
"Ustad Gio, siapa yang akan menjadi mentor di kelas Safira nanti?" Gadis cantik itu bertanya dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Pasalnya ini sudah dua hari ia masuk ke pondok bambu untuk belajar Al-Qur'an namun mentor tetapnya masih belum mengajar juga.
Ustad Gio, laki-laki yang selalu menjadi idola banyak gadis memberikan senyuman bijaksananya kepada Safira yang menatap polos padanya.
"In shaa Allah hari ini ia sudah mulai mengajar di kelas Safira." Ia menjawab dengan tatapan meyakinkan, membuat para gadis yang sekarang sedang mengelilinginya menjatuhkan pandangan memuja yang begitu jelas.
Namun Safira, gadis ini tidak perduli dengan pesona sang ustad karena baginya ustad Gio terlalu dewasa untuk seukuran cinta monyet diusianya.
"Lalu apakah ia seorang laki-laki atau perempuan?" Safira sekali lagi bertanya, adalah wajar jika ia ingin lebih mengenal mentornya karena dengan begitu pengajaran bisa dilakukan dengan nyaman dan santai.
"Dia seorang laki-laki dan namanya adalah ustad Aldi, tolong diingat yah."
Ustad Aldi.
Nama ini langsung melekat dalam benak Safira dan ia juga tidak ragu untuk terus mengingatnya, mengapa tidak?
Bukankah mereka akan menjadi sepasang guru dan murid mulai dari hari ini?
\*\*\*
Sekali lagi Safira melirik waktu di handphonenya, ia takut jika sang mentor hari ini juga tidak akan masuk ke pondok bambu untuk mengajar.
"Aku izin ke toilet dulu yah." Pamitnya meminta izin pada teman kelas yang secara kebetulan cukup akrab dengannya.
Setelah mendapatkan izin ia lalu membawa langkahnya menuju toilet perempuan, menuntaskan kebutuhannya dengan lancar Safira kemudian berwudhu lagi. Merasa cukup nyaman Safira tidak lagi membuang waktu dan berniat kembali ke kelas mengajinya, namun saat ia di dalam perjalanan ke kelas tiba-tiba seorang laki-laki tampan tidak sengaja menabraknya.
Ah, mungkin lebih tepatnya Safira yang tidak sengaja menabrak laki-laki gara-gara keasikan mengintip kelas lain yang sibuk belajar membaca Al-Qur'an.
"Astagfirullah maaf, saya sungguh tidak sengaja." Laki-laki itu berseru terkejut, secepat kilat menundukkan badannya untuk mengambil beberapa buku yang tebal dengan tulisan Arab tanpa tanda baca.
"Ti-tidak, seharusnya sayalah yang meminta maaf di sini." Safira tentu saja merasa tidak nyaman dengan kejadian ini dan dengan spontan ia juga ikut menundukkan badannya ikut mengumpulkan buku-buku tersebut.
"Maaf, bukunya menjadi kotor-" Ucapannya tiba-tiba terhenti ketika melihat sosok tampan yang masih sibuk merapikan buku-buku tebal tersebut.
Jantung Safira tanpa sadar berdegup kencang melihat laki-laki ini tampan ini, kemudian sebuah perasaan manis dan penuh candu merasuk jiwanya. Menariknya untuk terus memandangi segala bagian dari tubuh sempurna ini dan sampai akhirnya mata penuh kekaguman Safira jatuh pada sebuah titik merah gelap yang ada di belakang telinga kiri laki-laki itu.
Sebuah tanda lahir, batinnya kagum.
Warna itu persis sama seperti yang Saqila punya dibelakang lehernya dan entah mengapa ketika Safira melihat tanda ini getaran dihatinya semakin kuat.
"Mbak?"
"Y-ya?" Jawab Safira gelagapan, memperbaiki ekspresi wajahnya sesantai mungkin. Ia tidak mau jika laki-laki ini melihat ada sesuatu yang salah dengan dirinya, ia tidak ingin laki-laki ini takut kepadanya di hari pertama mereka bertemu!
Laki-laki itu tersenyum kalem, menurunkan pandangannya sealami mungkin ia tidak ingin mengurangi kehormatan gadis cantik yang ada di depannya kini.
"Bukunya masih ada ditangan Mbak." Ucap laki-laki tenang tanpa melirik betapa kakunya badan Safira sekarang.
"Ah.. astagfirullah, maaf saya tidak menyadarinya." Safira gugup, bahkan sangat gugup sampai-sampai kedua tangannya bergetar ringan saat memberikan buku-buku tersebut kembali kepada pemiliknya.
"Terimakasih, kalau begitu saya permisi dulu assalamualaikum." Pamit laki-laki itu sopan, bangun dari duduknya ia lalu berjalan meninggalkan Safira yang masih enggan melepaskannya.
Laki-laki itu...ia masih belum tahu siapa namanya!
Kenapa dia tidak mengatakan namanya sebelum pergi-
"Ustad Aldi, ruangan ustad ada di sebelah sini." Panggilan seseorang menginterupsi gerakan laki-laki itu, mengalihkan pandangannya ia mendapati ada seorang laki-laki paruh baya yang memanggilnya.
__ADS_1
Meskipun sedikit bingung, laki-laki itu tidak ragu membawa langkahnya menuju laki-laki paruh baya itu. Masuk ke dalam sebuah ruangan yang sebenarnya ia cari-cari tadi.
"Ustad Aldi..." Pikiran Safira menjadi linglung.
"Apakah laki-laki itu mentor kelas ku?" Sontak perasaan kehilangan yang sempat mengisi hatinya langsung meluap diterbangkan angin. Hatinya kini dipenuhi perasaan gembira yang ekstrim, ektrim sampai ia tidak bisa tidak tersenyum penuh dihari itu.
****
"Safira..bangun dong~" Mira dengan gerakan lembut mengguncang tubuh Safira, berharap ia bisa membangunkan Safira yang sudah tidur hampir dua jam.
"Safira..."
"Eh?" Mata persik Safira terangkat ke atas dengan susah payah, sekilas kita bisa tahu bahwa Safira masih mengantuk dan begitu enggan untuk bangun.
"Ustad Aldi nyariin kamu." Bohong Mira ingin menarik kesadaran Safira. Biasanya Safira akan langsung merespon jika menyangkut ustad Aldi namun kali ini tiba-tiba itu tidak berfungsi lagi.
Apa Safira masih cemburu dengan kedekatan ustad Aldi dan Dea pikirnya bertanya-tanya.
"Ada Mas Gio lho ini, katanya kamu mau ngomongin sesuatu sama dia." Memutar otak, Mira ingat tadi saat di kebun Safira sangat bersemangat ingin menemui Gio.
Katanya ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Gio.
"Hah, Mas Gionya mana?" Dan benar saja Safira langsung bangun dari acara tidurnya, ia bahkan mengucek-ucek matanya dengan gesit dan cepat. Seakan-akan Gio adalah satu-satunya harapan terakhir ia bernafas di dunia ini.
"Eh, Mas Gionya kok gak ada Mir?" Tanya Safira kecewa begitu kesadarannya terkumpul ia tidak melihat sosok Gio di sini.
Mira dengan jujur memutar bola matanya malas, ah.. mengapa setelah masuk ke pondok pesantren ini Safira tiba-tiba jadi tumpul begini?
Ini bukan karena cinta kan?
Apa iya cinta sedahsyat ini efeknya?
Ini benar-benar buruk!
"Hem..tapi Mas Gio beneran nyari aku'kan?" Tanya Safira memastikan.
Mira dengan jujur mengangguk, "Iya, Mas Gio bilang dia nunggu kamu di rumahnya." Jawab Mira membenarkan.
Mendengarnya, Safira dengan jujur menghela nafas lega. Ia akhirnya bisa merilekskan tubuhnya sebentar sebelum mulai membersihkan wajah tidurnya dan berangkat ke rumah Annisa dan Gio.
"Kamu kok kelihatannya lagi serius banget mau ngomong sama Mas Gio, emangnya tentang apa itu? Apa ini serius?" Jika dilihat dari sikap Safira pasti masalah ini serius, apalagi jika menyangkut Mas Gio.
Ini sudah pasti masalah yang serius.
Safira dengan tegas menggelengkan kepalanya, "Kalau semuanya udah pasti kamu bakalan tahu sendiri kok, tapi karena ini hanya tebakan ku saja maka dari itu aku tidak bisa mengatakannya sekarang." Ini gila dan Safira tidak ingin asal berbicara mengenai pemikirannya.
Lagipula ini juga tentang hatinya yang lagi-lagi merasa kehilangan, entah mengapa sejak kejadian di kebun Safira selalu merasa bahwa laki-laki itu bukan ustad Aldi. Ia juga berpikir jika ustad Aldi yang ia cari mungkin namanya bukan ustad Aldi. Hanya saja karena ia kembar orang-orang jadi salah paham terhadapnya.
Dugaannya ini... Safira harap semua ini benar adanya.
"Baiklah, jika kamu tidak bisa mengatakannya sekarang itu tidak apa-apa... lagipula ini juga masalah pribadi mu dan tidak pantas rasanya aku terlalu masuk." Meskipun mereka adalah sahabat namun sahabat bukan berarti harus tahu segala sesuatu permasalahan sahabatnya. Ini seperti setiap orang punya privasi yang sangat dalam dan tidak bisa dibagikan dengan orang lain bahkan kepada saudaranya sendiri.
Itu sesimpel ini dan Mira dengan jujur tidak mempermasalahkannya.
"Tidak seperti itu.. masalah ini akan aku ceritakan kepada mu jika aku sudah mendapatkan jawabannya." Tersenyum lembut, ia tidak ingin mengecewakan sahabatnya ini.
"Ya sudah, sepertinya aku harus segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah mereka. Tunggu aku di sini, aku akan pergi membersihkan wajah ku dulu." Pesannya sebelum pergi ke belakang untuk mencuci wajahnya. Karena ini adalah kamar staf maka sudah ada kamar mandi di dalamnya jadi mereka bisa nyaman saat dimalam hari.
__ADS_1
"Hem, jangan terburu-buru." Peringat Mira tidak ingin melihat Safira terlalu buru-buru. Ini baru jam dua siang jadi mereka bisa sedikit bersantai sebelum pergi ke dapur umum untuk membantu para Ibu-ibu staf memasak. Karena ini adalah hari pertama puasa maka makanan berbukanya pasti berbeda dari hari yang lain-lain.
Bahkan mereka juga menambah porsi makanan para santri agar mereka terpuaskan setelah seharian puasa dan beraktivitas di kebun.
Mira sudah tidak sabar untuk segera mengolah makanan-makanan itu di dalam dapur nanti.
\*\*\*\*
"Masha, apa yang baru saja kamu lakukan, dek? Kakak ingat sebelumnya kamu tidak seperti ini dan selalu dikenal baik oleh orang-orang. Namun kali ini mengapa kamu tiba-tiba bersikap kasar seperti itu ke sesama santriwati?" Laki-laki tampan ini sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran Masha, gadis yang duduk di depannya kini.
Meskipun ada ekspresi menyesal diwajahnya namun laki-laki ini bisa melihat jika Masha sebenarnya cukup lega dengan perbuatannya sendiri. Itulah mengapa ia terkejut dengan sikap adiknya yang kalem namun tiba-tiba berubah sekasar itu.
"Kak Aldi, aku bersikap kasar kepadanya bukan berarti aku orang yang tidak baik. Aku bosan dan lelah mendengarnya terus saja mengejek Dea dengan perbuatan masa lalunya. Mereka bersikap seolah-olah Dea tidak layak tinggal di sini karena dosanya padahal mereka tidak berhak melakukan itu karena pondok pesantren sendiri memberikan Dea kesempatan untuk memperbaiki dirinya. Itulah mengapa aku sangat marah hari ini dan berakhir lepas kendali, aku tidak terima perlakuan mereka terhadap Dea." Tentu saja, jika orang yang kalian kasihi sedang disakiti orang, lantas apakah kita hanya terus berdiam diri saja?
Itu mustahil bukan!
Karena itulah Masha tidak bisa bersabar lagi dan berakhir lepas kendali, ia tidak tahan melihat Dea dipermalukan seperti itu.
"Kakak mengerti jika kamu membela sahabatmu, namun jika harus sampai menjatuhkan tangan seperti ini perkaranya tidak akan mudah Masha. Kamu harus dihukum dengan aturan yang sudah pondok pesantren tetapkan dan Kakak juga tidak bisa ikut campur tangan dalam masalah ini, ini adalah perbuatan mu dan seharusnya kamu menerima konsekuensi dari apa yang kamu lakukan." Suaranya putus asa, bagaimana bisa setelah ia datang ke pondok pesantren ini Masha tiba-tiba berulah dan membuat terkejut orang-orang yang sudah mengenal baik Masha.
"Aku tidak akan mengeluh dengan hukuman yang akan aku dapatkan, lagipula aku tidak sendirian dihukum dan bahkan dua orang menyebalkan itu juga merasakan hukuman yang sama dengan ku maka semuanya baik-baik saja untukku. Masha sama sekali tidak perduli dengan hukuman yang ia terima, baginya ini adalah hal yang bagus karena orang kurang ajar seperti Diva dan Ana juga merasakan hukuman yang sama dengannya.
Itu sangat nyaman!
"Baiklah, kamu boleh kembali untuk melapor kepada ustad Ali. Pastikan kamu menjalankan hukuman mu dengan baik dan patuh." Pesan laki-laki itu seraya mengatur ulang dokumen-dokumen yang sempat ia abaikan beberapa menit yang lalu.
Dengan patuh Masha menuruti kata-kata Kakaknya, bangun dari duduknya ia segera berjalan keluar dan berniat langsung menemui Dea. Namun sebelum kakinya benar-benar keluar dari ruangan itu tiba-tiba suara berat Kakaknya menginterupsi langkah Masha.
"Masha, kali ini Aldo tidak akan membiarkan mu pergi. Dua hari lagi ia sudah ada di pondok pesantren dan tentunya akan menjadi staf tetap di sini jadi Kakak sarankan jangan pernah membuatnya malu seperti ini lagi. Kau tahu bukan betapa disiplinnya dia?"
Mendengarnya Masha tidak takut sama sekali namun justru ia tersenyum senang, lebih tepatnya ia sangat senang mendengar kabar baik ini.
"Tentu saja Masha akan berhati-hati, Kak Aldi." Ucapnya menyanggupi dengan sebuah senyuman manis yang terus bertengger di bibir manisnya sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan ustad Aldi di ruangannya.
Menatap kepergian Masha, ustad Aldi tidak bisa tidak menghela nafas panjang. "Aldo, aku harap kedatangan mu di sini membuat Masha tidak bisa melakukan perbuatan gila ini lagi." Gumamnya berharap.
Karena saudaranya ini adalah seseorang yang sangat keras jika menyangkut masalah Masha, hem.. mereka begitu menyayangi satu-satunya adik perempuan mereka yang berharga.
\*\*\*\*
"Oh, secepat ini?" Dea terkejut melihat Masha yang baru saja keluar dari ruangan ustad Aldi. Apa yang sedang mereka bicarakan sampai harus ia tidak diizinkan masuk. Padahal ia juga ingin melihat ustad Aldi dari dekat!
"Hem, jadi kau berharap aku tinggal di dalam lebih lama?" Tanya Masha menggoda.
"Tentu saja tidak! Aku pikir ia akan memarahi mu berjam-jam seperti guru BK yang ada di sekolah ku, itu sangat menyebalkan, ah, setiap kali mengingatnya." Guru BK yang ada di sekolah lamanya sangat cerewet, Dea bahkan masih ingat dengan jelas ketika ia dibawa ke BK setelah mendapatkan masalah.
Di dalam ia dikeroyok dengan sewenang-wenang oleh para guru yang sok benar dan sok suci itu, Dea benar-benar kesal!
"Tidak, tentu saja tidak." Membawa tatapannya ke arah ruangan yang sedikit ramai santri.
"Lagipula ia tidak mengurus permasalahan seperti ini dan orang yang seharusnya kita datangi sekarang adalah orang yang mengurusnya."
"Oh jadi seperti itu, lalu kita harus kemana sekarang?"
"Ustad Ali." Jawabnya cepat, ada senyuman kekaguman di sana.
"Ustad Ali?" Tanya Dea bingung mengapa mereka harus ke ustad Ali?
__ADS_1
"Hem, untuk menerima hukuman." Beritahunya senang seraya mempercepat langkahnya.
Bersambung...