidak bisa tidak merasa kagum!
Dia adalah perempuan namun auranya terlalu kuat jadi wajar saja Gus Gio mengangkatnya sebagai ketua, ah!
"Eh, tapi dia bilang apa tadi? Ustadz Ali?" Bisa disimpulkan jika yang akan mengurus masalah santri nanti adalah ustadz Ali jika tingkat masalah yang dibuat santri tidak bisa diatasi oleh ketu kedisplinan.
Nah, masalahnya mereka belum tahu seperti apa sosok tampan itu ketika memberikan hukuman. Mungkinkah ia akan lembut?
Mengingat betapa lembutnya ustadz Ali di mata orang. Atau justru sangat kejam?
Karena bisa saja kan hatinya kejam?
"Jangan terlalu dipikirkan, segera habiskan makanan mu sebelum waktu imsyak tiba." Pesan Dea tidak ingin ambil pusing sambil bangun dari duduknya, lalu ia dengan tenang berjalan menjauh dari Masha yang masih menyisakan setengah makanannya.
"Lho De, kamu kok gak habisin makanan kamu?" Tanya Masha dengan suara yang agak besar, untungnya tidak ada yang terganggu dengan suaranya.
"Aku udah kenyang mau ke masjid dulu, nanti kalau udah selesai kamu nyusul aja." Jawab Dea terus melangkah, menjauh sampai siluetnya benar-benar hilang dari pandangan semua orang.
__ADS_1
\*
"Aku hanya ingin sendirian saja jadi tidak perlu mengkhawatirkan orang seperti diriku." Gumam ku berbicara dengan diriku sendiri.
Aku...hanya tidak menyangka saja jika Safira mau menyapaku dan Lia mau membantu ku. Ini..aku tahu bahwa kedua orang ini dulu adalah orang yang paling bermasalah dengan diriku. Mereka orang yang baik dan aku..aku ini tidak pantas dekat dengan orang-orang sebaik mereka.
Aku ini kotor.
Menghela nafas, aku membawa tatapan ku pada langit yang gelap gulita, tidak, bintang masih ada bahkan sangat banyak dan membuat langit menjadi indah. Ada juga bulan, tapi itu tidak dalam keadaan yang penuh, yah, hanya bulan sabit saja tapi siapa pun tahu bahwa ini adalah momen yang romantis.
Eh?
Siapa ini?
Di atas tangga sana ada seorang laki-laki yang sedang memandangi langit dengan serius. Mungkin ia juga tidak tahu bahwa ada aku di sini.
Jika aku perhatikan lebih dekat-
Tiba-tiba dia memalingkan wajahnya, menatap ku dengan tatapan yang agak rumit.
Ini..ini adalah Rio-ah, tidak! Maksud ku ini adalah orang yang mirip seperti Rio. Lihat, wajahnya.. astaga mereka tidak mirip sama sekali!
Dia jelas jauh berbeda dari Rio!
Diam, kami saling menatap dalam kebisuan yang panjang. Aku juga tidak mengerti mengapa aku masih belum bergerak dan masuk lebih dulu ke dalam masjid. Kakiku rasanya mati rasa sehingga tidak mau bergerak dan mematuhi ku, ah!
"Apa..apa kau seorang ustadz?" Aku tidak punya pilihan lain selain mengajaknya mengobrol. Aku juga secara pribadi ingin tahu orang seperti apa laki-laki ini?
Mungkinkah..
"Apakah aku terlihat seperti itu di depan mu?" Ia balik bertanya padaku.
Apa dia seperti itu di depan ku?
"Aku pikir.." Laki-laki yang orang biasa panggil Ustadz Ali lalu kembali membawa pandangannya menatap langit yang bertabur bintang. Tidak lupa bulan sabit terpajang indah di sana, sangat romantis.
"Kau lebih dari itu." Lanjut ku setelah lama berpikir.
Ustadz Ali punya sisi yang aneh dan entah mengapa aku selalu merasa jika seorang perempuan manapun mendekatinya maka perempuan itu akan merasa aman dan nyaman dengan sendirinya.
Ini perasaan seperti sedang mengobrol dengan Kakak laki-laki mu.
"Mengapa demikian?" Suaranya bertanya.
Mengapa?
Aku tidak tahu karena ini hanya perasaan ku saja.
Mendudukkan diriku di anak tangga, diam-diam mataku selalu mengawasi ustadz Ali. Padahal ustadz Ali hanya berdiri diam memandangi langit malam namun entah mengapa mataku selalu ingin mengawasinya. Seakan-akan apa yang dilakukan ustadz Ali adalah sesuatu yang luar biasa.
"Karena kau tampak seperti itu." Asal ku menjawab.
Lalu, suasana di antara kami menjadi sunyi kembali. Tidak ada yang berbicara dan kami hanya melewati waktu dengan alami. Seakan-akan kami sudah mengenal dekat satu sama lain padahal itu tidak seperti itu.
"Kenapa kau ada di sini dan kenapa tidak pergi makan sahur?" Karena besok puasa mengapa ustadz Ali tidak pergi makan sahur bersama yang lain. Aku sendiri tadi sempat melihat stan laki-laki dan hampir semua staf pengajar yang aku kenal makan di sana. Lalu mengapa ustadz Ali tidak bergabung dengan mereka?
__ADS_1
Apakah ia malu karena masih belum mengenal orang-orang ini?
"Kau tahu dulu saat aku pindah ke sini juga aku sangat sulit bergabung dengan orang-orang ini. Menurut ku mereka aneh dan terlalu baik sehingga menyulut ambisi ku untuk membuat masalah. Tapi setelah berbulan-bulan tinggal di sini dengan segala lika-liku yang ada akhirnya aku bisa bergaul dengan mereka. Yah walaupun hanya beberapa orang namun itu lebih baik daripada tidak sama sekali." Mungkin cerita ku bisa membantu ustadz Ali di sini. Aku harus menceritakan pengalaman sulit ku kepadanya agar ia bisa beradaptasi dengan cepat. Karena.. menjadi orang asing dan bingung sendiri itu sangat tidak nyaman.
Aku tidak mau laki-laki ini merasakan apa yang ku rasakan sekarang. Hem, Ustadz Ali harus bisa bergaul dengan orang-orang yang ada di sini.
Ustadz Ali ini mengapa ia lebih cocok menjadi Kakak ku daripada menjadi ustadz di mataku. Jika..jika Kak Reina menikah dengannya mungkin...
Meneguk ludah ku kasar, aku berusaha ingin terlihat senormal mungkin tanpa membuat perubahan pada wajah ku. Aku tidak ingin ustadz Ali tahu apa yang sedang aku rasakan.
"Ka-kau harus segera beradaptasi di sini dan mencoba bergaul dengan orang-orang ini. Karena jika tidak hidup pasti akan terasa sulit di tempat ini. Maka dari itu, biasakanlah dirimu bersama mereka agar kau tidak merasa sendirian nantinya." Lanjut ku memberikannya saran.
"Siapa na-"
"Ali?" Tiba-tiba suara berat menghentikan ucapan ustad Ali. Mengalihkan pandangan ku, aku baru sadar jika di belakang ku ada ustadz Aldi.
Terkejut lantas aku langsung berdiri dan menjaga jarak sejauh mungkin darinya. Entah apakah itu hanya perasaan ku saja atau tidak tapi aku sepertinya melihat ekspresi ustad Aldi menjadi tidak benar.
"Sebentar lagi imsyak maka sebaiknya kita segera masuk ke dalam." Ucapnya lagi sambil tersenyum mengingatkan.
"Ustadz Aldi." Sapa ku seraya mengangguk ketika ia mengalihkan perhatiannya menatap ku.
Deg
Deg
Deg
Astaga ada apa dengan diriku!
Mengapa debarannya menjadi semakin kuat ketika berhadapan langsung dengan ustadz Aldi?
Ini tidak mungkin karena aku menyukainya bukan?
"Anti harus kembali dulu karena tidak baik seorang perempuan bersama dengan lawan jenisnya." Ucapnya tanpa ekspresi.
Benarkah?
Bukankah awal pertemuannya dengan ustadz Aldi juga selalu berduaan? Tapi mengapa tiba-tiba ia mengatakan ini kepadaku sekarang jika ia tahu itu salah dari awal!
Tapi..ada apa dengan matanya?
Mengapa aku merasa jika ustadz Aldi sedang bersedih ketika menatapku seperti ini?
"Baik Ustadz, aku akan kembali dulu mumpung imsyak belum datang." Ucapku seraya mengucapkan salam dan melangkah menjauh dari mereka berdua.
Melangkah pelan menuruni tangga, diam-diam aku menyentuh dadaku yang kini berdebar kencang. Ini masih kuat meskipun aku menjauh darinya.
Dengan hati-hati aku berbalik ke belakang, menatap punggung tegap laki-laki itu yang kokoh dan tidak terganggu sama sekali oleh dinginnya angin malam.
Deg
Ia juga sedang melihat ku!
Secepat kilat aku mengalihkan pandanganku kembali dan membawa langkah ku lebih cepat lagi!
Sebentar lagi masuk imsyak namun aku tiba-tiba merasa hawa menjadi lebih panas dari sebelumnya. Bukankah sekarang seharusnya sangat dingin?
__ADS_1
Bersambung..