
hari pernikahan pun telah datang, segala persiapan sudah siap dan tamu undangan mulai berdatangan. Bunga yang sudah lama menanti hal ini, kini merasa gugup di dalam kamarnya. Bunga sangat cantik dengan gaun pernikahan yang sudah dipilihkan oleh Reyvan sebelumnya, tatahan riasnya pun sangat natural dan cantik diwajah gadis itu. Bunga menatap dirinya pada pantulan cermin, ia merasa gugup dengan melirik jam di dinding setiap detiknya. seorang wanita paruh baya datang, yang diyakini itu adalah ibu dari Bunga. wanita itu tersenyum, memeluk Bunga dari belakang dengan wajah terharu putrinya akan menikah.
"kamu sangat cantik nak, gaunmu cocok dengan dirimu! " ucap sang ibu, Bunga menoleh dan tersenyum tipis.
"iya ibu, aku sangat menyukai gaunku. aku sangat gugup sekali, sebentar lagi dia datang dan kami mengucapkan janji pernikahan! " ucap Bunga dengan lembut, terdengar suara nya itu gemetar karena gugup. sang ibu tertawa dengan hal itu, kemudian mengusap pundak Bunga pelan.
"ibu yakin kamu akan bahagia dengan Reyvan, dia pria yang baik pasti akan menjagamu dengan baik! " ucap ibunya, Bunga tersenyum dengan ememluk sang ibu. ia memikirkan Reyvan, bagaimana pria itu jika dalam keadaan gugup. Bunga yakin calon suaminya itu sedang gugup sekarang, Bunga tersenyum tipis membayangkan Reyvan yang gugup dan gemetar.
yang seharusnya acara dilakukan lebih awal, menjadi terlambat karena sebuah masalah. jadwal pengantin pria yang harusnya sudah datang, terlambat datang hingga hari menjelang siang. bahkan tidak ada tanda tanda kehadiran keluar pengantin pria datang, keluarga nya pun tidak terlihat untuk memberikan sebuah kabar. keluarga Bunga mencoba menghubungi Reyvan maupun keluarga pria itu, tapi tidak ada tanggapan dari keluarga tersebut. Bunga berusaha menghubungi Reyvan, tapi ponsel pria itu tidak aktif hanya berada diluar jangkauan. tidak ada sahutan membuat Bunga gelisah, waktu terus berjalan.
__ADS_1
hal itu membuat gunjingan para tamu yang datang, mereka membicarakan kejadian tidak diinginkan tersebut. beberapa tamu terlihat berpamitan pergi, hanya sebagian yang masih bertahan untuk menyaksikan keadaan itu lebih lanjut. Bunga berdiri diatas balkon rumahnya, sampai pandangannya melihat seseorang yng dikenalnya. tanpa bicara Bunga berlari menghampiri orang tersebut, ia tidak peduli dengan beberapa orang yang melihatnya. seorang wanita dan pria paruh baya, tentu saja mereka adalah orang tua Reyvan. keadaan mereka tidak serapi yang seharusnya, bahkan seorang ibu menangis menatap Bunga yang berlari kearahnya.
"ayah... ibu... ada apa ini, kalian kenapa. ibu... apa yang sebenarnya terjadi, coba katakan padaku! " ucap Bunga dengan lembut, gadis itu tetap berusaha tenang dan menunggu jawaban kedua orang tua itu. ibu Reyvan mengusap pundak Bunga, tiba tiba saja menangis tanpa mengatakan apapun. Bunga menoleh kearah calon ayah mertuanya, pria itu tersenyum dan menyentuh pucuk kepala Bunga.
"kamu sangat cantik dan juga baik, kamu tidak pantas menikah dengan putra Kami! " suara pria itu membuat Bunga terkejut, diam membisu tanpa mengatakan apapun. ia heran kenapa calon mertuanya mengatakan hal itu, ia menoleh kearah sang ibu yang masih dengan tangisnya.
"putra kamu pergi bersama wanita lain, ia mengatakan tidak bisa menikah denganmu... kami sebagai orang tuanya memohon maaf yang sebesar besarnya padamu, maafkan kesalahan putra Kami nak... " perkataan seorang ibu itu membuat keretakan dalam keyakinan Bunga, bahkan semua orang yang ada disana terkejut dan saling berbisik. Bunga diam menatap dua orang tua didepannya, bunga mekar yang ia pegang tanpa sadar terjatuh dari tangannya. langkahnya menjauh dari dua orang itu, ia menggelengkan kepala karena menyimpan rasa tidak percaya dengan semua yang ia dengar.
"tidak perlu minta maaf, semuanya sudah terjadi. saya permisi dulu, kalian lanjutkan saja!" ucap Bunga tanpa mengatakan apapun lagi, sang kakak menahan tngan gadis itu tapi tanpa peduli Bunga berjalan menjauh dari siapapun yang ada disana. Bunga berjalan perlahan menaiki tangga, ia berjalan menuju kamarnya dan tanpa terasa air mata mulai menetes di pipinya. Bunga menutup pintu dengan keras, tidak lupa ia mengunci kamarnya.
__ADS_1
"kurang apa aku, coba katakan padaku? " ucapnya sendiri di hadapan cermin, ia memandang tubuhnya gaunnya secara perlahan. "kurang apa sampai dia tidak mau menikahiku, katakan padaku! " suara gadis itu mulai meninggi, ia melihat foto Reyvan diatas meja. "bagaimana bisa kau melakukan ini, bagaimana bisa! " ucapnya melempar figira foto kecil itu, membuat cermin riasnya pecah berkeping. mungkin seperti gambaran hati Bunga, yang sedang hancur dan tidak akan bisa disusun kembali. Bunga masih tidak percaya, ia melihat ponselnya tidak terlihat Reyvan menghubunginya balik. biasanya pria itu akan langsung menelfonnya, tapi kali ini tidak membuat Bunga menangis yang tidak bisa ia tahan lagi.
"kenapa... kenapa Reyvan! " teriak Bunga melempar ponsel itu, ponselnya hancur dengan sekali banting oleh Bunga.
gadis itu menangis pilu, suara tangisnya didalam kamar terdengar menyayat hati. Bunga menatap dan menghancurkan kamar yang begitu cantik terhias bunga, kamarnya itu akan digunakan sebagai kamar pengantin mereka jika sudah menikah. gadis itupun menyobek gaunnya sendiri yang masih melekat ditubuhnya, ia tidak peduli dengan luka yang tanpa sengaja menggores kulitnya hingga berdarah.
"kalau kau tidak ingin menikah denganku, maka katakan saja. kenapa kau harus pergi... kenapa kau menghancurkan impianku, kenapa kau membuatku hancur... kenapa... hiks... hiks... apa salahku padamu, bahkan kau tidak mau menemuiku disaat seperti ini... aku membencimu... aku sangat membencimu Reyvan... " teriak Bunga menghancurkan setiap barang disana, tidak lupa ia terus menarik gaun yang melekat ditubuhnya. gaun cantik itu sudah rusak, sobek demi sobekan terjadi karena Bunga. pintu terdengar diketuk dengan suara suara teriakan memanggil nama Bunga, tapi diabaikan oleh Bunga yang tetap menangis dengan melempar barang.
"buka pintunya, apa yang kau lakukan didalam! " suara kakaknya diluar pintu kamar gadis itu, ia mengabaikan suara suara yang mengkhawatirkannya. Bunga hanyut dalam kesedihannya, menangis meluapkan semua kepedihannya. gadis itu bahkan menghancurkan tatahan rambutnya, ia menangis dengan mengusap wajahnya yang awalnya terlihat cantik. Bunga menangis meringkuh dibawah kasur setelah semuanya ia rasa sudah hancur, Bunga menangis dengan rasa kecewa yang terdalam. serpihan vas bunga membuat gadis itu terluka pada kakinya, Bunga mengambil serpihan itu dan menatapnya dengan mata yang penuh air mata.
__ADS_1
"aku tidak sanggup lagi, cukup sudah semuanya! " ucap Bunga, gadis itu membuat goresan di pergelangan tangannya. darah segar keluar dari sana, Bunga masih menangis dengan bersender. kenangannya bersama Reyvan terbayang, semakin deras air matanya keluar bersamaan dengan darah segar dipergelangan tangannya. "aku... membencimu Reyvan... " ucap Bunga lirih, ia merasa pandangannya kabur. dengan bersamaan seseorang berhasil mendobrak pintu tersebut, melihat Bunga yang ambruk di samping kasur besar. mereka semua panik melihat kamar itu yang sudah hancur, bahkan melihat darah yang mengalir. Bunga sudah hilang dibalik tidak kesadarannya, sang kakak pun berteriak dan menggendong sang adik untuk segera dibawa krumah sakit. kemarahan keluarga semakin besar, dengan melihat putri bungsu mereka menderita seperti itu.