Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Menjemput Kebahagiaan


__ADS_3

وَّخَلَقْنٰكُمْ اَزْوَا جًا ۙ 


"Dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan,"


(QS. An-Naba' 78: Ayat 8)


                                       ***


Berat, mata ku terasa berat dan begitu sulit untuk dibuka. Namun walaupun begitu, dengan keras kepala aku mulai membuka mata ku yang terasa tidak nyaman.


Mengerjap spontan, hal yang pertama kali menyambut mata ku adalah sebuah cahaya yang kuat dan terang. Setelah membiasakan cahaya yang masuk ke dalam mata ku, aku akhirnya bisa dengan jelas melihat lingkungan tempat ku berada sekarang. Mengedarkan pandangan ku ke segala arah ku dapati bahwa tempat ku berada saat ini adalah kamar ku sendiri.


Mengapa aku bisa berada di kamar ku?


Bukankah aku tadi berada di acara lamaran Mas Gio. Yah, aku berada di sana dan mendapatkan kejutan bahwa Mas Gio ternyata datang melamar ku..lalu Saqila marah..dia marah dan tidak terima dengan jika gadis yang Mas Gio lamar adalah aku. Kemudian.. Safira mengatakan semuanya..ia mengatakan bahwa Saqila dan Puspa yang telah menghancurkan pernikahan ku. Dan Mas Dimas juga..juga mengakuinya..dan setelah itu aku berakhir di sini.


Ya Allah..hiks


Apa yang sudah terjadi..tidak maksud ku, Saqila dan Puspa.. mereka tidak mungkin melakukan hal sekejam itu bukan?


Mereka adalah keluarga jadi mereka tidak mungkin melakukan hal yang sekejam itu kepada keluarga mereka.


Mereka tidak mungkin..tapi, tapi mengapa kejadian saat lamaran terasa begitu nyata?


Mungkinkah itu hanya ilusi ku saja?


Cklak


"Annisa?" Panggil Umi terkejut dibalik pintu kamar ku.


"Umi.." Panggil ku canggung.


Umi melangkah masuk dengan nampan di tangan kanannya. Lalu dengan gerakan hati-hati ia menutup pintu dan berjalan pelan mendekati ranjang ku.


"Umi, ada apa?" Tanyaku khawatir ketika mendapati wajah Umi terlihat tidak baik-baik saja. Matanya terlihat merah dan bengkak, kemudian wajahnya begitu sayu dan pucat.


Apakah Umi sakit?


Mencoba bangun dari posisi tidur ku, Umi dengan gerakan panik menahan bahu ku. Wajah sayunya menatap ku dengan pandangan yang sulit ku pahami.


Ada apa sebenarnya?


Menempatkan nampan makanan tersebut di atas ranjang ku, Umi kemudian menarik kursi yang ada di dekat meja rias ku dan menempatkannya di samping ranjang ku. Mendudukkan dirinya, dengan langkah alami ia kemudian membuka tudung saji yang menutupi nampan tersebut. Memperlihatkan beberapa makanan hangat yang sebenarnya terlihat amat sangat membangkitkan selera, namun entah kenapa melihat ini tidak dapat menarik minat ku.


Aku tidak lapar.


"Makan ya, Nak, Umi suapin." Suara Umi akhirnya setelah sekian lama terdiam.


Menggeleng pelan, aku menolak tawaran Umi dengan sehalus mungkin agar aku tidak membuatnya tersinggung.


"Annisa tidak lapar, Umi." Ucap ku selembut mungkin.


"Sedikit saja, tidak apa-apa yah?" Bujuk Umi dengan suara yang begitu lembut dan terdengar hati-hati. Suara ini sudah lama sekali Annisa tidak mendengarnya. Mendengarnya sekarang entah kenapa membuat ku tertarik pada saat aku masih kecil, dengan manja dan keras kepala menolak suapan dari Umi. Akan tetapi Umi tidak pernah marah saat aku berperilaku seperti itu, ia malah semakin melembutkan suaranya. Membuat ku kesulitan untuk menolak lagi dan dengan patuh menerimanya.


Perasaan itu saat ini aku alami lagi. Perhatian Umi yang lembut dan penuh kasih sayang, sudah lama aku merindukannya.


"Satu sendok saja." Ucap ku akhirnya mengalah seraya membuka mulut ku untuk menerima suapan dari Umi.


"Tiga sendok aja, yah?" Ucapnya membujuk lagi seraya memasukkan suapan tersebut ke dalam mulut ku.


Mengunyah pelan, aku mencoba menahan suara ringisan ku karena kedua pipi ku yang terasa kaku dan tidak nyaman.


Menelan, "Hanya tiga suap saja." Ucap ku mengingatkan Umi yang dimana langsung direspon sebuah senyuman oleh Umi. Sejenak, aku tidak tahu harus membuka atau menutup mulut karena begitu langka rasanya melihat senyuman Umi yang begitu lembut.


Mengapa semua perilaku Umi saat ini selalu mengingatkan ku pada masa lalu yang hangat dan penuh kasih. Aku takut jika ini hanya mimpi dan berlaku semu untuk ku, aku takut jika semua ini tidak nyata.


Karena jika memang begitu maka rasanya akan sangat menyakitkan.


"Hem, tiga sendok saja." Jawabnya seraya menyuapi ku lagi sendok yang kedua.


Mengunyah dengan usaha keras, mulut ku benar-benar terasa tidak nyaman saat ini. Seakan ia menolak untuk memasukkan makanan ke dalamnya.


Menelan dengan ceroboh, tiba-tiba tenggorokan ku terasa sesak dan menyakitkan. Mengikat ku dengan batuk yang begitu menyakitkan dan kering.


"Ya Allah, Annisa.. pelan-pelan, Nak. Ini minum dulu susu hangatnya." Panik Umi seraya membantu ku duduk dan bersandar di ranjang ku. Lalu dengan gerakan panik aku meminum susu hangat pemberian Umi, meminumnya dengan lancar hampir menghabisinya dalam satu waktu.


Terasa lebih ringan, aku kemudian mencoba mengatur nafas ku lebih baik lagi untuk mengurangi perasaan yang masih tidak nyaman di dalam tenggorokan ku.


"Tidak perlu terburu-buru, Nak, karena akhirnya akan seperti tadi. Kau akan tersedak dan merasa tidak nyaman di sekitar tenggorokan mu. Pelan-pelan saja saat makan dan lebih lama dalam mengunyah makanan mu agar lebih mudah dicerna." Nasihat Umi terlihat panik seraya mengambil alih gelas susu tersebut dari tangan ku.


"Maaf Umi, Annisa sudah tidak kuat lagi untuk makan suapan terakhir karena entah kenapa mulut Annisa terasa begitu tidak nyaman." Suara ku menolak untuk makan suapan yang terakhir. Aku tidak berbohong saat mengatakan ini juga aku takut jika saat menerima suapan yang ketiga bukannya berhasil menelan aku malah memuntahkannya. Akan sangat mubazir jika itu sampai terjadi dan oleh karena itu aku memilih untuk mengatakannya secara jujur dan pasti kepada Umi.


Menghela nafas, Umi kemudian menyingkirkan nampan tersebut ke atas laci ku. Kembali menutupnya dengan tudung saji, Umi kembali menatap ku yang masih menatapnya ingin tahu.


"Umi, ada apa?" Tanya aku akhirnya tidak tahan lagi melihat raut kesedihan yang menaungi wajah cantik Umi ku.


Menundukkan kepalanya, Umi dengan ragu meraih tangan kanan ku. Menggenggamnya lembut namun sesekali aku akan merasakan sebuah rematan yang kuat.


Ya Allah apa yang terjadi dengan Umi ku?


"Annisa," Panggil Umi dengan suara yang lembut dan tidak sedingin biasanya.


Bingung, "Ya, Umi?" Jawab ku berusaha selembut mungkin.


"Apakah kamu benci dengan kami?" Tanyanya terdengar bergetar.


Benci dengan Kalian?


Apa maksud Umi?


"Kenapa aku harus benci dengan kalian semua?" Tanyaku bingung. Kalian adalah keluarga ku jadi mengapa aku harus benci kepada kalian?


Mengangkat wajahnya, Umi menatap ku dengan mata merahnya yang mengalirkan cairan hangat dan bening.


"Umi, Umi kenapa menangis?" Panik ku seraya dengan cepat menghapus cairan bening tersebut dari wajahnya yang sayu.


"Ada apa Umi? Kenapa Umi tiba-tiba menangis?" Tanya ku menuntut. Umi ku tiba-tiba menangis di depan ku jadi siapa yang tidak takut melihat Ibunya seperti ini di depan anaknya?


"Annisa, maafkan Umi dan Abi, Nak..kami tidak tahu jika selama ini kami telah salah paham terhadap mu dan dengan kejam selalu memberikan mu pundak dingin. Umi tahu jika selama ini Umi telah menyakiti mu, Nak. Maafkan Umi."


Tertegun, tiba-tiba gerakan tangan ku membeku. Tidak, lebih tepatnya aku  yang terdiam tak bisa melakukan apa-apa. Tubuh ku tiba-tiba mati rasa dan tidak bisa digerakkan. Sejenak ingatan ku kembali pada ingatan ku saat baru saja terbangun.


Jadi, itu bukan mimpi bahkan ilusi ku?


Ini nyata.


Mengusap dengan lembut wajahnya, "Umi, sudah lupakan semua itu. Aku pikir kejadian itu tidak perlu dingat-ingat lagi karena bukan ingatan yang baik." Akhirnya suara ku memutuskannya. Sudahlah, semuanya sudah terjadi dan tidak dapat dirubah lagi. Tidak ada yang perlu diingat lagi dari masa sulit itu kecuali Allah sebenarnya tidak pernah meninggalkan ku.


Alhamdulillah, aku selalu dalam lindungan Allah. Tidak ada kebahagiaan yang lebih baik lagi dari hal ini.


"Umi tidak tahu harus mengatakan apa untuk maaf mu, Nak. Ini-"


"Jangan mengatakannya lagi, Umi." Potong ku panik. Tidak, aku tidak suka mendengarkan Umi memohon seperti ini karena tidak pantas rasanya seorang Ibu yang telah melahirkan dan membesarkan ku bersikap seperti ini.


"Annisa sudah melupakan semuanya dan berjanji tidak akan pernah mengungkitnya lagi, Umi juga adalah seseorang yang penting untuk Annisa. Mendengar Umi memohon seperti ini Annisa begitu kecewa dengan diri Annisa, hanya karena Annisa membuat Umi menjadi seperti ini, betapa lancangnya Annisa. Jadi, jangan katakan itu lagi Umi karena Annisa pasti akan merasa buruk pada diri Annisa jika mendengarnya lagi." Aku tidak ingin mendengar suara Umi yang memohon dengan suara kesedihan. Aku ingin melupakan semuanya dan akan bersikap seolah semuanya tidak pernah terjadi.


Meskipun rasa sakitnya tidak akan pernah bisa aku lupakan akan tetapi tetap saja, semua itu adalah masa lalu dan sudah sepatutnya aku lupakan dan dikubur dalam-dalam.


"Hanya saja.. bagaimana kabar Saqila setelah saat itu, Umi?" Ragu, aku sebenarnya dapat menebak bahwa ia tidak akan pernah baik-baik saja. Lagipula penyebab ia menghancurkan pernikahannya adalah karena aku yang terlalu di manja. Benar, semua ini adalah salah ku sejak dari awal.


Jika, jika aku tidak bersikap terlalu dekat dengan keluarga ku maka..maka Saqila tidak akan pernah merasa tersisihkan seperti ini.


Yah, ini adalah kesalahan ku!


"Saqila," Suara Umi juga terdengar bimbang dan ragu.


Mengangguk kecil, aku paham bahwa Umi mungkin juga masih belum mempercayai semua itu dan merasa berat dengan pertanyaan ku.


"Tadi siang ia sudah dikirim ke pondok pesantren Abu Hurairah, pondok pesantren milik sahabat Abi dan Umi di kota seberang." Suara Umi akhirnya yang membuat ku langsung terkejut.


Tidak, aku tahu dimana pondok pesantren ini tapi mengapa Saqila dikirim ke tempat itu?


Saqila sudah mengenal agama dengan cukup baik dan..dan mengapa ia harus dikirim ke tempat itu?


Apa jangan-jangan..tidak itu tidak boleh!


"Umi, kenapa Saqila harus dikirim ke pondok pesantren Abu Hurairah?. Ini.. maksud Annisa, Saqila sudah mengenal baik agama kita jadi mengapa ia harus dikirim ke sana?. Jangan katakan jika itu semua karena.. karena Annisa?"


Tersenyum kecil, Umi tampak begitu pucat ketika menatap ku selembut ini. "Annisa ini bukan karena mu, Nak. Ini justru kami lakukan demi kebaikan ia dan agar semuanya berjalan dengan semestinya." Ucap Umi lembut.


"Apa maksud Umi?" Aku masih belum mengerti maksud dari ucapannya.


Meraih tangan kanan ku, "Annisa, adik mu Saqila punya penyakit jin, sayang. Kami harus mengirimnya ke tempat itu untuk menyembuhkannya dari gangguan jin itu karena kondisinya sudah tidak bisa membedakan hal baik dan buruk, antara saudara dan orang lain. Saqila sudah tidak mampu membedakan kalian semua, Nak sehingga kami tidak punya jalan lain selain mengirimnya ke tempat itu. Seperti yang kamu tahu pondok pesantren milik sahabat kami adalah pondok pesantren yang terbukti mampu mengobati penyakit yang berurusan dengan hal-hal seperti ini. Bahkan sahabat kami adalah ulama besar yang terkenal akan ruqyahnya yang hebat dan sesuai dengan Islam. Nak, jangan khawatir dengan Saqila karena ia di sana tidak akan lama. Mungkin satu bulan atau paling lama tiga bulan, tergantung dengan kemauan Saqila ingin terlepas dari gangguan itu." Jelas Umi membuat ku semakin terkejut.


Saqila punya penyakit seperti itu?


Tapi sejak kapan?


Tidakkah selama ini ia selalu terlihat baik-baik saja dan menjalankan rutinitas agama dengan tekun dan tepat waktu?


"Tapi Saqila terlihat baik-baik saja Umi, bahkan semua yang berbau ibadah dan agama ia lakukan dengan tekun dan tepat waktu. Mengapa..mengapa ia bisa punya penyakit seperti itu?"


"Nak, syeitan itu lebih cerdas dari manusia jadi wajar saja kita tidak pernah menyadari bahwa Saqila punya gangguan seperti itu. Di tambah lagi ia selalu bersikap seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi padanya atau ia sama sekali tidak pernah merasakan gangguan yang nyata di dalam dirinya. Kita semua sudah tertipu, Nak."


Ah, aku lupa..aku lupa jika musuh kita ini adalah musuh yang cerdas. Bahkan kecerdasannya dapat melampaui kita sebagai manusia.


"Annisa mengerti, Umi." Suara ku tidak bisa lagi mengatakan apa-apa. Alasan ini terdengar cukup jelas untuk ku agar selalu mengingat Allah, Dzat Maha Kuasa yang akan selalu melindungi ku.


"Ini semua karena Annisa, Umi. Jika..jika saja Annisa memperhatikan Saqila maka semua ini tidak akan pernah terjadi dan Saqila tidak akan mengalami gangguan seperti ini. Annisa terlalu serakah selama ini dan lupa akan mental Saqila, ini semua adalah karena Annisa-"


"Jangan membuat Umi mengatakannya lagi, Annisa. Umi sudah berjanji tadi untuk tidak mengungkit semua itu. Annisa, hentikan rasa bersalah mu karena orang yang seharusnya paling bersalah di sini adalah Abi dan Umi. Itu karena kami yang tidak memperhatikan putri-putri kami yang lain dengan baik. Jadi, jika kau mengungkit masalah ini lagi maka Umi lah yang akan paling merasa bersalah." Potong Umi terlihat begitu sedih. Mata merahnya bahkan kini mulai menggenang karena cairan hangat yang ingin segera keluar dari tempat hangat itu.


"Annisa minta maaf, Umi." Mohon ku merasa bersalah.


Hati orang tua memang seperti ini, mereka lembut dan rapuh. Kesalahan yang kami lakukan bagi mereka adalah kesalahannya.


"Sudah, tidak perlu meminta maaf lagi. Lagipula beberapa hari lagi kau akan menikah jadi tidak menarik rasanya melihat calon mempelai wanita bersedih sebelum hari pernikahannya."


Menikah?


"Menikah.. maksud Umi siapa yang akan menikah?" Apa lamaran Gio saat itu diterima oleh Umi dan Abi?

__ADS_1


"Tentu saja kamu, Nak memangnya siapa lagi selain kamu di sini." Ucap Umi dengan senyumannya yang terasa lebih lembut dan nyaman.


"Tapi bukankah Saqila di bawa ke pondok pesantren Abu Hurairah?"


Author POV


Mengeratkan genggaman tangannya pada telapak tangan Annisa yang terasa hangat dan lembut, "Bukankah yang menikah adalah Annisa jadi apa hubungannya dengan Saqila, Nak?" Tanya Umi merasa lucu pada keluguan putri pertamanya yang masih terlihat linglung.


"Tidak, maksud Annisa adalah Saqila pergi ke pondok pesantren untuk berobat lalu mengapa kalian menerima lamaran Mas Gio untuk ku?. Apakah kalian tidak pernah berpikir jika Saqila akan semakin marah mengetahui semua ini?" Tanyanya terdengar khawatir bercampur gelisah.


"Saqila sudah tahu semuanya, Nak, dan memang betul jika ia begitu marah saat mendengar Abi menerima lamaran Gio. Kenapa kami menerima lamarannya di saat Saqila di bawa pergi? Itu karena kami tahu bahwa sia-sia menolak lamaran Gio dan membuat hati Saqila puas..puas hanya untuk sementara karena setelahnya ia pasti akan berulah lagi. Adapun pertimbangan yang lain kami juga sadar bahwa kamu patut menemukan kebahagiaan mu. Kamu patut merasakan kebahagiaan yang kamu inginkan dan kami tidak berhak untuk menghalanginya. Annisa, Umi dan Abi ridho, Nak, kamu menikah dengan Gio. Kami ridho, Nak..hiks.." Berat rasanya melepaskan putrinya untuk menjemput kebahagiaan putrinya impikan. Akan tetapi sekali lagi mereka sudah tidak punya hak untuk menghalanginya untuk meraih kebahagiaan itu karena putrinya ini sudah lama menderita karena mereka. Maka biarlah.. biarlah ia menjemput kebahagiaan itu asal laki-laki yang akan bersamanya adalah laki-laki yang diridhoi oleh Allah SWT.


Menggeleng pelan, "Annisa.. Annisa tidak mau Umi, Annisa masih belum membahagiakan kalian maka..maka biarkan Annisa menun-"


"Kebahagiaan kami adalah melihat putri yang kami besarkan dengan kasih sayang bahagia bersama mimpinya. Nak, jangan pernah berpikir untuk menunda kebahagiaan mu ini hanya karena kau belum membahagiakan kami. Ketahuilah, Nak, bahwa melihat mu tersenyum di atas pelaminan sana tanpa penyesalan adalah keinginan terbesar kami. Mengirim mu kepada laki-laki yang Allah ridhoi adalah keinginan terbesar kami dan melihat mu hidup berbahagia bersama imam mu adalah keinginan terbesar kami, maka Annisa tolong wujudkan keinginan terbesar kami ini dengan Gio. Kami sudah tua dan tidak punya daya lagi untuk menunggu lebih lama lagi, Annisa apakah kamu mendengar Umi, Nak?"


Orang tua mana yang tidak bahagia melihat anaknya menikah dengan laki-laki sesempurna Gio?


Bahkan dari segi agama pun itu sudah pasti dan dari segi ekonomi pun tidak diragukan lagi. Jadi orang tua mana yang tidak bahagia melihat anaknya hidup bersama dengan laki-laki yang sesempurna Gio?


Umi dan Abi tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama sehingga mereka memilih menyetujui Annisa dengan Gio. Karena selain mampu secara agama dan ekonomi, Gio juga sudah menaruh hati pada putri mereka sejak dulu. Jadi mengapa harus ragu melepaskannya?


"Umi..hiks.. Annisa..hiks.." Tersedak oleh tangisannya, Annisa tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya. Ia bahagia juga sedih karena harus meninggalkan orang tuanya. Impian terbesarnya untuk menikah dengan laki-laki yang ia cintai akhirnya Allah kabulkan setelah masa-masa yang sulit.


Akan tetapi tetap saja..ia masih belum sanggup meninggalkan kedua orang tuanya. Ia rasanya tidak bisa meninggalkan mereka berbeda dengan satu tahun yang lalu ketika ia harus dengan paksa menikah dengan Mas Dimas.


"Nak," Mengelus lembut puncak kepala Annisa.


"Jangan khawatir dan berpikir bahwa kau pergi meninggalkan kami. Tidak, itu tidak, Nak, karena faktanya kau masih bisa datang ke rumah ini bahkan tinggal bersama suami mu kelak juga kau masih bisa. Kami tidak akan merasa kesepian, Nak, karena kau masih bisa pulang. Lagipula.. lagipula masih ada Safira dan Saqila yang akan menemani Umi dan Abi jadi kau tidak perlu khawatir. Adapun setelah kalian menikah nanti kalian juga akan menambah anggota rumah ini.. memberikan kami keturunan yang sholeh dan sholehah, siapa yang tidak bahagia, Nak?" Seakan membaca pikiran Annisa, Umi menguraikan benang kusut tersebut dengan sekali tarikan. Mencoba membuka pikiran Annisa agar tidak kusut lagi.


Sesungguhnya apa yang Umi katakan adalah mimpinya. Ia punya mimpi bahwa anak-anaknya kelak akan menikah dengan laki-laki yang mereka cintai. Hidup berbahagia dan melahirkan keturunan-keturunan yang sholeh dan sholehah yang menyenangkan mata dan hati mereka.


Lalu, rumah yang biasanya ramai hanya karena lima anggota ini akan ramai dengan anggota yang baru dan ribut. Membuat suasana rumah lebih ceria dan harmonis, Umi sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba.


"Tapi tetap saja hiks.. Annisa merasa sulit meninggalkan kalian.." Gumam Annisa masih dengan suasana hati yang gelisah.


Cklak


Mengalihkan pandangan mereka, sudah ia dapati kepala Abi yang mengintip ingin masuk ke dalam kamar Annisa.


"Abi?" Suara Annisa spontan memanggil Abi, memberikan isyarat agar Abi masuk ke dalam kamarnya untuk bergabung bersama mereka berdua.


"Apakah Abi menganggu obrolan kalian berdua?" Tanyanya terdengar lembut dan hati-hati.


Menggeleng pelan, Annisa dengan senyuman lembut menjawab pertanyaan Abi. Memperlihatkan wajah cantik yang pucat dan basah akan air mata yang masih hangat.


"Mas masuk aja." Suara Umi mempersilakan seraya bangun dari duduknya dan mempersilakan Abi untuk duduk di tempat duduknya. Ia lalu dengan gerakan alami naik ke atas ranjang Annisa, duduk dengan nyaman dan terbiasa.


"Hei, kenapa putri Abi yang cantik dan manis menangis? Apakah ada sesuatu yang telah terjadi?"


"Abi, Annisa sudah besar dan bukan anak kecil lagi." Peringat Annisa karena merasa lucu dengan panggilan Abi yang begitu imut kepadanya.


Ini adalah panggilan Abi ketika ia masih kecil dan lugu.


"Baiklah, Abi tidak akan menggoda orang yang merasa sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi." Suara Abi mengalah.


"Annisa memang sudah dewasa." Ingat Annisa lagi yang kemudian membuat Abi dan Umi tersenyum lucu.


"Okay, orang yang dewasa jadi apa yang membuat mu menangis?" Tanya Abi masih menggoda Annisa.


Menggelengkan kepalanya, Annisa dengan tersenyum kecil memperbaiki duduknya yang lebih nyaman.


"Annisa akan menikah.." Suara Annisa memulai obrolan serius. Walaupun ia tahu jika Abi sangat tahu tapi tetap saja ia memberitahunya.


"Benar, Annisa akan segera menikah." Ucap Abi membenarkan ucapan Annisa dengan serius pula.


"Tapi..tapi Annisa masih belum siap." Suaranya memberi tahu. Bukan tidak siap menikah tapi lebih kepada tidak siap meninggalkan kedua orang tuanya.


Menganggukkan kepalanya, Abi tahu jika putrinya sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa kau masih belum siap, Nak?" Tanya Abi ingin tahu agar jelas intinya.


Menundukkan kepalanya, Annisa sebenarnya malu membahas hal seperti ini dengan Abinya.


"Annisa masih belum siap meninggalkan kalian semua.. Annisa pikir tinggal lebih lama bersama kalian tidak apa-apa." Jelas Annisa menyampaikan suara hatinya.


Mengangguk pelan, Abi dengan gerakan pelan mengambil handphone pintar yang terselip di dalam kantong bajunya. Mengotak-atik sebentar, akhirnya suara telepon tersambung bergema di telinga Annisa.


"Hallo, assalamualaikum Gio?" Suara Abi memulai obrolan pada orang yang ada di seberang sana.


Deg


Annisa dengan panik merekat selimut hangat yang menutupi sebagian tubuhnya.


Mengapa..mengapa Abinya menghubungi Gio daripada langsung menjawab kegelisahannya.


Tertawa kecil, "Sekarang mungkin kau akan mengerti." Ucap Umi lembut seraya mengelus puncak kepala Annisa.


"Waalaikumussalam, iya Abi, ini Gio." Suaranya yang berat dan meneduhkan bergema di dalam kamar Annisa. Membuat hati Annisa yang sempat gelisah kini dilanda suara gedebuk-debuk yang berulang-ulang.


Menundukkan kepalanya, ia mencoba menyembunyikan rona wajahnya yang Annisa yakini pasti sangat jelas dan terasa begitu panas.


Sejenak, tidak ada suara apapun yang muncul dari seberang sana.


"Gio, apa kau masih di sana?" Tanya Abi sedikit khawatir takut orang yang ada di seberang sana kenapa-napa.


"Iya Abi, Gio masih di sini." Suara Gio akhirnya terdengar lebih tenang dari biasanya.


"Abi, apapun alasan Annisa untuk menolak Gio itu tidak bisa berlaku lagi karena lamaran Gio ke Annisa merupakan janji Annisa kepada Gio."


Mendengar ini tangan Abi tanpa sadar mengelus dadanya, "Adapun mengapa Annisa menolak menikah dengan Gio bolehkah Abi menjelaskannya?" Suara tenang dan tegas Gio meminta penjelasan.


Mengikuti keluhan Annisa, "Annisa masih belum sanggup meninggalkan kami sebagai kedua orang tuanya dan ingin tinggal lebih lama lagi." Jelas Abi singkat yang langsung dimengerti oleh Gio.


"Oh..jadi seperti itu. Abi, tolong katakan kepada Annisa bahwa bahkan setelah dia menikah dengan Gio, aku tidak akan pernah menghalanginya untuk datang dan tinggal bersama Umi dan Abi lagi. Setelah menikah kita semua adalah keluarga jadi mengapa aku harus membatasi istri ku untuk bertemu dengan orang tuanya yang telah berjasa besar melahirkan dan membesarkan ia untuk ku? Aku ridho dan ikhlas jika ia datang berkunjung dan tinggal di sana asalkan ia pergi melalui izin ku sebagai suaminya nanti. Abi, tolong sampaikan apa yang ku katakan ini kepada Annisa." Jelas Gio yang semakin membuat wajahnya terasa panas. Bahkan detak jantungnya pun begitu cepat dan besar, bergema dengan kuat di dalam tubuhnya.


"Akan ku sampaikan, kalau begitu aku akan menutupnya." Ucap Abi berjanji padahal itu hanya omongan semunya saja.


"Terimakasih Abi, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Tutup Gio memberikan salam.


"Waalaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh." Ucap Abi membalas salam yang diikuti oleh Umi dan Annisa.


"Kau mendengarnya, bukan?" Suara Abi lagi memulai obrolan.


"Dengar, Abi." Ucap Annisa dengan wajah tersipu.


Menghela nafas, "Annisa, calon suaminya tidak akan melarang mu jika kau ingin berkunjung atau menginap di sini selama kau meminta izinnya. Lagipula kami juga sebagai orang tua ingin melihat mu hidup bahagia dan melahirkan cucu yang hebat yang sholeh juga sholeha. Bagi kami tidak ada yang lebih besar kebahagiaannya daripada masalah ini. Melihat kau tersenyum bahagia di atas pelaminan bersama orang yang kau cintai dan hidup damai serta harmonis dengannya. Kami akan merasa damai ketika melihat itu semua. Apalagi satu tahun yang lalu pernikahan mu sempat gagal dan kau telah hidup menderita selama satu ini, kami tidak punya alasan lagi untuk menghalangi kebahagiaan mu. Kami ridho, Nak." Ucap Abi dengan suaranya yang meneduhkan.


Abi selalu dihantui dengan rasa penyesalan saat mengingat betapa menderitanya Annisa. Maka wajar saja ia mengambil langkah ini untuk memberikan Annisa kesempatan meraih kebahagiaannya, ia dan Umi tidak akan menghalangi jalan yang telah Allah tuliskan untuk putri mereka.


"Annisa, mengerti Abi." Ucap Annisa dengan lembut. Ia memang ragu meninggalkan orang-orang tersayangnya ini tapi ia juga tahu bahwa sekuat apapun ia ragu itu datangnya dari syeitan. Akan tetapi ia juga tidak mau menampik bahwa Gio adalah orang yang selama ini mencuri hatinya, maka apakah ia harus menolak ketika dia yang selalu ia langitkan saat malam-malam yang panjang datang meminangnya?


Annisa pikir, tidak karena sudah saatnya ia bahagia bersama orang yang ia cintai dan diridhoi oleh Allah SWT. Ia juga ingin melahirkan cucu-cucu yang sholeh dan sholeha untuk kedua orang tuanya. Orang tua kandungnya ataupun orang tua Gio, mereka adalah orang yang paling penting bagi Annisa.


Jadi, untuk mewujudkan impian terbesar kedua orang tuanya ia akan menikah dengan Mas Gio. Hidup berbahagia dan harmonis bersama imam yang Allah ciptakan untuknya.


Ya Allah, Annisa tidak akan ragu lagi dengan garis yang telah kau tuliskan untuk hamba yang lemah ini.


\*\*\*


"Berdiri yang benar, Annisa!" Keluh Puspa yang sedari tadi fokus mengukur tubuh Annisa.


Tersenyum malu, "Aku sudah berusaha berdiri dengan benar." Bantahnya karena memang sedari tadi ia sudah bersikap baik saat di ukur oleh Puspa dan Mbak Yana.


"Maka berhentilah menggerakkan kaki mu." Pinta Mbak Yana menahan tawa. Ia tahu jika Annisa sedang gugup karena lima hari lagi ia akan melakukan ijab kabul.


"Aku akan berusaha." Jawab Annisa berusaha mengontrol kegugupannya.


Hari ini adalah lima hari menjelang hari besarnya. Semua kesalah pahaman yang terjadi di masa lalu telah ia selesaikan sejak ia siuman dari pingsannya. Di mulai dari kedua orang tuanya, lalu dengan Puspa dan terakhir dengan semua keluarganya yang kini sedang sibuk merancang pernikahannya.


Hari-hari terasa damai rasanya, tapi itu tidak sedamai yang Annisa harapkan karena ia masih mencari waktu dan menunggu waktu yang tepat untuk menghubungi Saqila.


Berbicara seperti biasanya, ia berharap hari itu kembali lagi dan Saqila mau memaafkan kesalahannya yang dulu.


Karena sebesar apapun kesalahan yang terjadi dan sesakit apapun penderitaan yang Annisa alami, itu hanya masa lalu. Itu akan segera Annisa lupakan dengan hidupnya yang baru.


"Kak Annisa melamun lagi." Suara Safira yang sedari tadi hanya menonton kehebohan yang diciptakan oleh Puspa dan Mbak Yana.


"Dia lebih baik melamun daripada sadar karena akan mengacaukan ukuran yang kami buat. Lagipula Safira, apakah kau tidak berniat membantu kami mengukur kakak mu yang akan segera berbahagia ini?" Tanya Puspa terlihat begitu kewalahan menghadapi Annisa yang begitu gugup.


Mengangkat bahu acuh, ia dengan santai memasukkan makanan ringan ke dalam mulut kecilnya. "Ah..aku tidak mengerti masalah mengukur atau apalah itu yang berurusan dengan pakaian. Jadi lebih baik aku tidak ikut campur atau aku akan membuatnya semakin kacau." Ini adalah kebenaran karena ia memang tidak mengerti mengenai hal-hal seperti ini. Jadi lebih baik membiarkannya tidak ikut campur sama sekali daripada membiarkannya ikut campur namun sebenarnya ia malah mengacaukannya.


Mengangkat alisnya, "Jangan berbohong, aku tahu jika kau bisa melakukannya. Apalagi kau juga pernah dibawa oleh Mbak Yana keluar kota, urusan apa yang kau kerjakan selain membantu Mbak Yana mengurus butiknya." Puspa masih ingat beberapa bulan yang lalu Mbak Yana membawa Safira keluar kota, jika dipikir lagi itu pasti urusan butik.


Menganggukkan kepalanya, "Aku memang membantu Mbak Yana keluar kota untuk mengurus butiknya, tapi itu bukan berarti aku membantunya menjahit atau apa di sana yang berbau dengan pakaian." Ucap Safira setengah membenarkan.


"Lalu, urusan apa yang kau lakukan di sana?"


Memasukkan makanannya lagi, "Aku mengurus perselisihan yang terjadi antara butik milik Mbak Yana dan butik orang lain. Butik itu mengambil pakaian yang sudah butik Mbak Yana jahit dan mengatakan bahwa itu adalah hasil karya mereka. Jadi, aku di sana membantu jalan keluarnya. Melewati musyarawah atau justru melewati hukum Indonesia. Hal itu aku serahkan kepada mereka berdua selaku yang bertikai, jika kau tidak percaya maka bertanyalah kepada Mbak Yana yang menjadi klien abal-abal ku."


Terkejut, Annisa dan Puspa tanpa sadar mengalihkan perhatian mereka kepada Mbak Yana yang sedang sibuk menggambar gaun pernikahan Annisa.


"Hem, dia memang kuasa hukum abal-abal ku." Ucap Mbak Yana terlihat tidak begitu perduli dan masih sibuk pada kegiatannya untuk menggambar.


"Kau-"


"Jangan memuji ku, aku tahu aku ini hebat tapi jangan memuji ku dulu." Potong Safira jahil yang mana langsung direspon gerakan jengkel oleh Puspa.


"Dia benar-benar narsis." Gumam Puspa tidak habis pikir seraya menggulung tali ukur ke tempatnya semula.


"Apakah sudah selesai?" Tiba-tiba suara Umi masuk ke dalam pendengaran mereka semua.


Mengalihkan pandangannya menatap Umi yang sedang berjalan ke arah mereka semua, "Sudah selesai, buk'de." Jawab Mbak Yana sopan yang langsung diangguki cepat oleh Umi.


"Bagus." Ucap Umi seraya menarik Annisa mengikuti langkah antusiasnya.


"Ayo ikut Umi."


"Kemana Umi?" Ini bukan suara Annisa, tapi ini adalah suara Safira yang dengan cepat berdiri mengikuti langkah Uminya.


"Memilih hena yang cocok untuk pernikahannya." Jawab Umi singkat. Mendengar ini bukan hanya Safira yang antusias namun Puspa juga bergerak cepat. Menyamakan langkahnya dengan Safira, ia juga penasaran dengan warna hena yang calon pengantin wanita inginkan.

__ADS_1


"Kenapa kau mengikuti, ku?" Tanya Safira besar kepala.


Memutar bola matanya malas, "Aku jelas mengikuti Annisa."


"Sudah, jangan ribut." Lerai Umi tidak terganggu sama sekali dengan perselisihan kecil Puspa dan Safira.


"Umi, bukankah hena yang akan Annisa gunakan akan disesuaikan dengan warna baju pengantinnya?" Tanya Safira penasaran karena biasanya semua itu sudah di atur sejak baju pengantin tersebut di rancang.


"Benar, Buk'de." Ikut Puspa menyetujui pertanyaan Safira.


Tersenyum lembut, "Memang zaman sekarang dan yang kalian lihat diluar sana seperti itu. Tapi tradisi keluarga kita berbeda, apalagi jika pasangan pengantin adalah pasangan yang saling mencintai maka warna hena harus dijatuhkan pada pilihan mempelai laki-laki." Jelas Umi yang membuat mereka berdua langsung ber'oh ria, baru tahu jika keluarga mereka seperti ini.


Masih bingung, "Tapi Buk'de, kenapa saat pernikahan pertama Annisa ia tidak melakukan hal itu?" Tanya Puspa bingung. Saat pernikahan pertamanya dengan Dimas mengapa Annisa tidak meminta Dimas untuk memilih warna henanya, jangankan memilih menggunakan saja Annisa tidak pada saat itu.


"Itu karena Annisa menolak untuk menggunakan hena pada saat itu." Ucap Umi kini semakin membuat Puspa dan Safira penasaran.


"Kenapa Kak Annisa tidak menggunakan hena?" Tanya Safira tidak sabar.


Menundukkan kepalanya, ada semburat merah yang mewarnai wajah cantiknya."Itu karena keluarga kita meminta mempelai laki-laki memilih warna hena ketika mempelai wanita dan laki-laki sudah saling mencintai. Dan..dan pada saat itu tidak..jadi..jadi.." Annisa tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena ia sangat malu. Bahkan jantungnya sudah berdebar keras sejak Umi mengatakan ia harus memilih warna hena. Ah, tidak.. lebih tepatnya bahwa yang memilih warna hena adalah mempelai laki-lakinya.


"Ah, jadi Kakak memilih hena karena sekarang kakak mencintai calon mempelai laki-laki. Hem...aku mengerti." Perjelas Safira semakin membuat Annisa tersipu.


"Yah, seperti itu." Gumam Annisa merasa melayang.


"Annisa, ayo kemari." Panggil Bibi Arum yang sudah berdiri di antara berbagai macam warna hena.


"Perhatikan baik-baik dan katakan kepada calon mempelai laki-laki beberapa warna yang menarik perhatian mu lalu biarkan ia menentukan warna apa yang akan kau pilih." Ucap Bibi Arum menjelaskan langkah-langkah yang akan Annisa lakukan.


Mengedarkan pandangannya, Annisa sudah dapati beberapa macam warna yang menarik perhatiannya. Warna yang tidak terlalu terang maupun tidak terlalu pekat, Annisa sudah memasukkannya ke dalam ingatannya.


"Lalu hubungi Gio." Ucap Umi seraya menyerahkan telpon rumah kepada Annisa.


Merasa malu, Annisa dengan wajah tersipu mengambil alih telepon rumah tersebut dari tangan Uminya.


Menekan beberapa digit nomor, sambungan telpon pun langsung bergema di dalam telinga Annisa.


"Assalamualaikum Mas Gio, ini Annisa." Suara Annisa lembut ketika orang yang ada diseberang sana mengangkat telponnya.


"Waalaikumussalam Annisa, ini Gio." Suara Gio terdengar lembut nan meneduhkan. Membuat Annisa sejenak dapat merasakan angin musim semi yang menyejukkan dan penuh romansa.


"Mas Gio.. harus memilih warna untuk hena yang akan Annisa gunakan besok." Suara Annisa berbisik memberi tahu.


Orang yang ada diseberang sana tersenyum lembut, sejenak membayangkan Annisa dengan gaun pengantinnya dan hena yang terukir indah di tangannya yang putih, mulus dan cantik.


"Maka katakan warna apa saja yang sudah menarik perhatian Annisa." Gio tahu jika kebiasaan keluarga Annisa adalah memberikan pihak mempelai laki-laki kesempatan untuk memilih warna hena yang akan digunakan oleh mempelai wanita.


Ah, betapa manisnya.


Menundukkan kepalanya, Annisa merasa seakan-akan Gio sekarang sedang ada di depannya. Berdiri dan memandangnya melalui celah tinggi mereka yang begitu menonjol.


"Warna yang menarik perhatian Annisa adalah warna hitam dari Nabawi, warna putih dari Arab, warna jingga dari India, warna coklat dari Mekkah, warna coklat dari Nabawi dan warna emas dari Pakistan. Mas Gio.. warna apa yang Mas Gio ingin Annisa pakai?"


Menetralkan suara detak jantungnya, Gio berusaha terdengar setenang mungkin saat menghadapi gadis pujaannya ini. Beruntung Annisa ada di seberang sana karena jika tidak, Gio tidak tahu pendapat Annisa ketika melihatnya yang terlihat konyol seperti ini.


Menetralkan detak jantungnya, Gio dengan penuh kehati-hatian membayangkan Annisa menggunakan warna-warna hena itu. Membayangkan warna yang paling menarik untuk istrinya-ah, maksudnya untuk calon istrinya besok.


"Aku pikir warna yang cocok untuk mu adalah warna coklat dari Mekkah. Itu adalah ku untuk mu." Jawab Gio akhirnya setelah berpikir lama dan membayangkan Annisa menggunakan warna itu.


Tersenyum puas, Annisa juga pada awalnya ingin memilih warna ini untuk besok jika ia diizinkan memilih. Tapi setelah mendengar hasil yang Gio berikan entah mengapa jantung Annisa semakin berdebar-debar.


"Em, Annisa akan menggunakannya, kalau begitu telepon Annisa tutup yah, Mas, assalamualai-" Ucap Annisa tersipu ingin mengakhiri obrolan mereka.


"Annisa tunggu," Suara Gio berhasil memotong ucapannya.


Mengeratkan genggaman tangannya pada telepon rumah, "Iya, Mas?" Tanya Annisa tidak bisa lagi merasakan pijakannya.


Tersenyum manis penuh rindu, "Mas sudah tidak sabar melihat mu pada hari itu." Bisik Gio dengan nada penuh rayuan, menghasut Annisa untuk masuk ke dalam penjara hatinya yang berkabut rindu.


Meraba jantungnya yang berdebar keras, "Hem, Annisa juga sudah tidak sabar melihat Mas pada hari itu." Gumam Annisa lebih kepada berbisik namun masih bisa di dengar dengan jelas oleh Gio.


"Kalau begitu sampai jumpa Annisa, assalamualaikum."


"Sampai jumpa Mas, waalaikumussalam." Ucap Annisa membalas salam manis dari Gio.


Menurunkan telepon tersebut, Annisa dengan tatapan rindu menatap telepon tersebut. Seakan-akan obrolan tadi hanya sebuah ilusi untuknya, ia masih belum bisa mempercayai jika dia dan Gio akan segera disatukan dalam pernikahan.


"Uhuk..uhuk...puyeng aku sama ini virus, uhuk..uhuk.." Batuk Safira jahil membuat Annisa langsung terkejut dan dengan cepat menempatkan kembali telpon tersebut ke tempatnya.


"Huh, usil kamu, Nak." Tegur Umi tidak tahan melihat Annisa semakin kaku jika di goda terus.


"Jadi warna yang dia pilih apa?" Tanya Bibi Rumi meminta hasil dari obrolan sembunyi-sembunyi mereka.


Menetralkan debaran jantungnya, "Itu warna coklat dari Mekkah, Mas Gio memilih itu untuk Annisa gunakan." Jawab Annisa tersipu.


"Apakah aku akan seperti Kak Annisa ketika dihadapkan pada kondisi yang sama?" Gumam Safira ingin tahu.


Memutar bola matanya, "Seperti Annisa? Apa kau sehat ketika memikirkan hal ini?" Suara tidak habis pikir Puspa membuyarkan lamunan Safira akan masa depannya yang masih belum pasti.


"Diam, aku tidak pernah meminta pendapat mu." Ucap Safira kesal.


"Aku hanya mengingatkan mu." Bisik Puspa berniat baik. Karena hei, Safira itu terlalu kejam untuk ukuran seorang perempuan.


"Baiklah, maka sudah dipastikan kau akan menggunakan hena warna coklat dari Mekkah. Kau akan segera diberikan hena dua hari menjelang pernikahan mu, oh aku lupa mengatakan ini apakah kau sudah bertanya kepada Gio tentang menggunakan cadar atau tidak disaat hari pernikahan mu?"


Tertegun, Annisa dengan gugup menggelengkan kepalanya. "Aku tidak menanyakannya." Jawab Annisa jujur.


Mengangguk maklum, Bibi Arum juga mengerti jika Annisa menghubungi Gio lagi maka situasinya mungkin akan sedikit canggung.


"Baiklah, kau tidak perlu menggunakan cadar karena kamu memang tidak menggunakan cadar alam kehidupan sehari-hari. Kalau begitu kau bisa beristirahat atau melakukan persiapan yang dibutuhkan saat pernikahan mu." Ucap Bibi Arum yang kemudian langsung diangguki patuh oleh Annisa.


\*\*\*


Tiga malam menjelang pernikahan, Annisa hanya bisa diam dan tidak melakukan di dalam kamar. Kata Umi ia adalah calon pengantin perempuan dan tidak wajar melihat calon pengantin sibuk di saat waktu pernikahannya sudah sangat dekat.


Annisa tidak membantah dan dengan patuh diam di dalam kamar karena ia pun sudah pernah mengalaminya walaupun ia tetap saja akan merasa bosan.


Terkadang Puspa, Kayla dan Safira menemaninya berbincang-bincang. Akan tetapi tetap saja itu masih kurang karena ia butuh aktivitas, bahkan Nanda dan Mira tidak pernah menghubunginya seakan mereka sudah ditelan bumi. Ah, Annisa begitu merindukan mereka berdua.


Dert..


Handphone yang sudah lama ia abaikan mengganggu lamunan Annisa, mengalihkan pandangannya ia dapati no. yang tidak terdaftar dalam kontaknya.


Merasa ragu, Annisa dengan hati-hati mengangkat telpon tersebut dan berharap bahwa sang penelepon adalah dari seseorang yang ia kenal.


"Hallo, assalamualaikum?" Suara Annisa ketika mengangkat telepon tersebut.


Hening.


Tidak ada sahutan dari sang penelpon.


"Hallo-"


"Kak Annisa,"


Deg


Annisa tanpa sadar mengeratkan pegangannya pada handphone pintar yang ada di telinganya.


"Saqila?" Suara Annisa gugup juga takut.


"Iya Kak, ini Saqila." Suara Saqila yang ada diseberang sana mengiyakan pertanyaan Annisa.


Hening.


Annisa tidak tahu harus memulai obrolan darimana karena situasi mereka sudah berbeda, tidak seperti dulu saat semuanya terlihat baik-baik saja.


"Aku minta maaf," Saqila memulai obrolan.


"Saqila, apa yang kamu bicarakan, Dek?"


"Jangan berpura-pura seolah tak ada yang pernah terjadi, Kak Annisa, Saqila minta maaf untuk semua yang pernah Saqila lakukan. Maaf..dan selamat menempuh hidup baru dengan Mas Gio."


"Saqila, tidak..tidak, orang yang paling bersalah sebenarnya di sini adalah Kakak dan bukan kamu. Adapun pernikahan Kakak dengan Mas Gio jika kamu tidak setuju maka Kakak akan mem-"


"Aku akan melupakannya." Potong Saqila berjuang kuat di seberang sana.


"Tinggal di sini dan menjalankan pengobatan membuat ku perlahan sadar bahwa aku tidak bisa memaksakan takdir yang Allah tulis. Semuanya sudah ada di dalam skenarionya jadi untuk merebut kembali Mas Gio dari Kakak adalah pikiran terlarang dan tidak masuk akal yang pernah aku lakukan. Kak Annisa, aku minta maaf karena telah mempermainkan hidup mu juga untuk semua kejahatan yang telah aku lakukan. Kak Annisa aku minta maaf dan aku sungguh rela dan ridho melihat mu bersama dengan Mas Gio. Saqila ikhlas ya Allah.." Bisik Saqila berusaha menahan isak tangisnya.


"Saqila..Kakak minta maaf, Dek.."


"Berhenti meminta maaf karena kita sama-sama tahu bahwa aku adalah pengacau dalam kehidupan mu. Dan juga tolong jangan mengatakan maaf lagi karena dengan begitu aku akan selalu tahu bahwa betapa hinanya diriku selama ini-


"Saqila cukup, Dek-"


"Untuk malam pernikahan Kakak, aku minta maaf karena tidak bisa datang. Aku berdoa semoga Allah meridhoi pernikahan kalian dan memberikan kalian amanah anak-anak yang sholeh serta sholeha seperti Kak Annisa dan Mas Gio." Potong Saqila berdoa.


"Aamiin Allahumma Aamin ya Allah..hiks.."


"Kak Annisa selamat malam dan selamat menempuh hidup baru."


Tud


Tud


Tud


Saqila menutup sambungan mereka dengan satu nafas. Mengatur nafasnya yang memburu menahan tangis, ia mengelus dadanya yang terasa sesak dengan gerakan terburu-buru.


Lupakan Saqila, sudah saatnya memulai hidup baru.


Di lain tempat, setelah Saqila mematikan sambungan mereka, Annisa dengan isak tangisnya memeluk handphone pintar yang tadi ia gunakan untuk berbicara dengan Saqila.


"Ya Allah, mudahkanlah langkah Saqila saat berjalan kembali kepada-Mu. Lindungilah ia dalam lindungan-Mu dan pertemukan ia dengan laki-laki yang telah Kau tuliskan dalam garis takdir-Mu.."


"Aamiin Allahumma Aamin ya Allah.."


Bersambung...


Kyaaa..besok episode terakhir yah dan emak akan disibukan lagi dengan buku yang baru. Fiuh..gak terasa akhirnya buku ini tamat juga.


Hati-hati dengan part ini, sangat membosankan!

__ADS_1


__ADS_2