
"Yang bawa keranjang siapa?" Tanya Ririn tanpa mengalihkan perhatiannya dari catatan nama teman-teman sekamarnya. Saat ini mereka sedang bersiap pergi ke kebun untuk memetik beberapa sayuran yang bisa dipetik.
"Yang bawa keranjang Rina sama Dina." Ajeng melaporkan dengan tenang, membantu Ririn mengabsen teman-teman sekamarnya.
Ririn mengangguk ringan, mencentang nama Rina dan Dina dengan cepat dan efesien. Lalu, ia beralih ke pertanyaan selanjutnya. "Yang bawa silet charter siapa?" Tanya Ririn masih dengan sikapnya yang tadi.
"Yang bawa silet Wati, Ayu, dan Dea." Lapor Ajeng lagi setelah melihat 3 orang di kelompoknya memegang silet yang sudah tidak asing lagi untuk semua orang.
Mengangguk puas, Ririn kemudian menutup lembar absennya dan menaruhnya dengan rapi di atas laci kamar mereka semua.
"Lho, Ana dan Diva kemana?" Tanya Wati bingung karena sejak pulang sekolah tadi mereka tidak pernah melihat keberadaan dua orang itu.
"Mereka tidak ingin bergabung dengan kita tentu saja jadi jangan terlalu dipikirkan." Ririn menjawab dengan santai dan terus terang jika dua teman sekamar mereka ini enggan bergabung dengan mereka.
"Nah, kalau semua sudah kumpul lebih baik kita jalan langsung aja biar nanti saat azan sholat asar tiba kita sudah memetik banyak sayur." Usul Ajeng mengalihkan perhatian mereka semua dari pembicaraan tentang Ana dan Diva. Sebagai penghuni kamar pertama, Ajeng sebenarnya kurang cocok dengan dua orang ini. Bahkan sebelum Dea masuk ia sudah sering terlibat adu cekcok dengan mereka berdua.
Tanpa menunggu waktu lama lagi mereka semua kemudian pergi ke kebun. Di jalan mereka juga bertemu rombongan kamar lain, saling menyapa dan menebarkan senyum adalah hal yang pertama mereka lakukan. Tentu saja, sebagai orang asing yang baru masuk ke sini Dea mengakui jika kedamaian ini sangat mempengaruhi suasana hatinya. Yang tadinya tidak nyaman karena masalah ustadzah Fatimah dan ustad Aldi, sekarang malah mulai terkendali.
Hem, lupakan tentang mereka dulu karena sekali lagi jodoh sudah di tangan Sang Pencipta. Dea hanya perlu berlari dan berusaha mensejajarkan posisinya dengan ustad Aldi jika ingin jodohnya ustad Aldi.
"Kita masuk kebun yang mana, teman-teman bisa ajukan saran." Tanya Ririn lebih mengutamakan pendapat teman-temannya.
"Kita bagi kelompok aja, berhubung kita 18 orang maka lebih baik kita dibagi menjadi 3 kelompok sesuai banyak silet." Usul Ajeng cepat. Karena pasukan mereka berjumlah 18 orang maka lebih baik mereka dibagi berkelompok saja. Ini juga ia lakukan agar sayuran untuk bukannya lebih bervariasi sedikit. Yah, mau bagaimana lagi derita anak pondok makan sayuran yang itu-itu saja.
"Iyasih siletnya banyak tapi coba deh lihat, keranjang sayur kita cuma dua. Masa iya dua kelompok bawa keranjang satu kelompoknya cuma bisa bawa sayur di tangan masing-masing?" Wati mengungkapkan pendapatnya yang langsung membuat mereka sadar jika mereka hanya punya dua keranjang.
"Sebenarnya tidak apa-apa satu kelompok tanpa keranjang asal sayur yang dipetik adalah sayuran yang tidak ada duri dan getahnya, misalnya seperti sayur sawi, bayam dan sejenisnya." Setelah berpikir lama, Ririn akhirnya menimbang bahwa selama sayur itu tidak merugikan mereka rasanya tidak apa-apa tanpa menggunakan keranjang.
"Aku setuju, gak ada salahnya kan bawa sayur tanpa keranjang. Toh satu kelompok ada 6 orang jadi seharusnya tidak menjadi masalah untuk kita." Yang lain juga setuju dengan saran Ririn.
Mengangguk puas, Ririn kemudian membagi mereka menjadi 3 kelompok yang mana satu kelompok terdiri dari 6 orang. Dea yang juga termasuk ke dalam pasukan dimasukkan ke dalam kelompok dua bersama Masha. Tidak hanya itu, tapi Ririn, Ajeng, Wati, dan Rina juga masuk ke dalam kelompok ini.
Karena mereka mendapatkan keranjang otomatis mereka harus masuk ke dalam kebun yang ditanami sayuran yang sulit untuk dibawa dalam jumlah besar dengan tangan kosong.
"Menurut kalian kita masuk ke kebun apa?" Tanya Ajeng meminta saran mereka.
Dea tidak mengatakan apa-apa dan menyerahkan semua keputusan kepada mereka. Entah itu ke kebun tomat atau cabe, Dea tidak perduli karena tempatnya masih di lingkungan pondok pesantren.
"Okay, kita putuskan ke kebun terong saja bagaimana?" Karena tidak ada yang mengusulkan maka Ajeng memutuskan untuk mengusulkan kebun terong yang ada di dekat sungai. Tidak apa-apa bukan memetik terong sambil mendengarkan betapa tenangnya aliran sungai?
"Baiklah, kita ke kebun terong." Mereka setuju tanpa menghabiskan waktu lama perdebatan. Berhubung semua orang setuju maka mereka tidak membuang waktu lama lagi dan bergegas ke kebun terong yang sudah ada beberapa orang di dalamnya.
"Teman-teman, karena terong terbilang mudah maka seharusnya kita bisa memetiknya dengan tangan kosong. Tapi berbeda dengan Dea, aku yakin ini adalah pertama kalinya melakukan pekerjaan kasar jadi biarkan ia menggunakan silet itu." Apa yang Masha katakan ada benarnya dan mereka semua tidak menunjukkan tanda-tanda bermasalah.
Wajar saja orang yang terbiasa hidup di kota sulit beradaptasi dengan lingkungan sederhana dan kasar seperti ini, jadi karena mereka semua mengerti dan memakluminya maka tidak ada komentar tidak senang yang terlontar dari mulut mereka.
Beberapa menit kemudian, mereka ber-6 sudah mulia bekerja dan sibuk dengan fokus masing-masing. Tidak terkecuali Dea, karena ia memegang benda tajam maka ia pikir seharusnya yang paling banyak bekerja adalah dirinya jadi karena terlalu fokus ia tidak sadar sudah menjauh dari kelompoknya.
Ini baru beberapa menit ia bekerja tapi peluhnya sudah mulai membasahi keningnya. Ah, memang Dea akui jika pekerjaan ini terbilang mudah dan cepat bagi yang lain tapi itu berbeda dengannya yang tidak pernah masuk ke kebun sebelumnya. Apalagi saat ini mereka sedang puasa maka hambatan yang ia rasa semakin bertambah. Puasa saja dulu ia suka bolong-bolong tanpa sepengetahuan keluarganya jadi ketika harus dituntut untuk puasa penuh ia akui, itu agak sulit untuknya.
Tapi meskipun sulit ia sejujurnya cukup menikmati semuanya. Karena ia tidak sendirian ketika melakukannya, ada teman-temannya yang mau membimbingnya menjadi lebih baik lagi.
"Ya Allah Mas Aldi, pulang-pulang dari Kairo kok jadi aneh gini." Suara tawa malu-malu perempuan menginterupsi kegiatan Dea.
Dengan wajah tertegun, Dea memfokuskan pendengarannya untuk meyakini jika orang yang disebut perempuan tadi ada ustad Aldi. Sejenak ia ragu untuk mengalihkan pandangannya dari objek yang ada ditangannya, namun karena suara tuntutan hati ia kemudian memberanikan diri untuk menatap asal suara yang jaraknya tidak terlalu jauh darinya. Di sana, ada ustadzah Fatimah yang sedang tertawa malu bersama ustad Aldi yang juga terlihat tertawa. Memang mereka tidak berdua, masih ada orang lain lagi diantara mereka berdua. Namun anehnya meskipun ada orang, ustadzah Fatimah dan ustad Aldi terlihat menarik fokus semua orang. Memberikan kesan seolah ada pasangan kekasih yang sedang bercanda ria di sini.
Sesak, Dea sontak menurunkan matanya berpura-pura kembali fokus pada sayuran yang ada di depannya. Ada perasaan marah dan terkhianati ketika melihat pemandangan hangat itu. Dea akui ketika melihat mereka berdua bersama itu sebenarnya sangat memberikan kesan kasih sayang yang penuh akan kebahagiaan.
Ya, dia cemburu dan Dea tidak menampik hal itu. Marah dan kesal, rasanya ia ingin sekali berlari langsung ke arah ustad Aldi. Menanyakan secara langsung mengapa ia begitu dekat dengan ustadzah Fatimah, Dea ingin mendengarnya langsung dari ustad Aldi apa hubungan dia dengan ustadzah Fatimah. Dia ingin bertanya namun entah mengapa kakinya terasa mati rasa untuk bergerak, lalu kepalanya juga dengan jernih mengingatkan Dea bahwa ia bukanlah siapa-siapa ustad Aldi jadi mengapa ustad Aldi harus menjawabnya?
Dea merasakan sakit dan putus asa pada saat yang bersamaan hingga suara tenang seseorang mengaburkan lamunannya.
__ADS_1
"Dea, apa kamu baik-baik saja?" Tanya suara berat itu khawatir. Pasalnya sedari tadi Dea terus saja menundukkan kepalanya tanpa menggerakkan tangannya. Aldi takut jika Dea sedang kurang sehat sehingga ia memberanikan diri untuk bertanya langsung kepadanya.
Dea tersentak, mengangkat kepalanya untuk melihat ke asal suara, ada ustad Aldi yang berdiri tidak jauh darinya. Keningnya terlihat berkerut menatap bingung Dea.
Berdiri dari tempat duduknya, Dea berpura-pura tenang seraya menepuk-nepuk bagian belakangnya. Bertindak seolah ia sama sekali tidak terganggu dengan keberadaan ustadzah Fatimah dan ustad Aldi.
"Ustad, saya gak apa-apa kok." Jawab Dea cemberut, terlihat tidak suka dengan keberadaan ustadzah Fatimah. Meskipun ia mencoba untuk tidak terganggu tapi tetap saja, perasaan cemburu itu menguasai hatinya dan tanpa ampun menyiksa perasaannya!
"Oh..." Ustad Aldi tiba-tiba merasa canggung, entahlah tapi firasatnya mengatakan jika saat ini Dea sedang marah kepadanya. Tapi jika Dea memang marah kepadanya maka kesalahan apa yang sudah ustad Aldi lakukan sehingga membuat Dea seperti ini?
Ustad Aldi pikir ia sama sekali tidak pernah melakukan apapun yang dapat menyinggung Dea. Hem, ia ragu jika orang yang sudah membuat Dea marah adalah dirinya.
"Mas Aldi kenal Dea juga?" Suara lembut ustadzah Fatimah menengahi kebisuan yang melanda mereka berdua. Memberikan ruang untuk ustad Aldi memulai topik yang lebih ringan Dea melalui ustadzah Fatimah.
Berbeda dengan ustad Aldi yang merasa terbantu dengan kedatangan ustadzah Fatimah, Dea justru merasa jika hatinya semakin iritasi!
Dia bilang Mas Aldi?
Hah, Dea ingin sekali tertawa ketika mendengarnya. Apakah mereka perlu bertindak intim di depannya? Atau apakah ustadzah Fatimah harus bersikap intim dengan ustad Aldi di depannya?
Oh... memikirkannya membuat Dea merasa muak saja. Ia marah dan kesal pada laki-laki yang tidak peka sama sekali!
"Kenal kok, dia adalah siswa pindahan dari kota dan cukup terkenal di sini." Ustad Aldi menjawab ramah berniat mengurangi kemarahan Dea. Juga, apa yang ia katakan tadi bukan omong kosong semata karena itu adalah kejujurannya. Memang, ustad Aldi sempat mendengar berita buruk tentang Dea ketika awal-awal baru kembali ke pondok pesantren. Namun, berita itu tidak bertahan lama dan digantikan dengan berita baik tentang perubahan Dea yang semakin terlihat. Bukan hanya itu saja, terkadang ustad Aldi mendengar banyak anak laki-laki yang menaruh minat pada Dea. Mereka berkata ingin mendekati Dea bermaksud untuk menghalalkannya dan tentu saja kabar itu tidak bisa diterima oleh ustad Aldi.
Ustad Aldi sudah berpikir matang dan mendapatkan persetujuan dari banyak pihak tentang langkahnya yang ingin menikahi Dea, yah..tentu saja berita ini masih menjadi rahasianya bersama orang-orang terdekatnya.
Meskipun ustad Aldi bermaksud baik mengatakan itu, namun ketika itu sampai ke pendengaran Dea tentang dirinya yang terkenal di pondok tidak bisa membuatnya bahagia. Itu justru membuat Dea menjadi murung dan sedih. Ustad Aldi pasti sudah mendengar semua keburukannya jadi wajar saja ia mengatakan jika Dea cukup terkenal di sini.
Ah, rasanya kenapa perih sekali?
"Benarkah?" Ustadzah Fatimah berseru kaget, baru pertama kali mendengar tentang siswanya yang menjadi artis pondok pesantren ini.
"Ya-"
Ustad Aldi langsung mengeluarkan handphonenya dan melihat nomor telepon yang menghubunginya adalah orang yang penting. "Sebentar, saya harus menjaga telepon dulu. Kalian berdua lanjutkan saja obrolan tadi." Ustad Aldi izin mengangkat telepon dan berjalan menjauh dari ustadzah Fatimah dan Dea.
Melihat kepergian ustad Aldi untuk menerima telepon seseorang, Dea rasa tidak ada yang perlu lagi dibicarakan dengan ustadzah Fatimah. Ditambah hatinya saat ini sedang dalam suasana yang buruk jadi pembicaraan apapun itu rasanya tidak akan pernah nyambung dengannya, malah karena objek lawan bicaranya adalah ustadzah Fatimah, Dea ragu bisa menahan amarahnya.
Kemudian ia kembali mendudukkan dirinya di tempat semula dan mulai bekerja kembali, ia bertindak acuh dan pura-pura tidak tahu akan keberadaan ustadzah Fatimah di sampingnya.
"Apakah kamu kesulitan memetiknya?" Tanya ustadzah Fatimah berniat membantu ketika melihat Dea kesulitan menangani batang pohon terong yang menghalangi pekerjaannya.
Bahkan meskipun ia menggunakan silet, benda tajam ini masih tidak mampu menyingkirkan batang mengganggu tersebut.
Karena Dea tidak menjawab pertanyaannya, ustadzah Fatimah pikir Dea tidak mendengar pertanyaannya jadi dia sekali lagi mengutarakan niat baiknya.
"Bolehkah aku membantu mu?" Tanya ustadzah Fatimah masih dengan suaranya yang lembut dan sopan. Ia dengar Dea berasal dari kota jadi ia memaklumi betapa payahnya Dea mengurus batang kecil sepele di sana.
Namun, Dea masih saja belum menggubrisnya. Dea bertindak seolah tidak ada siapapun di sampingnya dan suara kebaikan ustadzah Fatimah hanyalah angin lalu saja untuknya.
Menghela nafas, ustadzah Fatimah lalu membungkukkan badannya dan tanpa mengatakan apapun ia menjulurkan tangannya berniat menarik langsung batang yang sangat menggangu Dea. Namun sebelum tangannya bisa menyentuh batang tersebut, ustadzah Fatimah menjadi sasaran kemarahan Dea.
"Aku bisa melakukannya sen-"
SRET
"Aw!" Ustadzah Fatimah berteriak kaget bercampur dengan kesakitan. Dari telapak tangannya yang putih bersih mengalir deras darah merah yang kental dan masih segar.
Pemandangan ini sontak membuat orang-orang di sekeliling mereka berteriak panik ikut kaget juga perihatin dengan kemalangan yang menimpa ustadzah Fatimah.
Dea yang menjadi tersangka utama juga sama terkejutnya dengan yang lain. Bahkan saat ini tangannya yang memegang silet menjadi gemetaran tidak terkendali, ia sangat takut ketika melihat darah ustadzah Fatimah. Karena ketakutan, ia hampir saja membuang benda tajam yang ada di tangannya. Namun, sebelum itu bisa ia lakukan suara berat juga kebingungan ustad Aldi memasuki pendengarannya. Membuat tubuhnya tanpa sadar menjadi kaku seketika.
__ADS_1
"Ada apa ini-- astagfirullah, kenapa tangan kamu bisa terluka seperti ini?" Ustad Aldi berseru panik ketika melihat darah segar ustadzah Fatimah mengalir dengan deras dari telapak tangannya.
Ustad Aldi kemudian merobek lengan bajunya dan secepat kilat mengikatnya pada telapak tangan ustadzah Fatimah yang siapa saja melihatnya pasti akan merasa ngilu.
"Ini tidak apa-apa, aku hanya tidak sengaja menyentuh batang yang tajam saat ingin memetik buah terong." Ustadzah Fatimah berbohong berniat ingin menyembunyikan kesalahan Dea.
Namun, orang-orang yang ada di sekitar mereka menolak untuk tutup mulut dan langsung melaporkan perbuatan Dea kepada ustad Aldi.
"Ustadzah Fatimah bohong ustad." Ucap seseorang membantah kebohongan ustadzah Fatimah. Mengalihkan pandangannya, orang itu menunjuk Dea yang masih berdiri mematung di samping ustadzah Fatimah.
"Ustad, tadi ustadzah Fatimah berniat membantu Dea menyingkirkan batang pohon yang mati itu namun Dea menolak secara kasar dan melukai telapak tangan ustadzah Fatimah." Lanjut orang itu lagi menjelaskan kebenarannya kepada ustad Aldi.
Setelah mendengar penjelasan orang itu, ustad Aldi kemudian mengalihkan pandangan tajamnya pada Dea yang berdiri kaku di samping ustadzah Fatimah. Di tangan kanannya, ia masih memegang erat benda tajam yang kini ternoda darah segar. Terlihat tajam dan mengerikan.
"Ustad, aku sama sekali tidak ber-"
"Dea!" Teriak ustad Aldi marah. Kedua matanya menatap Dea dengan tajam juga kecewa, ada perasaan marah yang terus saja meluap-luap di dalam dirinya. Rasanya sulit sekali percaya jika gadis yang ia sukai punya sisi kejam yang menakutkan.
Mendengar teriakkan marah ustad Aldi, Dea langsung berjenggit kaget. Apalagi saat ia melihat tatapan penuh marah dan kesal ustad Aldi kepadanya, rasanya ia bisa mendengar suara hatinya yang perlahan-lahan mulai retak. Kemudian retakan itu disusul rasa sakit hebat yang menyesakkan, memaksa kedua matanya untuk menangis.
"Apa kamu tahu yang baru saja kamu lakukan!" Ustad Aldi sudah tidak perduli lagi dengan air mata Dea yang sudah mulai mengalir keluar. Baginya kesalahan tetap saja kesalahan dan harus dipertanggungjawabkan seberat apapun itu.
Dea diam tidak ingin lagi mengatakan apapun, ia pikir percuma saja membela dirinya karena faktanya orang yang sudah melukai ustadzah Fatimah adalah dirinya sendiri.
"Pergi, pergi ke kantor kedisplinan untuk mendapatkan hukuman mu!" Perintah ustad Aldi dingin tidak memberikan Dea kesempatan untuk bertindak curang lagi. Ustad Aldi pikir Dea harus diberikan hukuman yang berat agar ia sadar dan mengerti bahwa melakukan perbuatan yang buruk sangat tidak baik.
Dea tidak langsung merespon ustad Aldi, matanya yang kini telah basah oleh air mata-mata diam memperhatikan wajah ustad Aldi yang kini sedang menatapnya dengan dingin. Biasanya, wajah ini selalu mengungkapkan ekspresi wajah yang lembut ketika menatap wajahnya. Namun hari ini tiba-tiba sudah berubah dingin saja dan tanpa tahu meninggalkan luka yang dalam untuk Dea.
"Baik, ustad." Suaranya terdengar parau menyanggupi.
Mengucapkan salam, Dea kemudian membalik tubuhnya berjalan menjauhi kerumunan. Dalam langkah tenangnya, ada perasaan sakit dan sesak yang mengiring. Ah, rasanya jauh lebih sakit daripada ia dikhianati oleh mantan kekasihnya dulu.
Seharusnya dari awal Dea menyadarinya jika berharap kepada orang yang sempurna itu tidak mungkin. Dea juga menyadarinya dengan jelas sekarang bahwa laki-laki sesempurna ustad Aldi diperuntukkan untuk perempuan yang sederajat juga dengannya. Sedangkan Dea?
Dea tidak tahu tempatnya dan dengan lancang mengharapkan sesuatu yang mustahil untuk terjadi. Hah, mengapa rasanya sakit?
Sakit sekali sampai untuk bernafas saja rasanya sangat sulit.
Tersenyum miris, Dea kemudian mengusap wajahnya dengan tangan kirinya yang kosong tanpa beban. Ketika ia memutuskan untuk pergi tadi Dea juga memutuskan untuk tidak lagi mengharapkan ustad Aldi. Ia berjanji untuk menjauhinya bagaimanapun caranya karena Dea tahu, bertemu lagi dengannya nanti tidak akan pernah mengembalikan sikap ramah ustad Aldi terhadapnya jadi percuma saja..
Apalagi sudah ada ustadzah Fatimah di sampingnya jadi untuk kembali seperti dulu lagi mungkin itu tidak akan pernah terjadi.
Ia juga ingin melupakan ustad Aldi, meskipun sulit tidak apa-apa bukan?
🥀🥀🥀
Sepeninggal Mira ke kantor bagian informasi, Safira dengan malas berbaring di atas ranjangnya. Ia sangat malas melakukan apapun ditambah lagi tidak ada hal menarik yang memancing minatnya.
"Kenapa Mira lama sekali?" Gumam Safira bosan. Saat ini ia sangat butuh penghiburan, nah, berhubung Mira adalah perempuan yang idiot dan konyol maka Safira sangat membutuhkannya saat ini.
"Mungkin baca buku bisa menghilangkan kebosanan ku." Gumamnya mencari jalan keluar seraya menggeledah lacinya mencari buku yang ia bawa dari rumah.
"Astaga, Mira kemarin sempat meminjamnya." Ingat, beberapa hari yang lalu Mira sempat meminjam bukunya untuk dibaca. Berhubung buku itu tidak terlihat dimana pun Safira yakin jika Mira menaruhnya di dalam laci.
Ia kemudian menarik laci Mira dan langsung menemukan buku yang ia cari terkapar tidak berdaya di dalamnya. Senang dengan temuannya, ia pun segera meraih buku tersebut tanpa memperhatikan jika buku yang ia tarik saling tumpang tindih dengan buku yang lain.
Prak
Buku yang Safira ingat milik Mira terjatuh di atas lantai. Menghela nafas tidak berdaya, Safira kemudian menundukkan kepalanya seraya menarik buku Mira.
"Untung saja tidak rusak." Gumamnya merasa lega seraya memperbaiki lembaran buku Mira yang sempat terlipat gara-gara terjatuh tadi.
__ADS_1
"Eh, apa yang Mira tu- Aldo?"
Bersambung..