Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Season II: Part 22


__ADS_3

"Mira, tolong kirim buku-buku ini ke perpustakaan." Salah satu staf kantor memanggil Mira, memintanya untuk membawa kitab-kitab yang sudah selesai dipelajari siswa ke perpustakaan.


"Ini bukannya belum masih pagi, Mbak?" Ini masih terlalu pagi untuk memulai jam kerja karena setahu Mira jam kerja kantor ini dimulai jam 7 pagi sedangkan ini baru saja masuk jam 6 pagi.


"Jangan khawatir, sebentar lagi jam 7 jadi ketika sampai di sana kamu hanya perlu menunggu sedikit lagi." Jawab staf tersebut tidak ingin terlalu pusing.


Mira mengangguk setuju, meskipun harus menunggu satu jam tapi itu tidak terlalu lama baginya. Yah, ada baiknya begini daripada terus-menerus melamun tanpa tahu harus melakukan apa. Hem, rasanya benar-benar menyiksa untuk Mira. Berpisah dengan Safira membuatnya sedih dan ia juga harus menjauh dari Aldo sehingga hanya ada kesakitan yang ia rasakan. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi hari selanjutnya.


"Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu ya, Mbak." Pamitnya sambil membawa kitab-kitab itu ke dalam pelukannya. Membawanya dengan hati-hati menuju arah perpustakaan. Selama di jalan ia memang jarang menemukan orang karena ia yakin saat ini santri pasti sedang sibuk mempersiapkan kebutuhannya selama di kelas nanti.


Jika waktu bisa diulang kembali mungkin Mira ingin sekolah di sini saja, tidur dan makan bersama teman-teman sekamarnya pasti terasa sangat menyenangkan. Ia juga bisa jatuh cinta lebih awal dengan para akhi-akhi lainnya dan tidak akan pernah terjebak dalam cinta segitiga bersama sahabatnya.


"Ah, sudah ku duga jika perpustakaan masih belum dibuka." Keluhnya seraya mendudukkan dirinya di atas kursi santai yang memang sudah ada sejak dulu.


Menunggu dan menunggu, Mira terus berharap jika penjaganya segera datang agar ia bisa segera menemui Safira lagi dan meminta maaf dengannya. Ia akan bersumpah dan berjanji kepada Safira untuk menjaga jarak sejauh-jauhnya dengan Aldo. Ia tidak ingin kehilangan sahabatnya, ia lebih baik kehilangan cinta karena cinta bisa datang kapan saja. Namun itu berbeda dengan sahabat, itu tidak bisa didapatkan dengan mudah oleh karena itu Mira akan melakukan apa saja untuk mendapatkan maaf dari sahabatnya.


"Mira, apa yang sedang kamu lakukan di sini?"


Deg


Segera, Mira langsung bangun dari duduknya dan melangkah mundur untuk menjaga jarak dari Aldo.


"Aku..aku ingin mengembalikan buku, Mas." Jawab Mira panik seraya bertanya-tanya apakah ia sudah melewatkan sesuatu, Ah!


Tentu saja ia melewatkan hal yang penting, Aldo menyukai buku dan tentu saja tempat terbaik untuknya adalah perpustakaan. Hah..betapa malangnya Mira. Berniat menjauh tapi malah didekat kan!


"Oh, kalau begitu silakan masuk." Aldo tersenyum canggung seraya memberikan Mira tempat untuk lewat.


Mira tidak ingin menunggu lama dan segera membawa buku-buku itu ke dalam pelukannya, lalu dengan tergesa-gesa ia masuk ke dalam untuk menjelajahi rak mana yang akan ditepati buku-buku ini.


Tidak sampai ia bisa bernafas lega karena sudah menjaga jarak dengan Aldo, tiba-tiba ia bisa mendengar langkah kaki mantap yang mengikutinya dari belakang. Membuat nafas Mira semakin tidak tenang sekaligus merasa aliran darahnya melonjak kepanasan karena laju darahnya yang sangat cepat.


"Aku tahu tempat buku ini ditaruh, apakah kamu butuh bantuan ku?" Tanya Aldo dengan suara dalamnya yang sangat seksi, hampir saja membuat pertahanan Mira runtuh. Tapi tidak, ia tidak akan berharap lagi kepada Aldo karena Safira menyukai Aldo!


"Ah.. tidak perlu Mas, aku bisa sendiri menemukannya." Jawab Mira buru-buru seraya mempercepat langkahnya agar lebih jauh lagi dari Aldo. Namun, bukannya melambat langkah dibelakangnya justru terdengar semakin dekat dan cepat!


Ini semakin membuat Mira panik, bahkan detak jantungnya sangat mengkhawatirkan karena detakannya yang sangat kuat dan cepat. Ini...tidak akan membuatnya serangan jantung, bukan?


"Aku..aku sungguh bisa menemu-" Sebelum ia bisa menyelesaikan kata-katanya, tiba-ti wba sebuah tangan kuat menarik tangannya.


Brak


Buku-buku yang tadinya ada diperlukan Mira kini sudah jatuh berserakan di atas lantai. Jatuh tidak berdaya karena kekuatan besar tidak berperasaan yang menghempaskan.


"Kamu sengaja menjauhi ku, bukan?" Tanya Aldo terdengar serak, bahkan matanya yang tertutupi kacamata kini sedang menatapnya tajam. Tidak memberikan Mira ruang untuk mengatur detak jantungnya yang terus berdetak cepat.

__ADS_1


Mira tidak langsung menjawab, sejenak ia benar-benar terpana dengan jarak mereka yang terlalu dekat. Dekat sampai-sampai ia bisa mencium wangi Aldo yang sangat menenangkan.


"Katakan, mengapa kamu menjauhi ku selama ini." Tuntut Aldo ingin Mira menjelaskan kesalahan atau alasan apa yang membuatnya menjauh dari Aldo.


Selama ini Aldo selalu bertanya-tanya mengapa Mira ketika melihatnya akan selalu berakhir melarikan diri. Seolah-olah Mira sedang bertemu dengan musuh bebuyutannya yang sangat membuatnya tidak nyaman. Namun, setiap kali berinteraksi dengan Mira sebelumnya ia tidak pernah menjaga jarak darinya. Malah mereka berdua terkesan sangat santai saat berbicara, jadi melihat tingkah Mira yang berubah-ubah seperti ini mau tidak mau membuat Aldo bertanya-tanya.


"Mas Aldo mungkin salah paham, Mira sama sekali tidak pernah menjaga jarak dengan Mas Aldo." Senyumnya mencoba alami ketika mengatakan ini, menarik halus tangannya dari genggaman kuat tangan Aldo. Namun, bukannya melepaskan tangan Mira, Aldo justru semakin menguatkannya dan tanpa sadar membuat Mira meringis kesakitan.


"Kamu bohong Mira, aku tahu jika selama ini kamu berusaha menjauhi ku. Katakan, mengapa kamu melakukan itu? Apakah ada sesuatu dari diriku yang membuatmu merasa tidak nyaman?" Aldo tidak ingin melepaskan Mira dan membiarkannya pergi karena ia yakin setelah hari ini Mira pasti akan sangat menjaga jarak darinya. Tidak memberikannya peluang untuk mendekati dirinya.


"Mas..jangan seperti ini." Mohon Mira merasakan hatinya sangat kesakitan saat ini. Bagaimana mungkin ia mengatakan kepada Aldo jika ia menyukainya?


Itu tentu saja akan sangat memalukan.


"Seharusnya aku yang mengatakan ini kepada mu, jangan bersikap seperti ini karena mungkin kamu tidak sadar ini akan sangat melukai perasaan ku." Aldo melonggarkan genggamannya, membawa kedua tangan Mira untuk ia genggam bersama dengan perasaan sayang yang langka.


"Mira..aku sangat mencintaimu tapi bagaimana mungkin selama ini kamu terus menyiksa perasaan ku, bersikap seolah kamu tidak punya rasa apapun kepadaku." Aldo akhirnya mengatakan bagaimana perasaannya terhadap Mira. Perasaan sakit dan gelisah yang ia rasakan ketika melihat betapa kejamnya sikap Mira baru-baru ini.


"Bukankah yang Mas sukai adalah Safira?" Tanya Mira tidak percaya karena yang ia tahu pertemuan 2 tahun lalu membuat Safira dan Aldo saling menyukai.


"Mengapa aku harus menyukai Safira? Jelas-jelas orang yang ku sukai adalah kamu." Bantah Aldo bisa menebak jika selama ini Mira salah paham terhadap dirinya.


"Tapi bukankah kalian sudah bertemu 2 tahun yang lalu?" Tanya Mira tidak mengerti.


"Ja-jadi, mas Aldo menyukai ku?" Tanya Mira senang, ia bisa merasakan perasaan bahagia kini sedang meluap-luap di dalam hatinya.


"Ya, kamu adalah orang yang aku cintai." Jawab Aldo yakin tanpa keraguan apapun.


Karena Aldo sekali lagi memberikan penegasan kepadanya tentu saja membuat hati Mira semakin senang. Akan tetapi itu tidak bertahan lama karena bayangin sakit hati Safira kembali melintas di kepalanya. Sontak ia langsung melepaskan tangan Aldo dari tangannya dan menjaga jarak yang pas dengannya.


Aldo tertegun dan tidak mengerti mengapa Mira menjauh darinya lagi, padahal ia tadi sempat melihat perasaan senang yang terlintas di balik senyum Mira.


"Aku tidak bisa Mas Aldo." Ucap Mira menahan sakit.


Aldo tidak mengerti, "Kenapa kamu tidak bisa?" Tanyanya tidak mengerti.


"Itu karena Safira sangat menyukai Mas Aldo." Jawab Mira tanpa ragu-ragu. Sekali lagi, ia tidak ingin melukai perasaan Mira.


"Tapi yang aku cintai adalah kamu." Ucap Aldo mengingatkan.


Mira menggeleng dengan halus dan ingin membawa langkahnya lebih jauh lagi, akan tetapi sebelum ia bisa melakukanya Aldo sudah menariknya ke dalam pelukan yang hangat. Pelukan hangat ini tanpa sadar membuat hatinya menjadi lega dan tenang, ia tidak bisa menampik bahwa hatinya sudah menjadi milik laki-laki tampan ini.


"Aku tahu kalian bersahabat karena itulah kamu seharusnya bisa berpikir jernih. Jika Safira benar-benar menyayangi mu maka apapun yang kita lakukan ia akan mendukungnya, Mira..tolong pikirkan lagi tentang kita. Jika kamu merasa tidak mampu menghadapi Safira maka aku akan selalu ada di samping mu, kita akan bersama-sama berbicara dengan Safira dan menjelaskan kepadanya bahwa hati tidak bisa dipaksakan. Mira, apakah kamu mendengarkan ku?" Tanya Aldo lembut, mengelus ringan punggung ramping Mira.


"Hem, kita akan mencoba." Setelah berpikir lama tidak ada salahnya mencoba. Jikapun Safira marah maka dengan terpaksa ia akan pulang ke rumah orangtuanya dan benar-benar mencoba melupakan Aldo.

__ADS_1


🍃🍃🍃


Mira menatap kosong sisi tempat tidur yang lain, ia saat ini sedang memikirkan dengan serius langkah apa yang akan ia ambil untuk berbicara dengan Safira. Entah itu diterima atau tidak, Mira ingin membicarakannya dengan Safira. Ia masih berharap Safira membuka hatinya lagi untuk Mira.


Cklak


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok ramping Safira. Safira dengan alami berjalan menuju ranjangnya seolah-olah kejadian dua minggu yang lalu tidak pernah menimpa mereka berdua.


"Safira, kamu kembali." Ucap Mira senang dan sedikit gugup seraya mengambil alih koper Safira dari tangannya. Jika Safira kembali ke sini itu tandanya Safira sudah memaafkannya.


"Mira, hentikan." Ucap Safira seperti biasanya, tidak ada nada permusuhan di sana seperti terakhir kali mereka bertengkar.


"Ma-maaf." Ucap Mira malu seraya melepaskan koper Safira dari tangannya. Ia dengan malu duduk kembali di atas ranjangnya seraya memperhatikan Safira yang juga mendudukkan dirinya di ranjangnya dulu.


"Aku minta maaf Mira, saat itu aku sangat terkejut sehingga mudah lepas kendali. Namun, setelah memikirkannya aku pikir kalian berdua saling menyukai maka tidak pantas rasanya aku menjadi pihak ketiga di hubungan kalian." Setelah beberapa detik terdiam, Safira akhirnya memulai pembicaraan mereka. Ia mengakui jika ia salah dan bertindak impulsif waktu itu.


"Safira, aku mengkhianati mu-"


"Jangan katakan itu karena yang Mas Aldo sukai adalah kamu dan bukan aku. Lagipula, menikah di usia yang sangat muda begini akan mengganggu waktu kuliah ku. Lihat saja, aku baru saja semester 3 dan perjalanan ku untuk menjadi orang yang sukses masih panjang. Jadi, urusan cinta bisa ditunda dulu. Aku juga tidak ingin kehilangan sahabat terbaik seperti kamu, aku tidak ingin kita hancur hanya karena keegoisan ku. Jadi Mira, tolong maafkan aku." Potong Safira tidak ingin mendengar lagi, ia tahu betul jika Mira sudah mencoba untuk menjauhi Aldo dan di sini, hanya dirinya lah yang paling tahu betapa hancurnya hati Mira.


"Aku..aku juga minta maaf." Senang Mira seraya memeluk Safira dengan erat, menyampaikan betapa rindunya ia selama ini.


"Safira, besok aku akan kembali ke rumah. Umi dan Abi juga sudah pulang jadi aku ingin tinggal bersama mereka." Ucap Safira menyampaikan alasan mengapa ia membawa kopernya ke sini. Besok ia akan pulang dan menghabiskan sisa liburnya bersama Umi dan Abi di rumah.


Mira menjadi lesu, "Secepat ini?" Tanyanya tidak percaya.


Safira tersenyum tipis dan mengangguk dengan enggan, "Kata Umi, sebentar lagi Saqila akan dipulangkan karena ada seseorang yang berniat baik melamar Saqila besok." Jelasnya lagi menjelaskan situasi yang ada di rumahnya.


"Wah, Saqila sebentar lagi akan menikah."


"Jadi, bagaimana dengan mu dan Mas Aldo?" Tanya Safira berniat menggoda.


Diingatkan tentang Aldo, sejenak Mira teringat kembali dengan percakapan mereka di perpustakaan. Mengingatnya membuat wajah Safira entah mengapa terasa panas dan gerah!


"Aku...yah, Mas Aldo akan mendatangi orang tua ku besok." Jawabnya gugup seraya memperhatikan perubahan emosi yang terjadi pada wajah cantik Safira.


"Seperti yang aku duga, dia pasti tidak akan melepaskan mu." Syafira sudah menebak orang seperti apa Aldo jadi dia tidak terkejut sama sekali.


"Setelah harinya ditentukan tolong undang aku, aku ingin melihat sahabat ku melangkah dan memulai lembaran baru yang indah. Mira, aku turut berbahagia untukmu." Ucapnya tulus, menyampaikan betapa senangnya ia melihat Mira bisa menyusul yang lain.


Sekarang hanya tinggal dirinya saja, ia harus melewati hari-harinya secara perlahan dan sabar untuk menemukan cintanya. Entahlah, meskipun pernah terluka namun Safira yakin skenario Allah adalah yang terbaik. Ia hanya perlu menunggu kebahagiaan itu datang menjemputnya seperti kisah Annisa dan Gio. Sabar mengantarkan mereka menuju hari yang indah. Hem, Safira tidak ragu untuk mengikuti jejak mereka karena mungkin saja entah di suatu tempat imamnya sedang bersabar juga. Mencarinya dengan doa-doa yang melambung tinggi di setiap malamnya yang damai juga menenangkan.


Yah, dengan begini Safira siap memulai perjalanan menunggu cinta yang lain lagi. Berharap semoga yang datang kali ini adalah dia, dia sang imam yang akan membimbing mereka ke jalannya.


🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2