
setelah kejadian di bandara, Bunga menemani Rayhan kerumah sakit hingga pulang kerumah. di sepanjang perjalanan menuju rumah, Rayhan menggenggam tangan Bunga tanpa mau melepaskannya. ia masih tidak menyangka Bunga membuka hati untuknya, bahkan tanpa gengsi menyatakan perasaannya di hadapan publik. Rayhan tersenyum menatap Bunga yang duduk disamping, sampai Bunga menoleh saat merasa ada yang memperhatikannya. Bunga tersenyum dan bertanya apa Rayhan baik baik saja, pria itu membalas senyuman dan menganggukkan kepala.
Rayhan menyenderkan kepalanya pada pundak Bunga, gadis itu pun tidak menolak malah membelai rambut halus Rayhan. entah kenapa ia menyesali perbuatannya yang kemarin, menolak pria itu padahal hatinya berkata lain.
"ini bukan mimpi kan? " gumam Rayhan disamping Bunga, dengan senyuman Bunga menggelengkan kepalanya.
"tidak ada mimpi, ini semua nyata! " ucap Bunga, Rayhan tersenyum dan mencium tangan Bunga berulang kali. membuat gadis itu tertawa, mereka pun melempar senyum dan juga tawa didalam mobil.
sampainya dirumah Rayhan yang masih menggenggam tangan Bunga, membawa gadis itu melangkah hingga memasuki kamarnya. semuanya yang melihat itu menggelengkan kepala, merasa tidak percaya atasan mereka menjadi sangat posesif. Bunga mengikuti langkah Rayhan, masuk kedalam kamar Rayhan dan pria itu pun memeluk Bunga dengan erat.
"ada apa, kamu gak tahu ya banyak yang melihat tadi! " ucap Bunga, Rayhan memeluk gadis itu dengan menyembunyikan kepalanya disela rambut Bunga.
"aku tidak peduli, ini rumahku jadi terserah aku. aku hanya ingin memelukmu lebih lama, karena aku masih tidak percaya bisa memelukmu! " ucap Rayhan, Bunga tersenyum kemudian mengusap punggung Rayhan dengan lembut. Rayhan pun melepas pelukan itu, menatap Bunga yang belum ia perhatikan sejak awal. gadis itu terlihat cantik, memakai dress selutut terlihat anggun. Bunga yang diperhatikan merasa canggung, ia masih memasang senyum dibibirnya.
"tadi aku berniat bertemu denganmu, kemudian bertemu Riyan dan ia mengatakan kalau kamu ada di bandara! " ucap Bunga, Rayhan tersenyum kemudian membawa Bunga dibalkon kamarnya. melihat pemandangan sore, terlihat matahari yang akan tenggelam memberikan kesan romantis.
"Terima kasih, Terima kasih telah menerima hatiku! " ucap Rayhan saat memeluk Bunga dari belakang, gadis itu tersenyum dan mengangguk.
"maaf... aku membuatmu sakit kemarin! "
"tidak, jangan katakan maaf dengan mulutmu. kamu membuatku bahagia, bukan membuatku sakit! " ucap Rayhan membalikkan Bunga menatapnya, mereka pun saling berhadapan satu sama lain. "aku berjanji padamu, aku akan memberikan kebahagiaan untukmu. akan aku ganti setiap air mata yang keluar dari matamu, akan aku ganti dengan kebahagian disetiap detiknya! " ucap Rayhan lagi, Bunga merasa terharu sampai matanya berair. Rayhan mengusap air mata itu, kemudian digenggam tangannya oleh Bunga.
__ADS_1
"ini adalah air mata bahagia, aku tidak pernah menyangka ada pria yang akan tulus padaku! " ucap Bunga mencium tangan Rayhan, pria itu langsung menarik Bunga dalam pelukannya lagi. "Terima kasih Rayhan... " ucap Bunga, dipeluk nya tubuh Bunga yang kecil itu oleh Rayhan.
dilain tempat Riyan sedang kesal, kenapa tidak sang kakak membawa gadis favoritnya ke kamar dan tidak keluar selama beberapa jam. dua orang sekretaris Rayhan itu tertawa melihat Riyan, karena pria itu juga menunggu sang kakak untuk makan malam. secara bersamaan Reyvan datang dengan senyuman, ia menyapa dua sekretaris itu dan menepuk pundak sang adik.
"kenapa kau menekuk wajahmu, hm? " ucap Reyvan, Riyan pun memutar kedua bola matanya.
"kakak Rayhan dengan seorang wanita, dia membawanya ke kamar! " ucap Riyan, Reyhan pun menoleh kearah kamar Rayhan yang tertutup rapat.
"kenapa kalian diam saja, Rayhan kan tidak bisa disentuh oleh wanita! " ucap Reyvan berdiri, tangannya ditarik oleh Riyan karena kakaknya itu akan menghampiri Rayhan.
"dia wanita kakak, mereka baru saja menyatakan cinta! " ucap Riyan, Reyvan melihat kearah dua orang yang tersenyum dan juga mengangguk. Reyvan tidak percaya dengan itu, tapi Riyan tetap mengangguk untuk meyakinkan Reyvan. pasalnya sang adik tidak percaya, bahwa sang kakak memiliki kekasih.
"dia pasti digoda oleh wanita itu, dan berusaha mengejar Rayhan! " ucap Reyvan, Riyan kembali menggelengkan kepalanya.
Reyvan tersenyum dengan itu, dan ia yakin wanita itu adalah cinta kakaknya dan memiliki ketulusan yang terdalam. dering panggilan telpon pun berbunyi, membuat Reyvan harus menjawab panggilan itu karena dari sang istri. Reyvan berpamitan pada Riyan untuk pergi kekamar nya, dan ia pun gagal melihat Bunga padahal keinginannya sangat ingin melihat kekasih sang kakak.
Bunga melihat kepergian Reyvan dari belakang, pria itu pergi dan hilang dibalik pintu kamar. Rayhan membawa Bunga duduk setelah menarik kursi, Bunga mengatakan Terima kasih dengan tersenyum begitu juga dengan Rayhan yang tersenyum dan mengusap rambut Bunga. Rayhan duduk ditempat biasa ia duduk, ditemani Rayhan dan juga dua sekretarisnya yang masih di sana.
"kakak Bunga cicipi ini, ini sangat enak! " ucap Riyan tanpa disadari dirinya, Rayhan dan Bunga saling melihat kemudian tersenyum. Riyan merasa heran, ia menoleh kearah empat orang itu secara bergantian.
"tuan Riyan, anda benar benar menerima nona Bunga sebagai kakak ipar ya! " ucap Sekretaris Tara, semua orang disana tertawa pelan.
__ADS_1
"aku sudah lulus, untuk apa aku memanggilnya Miss kan sudah tidak belajar. lagi pula dia akan jadi istri kakak Rayhan, jadi aku harus terbiasa memanggilnya kakak! " jelas Rayhan tersenyum, Bunga yang mendengar itu tersenyum dan tertawa pelan.
"kata siapa, dia saja belum mengatakan mau jadi istriku! " saut Rayhan, Bunga menoleh dan menyipitkan mata nya.
"kenapa tidak jawab kak, jawab saja kalau kakak mau menikah dengan kakak Rayhan! " saut Riyan, Bunga melihat kearah Riyan dan kembali melihat kearah Rayhan.
"dia belum melamarku, bagaimana aku menerimanya? " saut Bunga, bagai di skakmat oleh Bunga, Rayhan hanya terdiam dan menahan senyumnya. Riyan dan yang lain pun tertawa, membuat Bunga tertawa dan hal itu membuat Rayhan gemas sendiri.
...****************...
dihari berikutnya Bunga dan Rayhan sering bertemu, bahkan semua orang sudah tahu tentang hubungan keduanya. sekarang Bunga bebas keluar masuk rumah besar Rayhan, tidak ada yang bisa melarang gadis itu. setiap hari Bunga akan datang kerumah itu, memasakkan makanan untuk Riyan maupun Rayhan yang sudah cocok dengan masakannya.
hari ini Rayhan datang bersamaan dengan kedua adiknya, seperti biasa Riyan akan masuk kedalam kamarnya begitu juga dengan Rayhan. Reyvan yang akan kekamar, melihat Bunga yang memasak. gadis itu membelakangi Reyvan, dengan bersenandung gadis itu memasak. Reyvan mencari gelas yang akan dibuatnya minum, tapi gelas itu sudah dicuci oleh Bunga dan belum dikembalikan pada tempatnya.
"permisi, bisa aku mengambil gelas? " ucap Reyvan, Bunga yang mendengar itu pun tersenyum. tanpa menoleh dan menjawab Bunga mengambil gelas di sampingnya, dengan perlahan tapi pasti Bunga yang asik memasak pun harus menoleh kearah Reyvan.
"gelasnya baruku cuci, mungkin sedikit ba... sah.. " suara Bunga terhenti, suaranya menghilang ditenggorokannya. Ia menatap Reyvan yang berada di hadapannya, bahkan tanpa sadar pun gelas yang belum sempat Reyvan pegang pun terjatuh. membuat suara hening itu menjadi bising, Rayhan yang berjalan ditangga mendengar hal itu, dengan segera berlari kearah Bunga dengan terburu buru.
"Bunga kamu baik baik saja, bagaimana bisa jatuh! " ucap Rayhan, Bunga masih menatap Reyvan dan keduanya saling bertatap muka. Rayhan melihat sang adik, kemudian tersenyum. "Reyvan dia adalah Bunga, perempuan cantik yang selalu diceritakan Riyan. akhirnya kalian bertemu, dan Bunga dia adalah adik keduaku namanya Reyvan! " ucap Rayhan tersenyum, Bunga menoleh kearah Rayhan yang tersenyum tulus.
"aku ingin pulang, sekarang! " ucap Bunga terdengar gemetar, Rayhan yang mendengar itu menjadi bingung dan berusaha menahan gadis itu. Rayhan pun menyerah saat mendapat ancaman Bunga yang akan pulang sendiri, pria itu berlari kearah kamarnya untuk mengambil kunci mobil.
__ADS_1
"Bunga... kamu Bunga kan... " ucap Reyvan, Bunga membelakangi pria itu kemudian menoleh dengan menahan tangis dimatanya. Bunga berjalan mendekat kearah Reyvan, dan satu pukulan berhasil mendarat pada pipi Reyvan dengan keras. Bunga sudah tidak tahan, ia pergi dari sana dengan air mata yang sudah menetes.