Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Season II Part 15


__ADS_3

"Safira!" Teriak seseorang memanggil.


Safira bingung, lantas ia mengalihkan perhatiannya untuk mencari asal suara. Di sana, ada seorang gadis cantik yang kini sedang tersenyum lebar menghadap Safira. Jika Safira tidak salah lihat ditangan gadis itu ada sebuah bunga mawar merah terang yang mekar indah, sangat mempesona.


"Reina, mengapa kamu masih di sini? Bukankah kamu sudah dikeluarkan dari pondok pesantren?" Ada kilatan tidak suka saat melihat gadis ini. Apalagi melihat senyum lebarnya yang menyebalkan, Safira sangat terganggu ketika melihatnya.


Reina tidak langsung menjawab dan mengarahkan bunga mawar yang ia pegang menghadap Safira. "Untuk ini." Jawabnya tenang seraya memperhatikan dengan cermat betapa indahnya bunga yang sedang ia pegang.


Safira tidak mengerti maksud Reina, memangnya ada apa dengan bunga mawar yang ia pegang itu?


"Bunga mawar?" Bingung Safira juga ikut memperhatikan bunga mawar itu.


"Hei Safira, apakah kamu tahu jika bunga mawar merah adalah lambang cinta yang berapi-api." Ucap Reina memberi tahu masih dengan suaranya yang tenang, setenang lautan.


"Apa yang ingin kamu coba katakan?" Tanya Safira tidak ingin berbasa-basi. Apalagi jika lawan bicaranya adalah Reina maka bisa dikatakan jika Safira enggan untuk meresponnya. Membuang waktunya menjadi sia-sia hanya karena melayani gadis gila ini, Safira tidak sebodoh itu.


"Cinta yang berapi-api, seperti mawar ini. Terlihat indah dan mempesona, tapi-" Sudut bibirnya tertarik miring, menampilkan kesan dingin yang menakutkan. Bahkan, kedua matanya yang tadinya tenang kini menatap tajam bunga mawar tersebut dengan pandangan serakah.


"Penuh akan jebakan." Lalu, tangan kanannya yang sempat hati-hati memegang bunga mawar tersebut tanpa ragu menggenggam kuat batang berduri mawar tersebut, menghasilkan sebuah aroma manis dan anyir bercampur darah yang memuakkan.


Safira tentu saja sedikit shock dengan tindakan langsung Reina, ia yakin tangannya pasti saat ini sangat kesakitan.


"Hei, apa kau gila!" Ucap Safira sinis sebenarnya tidak terlalu perduli dengan penderitaan tangannya.


Reina lagi-lagi tersenyum miring dan dengan jujur mengakui kegilaannya. "Kau benar, aku memang gila. Aku gila hanya karena sebuah perasaan manis yang tidak terlihat, menjebak ku dengan kejam dan perlahan-" Menatap langsung mata Safira yang terlihat perduli.


"Mendorong ku ke dalam jurang." Sambungnya terdengar tenang, seakan-akan apa yang baru saja dia ucapkan tadi hanya kata-kata biasa saja.


Safira tentu saja tidak merasa simpati kepadanya karena semua itu terjadi karena keserakahan Reina sendiri. Jika saja ia tidak serakah maka semuanya tidak akan pernah terjadi.


"Itu karena kamu terlalu serakah untuk mendapatkan sesuatu yang tidak bisa kamu miliki." Respon Safira sinis tanpa merasa simpati dengan kemalangan Reina.


Mendengar respon Safira, kedua bibir Reina tertarik kompak membentuk sebuah senyuman lebar yang seharusnya terlihat menggelikan. Namun, saat ini kesan itu sama sekali tidak ada dan hanya kata menakutkanlah yang bisa menggambarkannya saat ini.


"Serakah, itu karena cinta membuat seseorang menjadi tamak dan serakah. Cinta yang ku pikir indah itu diam-diam membelenggu ku dalam sebuah keserakahan yang tamak, kemudian secara halus.." Senyumnya terlihat sangat aneh ketika tangan kanannya semakin meremat batang mawar tersebut, seakan-akan rasa sakit yang dideritanya adalah sebuah kesenangan yang menggoda.


"... mendorong ku dalam jurang kehancuran."


Safira sejujurnya tidak mengerti mengapa Reina mengatakan ini kepadanya karena ia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang Reina rasakan. Toh, semua yang menimpanya adalah karena kesalahannya sendiri.


"Itu salahmu jadi tidak ada gunanya mengatakan ini kepada-"


"Apa jatuh cinta itu salah?" Potongnya bingung.


Safira tertegun, menatap kosong pada Reina yang lagi-lagi tersenyum aneh


"Kamu mungkin tidak akan mempercayai ku bahwa cinta bukanlah hal yang baik. Cinta akan membuat mu kebingungan dan tanpa ragu mendorong mu ke dalam jurang kehancuran, itu seperti yang aku alami."


"Aku bukan kamu, jadi kamu tidak bisa mengatakan-"


"Apa kau yakin?" Tanya Reina terdengar sangat tenang, namun anehnya justru ini terdengar cukup menakutkan untuk Safira.


Safira diam, memilih untuk tidak meresponnya karena ia yakin Reina pasti akan mengatakan sesuatu yang aneh lagi.


"Safira," Panggil Reina lembut, wajahnya yang cantik dan pucat perlahan menampilkan wajah sendu yang menyedihkan.


"Aku dan kamu sama, cinta yang kita dambakan tidak pernah mau memihak keberuntungan kita-"


"Kita tidak sama!" Teriak Safira tidak tahan lagi.


Namun Reina sama sekali tidak mendengarnya, "Memaksa kita berdua untuk bertindak jahat-"


"Diam!" Marah Safira sambil berjalan mendekati Reina, berniat untuk menutup mulutnya.


Tapi sekuat apapun Safira mengejarnya, Reina seakan semakin menjauh darinya. Ia jauh dan tak tersentuh, "Dan karena cinta pula membuat kita tanpa ragu menyakiti orang terdekat kita, Safira...ini adalah keserakahan yang masih belum kamu sadari."


"Aku bilang-"


"Astagfirullah, Safira.. Safira bangun...bangun, Safira!"

__ADS_1


"Hah... kenapa, Mir?" Tanya Safira dengan kantuknya yang masih belum bisa pergi.


Mira menatapnya khawatir, "Apa kamu baru saja mimpi buruk?" Wajah Safira dipenuhi dengan keringat dingin bahkan saat tidur tadi pun ia terus mengigau.


Diingatkan tentang mimpi buruk, Safira teringat kembali dengan mimpi anehnya tadi. Ia akui pembicaraan di dalam mimpi itu terlihat sangat nyata namun senyata apapun itu tidak pernah merubah fakta bahwa itu hanya sekedar mimpi.


Jadi, secara perlahan kegelisahan hatinya mulai menghilang.


"Iya, itu mimpi yang sangat aneh. Tapi kamu tenang saja dan jangan khawatir karena mimpi aneh itu tidak akan mengganggu ku."


Menganggukkan kepalanya mengerti, Mira tahu betul jika Safira sangat kuat secara mental jadi mendapatkan mimpi buruk tidak akan mempengaruhinya.


"Aku pikir keganasan mu tidak akan membuat apapun mau mendekati mu, tapi ternyata aku salah karena faktanya malam ini kau diganggu mimpi buruk. Hah, Safira.. sekarang aku percaya jika kamu adalah manusia." Mira menghela nafas lega, mengejek Safira yang kini sedang memelototinya dengan pandangan tajam.


"Hem, maaf-maaf saja yah jika sebelumnya kamu menganggap ku sebagai bidadari." Balas Safira juga tidak ingin kalah. Safira tentu saja tidak akan kalah semudah itu, apalagi jika lawan mainnya adalah Mira maka mengalahkannya akan sangat mudah.


"Iyadeh yang bidadari." Mira mengalah dan tahu jika mendebat Safira sama saja memperlihatkan betapa bodohnya dia.


"Eh, Mira...kamu belum tidur yah?" Setelah diperhatikan baik-baik wajah Mira terlihat kelelahan dan kurang tidur.


Mira dengan jujur menggelengkan kepalanya, "Aku gak bisa tidur Fir, lagipula kalau mau tidur sekarang juga udah telat soalnya bentar lagi masuk pukul 3 pagi." Ia tidak bisa tidur karena ada terlalu banyak hal yang memenuhi kepalanya. Ada suara dari hati dan juga suara dari pikiran logikanya yang menuntut.


"Eh, iyakah?" Safira langsung menatap jam weker yang ada di atas meja dan menemukan jika beberapa menit lagi akan masuk jam 3.


"Kamu lagi banyak pikiran yah?" Setelah melihat waktu dan penampilan Mira yang bermasalah, Safira tidak lagi merasakan kantuk.


Ragu, "......Hem, tapi kamu tenang aja kok karena ini bukan masalah yang serius."


"Serius gak serius kamu tetap harus ingat kalau aku akan selalu berdiri di samping kamu, apapun yang terjadi." Janji Safira tulus. Mereka bukan sekedar teman biasa lagi sekarang jadi Safira pikir bahwa segala sesuatu yang mereka rasakan maupun dapatkan harus dibagikan.


Mira tertegun, kedua matanya yang sayu menatap wajah cantik Safira yang sedikit berantakan dengan sebuah sinar mata yang tulus dan penuh akan keyakinan.


Benar, Safira adalah sahabatnya bahkan menjadi pahlawan untuk Annisa dan Nanda. Ia terlalu baik untuk Mira kecewakan, ditambah selama ini Safira selalu membantunya maka tegakah hatinya untuk menyakiti hati Safira?


Mira pikir jika ini bukan waktunya untuk jatuh cinta, ia harus menunggu lagi untuk perjalanan cintanya. Karena satu-satunya yang paling penting sekarang adalah fakta bahwa sahabat baiknya menyukai laki-laki yang juga Mira sukai, bukan sehari dua hari tapi sudah 2 tahun lebih lamanya. Mira pikir ia seharusnya tidak menggangu perjalanan cinta sahabatnya, itu sangat berdosa untuk membuat sahabatnya sakit hati.


Yah, setidaknya aku hanya perlu menunggu sedikit lebih lama lagi. Urusan jodoh sudah diatur oleh Sang Kuasa maka mengapa harus risau?


🍃🍃🍃


"Ah, otot ku." Keluh Dea merasakan beberapa bagian tubuhnya yang pegal dan sakit. Di sela-sela langkahnya menuruni tangga masjid ia menyempatkan diri untuk memukul-mukul pinggangnya yang terasa kaku.


Ah, belum saja menjadi nenek-nenek tapi dia sudah encok duluan.


"Kenapa hari ini sakit sekali, bukankah tadi malam itu baik-baik saja?" Masha juga ikut mengeluh karena tubuhnya terasa sakit dan pegal-pegal. Tidak mau ketinggalan ia juga dengan sedih memukul-mukul pundak bagian belakangnya.


"Entahlah tapi aku harus akui jika ustad mu itu sangat kejam ketika memberikan hukuman. Ah..aku tidak mau lagi membuat masalah." Jika ia tahu akan separah ini hukumannya maka Dea akan memilih untuk tidak melayani dua parasit itu. Sekarang ketika merasakan hasilnya ia akan berusaha keras untuk mengingatkan dirinya bertindak sopan...Hem, sangat sopan.


"Hei, jangankan kamu, aku saja tidak pernah sampai berpikir jika hukumannya akan seberat ini." Masha tidak menyangka jika ustad Ali benar-benar tidak pandang bulu saat memberikan hukuman.


"Sudahlah, daripada terus mengeluh lebih baik kita kembali ke asrama saja. Nanti kita akan saling bantu memijit bagian yang pegal biar di kelas belajarnya jadi nyaman." Melihat langit yang hampir terang Masha mengusulkan untuk saling membantu saat di asrama nanti. Yah, sebagai siswa yang berprestasi ia tidak mau belajarnya terlewatkan karena sejujurnya ia pun sangat menyukai belajar.


"Ide bagus." Sahut Dea antusias sambil membawa langkahnya berjalan secepat mungkin, ia tidak ingin rasa sakit yang menjerat badannya ini bertahan lama karena sumpah demi apapun, rasanya sangat menggangu!


Segera saja mereka masuk ke dalam kamar mereka yang terdiri dari 20 orang. Awalnya kamar-kamar yang ada di pondok ditempati 30 orang perkamar. Namun, karena perluasan gedung sudah diadakan maka jadilah sekarang perkamar ditempati hanya 20 orang saja.


Awalnya ketika Dea pertama kali tidur di sini rasanya sangat tidak menyenangkan, bagaimana mungkin ia bisa tidur tenang ketika satu kamar di isi 30 orang?


Itu sangat berisik dan menjengkelkan, ditambah saat itu Masha yang selalu menempelinya kemana-mana sangat cerewet dan rewel. Membuatnya semakin disiksa, yah, awal datang ke tempat ini Dea tidak bisa memungkirinya bahwa ada semacam perasaan tersiksa dan jatuh ke dalam neraka dunia berada di pondok.


Tapi..


Ternyata setelah mengenal mereka, orang pondok tidak seburuk itu kok. Apalagi saat aibnya menyebar di pondok pesantren teman-teman kamarnya tetap mau mendekatinya selayaknya teman seperti biasa. Itu membuat Dea bersyukur sekaligus lega karena dengan begini ia tidak merasa seperti orang asing yang terlantar.


Hem, mereka semua baik kecuali Diva dan Ana yang memang sedari awal kedatangannya ke pondok Dea tidak disukai mereka. Mereka berdua selalu mencari masalah dengan Dea setelah aib dan kesalahan bodohnya menyebar bagaikan kapas yang tertiup angin. Mereka tahu kelemahannya jadi itu lebih mudah bagi mereka untuk mengolok-olok mengolok-olok Dea.


"Ayo baring De, aku akan membantu mu pertama setelah itu kamu baru membantu ku." Instruksi Masha yang langsung diangguki cepat Dea. Dia langsung berbaring di ranjangnya, ah lebih tepatnya ia menelungkup kan badannya untuk mempersilakan Masha memberikan pelayanan pijit yang baik.


"Eh, kalian sedang apa?" Tiba-tiba suara Ririn mengalihkan fokus Masha yang akan segera menyentuh pinggang ramping Dea.

__ADS_1


"Badan kami berdua pegal gara-gara hukuman semalam jadi kami berdua memutuskan untuk bergantian saling memijitkan." Lapor Masha pada ketua kamarnya.


"Kenapa tidak minta bantuan kepada kami, sini kami bantu." Ucap Ririn tanpa pikir panjang.


"Sha, kamu baring juga deh di ranjang kamu biar ke kelas nantinya gak telat." Perintah Ririn kepada Masha.


Masha merasa lega sekaligus bersyukur, "Terimakasih Ririn." Ucapnya berterima kasih.


Dea pikir hanya ada diri Ririn yang akan membantu mereka tapi ternyata di badannya ia bisa merasakan banyak tangan-tangan yang bertenaga ringan memijit bagian tubuhnya yang sakit.


Dea menenggelamkan wajahnya di atas bantal seraya mengatakan kebingungannya, "Aku pikir kalian marah dengan masalah yang kami timbulkan." Ucap Dea malu, ia dan Masha sudah merusak nama kelompok kamar mereka dan kesempatan untuk mendapatkan penghargaan kamar terbaik menjadi lebih minim.


"Kami tidak marah kok De, malahan kami cukup senang karena dengan begitu mereka berdua bisa mendapatkan pelajaran dari perbuatan mereka sendiri." Ajeng, salah satu gadis penghuni kamar ini menyuarakan kelegaannya. Sebenarnya ia sudah cukup gerah dengan tingkah Diva dan Ana yang selalu mencari masalah. Hanya karena Dea pernah melakukan kesalahan sebelumnya bukan berarti Dea tidak bisa berubah sekarang. Oleh karena itu ia sudah cukup lelah dengan sikap sok suci mereka berdua.


"Ajeng benar Dea, kami tidak marah dengan masalah yang terjadi kemarin karena sudah seharusnya Diva dan Ana mendapatkan hasil dari perbuatan mereka. Kami juga berharap bahwa kamu jangan terlalu memasukkan di hati kata-kata mereka karena kami yakin keberadaan mu di sini adalah untuk berubah menjadi orang yang lebih baik lagi." Wati juga tidak ingin ketinggalan, dia menyuarakan pendapatnya tentang Dea dan masalah kemarin.


"Dea, apapun masa lalu mu sebenarnya kami semua tidak terlalu perduli karena kamu yang sekarang bukanlah Dea yang dulu. Kami hanya ingin menjalin pertemanan layaknya saudara dengan mu tapi melihat mu menjadi seseorang yang penyendiri membuat kami ragu untuk mendekatimu. Seringkali ketika kami melihat mu bisa tertawa dengan Masha membuat kami iri dan bertanya-tanya mengapa kamu bisa dekat dengan Masha sedangkan dengan kami tidak? Itu...kau tahu, semua orang sebenarnya ingin berteman dengan mu." Akui Ririn dengan suaranya yang mencoba terdengar sesantai mungkin.


Semua orang yang ada di kamar ini kecuali Diva dan Ana sangat ingin menjalin pertemanan dengan Dea. Tetapi melihat betapa acuhnya Dea dengan semua orang membuat nyali mereka menciut. Bahkan, saat melihat Masha harus berkali-kali mendapatkan kemarahan Dea semakin membuat mereka berpikir bahwa Dea tidak menyukai mereka dan tempat ini. Jadi karena tidak ingin mengganggu kenyamanan Dea sementara berusaha beradaptasi dengan pondok pesantren, mereka hanya bisa mengamati pergerakan Dea dan Masha yang selalu menjauh dari mereka.


Mendengar curahan hati Ririn yang mewakili suara hati yang lain, tiba-tiba suasana di antara mereka menjadi sunyi dan hening. Tidak ada yang berani bersuara atau berkomentar di saat-saat suasana haru seperti ini.


Mereka semua diam karena menunggu respon dari Dea, mereka takut jika hanya ada penolakan yang akan Dea lontarkan kepada mereka. Tapi itu semua tidak terjadi karena tiba-tiba Dea bangun dari posisi telungkupnya, mendudukkan dirinya di hadapan semua orang, Dea tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap mereka.


"Kalian adalah orang-orang yang baik," Ucap Dea dengan suara kecil namun masih bisa di dengar oleh mereka.


Tik


Setetes kristal bening terjatuh ke tangangnya, "Dan orang yang baik tidak boleh berteman dengan orang yang jahat dan kotor seperti aku." Meremat kuat kedua tangannya yang sedang berkeringat.


"Lihat saja Masha, gadis yang dulunya kalian kenal baik dan polos ini tiba-tiba menjadi tidak sabaran dan kasar saat bergaul dengan ku."


"Dea...itu tidak benar." Bantah Masha mengakui.


Itu semua bukan karena ia berteman dengan Dea.


"Jadi, kalian harus belajar darinya untuk tidak mendekatiku karena ketika kalian dekat denganku maka kejahatan ku akan mengontaminasi kalian-"


"Dea," Potong Ririn tidak ingin mendengar lebih lanjut lagi.


Dea memang tidak menjawab namun keterdiamannya adalah bukti bahwa ia mau mendengarkan.


"Aku pribadi menolak kau menyebutkan Masha berubah menjadi orang yang kasar dan tidak sabaran karena faktanya Masha sampai sekarang tidak pernah berubah. Lalu, jika kamu takut kami akan menjadi orang yang tidak baik saat bersama mu maka pikirkanlah ini, bagaimana jika kamu dekat dengan kami bukannya kami menjadi tidak benar malah kamu yang menjadi semakin baik. Aku yakin jika kamu sudah menyesali semuanya dan bertekad untuk berubah, jadi karena kamu ingin berjalan ke jalan Allah mengapa kamu hanya ingin sendirian?" Meraih tangan Dea, "Ajak juga kami karena kami juga sama dengan mu, tidak luput dari khilaf dan kesalahan."


Ayo berhijrah bersama-sama, ini adalah kata-kata terindah yang pernah Dea dengar seumur hidupnya. Ia akui jika apa yang mereka ucapkan sangat menyentuh relung hatinya dan Dea tidak bisa menampik bahwa ia tergerak.


"Apakah tidak apa-apa?" Tanya Dea ragu yang mana langsung direspon cepat semua orang dengan gelengan kepala.


"Bukan hanya tidak apa-apa tapi itu semakin membuat kami senang jika kamu mau berteman dengan kami."


Merasa senang, "Baiklah, ayo kita berteman." Putus Dea senang yang langsung dihadiahi pelukan masal semua orang.


Bagaimana menjelaskannya?


Rasanya sangat hangat dan menyenangkan saat semua orang mau menerima mu. Melihat senyum kepuasan dan kebahagiaan mereka, tiba-tiba Dea merasa jika ternyata tempat yang selama ini ia cari ada di sini. Tidak perlu kemana-mana karena kenyamanan itu sudah ada, ada tepat di dekatnya. Hem, itu sangat dekat sampai-sampai Dea kesulitan untuk menemukannya.


"Tapi...aku masih belum terlalu mengerti dengan agama jadi..." Ragu Dea akan mengatakan apa.


"Ada kami Dea, jadi kau tidak perlu khawatir!." Ucap Ajeng menghibur.


"Benar, kita bisa belajar bersama secata perlahan-lahan." Suara yang lain ikut menimpali.


"Jadi Dea, kamu tidak perlu khawatir."


Mendapatkan jaminan dari teman-teman kamarnya, perlahan senyum kelegaan Dea terbentuk. Ada semacam ketenangan saat ia mendengar semua itu. Dea juga tidak menyadari jika saat ini kedua matanya sudah berair kembali, ini bukan karena kesedihan tapi karena perasaan bahagia yang baru pertama kali ia rasakan.


Teman... mengapa Dea baru menyadari jika teman yang mengajak pada kebaikan adalah para saudaranya kelak di akhirat.


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2