
Gemetar, kedua tangan Reina terlihat gemetar keras. Entah itu karena rasa panik atau kekhawatiran, tidak ada yang bisa menduga apa yang dipikirkan gadis ini. Sedangkan orang-orang yang ada di dalam dapur umum, mereka semua memilih bungkam dikarenakan masalah ini tidak sesepele yang terlihat apalagi sampai membawa-bawa nama polisi di sini. Ini berbahaya.
"Ha.." Menatap sinis,
"Apa kau bodoh? Bukti apa yang kau dapatkan hanya menjadi penonton di sana?. Juga apakah kau melihat secara langsung di dalam kamar Kakak ku mengapa mantan suaminya bisa pergi meninggalkannya? Katakan, apakah kau di sana melihat dengan jelas apa yang telah terjadi!"
Apakah ia melihatnya secara langsung?
Tentu saja tidak!
Orang gila mana yang akan masuk sembarangan ke kamar pengantin orang lain, Reina tidak segila itu!
"Tentu saja aku tidak masuk ke kamar Kakak mu, lagipula orang gila mana yang akan masuk secara sembarangan ke kamar pengantin orang lain. Hah, dasar sakit."
Tertawa kecil, Safira kemudian menggeser kursinya ke belakang. Memberikan ia ruang untuk berdiri, "Lalu mengapa kau bisa mengatakan dengan mudah bahwa Kakak ku sudah tidak suci lagi? Di sini yang sakit sebenarnya siapa, aku atau kamu!"
"Hahah.. tentu saja rubah licik ini, siapa lagi kalau bukan dia." Mira bersuara santai, meniup nyala api semakin berkobar di dalam hati Reina.
"Diam kau gadis idiot! Kau tidak tahu apa-apa di sini jadi lebih baik kau tutup mulut tidak berguna mu itu." Reina menatap marah, mata melototnya yang penuh kebencian ditujukan langsung ke arah Mira yang sedang duduk santai.
Membalas tatapan marah Reina dengan sengit, Mira tidak takut sama sekali dengan wanita ular ini. Malahan berdekatan dengannya membuat Mira merasa jijik dan bukannya takut, "Lalu apa bedanya aku dengan dirimu? Bukankah kita sama-sama tidak tahu apa-apa tentang masa lalu Annisa. Jadi jangan terlalu bersikap naif, yakinlah wajah topeng munafik mu ini sudah membuat ku merasa jijik sampai pada tingkat ingin muntah. Cih."
"Mira benar apa yang dia katakan, di sini kau lebih baik diam saja. Melawan orang sakit ini tidak cocok untuk dirimu jadi biarkan aku menghadapinya dengan cara ku sendiri." Ucap Mira dengan nada mengejek, bahkan senyuman miringnya secara terang-terangan ia perlihatkan.
"Hem, orang sakit seperti dia memang cukup berbahaya untuk ku yang masih murni dan polos." Angguk Mira dengan suara yang sengaja di besar-besarkan.
"Kamu-"
"Kau tidak ada bukti bukan?"
Menatap orang-orang yang hanya menonton mereka, "Semuanya, kalian harus tahu bahwa perempuan ini tidak sebaik yang kalian pikirkan. Ia dan saudaranya sama saja, sama-sama tidak bisa diatur dan suka memberontak." Lalu, dengan senyum kepuasan ia menatap Reina yang masih menatapnya marah. Ia tahu jika saat ini yang ada di dalam hati Reina adalah perasaan ingin membunuh Safira dengan cara yang keji.
Perasaan tidak berdaya ini sudah pernah Safira rasakan.
"Cukup!" Suara rendah Reina membentak.
Mengangkat alisnya tidak terima, "Kenapa?"
"Kenapa aku tidak bisa mengungkapkan rahasia kalian sedangkan kamu bisa mengungkapkan masa lalu Kakak ku?" Kenapa ia tidak bisa sedangkan Reina bisa?
Safira tidak bisa menerima semua ini!
"Ouh, apa kamu malu dengan fakta bahwa adik mu telah di usir oleh keluarga besar mu karena telah melakukan perbuatan hina?"
"Aku bilang cukup, Safira!"
"Aku tidak mau apakah kau tidak bisa mengerti!. Aku ingin semua orang tahu jika adik mu telah melakukan perbuatan hina dengan melakukan hubungan suami-istri di sekolah ku, lalu orang-orang yang melihat perbuatannya mengeluarkan adik mu dari sekolah ku. Kemudian karena ingin menyelamatkan reputasi keluarga mu, mereka ingin menikahkan adik ku dengan laki-laki itu tapi sayangnya laki-laki itu menolak bertanggung jawab dengan dalih bahwa bukan hanya dia yang menidurinya tapi laki-laki yang lain juga banyak!. Hah..tidak cukup sampai di sana keluarga benar-benar tidak bisa menahan malu karena perbuatan adik ku dan dengan sengaja mengusirnya dari rumah, dia di sini karena sudah tidak diterima lagi keluarga besar mu-"
"Aku bilang cukup sialan!"
Prank
Reina membanting wadah besi yang ada di depannya, membuat semua orang terkejut dan menahan nafas secara bersamaan.
Bernafas cepat, ia merasakan jika perasaan benci dan amarahnya telah memenuhi ruang hatinya. Terus menerus membesar hingga tiada ruang untuk akal sehatnya bernaung.
"Jadi kenapa jika dia memang di usir? Bukankah yang hina adalah dia dan bukan aku?" Reina menatap remeh Safira yang berdiri tidak jauh darinya.
Membusungkan dadanya, Reina tidak perduli lagi dengan citranya yang sudah susah payah ia bangun pada semua orang.
"Dia di usir oleh keluarga kami tapi itu bukan berarti juga aku diusir. Ia hina tapi aku tidak jadi kau tidak bisa menyamakan posisi ku dengan dirinya yang kotor." Reina adalah gadis yang cerdas, bagi keluarganya ia adalah perempuan tauladan yang selalu disanjung-sanjung sikap dan perilakunya. Berbeda dengan adiknya Dea, ia bodoh dan susah diatur sehingga keluarga mereka sudah angkat tangan untuk mengurus hidupnya yang hancur.
Jadi, dilihat dari segi manapun mereka tidak sama karena Reina jauh lebih tinggi posisinya dibandingkan dengan Dea yang bodoh dan tidak berguna.
Tersenyum dingin, Safira tidak pernah menyangka jika Reina akan sama saja dengan Saqila. Mereka egois dan menutup mata pada keadilan untuk saudara mereka.
"Benarkah posisi mu setinggi itu?" Tanya Safira datar, bahkan senyum provokasi yang biasanya ia layangkan pada Reina kini hilang dan lenyap dari wajah cantiknya.
Mengangkat dagunya tinggi-tinggi, ada rasa angkuh yang nyata dari kilatan mata penuh kebanggaan di wajah Reina. "Hah, tentu saja itu sudah pasti. Bukankah kau melihatnya sendiri seperti apa perbedaan ku dengan gadis bodoh tidak berguna itu?" Reina tidak habis pikir mengapa Safira menanyakan pertanyaan yang sudah pasti jawabannya, bukankah sudah terlihat jelas bahwa ia dan Dea tidak dapat dibandingkan bagaimana pun caranya.
Menatap kosong, jelas jika Safira turut berduka pada takdir hidup Dea yang menyedihkan. Bagaimana bisa ia bertahan hidup seperti ini jika Kakak dan keluarga besarnya menolak dengan jelas keberadaannya.
Hanya karena kesalahan fatal ini mereka semua dengan mudah memalingkan muka pada Dea, meninggalkannya sendirian dan dengan dingin mencemoohnya dari belakang.
Hah, Safira benar-benar benci dengan sifat manusia yang seperti ini. Kenapa hati yang tulus dan lembut sangat sulit untuk didapatkan?
"Kau salah Reina, kau dan dia tidak punya perbedaan-ah, tidak, itu tidak benar. Justru kau jelas lebih menakutkan dan hina daripada adik mu sendiri." Menatap tajam, mata hitam Safira seakan mengikat Reina untuk masuk ke dalamnya. Mengirim dan mendorongnya menuju jurang yang tidak mendasar dan entah mengapa Reina tidak bisa mengalihkan pandangannya hanya untuk melarikan diri dari mata hitam itu.
Yah, itu sangat mengerikan.
Jurang itu begitu dalam dan gelap, Reina benci tempat seperti itu.
"Jika adik mu membuat kesalahan dengan resiko menghancurkan harga dirinya tapi kamu dengan berani membuat kesalahan untuk melenyapkan kehidupan orang lain."
Seketika suara-suara tidak percaya mulai terdengar di dalam dapur ini.
Mengalihkan pandangannya, Reina tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia benci ditatap seperti itu oleh Safira, ini seakan-akan Safira bisa melihat kedalaman jiwanya yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah.
"Jangan asal bicara Safira, kau harus ingat batasan mu sebagai orang luar di sini." Safira baru datang kemarin sore dan tidak tahu apa-apa tentang perbuatannya jadi mengapa ia bertindak seolah-olah pernah melihat semua yang ia lakukan hari itu?
"Hah..aku dan kamu di sini posisinya sama, kita adalah tamu. Adapun jika harus menahan maka aku pikir itu tidak berlaku lagi karena semuanya sudah sampai di sini." Safira tidak ingin berhenti setelah sampai pada situasi ini. Jika sudah seperti ini maka kenapa tidak diselesaikan saja secara langsung agar semua orang tahu betapa naifnya gadis ini.
"Kau adalah orang yang meracuni Annisa, ah, sebenarnya itu bukan ditujukan kepada Annisa melainkan pada anak kecil yang masih belum genap berumur empat tahun. Tapi karena keberuntungan anak kecil yang akan kau racuni tidak sempat memakan makanan itu karena Annisa lebih dulu mencicipinya sehingga hasil yang kau dapatkan adalah Annisa dilarikan ke rumah sakit dan anak kecil itu selamat. Huh, apa kau tau apa yang dikatakan dokter kemarin? Kau tidak tahu bukan karena kau abai terhadap semua itu. Dokter bilang jika saja racun itu dikonsumsi oleh anak kecil itu maka seharusnya ia sudah mati di tempat tapi beruntungnya yang mengkonsumsi racun itu adalah Annisa sehingga ia dapat menahan racun itu ditubuhnya. Reina jangan mengelak lagi karena aku sudah punya bukti dan saksi untuk kasus ini, adapun jika kamu masih bersikeras maka kenapa kita tidak bawa saja masalah ini ke pihak yang berwajib agar kamu mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan mu-"
"Pembohong!" Teriak Reina histeris ketakutan. Ia juga mencoba meraih apapun yang dapat Reina jangkau untuk digunakan melempar Safira yang jaraknya begitu dekat dengannya.
"Astagfirullah, ada orang gila ngamuk-ngamuk di pondok pesantren." Mira berteriak keras semakin memperkeruh suasana yang sudah kacau semakin kacau.
"Iblis sialan, jaga mulut mu atau kau akan merasakan yang sama seperti apa yang dirasakan Kakak mu yang tidak tahu malu." Dengan emosi yang meluap-luap Reina bergerak cepat mendekati Safira yang sedari tadi hanya menonton kegilaannya.
"********! Biarkan aku membunuh mu! Biarkan aku membunuh iblis sialan ini!"
"Astagfirullah nyebut, Nak, nyebut!" Ibu-ibu yang sedari tadi diam kini telah mengelilingi Reina untuk menahan amukannya yang lebih parah lagi. Bahkan kekuatan Reina yang begitu besar sangat sulit untuk ditangani mereka bahkan sekalipun mereka mengerahkan seluruh tenaga mereka.
"Ya, ternyata kamu benar-benar sakit seperti yang dikatakan." Tersenyum dingin, Safira menatap penuh kepuasan pada Reina yang sedang menatapnya tajam. Mata besarnya yang melotot merah menahan emosi yang membakar dihatinya.
"Aaaa... lepaskan sialan! Lepaskan aku sialan!" Berteriak histeris, ia semakin mengamuk mencoba melepaskan diri dari kekangan orang-orang yang mengelilinginya.
"Astagfirullah, apa yang sudah terjadi di sini!" Tiba-tiba suara marah seseorang menginterupsi kekacauan yang ada, meninggalkan suasana tegang yang hiruk pikuk kini menjadi sunyi dan mendebarkan.
"Umi?" Suara Reina terkejut yang diikuti oleh mereka semua.
Menangis histeris, ia mencoba lepaskan tangan-tangan orang yang sedari tadi menjeratnya. "Umi, Safira telah memfitnah ku... Umi hiks.." Reina melampiaskan rasa sakitnya dengan tangisan yang memilukan, membuat semua orang yang ada di sekelilingnya menatap tercengang.
"Apa yang sedang terjadi di sini dan juga mengapa Reina bisa menangis seperti ini?."
Tanpa ragu Safira menunjuk Reina yang masih di tempatnya, "Umi, Reina adalah pelaku yang meracuni Annisa." Ucap Safira tanpa rasa takut sedikitpun.
Terkejut, Umi langsung mendudukkan dirinya di atas kursi yang kebetulan kosong di depannya. "Apa maksud mu, Nak? Bukankah kemarin kau mengatakan bahwa itu Annisa hanya keracunan karena makanan kadaluarsa?"
Kemarin Safira menghubunginya dan mengatakan bahwa Annisa keracunan karena makanan kadaluarsa dan bukan diracuni. Namun mengapa hari ini ia tiba-tiba mengatakan bahwa Annisa sengaja diracuni dan tidak keracunan karena makanan kadaluarsa?
Lalu mengapa Safira menunjuk Reina sebagai pelakunya?
"Umi tolong jangan dengarkan apa yang ia katakan, dia berbohong Umi dia berbohong!" Teriak Reina tidak sabar serasa ingin berlari melindungi kedua telinga Umi dari ucapan gadis iblis itu.
Tanpa senyum, Safira sama sekali tidak terganggu dengan teriakan gadis sakit yang sedari tadi menatapnya dengan pandangan membunuh. Lagipula itu hanya mata jadi mengapa Safira harus takut?
"Maafkan Safira Umi karena kemarin aku membohongi mu. Ini aku lakukan agar Umi tidak panik dan mencari tahu langsung ke Reina. Tapi sekarang semuanya sudah seperti ini jadi aku akan langsung mengatakannya saja bahwa Reina sebenarnya sengaja mencampuri bubur Naila dengan racun nate, akan tetapi karena Annisa yang lebih dulu mencicipi bubur itu maka Naila terselamatkan dan Annisa berakhir masuk rumah sakit. Umi, aku mengatakan ini dengan berani karena aku punya bukti dan saksi untuk masalah ini jadi ku harap Umi mau mendengarkan ku." Jelas Safira menjelaskan kepada Umi.
Menatap kosong, Umi menatap Reina yang sedang menangis kuat seraya menggelengkan kepalanya lemah. Ia terlihat tidak berdaya jika seperti ini.
Menghela nafas, Umi akhirnya mengambil sikap dan bangun dari tempat duduknya. "Semua yang bersangkutan dalam masalah ini ikut aku ke rumah utama dan untuk yang tidak bersangkutan aku harap kalian semua mempercepat acara memasak kalian karena sebentar lagi sudah saatnya bagi santri untuk sarapan." Putus Umi seraya membawa langkahnya menjauh dari kerumunan. Bahkan keningnya yang sempat berkerut tidak bisa menyembunyikan perasaan lelah yang sedang melingkupinya.
"Ayo." Ajak Nanda juga sambil mengikuti langkah Umi berjalan ke rumah utama yang langsung diikuti langsung oleh Safira dan Mira dengan patuh.
"Kak Reina, tolong ikuti aku." Kemudian Lia, gadis yang menjabat sebagai ketua asrama putri ini mendatangi Reina untuk menjalankan perintah.
"Hem." Gumam Reina tidak punya pilihan lain. Bahkan kedua tangannya kini sibuk meremat pakaiannya yang tertutupi jilbab panjang. Melampiaskan rasa takut dan marahnya yang masih belum ia luapkan pada gadis iblis itu.
__ADS_1
Hah, jika ia tahu bahwa gadis iblis ini tidak sesederhana yang terlihat maka Reina akan memilih langsung bertindak menghabisinya. Lagipula Reina juga cukup kesal dengan Annisa yang sok suci dan menjadi pahlawan. Berpura-pura menjadi korban padahal ia mungkin tahu bahwa Reina telah memasukkan racun ke dalam bubur Naila.
Yah, janda sok suci itu pasti melihatnya memasukkan racun ke dalam bubur Naila sehingga ia berpura-pura mencicipi bubur Naila padahal ia sengaja melakukannya!
Sialan!
Dengan enggan ia mulai membawa langkah marahnya mengikuti jejak Lia yang sudah berjalan lurus di depannya. Bahkan Reina bertindak tidak perduli dan bersikap abai pada tatapan tajam orang-orang yang ada di sini. Mendengar bisikan-bisikan tidak percaya dan mencemooh yang dengan sengaja lupa mengontrol suaranya.
Hah, mendengar dan melihat semua ini membuat Reina tidak bisa tidak berpikir bahwa semua orang sama saja di dunia ini. Sikap baik dan ramah yang dulu mengitari Reina kini dengan sekejap berubah menjadi senjata bumerang untuknya, menikamnya dan dengan kejam mempermalukannya.
Bahkan jika ini di tempat yang sakral lalu kenapa?
Mereka bahkan lebih buruk daripada orang-orang yang dicap jahat di luar sana. Jadi kemana ahlak dan ilmu mereka yang semua orang agungkan dengan kemuliaan yang tinggi?
Jangan bercanda, mereka sebenarnya tidak punya apa-apa dan berpenampilan munafik. Mereka sama seperti Annisa, janda busuk yang masih belum menyadari posisinya sebagai orang yang hina dan kotor. Reina akui bahwa kebencian dan rasa muak serta jijiknya pada Annisa semakin meningkat hari demi hari.
"Silakan masuk Kak." Ucap Lia mempersilakan Reina lebih dulu masuk ke sebuah ruangan.
"Terimakasih." Ucapnya berterima kasih dengan ekspresi tidak berdaya. Sedari tadi melamun di jalan tanpa sadar telah membuat Reina melupakan waktu dan kecemasannya. Akan tetapi Reina tidak akan pernah bersikap impulsif lagi seperti saat di dapur. Jika di dapur ia abai dengan pendapat orang lain maka di sini Reina perduli dengan pendapat calon mertuanya terhadap dirinya. Jadi untuk apapun yang terjadi Reina akan berusaha bersikap kalem dan baik, menunjukkan etika dan ahlak yang baik dari calon menantu terbaik mereka.
Memasuki rumah, Reina di bimbing masuk ke sebuah ruangan kerja yang luas dan sederhana. Di ruangan ini banyak sofa berjejer rapi dengan teratur dan bersih, seolah tempat ini memang dibuat untuk acara berkumpul atau pertemuan.
Tertegun, pandangan terkejut Reina jatuh kepada sosok gadis ramping yang sedang duduk tertunduk. Sikapnya yang merendah dan tidak berdaya seperti ini bukanlah karakter dari gadis itu.
Dea?
Hal pertama yang ada di dalam pikirannya adalah mengapa gadis tidak berotak ini juga ada di sini?
Keberadaannya di tempat ini bukannya membantu malah memperkeruh keadaan. Reina bisa berpikir seperti ini karena ia tahu betul bagaimana sifat dan sikap adiknya. Ia tahu bahwa tidak akan ada hal baik yang akan terjadi jika Dea bersamanya. Tentu saja ini karena Dea adalah gadis pembawa sial dan petaka. Jadi untuk menghindari kegagalan rencananya Reina membiarkan Dea bertindak sendiri untuk mulai menghancurkan Annisa tapi lihat sekarang, rencananya hancur dan berantakan karena keteledoran Dea yang tidak berguna.
"Reina, silakan duduk." Perintah Pak Kyai dengan suara baritonnya.
Tersadar, Reina langsung mengalihkan pandangannya kepada Pak Kyai dan Gio yang sudah duduk berdampingan. Lalu ada Umi yang sedari tadi duduk tenang di dekat Dea yang duduk tertunduk.
"Ah-baik Pak Kyai." Ucap Reina gugup seraya mendudukkan dirinya di samping Lia.
Tidak, ini tidak benar. Mengapa ia baru menyadari jika calon mertuanya sudah ada di sini sedari tadi?
Sial, ini pasti gara-gara memikirkan Dea yang begitu bodoh dan tidak berguna sehingga ia lupa pada sekelilingnya.
"Kejadian pagi ini ada yang mau menjelaskannya?" Tanya Pak Kyai memulai pembicaraan.
Semua orang yang ada di ruangan ini terdiam menahan nafas setelah merasakan aura keseriusan yang jarang Pak Kyai keluarkan.
"Hiks..Pak Kyai.." Suara Isak tangis Reina semakin menegangkan suasana yang sedang membelit mereka.
"Katakan saja Reina." Pak Kyai mempersilakan dengan tenang dan serius bahkan jejak akrab yang selalu ia rekatkan pada orang-orang telah menghilang dari ekspresi kakunya.
Dengan sedih, "Pak Kyai.. Safira telah mempermalukan Reina di depan banyak orang. Ia menuduh ku dan Dea telah memfitnah Annisa padahal itu semua tidak benar hiks.." Tertunduk sedih, ia meremat kain jilbabnya dengan kasar untuk memberikan kesan kepada semua orang bahwa ia sangat tersakiti.
Menatap dingin, Safira mengalihkan fokusnya pada Pak Kyai yang terlihat serius mendengarkan. Pandangan penuh kehormatan dan mulia Safira berikan pada Pak Kyai yang kini juga menatapnya. Ini merupakan petunjuk agar Safira menjelaskan semua yang dikatakan oleh Reina.
"Itu benar Pak Kyai, Safira memang mempermalukannya di depan semua orang. Akan tetapi itu semua Safira lakukan karena ia menyebarkan rumor kepada semua orang bahwa Kakak ku Annisa sengaja meracuni dirinya sendiri untuk mengakhiri hidupnya padahal itu semua tidak benar. Tidak hanya itu Pak Kyai, Reina dan Dea juga bersekongkol menyebarkan aib Kakak ku di pondok pesantren. Ia menyebarkan rumor Kakak ku yang belum tentu jelas kebenarannya sehingga orang-orang pondok menjauhi bahkan mencemooh Annisa-"
"Bohong Pak Kyai! Dia bohong! Aku tidak pernah menyebarkan rumor itu.. Safira bohong hiks.." Reina berteriak pilu, merasa tidak terima dengan apa yang Safira katakan.
Mengkerutkan keningnya, "Safira, Reina menolak penjelasan mu ini jadi apakah kau bisa membuktikannya?" Tanya Pak Kyai tenang namun masih dengan ekspresi seriusnya.
Menganggukkan kepalanya ringan, Safira tidak terganggu sama sekali dengan sandiwara Reina yang menurutnya sudah basi dan tidak menarik. "Aku tidak berbohong Pak Kyai dan aku berani bersumpah demi Allah bahwa saat di dapur tadi Reina juga mengakui perbuatannya ini. Adapun saksi Pak Kyai bisa bertanya langsung kepada semua orang yang bertugas di dapur karena mereka juga berada di sana saat kami membuat kekacauan." Jawab Safira yakin dan tenang, bahkan mata hitamnya tidak pernah goyah saat menatap balik Pak Kyai.
Mengangguk pelan, "Reina bagaimana cara mu menjelaskan ini, Nak? Safira sudah bersumpah demi Allah bahwa kau sudah mengakuinya tadi." Pak Kyai kini mengalihkan fokusnya menatap wajah tertunduk Reina yang terlihat begitu menyedihkan.
Tertegun, Reina dengan kaku mengangkat wajahnya dan memperlihatkan wajah basahnya yang sudah memerah sedari tadi.
"Aku..aku memang mengakuinya tapi..tapi Pak Kyai itu semua aku lakukan karena aku terlalu marah dan tidak berdaya jadi aku mengakuinya secara impulsif. Adapun pelaku sebenarnya itu semua dilakukan oleh Dea..Pak Kyai, Dea..Dea adalah pelakunya dan bukankah Pak Kyai tahu sendiri seperti apa adik ku itu..dia bukanlah gadis yang baik." Dengan gugup ia mencoba mengalihkan perhatian semua orang pada sosok ramping yang ada di samping Umi.
Melempar lumpur pada air keruh mengapa di sebut kesalahan?
Bukankah air itu sudah keruh jadi tidak ada masalahnya menambah lumpur lagi toh warnanya akan tetap sama, keruh dan kotor.
Membeku, Dea yang sedari tadi diam menunduk tidak bisa menahan sebuah senyuman tipis yang amat sangat terlihat menyedihkan di wajahnya.
Mengapa ia tidak tahu ini bahwa orang yang paling dekat bahkan satu darah dengannya juga tidak segan menikamnya?
"Nak Dea, apakah kamu bisa menjelaskan apa yang dikatakan Kakak mu?"
Tersentak, Dea tanpa sadar semakin menundukkan kepalanya dan dengan takut ia menganggukkan kepalanya.
"Aku memang yang menyebarkan rumor itu," Dengan suara kecil namun masih jelas di dengar Dea mulai mengakui perbuatannya.
Meremat pakaiannya takut, "Tapi..tapi aku melakukan itu semua karena Reina yang menyuruh ku menyebarkannya. Aku tidak punya urusan apapun dengan Kak Annisa jadi mengapa aku harus menyinggungnya. Tapi ini berbeda dengan Kakak ku, Reina menyukai Gus Gio dan selalu benci melihat kedekatan Gus Gio dengan Annisa. Jadi itulah mengapa Reina meminta ku melakukan itu...aku, Pak Kyai tolong percaya apa yang aku katakan karena aku sama sekali tidak berbohong tentang hal ini." Ada nada gusar yang terdengar jelas dalam suara memohonnya.
Jika Reina bisa menikamnya dengan sekejam ini lalu mengapa ia tidak bisa?
Di sini tidak ada namanya ikatan keluarga karena jika memang benar ada maka Dea tidak akan pernah dibuang ke tempat ini dan Reina tidak akan pernah melemparkan semua kesalahannya kepada Dea sendiri. Jadi, darah yang kental dan segar tidak dapat memadamkan keserakahan mereka akan rasa hormat dan ambisi, Dea benci menjadi salah satu keluarga mereka.
Ia muak.
Tidak terima, "Bohong..dia bohong! Lihat bukan, bahkan aku sebagai saudaranya saja tidak ia perdulikan dan-"
"Aku tidak berbohong!" Marah, Dea mengangkat wajahnya yang tertunduk dan dengan benci menatap ekspresi panik Reina.
"Aku benci dengan sandiwara sialan mu itu lagi...aku sudah tidak tahan lagi. Kau.. jika kau ingin mendapatkan Gio maka aku katakan sekarang bahwa kau sudah tidak punya jalan lagi karena sikap buruk mu yang sudah terpapar jelas. Gadis munafik..hah, mana mungkin gadis seperti dirimu dapat menarik perhatian orang yang seperti Gio, jangan bermimpi!"
"Tidak.. jangan dengarkan gadis bodoh tidak berguna ini, " Dengan panik melihat Gio yang hanya diam memperhatikannya.
"Aku tidak sejahat itu hiks..dia memfitnah ku.."
Semakin jengkel dengan sandiwara Reina, "Kau yang memaksa ku," Berbalik menatap Pak Kyai.
"Pak kyai Reina adalah pelaku yang meracuni Annisa." Lalu seketika ruangan itu menjadi sunyi dan terasa berat. Tegang dan canggung bukanlah hal yang bisa menjadi gambaran saat ini. Kali ini udara seakan membeku dan tidak berfluktuasi tapi anehnya mereka semua tidak kehabisan oksigen sama sekali dan hanya merasa udara yang tiba-tiba memberat.
"Reina adalah pelakunya Pak Kyai, aku bisa bersumpah atas nama Tuhan untuk ini." Dea berani mengatakan hal ini karena ia kenal betul bagaimana ambisi Kakaknya yang serakah. Dan ia juga tidak ragu bahwa pelaku dibalik keracunan itu adalah Reina, apapun alasannya.
"Astagfirullah.." Terdengar suara terkejut Umi bergema di sampingnya yang terasa hangat.
Mengalihkan pandangannya menatap Umi, "Aku tidak berbohong Umi bahwa Kakak ku adalah pelakunya." Yakin Dea mencoba meyakinkan Umi yang masih terlihat shock dengan apa yang didengarnya. Memang Safira sebelumnya pernah mengatakan ini kepadanya bahwa Reina adalah pelakunya akan tetapi mendengar langsung dari saudara Reina tentu saja lebih mengagetkan.
"Ya Allah hiks..Dea..kamu, kenapa kamu mengatakan hal yang tidak masuk akal ini?" Dengan gemetaran Reina menatap sedih Dea yang tidak perduli sama sekali padanya. Bahkan kedua matanya tidak melihat ataupun meliriknya, Reina benci dengan gadis sialan ini.
Sekarang semuanya sudah begini dan Reina harus memutar otak untuk mencari jalan keluar yang aman untuk kesejahteraan dirinya.
"Tenang Reina, kamu harus tenang dulu agar kasus ini cepat ditangani." Pak kyai bersuara berat, mengintruksikan kepada Reina agar dapat menenangkan dirinya sendiri.
"Nak, ini adalah kasus yang berbahaya dan juga serius. Tidak relevan rasanya kita membicarakan kasus seserius ini tanpa ada bukti dan saksi." Pak kyai berpikir jika kasus ini adalah kasus yang serius dan berat, menyangkut nyawa seseorang sehingga tidak baik rasanya membicarakan tanpa ada kejelasan yang jelas.
"Pak kyai, aku punya bukti dan saksi untuk kasus ini." Tiba-tiba Safira membuka suara dengan yakin dan berani.
Tanpa menunggu reaksi yang lain, "Aku punya saksi yaitu Rara teman sekamar Reina. Rara memberikan saksi kepada ku kemarin dengan menceritakan apa yang terjadi sebelum Reina meracuni bubur itu." Menghirup udara dengan tenang, ia kemudian melanjutkan penjelasannya.
"Rara dan Reina tidur di satu kamar jadi apapun yang terjadi di kamar itu pasti mereka bicarakan bersama."
Tiba-tiba, punggung Reina terasa dingin dan kaku.
"Nah, beberapa hari yang lalu mereka sempat berdiskusi tentang serangga yang sering masuk ke dalam kamar mereka. Berdiskusi tentang langkah apa yang akan mereka putuskan. Lalu Rara menyarankan Reina untuk meminta racun nate kepada Umi karena racun ini adalah racun yang paling ampuh untuk membunuh hama dan serangga. Umi, apakah benar beberapa hari yang lalu Reina meminta racun ini kepada Umi?" Lalu Safira mengalihkan pandangannya menatap Umi yang sudah terlihat pucat dan kurang sehat.
"Benar Safira, Reina sempat datang meminta racun itu kepada ku pada hari yang sama dengan Annisa masuk rumah sakit." Jawab Umi terdengar lemah ketika menyadari bahwa racun yang ia berikan kepada Reina ternyata penyebab Annisa dilarikan ke rumah sakit. Ia begitu kecewa kepada dirinya sendiri yang terlalu ceroboh dan sembarangan.
"Seperti yang dikatakan Umi bahwa hari ia memberikan racun itu adalah pada hari dimana Annisa dilarikan ke rumah sakit. Jadi, dari sini kita sudah menyimpulkan bahwa pelaku satu-satunya yang bisa meracuni bubur itu adalah Reina karena secara kebetulan juga Reina adalah orang terakhir yang berada di dapur bersama Annisa. Itu pun Reina pernah meminta Annisa untuk mengantarkan hidangan terakhir dengan alasan ia merasa kurang enak badan. Melihat celah yang diberikan Annisa ini sudah pasti Reina gunakan untuk mencampur racun tersebut ke dalam bubur Naila. Bukankah ini cukup jelas?" Jika diuraikan lebih jauh sebenarnya ini sudah cukup jelas untuk mengetahui kebenaran dibalik kasus ini. Apalagi di sini ada cukup saksi maka seharusnya kasus ini sudah selesai jika di sidangkan.
"Begini Safira, aku pikir kau sudah salah paham kepada ku...itu tidak seperti yang kau katakan."
"Lalu katakanlah itu." Ini seperti sidang yang nyata, Safira memperlakukan sang pelaku dengan cukup sopan untuk memberikan pembelaan kepada dirinya sendiri.
Meremat kedua tangannya benci, "Pertama, aku memang meminta racun itu kepada Umi tapi itu hanya untuk membunuh serangga yang masuk ke kamar kami. Lalu yang kedua, saat itu aku memang meminta Annisa untuk mengirim makanan yang terakhir karena tangan ku terluka. Aku takut jika aku memaksa diriku membawa makanan itu aku akan menjatuhkannya." Seharusnya ini sudah cukup bukan untuk membuktikan ketidak bersalahnya?
Itu jika mereka cukup bodoh akan tetapi sayangnya mereka masih cukup pintar untuk mendapatkan celah.
"Jadi apakah kau sudah menggunakan racun itu? Karena seperti yang kau bilang tadi itu hanya untuk membunuh serangga yang masuk ke dalam kamar kalian." Safira bertanya langsung dengan pandangan mata yang cerdik dan teliti.
__ADS_1
Tertegun, Reina rasanya ingin sekali mengumpat dan melemparkan Safira pot kecil yang ada di atas meja ini.
"Ya, aku sudah melakukannya." Jawabnya berbohong. Hei, mana mungkin ia sempat memikirkan untuk membunuh serangga yang masuk ke dalam kamarnya karena saat itu pikirannya sudah dipenuhi dengan wajah Annisa yang putih pucat.
"Apakah kau yakin?" Ada keraguan dalam pertanyaan ini.
Walaupun gugup, Reina tetap mempertahankan ekspresinya. "Ya, aku yakin."
Menghela nafas, Safira kemudian membawa pandangannya menatap Pak Kyai yang sedari tadi diam mendengarkan. "Pak kyai dia berbohong. Rara mengatakan bahwa setelah pulang dari rumah Umi, Reina memberitahunya bahwa Umi tidak tahu dimana posisi racun itu sehingga ia tidak dapat membawa pulang. Akan tetapi dua hari yang lalu Rara menemukan sebuah botol kaca bening yang berisi bubuk putih lembut di dalam sebuah vas bunga Reina. Setelah di cek ternyata isinya adalah racun tersebut, jadi Reina apakah kamu bisa menjelaskan tentang ini?" Kembali menatap wajah kaku dan pucat Reina yang sudah tidak lagi memerah.
"Pertama Umi memberikan mu racun itu tapi kau mengaku kepada Rara bahwa Umi tidak memberikannya. Lalu yang kedua kau menyembunyikan racun itu di dalam vas bunga mu, katakan mengapa kamu melakukan hal ini?" Safira bertanya jelas dan tajam, mempertanyakan hal ganjil yang Reina lakukan untuk menutupi kasus ini.
Merasa panik, "Aku..aku tidak bermaksud seperti itu..hiks."
"Baiklah, kau tidak perlu mengatakannya karena semuanya sudah jelas. Mas Gio, apakah barang bukti itu sekarang ada ditangan Mas?" Safira memutuskan dengan acuh lalu membawa perhatiannya pada Gio yang sedari tadi duduk tenang dan tidak bersuara sama sekali.
Mengangguk mantap, "Aku membawanya." Jawab Gio tenang seraya mengeluarkan botol kecil transparan itu dihadapan semua orang dan dengan sikap alami ia menaruhnya di atas meja.
Menatap kosong, Reina tidak dapat memikirkan apa kaitan barang bukti ini dengan Gio. Apakah Gio juga terlibat dalam rencana Safira?
Tapi itu tidak mungkin!
Gio menyukainya dan bukan Annisa jadi mengapa ia harus ikut membantu Safira untuk menjatuhkannya. Yah, itu tidak mungkin dan mustahil.
"Ke-"
"Pak kyai, aku akan menyeret kasus ini ke kantor polisi. Aku ingin orang-orang yang pernah terlibat mencemarkan nama baik Kakak ku dan meracuninya diberikan hukuman yang sepantasnya di hadapan hukum. Karena perbuatan sekejam dan berani seperti ini sungguh tidak baik jika hanya diberikan hukuman ringan dan lebih pantas mendapatkan hukuman yang berat." Suara Safira tenang dan terdengar jelas di telinga semua orang.
"Tidak, kau tidak bisa!" Teriak Reina marah dan panik tidak menunggu respon apapun dari Pak Kyai.
Mengapa?
Mengapa ia harus masuk penjara padahal itu semua ia lakukan untuk memberikan janda busuk itu sebuah pelajaran, jadi mengapa ia harus disalahkan?
Jika saja janda busuk itu tidak melewati batas dan menyinggungnya maka semua ini tidak akan pernah terjadi tapi sayangnya janda busuk dan tidak tahu malu itu melewati batasnya!
Ia melupakan harga dirinya yang sudah lama hancur dan bersikap seolah ia adalah gadis suci yang bersih dan murni padahal ia sama saja dengan orang-orang munafik yang serakah!
Mengapa ia harus menanggungnya? Ini bukan salahnya tapi salah janda busuk itu yang tidak tahu diri.
Reina benci janda sialan itu!
Ia benci janda busuk tidak tahu malu itu!
Mengangkat alisnya, "Kenapa? Bukankah kau mengatakan bahwa pelakunya bukan kau jadi mengapa kau menolak untuk membawanya ke hadapan hukum?"
Jika di sini saja ia dapat terekspos dengan mudah maka bagaimana dengan di depan hukum yang resmi?
Reina takut jika menggunakan uang tidak dapat merubah segalanya.
"Itu..yah..aku bukan pelakunya."
Tersenyum simpul, "Lalu mengapa kau menolak?"
Gemetaran, "Aku tidak bersalah..yah..tidak..aku mengakui jika yang melakukan semua itu adalah aku." Walaupun sudah tahu hasil akhirnya akan tetapi tetap saja ini cukup mengejutkan bagi semua orang yang ada di sini. Indikasinya memang mereka sudah menduga jika Reina adalah pelakunya setelah melihat bukti dan keterangan saksi Dea maka tidak ada keraguan jika Reina memang melakukannya.
Tapi, mendengarnya langsung dari pihak tersangka itu begitu berbeda di benak mereka semua dan tetap saja itu cukup mengejutkan mereka semua.
Gadis lugu yang terlihat polos dan murni ini ternyata begitu kejam dan tirani. Bahkan nyawa orang lain bukanlah masalah baginya dan hanya perduli dengan tujuannya.
Akan tetapi mengapa Reina bisa melakukan hal ini?
Apa tujuannya melakukan hal ini?
Dan apa motivasi sehingga ia seberani ini melakukan hal gila yang tidak masuk akal itu, mereka masih belum mengerti hal ini.
"Reina, mengapa kamu melakukan hal ini Nak?" Umi bertanya lemah dan tidak berdaya.
"Itu karena Annisa, Umi. Annisa adalah janda busuk yang tidak tahu malu dan licik. Ia lupa pada batasannya dan posisinya yang sebagai janda busuk, mendekati Mas Gio dengan triknya yang licik dan terus menjebak Mas Gio agar selalu dekat dengannya. Padahal Mas Gio tidak menyukainya tapi Annisa terus memaksa Mas Gio tetap dekat dengannya. Ini membuat ku geram dan marah sehingga aku memutuskan untuk memberikannya pelajaran ini. Pak kyai, Umi bukankah aku tidak bersalah di sini? Ini semua adalah kesalahan Annisa sehingga aku melakukan ini. Aku ingin menyelamatkan Mas Gio dari rayuan busuk Annisa, jadi di sini seharusnya yang bersalah adalah Annisa dan bukan aku."
Kosong, semua orang menatap kosong pada apa yang baru saja mereka dengar. Alasan Reina melakukan hal ini karena Gio yang terlalu dekat dengan Annisa?
Tapi bukankah ini namanya cukup tidak masuk akal?
"Reina, apapun alasan mu tetap saja itu akan salah, Nak. Menghilangkan nyawa orang lain itu adalah perbuatan yang paling dibenci oleh Allah SWT, apalagi anak ku Gio dan Annisa sudah saling menyukai dari awal jadi kau tidak bisa mengatakan hal ini dengan pandangan dari sisi mu sendiri." Umi membuka suara, mencoba menengahi kekeliruan Reina dalam hal ini. Yah siapa yang tidak tahu jika Reina sedang dilanda perasaan cemburu terhadap anaknya yang masih tengil dan ceroboh.
"Tidak Umi, itu salah paham. Mas Gio sama sekali tidak menyukai Annisa dan hanya pura-pura dekat dengannya. Percayalah padaku Umi, aku mengatakan yang sebenarnya. Jika Umi tidak percaya silahkan tanyakan langsung kepada Mas Gio." Bantah Reina yakin dengan pemikirannya.
Gio tidak menyukai Annisa dan hanya terpaksa dekat dengan Annisa. Jadi Reina bisa membedakan mana perasaan murni yang dirasakan Gio dan mana yang tidak.
"Gio, apakah itu benar?" Meskipun Umi sudah tahu jawabannya tapi tetap saja ia harus bertanya untuk mengenyahkan keraguan Reina terhadap hubungan anaknya dengan Annisa.
Bersikap alami, "Tidak Umi, aku dan Annisa memang tidak punya hubungan apapun akan tetapi sebenarnya aku sudah menyukainya sejak pertama kali aku bertemu dengannya satu tahun yang lalu. Jadi keliru rasanya jika ada orang yang mengatakan bahwa aku tidak pernah menyukainya dan hanya terpaksa dekat dengannya." Jelas Gio tegas yang mana membuat Reina ingin menjatuhkan rahangnya.
Satu tahun yang lalu?
Jadi sejak saling berpapasan hari itu Gio sudah mulai menyukai Annisa?
Reina kemudian mendudukkan dirinya dengan lemas dan tidak berdaya, perasaan sakit yang menyesakkan di dadanya begitu mempengaruhi mentalnya. Setelah mendengarnya langsung dari Gio, Reina tidak bisa mengatakan apa-apa lagi selain hanya bisa terduduk lemas. Lagipula jika ia ingin mengejar Gio dan membuatnya melupakan Annisa, Reina pikir itu mungkin akan terlalu sulit karena setelah ini Gio mungkin akan menjaga jarak darinya.
"Nah, karena sudah begini keputusan untuk hukuman apa yang akan Reina dan Dea dapatkan aku serahkan sepenuhnya kepada Pak Kyai selaku pemilik tempat ini. Adapun keputusan apapun itu aku akan sangat menghormatinya." Kemudian Safira mengambil keputusan untuk hukuman yang akan Reina dan Dea terima dilakukan oleh Pak Kyai. Ia tidak ingin melangkahi beliau karena biar bagaimanapun tempat ini adalah miliknya dan kedatangannya ke sini tidak lebih dan tidak kurang hanya sebagai tamu.
Mengangguk halus, gerakannya yang ringan dan alami memberikan sebuah kesan khas penatua zaman dulu yang begitu anggun dan terhormat. "Baiklah, terimakasih Nak Safira karena telah mempercayakan kasus ini kepada kami."
Lalu ia membawa pandangan berpengalamannya menatap Reina dan Dea yang duduk berjauhan. Tidak hanya itu, tampilan mereka berdua pun memiliki perbedaan yang besar. Jika di sana Reina terlihat begitu menyedihkan dan tidak berdaya maka di sini Dea tidak menunjukkan ekspresi yang berarti kecuali wajahnya yang tertunduk dan terlihat pasrah.
Menghela nafas, "Ini adalah kasus yang paling besar dan pertama kali terjadi di sini jadi keputusan yang kami ambil pun adalah keputusan yang paling jarang dan yang terbaik untuk kasus ini." Suara berat Pak Kyai bergema di ruangan ini.
Reina dan Dea tidak bersuara dan terlihat acuh tak acuh terhadap suara Pak Kyai padahal sebenarnya apa yang mereka rasakan bertolak belakang dengan sikapnya.
"Yah, kalian berdua harus dipulangkan ke rumah kalian dan dididik ulang oleh kedua orang tua kalian. Kami di sini tidak akan mampu menahan kalian lebih lama karena kasus yang kalian ciptakan di sini cukup besar dan sulit. Jadi keputusan yang terbaik adalah mengembalikan kalian berdua ke kedua orang tua kalian." Putus Pak Kyai setelah menyimpulkan bahwa gelombang yang mereka berdua ciptakan di pondok pesantren amat sangat besar dan mengganggu sehingga mengembalikan mereka kepada kedua orang tua mereka adalah pilihan yang paling baik di sini.
"Pak Kyai, aku tidak mau.. aku masih ingin tinggal di sini." Tiba-tiba ekspresi Reina berubah menjadi panik lagi. Ia tidak ingin pergi dari tempat ini bagaimana pun juga. Memang, ia sempat berpikir bahwa hukuman yang akan ia dapatkan adalah hukuman yang berat dan tidak ringan akan tetapi ia tidak pernah tahu bahwa itu akan menjadi pengusiran dari pondok pesantren. Ia tidak terima ini...ia masih ingin dekat dengan Gio.
"Ini sudah keputusan ku, Reina jadi tidak ada gunanya untuk protes. Apalagi gelombang yang kalian ciptakan di sini begitu besar dan mengerikan sehingga memulangkan kalian adalah pilihan yang terbaik." Ucap Pak Kyai tegas tidak ingin diprotes lagi.
"Tapi aku tidak ingin pergi.." Suara Reina dengan suara sedihnya. Perlahan wajah cantiknya yang pucat kini kembali dialiri cairan bening hangat yang tampak menyedihkan.
"Tidak perlu pergi karena aku akan menghubungi kedua orang tua kalian langsung dan menjelaskan perihal apa yang membuat kalian berdua dipulangkan." Ucap Pak Kyai memberikan jalan. Lagipula jika mereka berdua langsung dipulangkan mungkin kedua orang tua mereka tidak akan terima dan merasa tersinggung dengan hal ini jadi pilihan terbaik adalah dengan cara menghubungi langsung kedua orang tua mereka dan menjelaskan kondisi dan situasi apa yang membuat mereka harus dikembalikan ke rumah.
"Pak kyai," Panggil Dea dengan suara kecilnya yang parau.
Kemudian perhatian semua orang beralih kepada Dea yang tadinya tertunduk kini wajahnya sudah terangkat menatap Pak Kyai.
Kedua matanya terlihat memerah, seakan cairan bening yang terbendung di dalam sana sewaktu-waktu bisa keluar dan mengalir bebas di wajah pucatnya yang kurang darah.
"Aku.. apakah aku masih bisa tinggal di sini? A..aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dan akan sangat patuh dengan pengaturan pondok pesantren ini. Aku tidak mau pulang Pak Kyai.." Suaranya kemudian perlahan terdengar serak dan cairan bening yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah juga keluar dari sudut matanya yang indah.
"Karena.. karena tempat ini adalah satu-satunya tempat yang mau menerima ku..jadi bisakah aku mendapatkan satu kesempatan lagi?" Ia dengan takut-takut meminta kesempatan untuk tetap berada di tempat ini meskipun kesempatan ini terdengar agak mustahil baginya karena kesalahan yang ia buat begitu besar. Akan tetapi Dea tidak ingin berputus asa dan mau mencoba untuk meminta kesempatan, lagipula Dea lebih senang tinggal di sini dibandingkan dengan rumah yang mereka sebut sebagai tempat semua keluarga berkumpul.
Tidak, itu adalah hal yang menakutkan bagi Dea karena biar bagaimanapun mereka tidak mau lagi menerima kehadirannya.
Yah, karena bagi mereka ia hanyalah sebuah aib yang cukup memalukan.
Menghela nafas, Pak Kyai sudah tahu keluhan apa yang coba Dea sampaikan karena sebelum dikirim ke sini kedua orang tua Dea sudah menjelaskan kondisi Dea yang berbeda dari teman-teman seusianya.
"Akan coba dipertimbangkan." Jawab Pak Kyai tegas seraya bangun dari tempat duduknya dan beranjak meninggalkan pertemuan.
"Bagiamana bisa dia mendapatkan kesempatan sedangkan aku tidak! Pak Kyai yang seharusnya mendapatkan kesempatan itu adalah aku dan bukan dia yang kotor dan tidak berguna. Aku lebih cocok mendapatkannya Pak Kyai! Aku yang lebih pantas dan bukan dia yang kotor dan hina!!!" Reina berteriak histeris ketika melihat Pak Kyai dan Gio pergi dari pertemuan ini. Bahkan untuk melihat ke belakang saja mereka berdua begitu enggan dan tidak berperasaan.
Reina benci ini!
Ia tidak bisa menerima kekalahannya dari dua orang hina yang kotor dan menjijikkan!
Bagaimana bisa gadis terhormat seperti dia dikalahkan oleh dua orang yang menyandang aib keluarga, Reina tidak bisa menerima ini!
Melihat ekspresi frustasi Reina, Safira tidak bisa lagi menahan senyuman senangnya yang begitu jelas di mata Reina. Ini adalah sebuah senyuman kemenangan namun begitu disengaja sehingga dapat memprovokasi Reina.
"Gadis sialan!" Marah Reina seraya bergerak cepat mendekati Safira yang hanya menatapnya rendah.
__ADS_1
**Bersambung...
Okay, untuk menulis bab ini saya menghabiskan 2 hari. Jadi untuk bab selanjutnya saya tidak yakin bisa up setiap hari. Mungkin bisa saja 2 hari kemudian atau bahkan satu minggu kemudian. Saya mengatakan hal ini agar reader mau memahami kesulitan saya menulis buku ini๐**