Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Season II: Part 17


__ADS_3

Paginya Dea, Masha, dan teman-teman kamar mereka dengan kompak pergi ke kelas bersama. Sepanjang jalan menuju kelas mereka tertawa bersama mendengarkan cerita betapa konyolnya tingkah masing-masing. Sampai akhirnya mereka tidak sadar jika saat ini mereka sudah berdiri di depan seorang perempuan cantik yang anggun dan sopan.


"Ustazah Fatimah!" Teriak Ajeng terkejut sontak membuat semua orang mengalihkan pandangannya pada perempuan yang disebut Fatimah.


"Benar, itu adalah ustazah Fatimah. Ayo teman-teman, kita temui ustadzah. Sudah kangen rasanya ingin bertemu dengan ustazah Fatimah." Ririn berseru dengan semangat dan tanpa menunggu persetujuan yang lain ia sudah berlari sendiri menuju ustazah Fatimah yang mungkin menunggu kedatangan mereka.


"Siapa ustadzah Fatimah?" Tanya Dea merasa asing. Ini bukan tanpa alasan ia bertanya seperti ini karena faktanya ia tidak pernah bertemu ataupun mendengar tentang ustadzah Fatimah sebelumnya. Akan tetapi ketika melihat betapa antusiasnya teman-teman sekamarnya maka Dea ragu jika ustadzah Fatimah orang yang biasa.


Masha menjawab malas, "Hem, dia pengajar tetap pondok pesantren sebenarnya. Tapi karena ada masalah keluarga beberapa bulan yang lalu ia cuti mengajar." Jawab Masha begitu enggan. Bagaimana ia tidak enggan jika perempuan yang selalu mengejar-ngejar Kakaknya sekarang ada di sini, yah..wajar saja jika ia kembali sekarang karena Kakaknya juga baru kembali sekarang.


"Hei, ada apa dengan mu?" Dea merasa jika Masha tidak terlalu menyukai ustadzah Fatimah.


Masha dengan tidak jujur menggelengkan kepalanya, "Tidak ada." Ucapnya mengelak namun nada keengganan masih sangat dalam.


"Hem, tapi kamu terlihat tidak senang." Ragu Dea karena tidak biasanya Masha bersikap seperti ini.


"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa. Hanya saja Dea, aku ingin memberi tahu mu dengan serius," Mengalihkan pandangannya menatap Dea yang terlihat kebingungan.


"Hati-hati dengan ustadzah Fatimah karena orang ini berniat mengambil ustad Aldi darimu. Aku sangat serius, sungguh!" Masha dengan sungguh-sungguh memperingati Dea untuk tetap mengawasi ustad Aldi. Meskipun Masha tahu betul seperti apa Kakaknya itu tapi tetap saja Masha seorang gadis yang akan bertindak sedikit possesif mengenai miliknya yang berharga.


"A-apa yang kamu katakan, aku tidak mengerti!" Dea mengalihkan pandangannya dari Masha, berusaha menyembunyikan betapa malunya ia sekarang.


"Aku serius mengatakan ini Dea, lagipula kamu tidak perlu menyembunyikan perasaan mu karena aku sudah mengetahuinya dari awal." Karena Masha selama ini mengikutinya jadi tanpa sadar Masha juga mulai tahu beberapa sikap dan ekspresi Dea dalam sehari-hari. Apalagi jika Dea bertemu dengan ustad Aldi, hem, ekspresi malu-malu itu... siapa yang tidak bisa menebak bahwa Dea dalam suasana merah muda.


Dea tertegun, ia lalu dengan malu-malu menatap Masha yang masih santai memperhatikannya. "Apakah kamu tidak cemburu?" Karena dulu ia sempat melihat betapa tergila-gilanya Masha saat Aldi baru datang ke pondok pesantren.


Mendengar pertanyaan polos dan takut-takut Dea, tiba-tiba wajah santai Masha berubah menjadi ekspresi yang aneh. "Aku tidak suka dia, ambilah jika kamu mau dan bawa dia jauh-jauh dariku." Ucapnya menolak dengan tegas. Kenapa ia harus cemburu jika Kakaknya bersama Dea?


Justru itu yang ia inginkan, bukan?


Lagipula Masha sebenarnya juga tidak tahan harus menghadapi sikap ustad Aldi yang terlalu disiplin, jadi untuk kesempatan ini ia sangat berharap kedua orang ini segera bersatu di atas pelaminan!


"Ah tidak-tidak, kamu harus mengambilnya karena aku lebih suka dia bersama kamu." Masha berseru panik memperbaiki perkataannya. Bukan lagi Dea 'kalau mau' tapi Dea memang 'harus mau'.


"Aku pikir ini--"


"Dea, Masha, ayo ke sini!" Ucapan Dea terpotong setelah mendengar panggilan dari Ririn.


"Bersikaplah santai," Ucap Masha meyakinkan Dea agar tidak gugup bertemu saingannya.


"Ayo, yang lain sudah menunggu kita." Lanjutnya lagi seraya menarik tangan Dea mengikuti langkahnya menuju kerumunan yang berada di depan kelasnya.


Dalam perjalanan ke sana, diam-diam Dea menilai ustadzah Fatimah yang seharusnya tidak punya kekurangan apapun. Ia cantik juga berpendidikan agama yang tinggi, lalu jangan tanyakan tentang sikapnya karena sangat terlihat jika ustadzah Fatimah adalah orang berakhlak baik. Jika Dea harus bersaing dengannya, ada keraguan ustad Aldi mempertimbangkan Dea. Melihat betapa sempurnanya ustadzah Fatimah, Dea dengan jujur mengakui bahwa ia sudah kalah telak.


Tapi ia tidak ingin langsung berputus asa, ia juga sedang memperbaiki dirinya menuju ke arah yang benar. Menyusul ustad Aldi secepat mungkin agar ia bisa berdiri dengannya semampai mungkin.


Yah, itu jika ustad Aldi menutup mata pada masa lalunya.


"Assalamualaikum ustadzah Fatimah." Berbeda dari sikap sebelumnya yang begitu enggan, kini justru sikap Masha di depan ustadzah Fatimah sangat sopan dan ramah. Seakan-akan sikap yang tadi hanya sekedar ilusi saja untuknya.


"Waalaikumussalam Masha, bagaimana kabar mu sekarang?" Tanya ustadzah Fatimah sangat ramah. Ustadzah Fatimah seolah bertindak jika hanya ada Masha satu-satunya di sini, entah apakah ini hanya perasaannya saja atau karena inilah faktanya, Dea tidak tahu.


Masha balas tersenyum hangat, "Alhamdulillah ustadzah, Masha merasa sangat baik." Jawabnya singkat tidak ingin memperpanjang topik tentang dirinya lagi.


"Oh ya ustadzah kenalkan ini Dea, teman kamat kami yang baru." Tanpa menunggu suara lanjutan lagi Masha dengan santai menarik Dea agak ke depan untuk ia kenalkan kepada ustadzah Fatimah. Biarkan ustadzah Fatimah melihat betapa cantik saingannya untuk mendapatkan ustad Aldi-oh, lebih tepatnya betapa cantik istri ustad Aldi!


Hem, calonnya!


"Oh... santriwati baru?" Tanya ustadzah Fatimah menebak, pasalnya beberapa bulan yang lalu sebelum ia pergi tidak ada siswanya yang bernama Dea.


Dea tidak mau terlihat gugup oleh karena itu ia menguatkan tekadnya, "Benar ustadzah, saya pindahan dari sekolah umum di kota." Jawabnya dengan berani dan bangga.


Mendengarnya, ustadzah Fatimah lantas tersenyum, "Semangat belajarnya Dea, jangan mau kalah dengan teman-teman mu yang sudah lama berada di pondok." Setelah mengucapkan kata-kata semangat, ustadzah Fatimah kemudian mengintruksi mereka untuk masuk ke dalam kelas dan memulai pelajaran baru.

__ADS_1


Ini adalah hari ketiga puasa jadi mereka seharusnya masih sangat semangat untuk menjalankan hari.


🍃🍃🍃


"Aldo, dokumen mengenai staf pondok 3 atau 4 tahun yang lalu aku sudah meletakkannya di atas meja mu."


Aldo menganggukkan kepalanya tanda mengerti, "Terimakasih Ali, aku juga punya sesuatu yang ingin dibicarakan dengan mu." Jawab Aldo berterima kasih tanpa mengalihkan perhatiannya sedetikpun dari kitab yang ada ditangannya. Tulisannya yang tidak biasa karena dicetak dari huruf Arab dan tanpa tanda baca seakan menjadi daya tarik tersendiri untuk Aldo.


Ali lantas menahan langkahnya pergi dari ruangan Aldo dan sebagai gantinya ia pun dengan santai mendudukkan dirinya di atas sofa yang tertata rapi di dalam ruangan Aldo.


Sambil menunggu Aldo menyelesaikan urusannya, Ali sengaja mengedarkan atensinya menatap rak-rak buku pribadi Aldo yang tertata rapi di dalam ruangannya. Ali juga sempat melihat keluar dan menilai betapa rapinya pengaturan kitab-kitab yang akan santri pelajari di pondok.


Melihat semua ini, kadang Ali bertanya-tanya sebesar apa obsesi Aldo terhadap buku. Apakah di dalam benaknya yang sibuk dengan ilmu pengetahuan tidak pernah terlintas untuk membangun bahtera rumah tangga.


"Masya Allah, ini sangat lengkap." Setelah menaruh kitab yang sebelumnya ia baca kini perhatian laki-laki tampan dengan kacamata khasnya itu beralih pada dokumen seorang gadis yang Aldo minta untuk ia selidiki kemarin.


"Namanya Mira, dia adalah staf dapur yang sudah lama tinggal di pondok. Jadi, untuk apa kamu mencari tentang identitas gadis ini?" Ali sangat berharap jika Aldo mengatakan bahwa ia tertarik untuk menjalin hubungan, yah... setidaknya pernyataan itu bisa menghapus stigma negatif Ali terhadapnya.


Aldo tersenyum ringan memandangi catatan kedatangan Mira ke pondok beberapa tahun yang lalu, "Aku berniat menikahinya, in shaa Allah setelah bulan ramadhan nanti." Jawabnya ringan tidak ingin menyembunyikan apapun dari sahabatnya.


Ia ingin menjalin hubungan yang serius dengan Mira jadi ia tidak perlu menyembunyikan apapun dari Ali dan sahabat-sahabatnya yang lain. Lagipula itu bagus untuk memberi tahunya sekarang agar sahabat-sahabatnya tidak menargetkan Mira untuk mereka dekati.


"Apa kamu serius?" Siapa yang tidak kaget jika orang yang mengenal Aldo mendengar jawaban ini. Pasalnya bagi mereka Aldo mempunyai kesan yang murni dan santai. Seolah-olah ia tidak punya pikiran yang mendalam selain menghabiskan waktu bersama buku-bukunya.


Aldo sekali lagi menyunggingkan senyumnya, menutup dokumen identitas Mira dan dengan hati-hati memasukkannya ke dalam laci mejanya. Ia berencana akan segera membacanya setelah Ali keluar dari ruangannya nanti.


"Aku sangat serius dengan pernyataan ku ini, kenapa kamu harus ragu?" Tanya Aldo tidak mengerti. Ia adalah seorang laki-laki baik yang menginginkan pernikahan jadi itu seharusnya tidak perlu dipertanyakan lagi.


Ali menggeleng cepat, "Aku tidak ragu tapi sedikit terkejut saja, aku pikir kamu lebih suka menghabiskan waktu mu bersama buku-buku ini daripada melihat dunia luar." Jawab Ali jujur.


Hem, Aldo sama sekali tidak terlihat seperti itu.


Aldo mengerutkan keningnya, "Aku memang menyukai buku tapi keinginan untuk menyempurnakan agama jauh lebih tinggi."


"Apakah kamu sudah memberi tahu Aldi?" Tanya Ali penasaran.


Aldo tersenyum santai, hatinya saat ini benar-benar tenang dan terasa nyaman. "Bukan hanya Aldi, tapi aku juga sudah memberi tahu hal ini kepada kedua orang tua kami. Mereka bilang siapapun gadis itu mereka akan menerimanya dengan tulus." Hati anak siapa yang tidak bahagia ketika mendengar betapa besar kepercayaan kedua orang terhadap dirinya sendiri.


Aldo pun begitu, karena sudah diberikan kepercayaan yang besar maka ia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melewatkan Mira. Bagaimanapun caranya, Aldo harus bisa menarik minat Mira terhadap dirinya.


Tapi Aldo juga sebenarnya tidak terlalu gugup soal Mira karena setiap mereka bertemu Mira pasti akan bersikap sama gugupnya dengan dirinya. Ditambah kedua pipinya yang suka memerah malu, Aldo tidak bisa tidak yakin jika Mira juga sebenarnya mempunyai rasa yang sama dengan dirinya.


"Wah, ternyata kau sangat serius." Sekarang Ali yakin jika Aldo serius ingin menikah dengan gadis itu. Sebagai seorang sahabat ia dengan tulus turut berbahagia akan pernikahan sahabatnya yang tidak menunggu waktu lama lagi.


"Oh ya, aku punya sesuatu untuk mu." Aldo tiba-tiba teringat dengan ucapannya tadi terhadap Ali.


Aldo kemudian bergerak mengambil dokumen tipis yang sempat ia taruh di bawah tumpukan buku-buku bacaannya. Ini ia lakukan karena dokumen ini sangat penting untuk Ali.


"Apa ini?" Tanya Ali penasaran setelah dokumen itu berpindah dari tangan Aldo ke tangannya. Jika diraba menggunakan tangannya, Ali yakin di dalamnya hanya ada tumpukan kertas tipis yang tidak banyak. Namun yang menjadi pertanyaannya, tentang apakah kertas-kertas itu?


Ia ragu untuk membukanya.


"Aku dengar dari Aldi kamu sedang mencari seorang gadis yang baru pindah dari kota beberapa bulan yang lalu. Jadi untuk membalas jasamu aku kemarin menghubungi Gus Gio untuk membicarakan hal ini, Gus Gio pun tidak menolak untuk membocorkan identitas gadis itu asal kamu tidak memperlakukannya untuk sesuatu yang salah." Jelas Aldo mengingat percakapannya dengan Gio.


Ini bukan tanpa arti Gio mengatakan ini karena identitas gadis ini pun sedikit spesial. Jadi, sebagai seorang pengurus yang amanah Gio tidak akan bertindak gegabah menyebarkan identitas siswanya kepada orang lain.


"Benarkah?" Tanya Ali tidak percaya seraya membuka dokumen tersebut dengan terburu-buru. Ia kemudian dengan teliti membaca identitas gadis itu dan menemukan alasan ia dikirim ke pondok pesantren adalah alasan yang sama dengan yang ia dengar dulu.


"Dea?" Lalu, ia dibawa kembali dengan bayangan gadis yang ia temui saat malam setelah sahur itu. Gadis cantik yang terlihat agak dingin itu ternyata gadis yang selama ini ia cari, Ali sangat terkejut juga bahagia.


Pencariannya sudah selesai!


"Jadi nama gadis itu adalah Dea?" Aldo bertanya santai agak penasaran dengan perubahan ekspresi Ali yang terlihat sangat senang?

__ADS_1


"Akan aku ceritakan nanti." Ucapnya seraya menutup dokumen dan bangun dari duduknya dalam keadaan semangat yang tinggi.


"Aku harus mengkonfirmasinya dulu apakah ia adalah gadis yang ku cari jadi ku harap kau lebih bersabar." Dengan itu ia kemudian keluar dari ruangan Aldo menyisakan Aldo yang masih dilanda kebingungan.


Hem, ketika orang jatuh cinta tanpa sadar mereka akan bersikap konyol. Itu, Aldo akui jika dirinya termasuk.


🍃🍃🍃


"Setelah ini kegiatan kita apa?" Mereka baru saja keluar dari kelas dan akan segera kembali ke asrama mereka.


"Kalau tidak salah pihak pondok bilang kita punya tugas di kebun." Ririn mengingat instruksi ketua kedisiplinan semalam. Mereka bilang jika setelah pulang sekolah mereka harus ke kebun untuk memanen beberapa sayuran yang akan dapur masak untuk hari selanjutnya.


Menatap langit yang agak mendung, "Untung saja langit mendung dan cuaca lumayan lembab, kalau panas mungkin aku agak ragu turun ke kebun."


"Aku setuju dengan Dea, jika langit cerah mungkin ceritanya akan lain." Ajeng juga sependapat dengan Dea karena mau bagaimanapun saat ini mereka masih puasa. Berpanas-panasan di jam sesiang ini akan sangat berdampak buruk untuk kesehatan mereka.


"Yah, Allah sangat mengerti kita." Simpul Ririn merasa bersyukur. Karena pulang bersama-sama mereka juga mengisi waktu perjalanan mereka dengan canda tawa yang sangat sayang Dea lewatkan.


"Eh, aku dengar ustad Aldi dan ustadzah Fatimah dulu menjadi ketua kedisiplinan saat masih mondok di sini." Ajeng tiba-tiba mulai memunculkan gosip.


Meskipun mereka tahu ini adalah sesuatu yang salah namun jika menyangkut ustad Aldi semua pemikiran logis mereka dipinggirkan ke samping. Bagi mereka pembicaraan tentang ustad Aldi adalah sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa dilewatkan.


"Serius?" Yang lain bertanya dengan antusias.


"Iya, kan bohong dosa tahu." Ajeng sama sekali tidak berniat membohongi mereka. Menurutnya yang sama-sama mendambakan ustad Aldi, semua informasi ini adalah bentuk akan keprihatinannya terhadap kisah cinta mereka merebut satu laki-laki.


"Terus kamu tahu darimana kalo gak bohong?" Kini, Dea yang bertanya santai. Meskipun ia santai sebenarnya hatinya juga sudah melompat-lompat saat ini.


Ajeng melambaikan tangannya santai, "Salah satu keluarga ku dulu tinggal di asrama yang sama dengan ustadzah Fatimah. Katanya ustad Aldi dan ustadzah Fatimah sangat santer dibicarakan oleh orang-orang pondok. Mereka terlihat serasi di bidang apapun dan.." Mengalihkan pandangannya ke sekitar mereka, Ajeng lalu menundukkan kepalanya yang langsung diikuti semua orang kecuali Masha.


"Dan?" Suara Wati tidak sabar ingin mendengar lebih lanjut.


"Dan banyak rumor yang menyebar jika mereka berdua sudah saling menyukai." Lanjutnya cukup puas dengan rasa antusias teman-teman sekamarnya.


"Ah...sudah ku duga."


"Aku juga sempat mendengarnya."


"Benar juga sih, mereka terlihat lebih cocok bersama."


Dan banyak lagi suara persetujuan juga putus asa dari teman-teman kamarnya, akan tetapi Dea tidak bisa menerima rumor itu karena setahunya ustad Aldi sangat anti perempuan!


"Ei, itu belum tentu benar bukan." Ucap Dea tidak terima yang langsung disetujui sebagian dari mereka.


"Jika itu memang benar seharusnya ustad Aldi saat itu langsung menikahi ustadzah Fatimah bukannya pergi meninggalkan ustadzah Fatimah." Dea memberikan jawaban yang masuk akal. Jika memang mereka berdua saling menyukai maka seharusnya mereka tidak perlu untuk berpisah lama.


"Kamu memang benar Dea, tapi bisa saja saat itu ustad Aldi lebih memilih mencari ilmu dibandingkan menikahi ustadzah Fatimah dulu. Lihat saja sekarang, setelah ustad Aldi kembali ke sini baru ustadzah Fatimah juga kembali mengajar ke pondok pesantren." Nah, alasan Ajeng kali ini juga tidak bisa disepelekan oleh mereka semua.


Bahkan Dea yang mendengarnya saja mengakui jika hatinya menjadi panik dan takut. Ia takut dengan apa yang Ajeng katakan karena bisa saja itu adalah faktanya.


"Jangan terlalu banyak menebak kehidupan orang lain, kita sebagai orang luar hanya bisa mendengar rumor dan belum pernah menyaksikannya secara langsung. Ingat lho, ini bulan puasa dan tidak baik membicarakan kehidupan orang lain jika hanya bermodalkan mendengar. Jangankan mendengar, melihat secara langsung saja itu sangat dosa untuk membicarakannya. Hati-hati, puasa kalian nanti menjadi sia-sia." Masha yang sedari tadi diam akhirnya menyuarakan pendapatnya.


Hell, mengapa pikiran mereka melambung kemana-mana?


Padahal ia saja yang menjadi adik kandungnya tidak pernah kepo dengan urusan Kakaknya.


"Astagfirullah...khilaf ya Allah." Sontak mereka langsung menyebut nama Allah, bertindak seakan-akan mereka hanya khilaf saja.


Meskipun mereka semua cepat menyesali pembicaraan mereka namun itu semua masih belum bisa memadamkan perasaan gelisah dan sesak Dea. Itu.. apa yang mereka katakan bisa saja benar karena ustadzah Fatimah jauh lebih baik dari dirinya. Dia berpendidikan tinggi dan tentunya semua orang menyukainya.


Mereka sepadan, mereka juga lahir dengan rupawan yang cantik juga tampan. Jadi, memikirkan hal ini tentu saja Dea merasa minder. Terlebih lagi Dea punya cacat dalam hidupnya dan ia masih di tingkat pemula untuk seorang muslimah yang baik. Dea akui ia cemburu dengan kelebihan ustadzah Fatimah.


Hem, cemburu ternyata sesakit ini.

__ADS_1


🥀🥀🥀


__ADS_2