Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Season II: Part 20


__ADS_3

"Safira, jangan tidur siang dulu. Bentar lagi mau masuk waktu sholat asar-"


"Aku gak lagi tidur." Potong Safira dingin. Bangun dari tidurnya, Safira lalu mendudukkan dirinya di atas ranjang.


Mira sedikit terkejut dengan perubahan sikap Safira yang mendadak, tidak biasanya Safira sedingin ini kepada Mira.


"Kirain kamu tidur siang, habisnya waktu aku masuk tadi salam aku kok gak kamu jawab?" Setelah menyelesaikan urusan dengan Mamanya, Mira lantas tidak ingin berlama-lama dan langsung kembali ke kamar mereka. Niatnya, Mira ingin membicarakan perihal perintah Mamanya kepada Safira akan tetapi ketika ia melihat sikap dingin Safira, Mira pikir pembicaraan ini harus ditunda dulu.


Mira tidak mengatakan apapun dengan masalah itu dan langsung melemparkan buku harian Mira ke atas lantai dengan acuh. Melihat buku hariannya diperlakukan buruk, tiba-tiba Mira mempunyai firasat yang buruk tentang ini. Ia bertanya-tanya apakah mungkin Safira sudah membaca yang ia tulis di sana?


Memungut bukunya, Mira kemudian mendudukkan dirinya di atas ranjangnya dan memposisikan dirinya menghadap Safira yang kini sedang menatapnya datar, terlihat tidak perduli. Mira takut dengan tatapan ini karena setahunya Safira hanya menggunakan tatapan tidak suka ini kepada orang yang bermasalah dengannya. Saat itu Reina, Safira bahkan tidak mengerjapkan matanya ketika berhadapan dengan Reina.


"Safira, kenapa kamu membuang buku ku?" Meskipun panik, Mira berusaha menjaga ketenangan di depan Safira. Ia yakin jika Safira dalam suasana hati yang buruk karena masalah lain, yah..ia terus mengatakan ini di dalam hatinya walaupun Mira tahu bahwa kata-kata ini hanya untuk menipu dirinya sendiri.


Mendengar pertanyaan konyol Mira, sudut bibir Safira kemudian bergerak miring. Merespon Mira dengan senyuman sinisnya yang sangat memuakkan. Safira sungguh muak dengan sandiwara Mira selama ini.


Sahabat?


Hah, jangan membuatnya ingin tertawa karena orang normal mana pun tahu jika Mira dekat dengannya hanya karena ada maunya. Ia sama seperti sampah di luar sana, memuakkan dan sangat menggangu.


"Kenapa aku membuang buku mu?" Safira bertanya dengan nada mengejek, tidak menutupi sama sekali akan ketidaksenangannya terhadap Mira.


"Mengapa kamu tidak menanyakan pertanyaan itu langsung kepada dirimu sendiri, Mira, kenapa aku membuang buku mu ke lantai?"


Ah, terjawab sudah. Safira pasti sudah membaca bukunya tadi. Jika tidak, lalu mengapa ia semarah ini kepadanya?


Menghela nafas panjang, Mira menaruh bukunya di atas ranjang dan setelah itu ia memperbaiki posisi duduknya senyaman mungkin. Menyatukan kedua tangannya yang gemetaran, Mira mencoba meyakinkan dirinya untuk menjelaskan semua ini kepada Safira. Ia tidak ingin Safira marah atau menjauhinya karena jauh dari dalam hatinya Safira adalah keluarganya.


"Safira, aku pikir kamu salah paham." Suaranya ingin menjelaskan.


Mengangkat salah satu alisnya, Safira tentu saja tidak terima pemahamannya di sepelekan oleh Mira karena siapapun pasti tahu betapa cerdasnya ia di sini.


"Apa kamu pikir aku bodoh? Jelas-jelas di buku itu kamu menulis bahwa kamu sedang jatuh cinta dengan Aldo." Ucap Safira dingin, kedua matanya bahkan menatap sinis wajah pucat Mira yang terlihat seperti kekurangan darah.


"Ya, kamu benar jika aku menulis itu-"


"Dan sekarang kamu sudah mengakuinya." Potongnya muak. Hah, hatinya saat ini benar-benar marah dengan pengkhianatan yang Mira lakukan kepadanya. Padahal ia sudah menganggap Mira sahabatnya tapi bukannya bersyukur malah balasan ini yang ia terima?


Sangat memuakkan!


"Mira, bukankah kemarin kamu berjanji untuk tidak menusukku?"


Mira tertegun, pandangannya saat ini tiba-tiba menjadi buram. "Ya, aku sudah berjanji." Jawab Mira merasa bersalah.


Tidak habis pikir, "Lalu mengapa kamu melanggar janji itu? Diam-diam menyukai orang yang aku juga sukai, apakah kamu tahu perbuatan ini bisa saja menghancurkan hubungan ku dengan Aldo. Tidak hanya itu, perbuatan mu ini juga bisa menghancurkan hubungan persahabatan kita berdua dan sebagai orang yang kamu khianati aku tidak akan ragu memutuskan hubungan dengan kamu."


Safira sudah tidak punya kepercayaan lagi dengannya karena toh percuma saja, sekali ia melanggar janji maka janji-janji yang selanjutnya akan bernasib sama. Memutuskan persahabatan bukanlah sesuatu yang sulit karena ketika Saqila seperti ini juga Safira tidak ragu untuk melawannya, jadi Safira sudah terbiasa dengan perbuatan-perbuatan jahat orang-orang terdekatnya.


"Aku..aku sudah memutuskan untuk melupakan Mas Aldo jadi aku mohon Safira, maafkan aku. Kamu tidak boleh memutuskan hubungan persahabatan kita, aku-"


"Jika kesalahan mu tidak sefatal ini mungkin aku akan memaafkan mu tapi sayangnya perbuatan mu sudah sangat menyinggung ku. Hah, pantas saja ketika bertemu Mas Aldo sikap mu menjadi lebih jinak dan malu-malu. Ternyata alasan dibalik itu semua karena kamu juga menyukainya, Mira...percaya atau tidak hari ini kamu sudah berhasil membuat ku membencimu."


Deg


Mira membeku ketika mendengarnya, kata-kata yang sangat menakutkan itu akhirnya Safira keluarkan juga. Mira tidak pernah berpikir jika kesalahannya ini membuat Safira sangat marah kepadanya, tapi meskipun salah bukankah Mira sudah berjanji untuk menjauh dari Aldo?

__ADS_1


Ia bahkan berusaha untuk mendekatkan Safira dan Aldo agar hubungan mereka semakin berjalan baik. Mira melakukannya, mengorbankan perasaannya untuk hubungan persahabatan mereka di samping ia tahu bahwa Safira dan Aldo sudah saling menyukai.


Setelah melakukan semua itu Safira masih saja menganggapnya salah, Mira benar-benar tidak mengerti ini.


"Kamu tidak bisa melakukan itu hiks..." Menahan isakan kuatnya, Mira mencoba untuk meluluhkan hati Safira.


"Meskipun aku menyukai Mas Aldo tapi aku tidak memperjuangkannya dan tidak bersikeras merebut Mas Aldo dari kamu. Aku memilih mengalah untuk persahabatan kita dan aku juga tahu bahwa orang yang disukai Mas Aldo adalah kamu, jadi..jadi tolong jangan katakan kata-kata menakutkan itu lagi. Bagiku kamu adalah keluarga di sini." Mira memohon dengan sedih, mencoba melunakkan hati Safira. Ia tidak ingin kehilangan Safira karena di sini ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Semua orang sudah pergi bersama kebahagiaan mereka.


"Tidak memperjuangkan perasaan mu? Mengalah demi persahabatan kita?" Tertawa terbahak-bahak, Safira benar-benar tidak bisa menahan tawanya yang bebas dan lepas. Mengapa orang ini sangat lucu?


Apa ia pikir jika Safira adalah anak umur 2 tahun yang tidak mengerti apa-apa?


"Maksud mu diam-diam mendekati Mas Aldo, bukan?" Mengibas-ngibaskan tangan kanannya. "Aku tahu itu adalah tujuan mu selama ini. Pura-pura membantu ku agar semakin dekat dengannya namun di saat yang sama mencuri start dariku dan mulai menarik perhatian Mas Aldo. Mira, aku tidak pernah berpikir kamu akan semunafik ini."


"Tidak..aku sungguh tidak pernah berpikir untuk melakukan itu Safira, demi Allah.."


Safira bangun dari duduknya, meraih koper mini yang sudah ia isi dengan semua pakaian-pakaiannya, Safira tidak berminat lagi tinggal bersama Mira.


"Mira, sudah cukup. Jangan bawa nama-nama Allah di sini karena orang munafik tidak akan pernah tahu betapa besarnya konsekuensi yang akan di dapatkan jika membawa nama Allah dalam urusan tercela kalian."


Menyeret kopernya keluar, Safira tidak perduli dengan tangisan memohon dari Mira di belakangnya. Sampai akhirnya ia berencana untuk menjaga jarak dari Mira.


"Mira, jika kamu benar-benar menyesali perbuatan mu, aku harap kamu menebusnya dengan menjaga jarak dari Mas Aldo. Karena dengan begitu setidaknya aku akan memaafkan mu." Mengakhirinya dengan senyum dingin, Safira lalu membuka pintu kamar mereka seraya menyeret koper mininya.


Sambil berjalan menjauh, Safira mengingatkan Mira status hubungan mereka mulai sekarang.


"Karena kita bukan sahabat lagi maka aku harap di masa depan kamu tidak perlu menyapaku ketika kita tidak sengaja bertemu. Bersikaplah seolah-olah kita berdua tidak saling mengenal karena akupun juga akan memperlakukan mu seperti itu. Mira, selamat tinggal." Ucap Safira berpesan, meninggalkan Mira yang hanya bisa terduduk lemah di atas lantai, menangisi nasib persahabatannya dengan Safira yang sudah hancur tidak menyisakan apapun selain kenangan singkat.


Pergi, Safira sudah pergi dan kini Mira sendiri lagi. Mungkin ia harus mempertimbangkan tawaran Mamanya untuk kembali pulang ke rumah. Setidaknya, di sana ia bisa memulai kehidupan baru lagi yang ia harapkan.


🥀🥀🥀


"Dea, aku tahu kamu bukanlah orang yang seperti itu." Begitu keluar dari kantor kedisiplinannya, Dea sudah di sambut dengan wajah-wajah khawatir teman-teman sekamarnya.


Perasaan sakit dan lelah yang sempat membebaninya perlahan mulai berkurang ketika melihat ada banyak orang yang masih perduli dengannya.


Dea tersenyum tipis, menyiratkan jika ia sangat kelelahan dan butuh istirahat. Melihat ekspresi lesu Dea, mereka tidak lagi mengeluarkan suara dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi kepada Dea. Namun, mereka semua dengan pengertian membawa pulang ke asrama mereka.


Di dalam perjalanan kembali ke asrama, mereka semua lebih banyak diam dan sebenarnya cukup bersedih melihat salah satu teman sekamar mereka harus menerima hukuman yang berat dari pihak pondok pesantren. Meskipun mereka tahu Dea dulu bukanlah orang yang baik namun itu berbeda dengan sekarang, apalagi Dea tidak pernah melakukan tindakan kekerasan sehingga membuat mereka tidak yakin tentang berita yang menyebar. Mereka tidak percaya jika teman sekamar mereka dituduh melakukan tindakan kekerasan pada ustadzah Fatimah. Yah, meskipun mereka juga percaya jika ustadzah Fatimah tidak akan menyerang Dea.


Entahlah, mereka hanya perlu menunggu penjelasan dari Dea saja untuk mengklarifikasi semua berita itu.


Sesampainya di kamar, mereka langsung mengunci pintu kamar mereka dan dengan diam-diam duduk melingkari Dea yang sudah terduduk nyaman di atas ranjangnya.


"Maafkan aku teman-teman, aku sudah mengecewakan kalian semua hiks.." Dea tidak tahu kenapa ia tiba-tiba menangis seperti ini karena saat melihat teman-temannya menatap khawatir padanya, rasa sakit dan terluka yang ia rasakan tadi siang kembali lagi.


Ia sakit dan merasa putus asa tentang semua yang terjadi, padahal ia sudah menjelaskannya tapi tidak ada yang mau mendengarkannya. Dea takut, takut jika orang-orang yang mau berteman dengannya menjauhinya lagi. Meninggalkannya dalam keputusasaan yang sangat memuakkan, Dea tidak ingin terjebak dalam fase itu lagi.


Merasakan emosi Dea yang tidak stabil, Ririn kemudian mengambil inisiatif untuk menepuk hangat punggung Dea. Memberikan sebuah hiburan yang singkat namun sarat akan ketenangan. "Dea, apapun yang sudah kamu lakukan entah itu benar atau salah kamu tidak akan pernah marah padamu. Bahkan itu semakin membuat kami semua bersemangat untuk mengubah mu menjadi lebih baik lagi, apakah kamu paham?"


Dea mengangguk dengan ragu-ragu, cukup terkejut dengan respon teman-temannya.


"Jadi, apakah kamu bisa menceritakan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi? Kami tidak berniat menyinggung mu ketika meminta ini karena sebagai orang yang dekat dengan mu, kami tidak ingin mendengarkan isu yang belum tentu benar dari orang lain." Ririn menjelaskan dengan hati-hati, berusaha menjaga perasaan Dea saat ini.


Dea lagi-lagi menganggukkan kepalanya, menghapus air matanya Dea mencoba mempersiapkan dirinya untuk mulai bercerita.

__ADS_1


"Ketika aku menceritakan ini aku mohon kalian jangan mencemooh ku karena apa yang akan ku katakan ini adalah rahasia terbesarku." Dea meminta semua orang untuk tidak mencemoohnya ketika menceritakan masalahnya dengan ustadzah Fatimah, karena biar bagaimanapun sumber dari masalah ini adalah perasaan cemburunya pada ustadzah Fatimah.


"Yakinlah, kami tidak akan mencemooh mu." Menggenggam erat tangan Dea, Masha mencoba meyakinkan Dea tentang mereka semua. Ia merasa lega karena akhirnya Dea mau terbuka untuk semua orang, ini adalah langkah yang baik.


Mengangguk puas dengan jaminan Masha, ia balas menggenggam erat tangan Masha seraya mempersiapkan dirinya memulai cerita.


"Aku akui bahwa aku memang bersalah." Menundukkan kepalanya, ia tidak berani melihat reaksi teman-temannya.


"Aku memang membuat tangan ustadzah Fatimah berdarah tapi sungguh aku tidak sengaja melakukannya. Saat itu ketika sedang memetik sayuran aku tiba-tiba tersadar jika telah berpisah dari kelompok dua, ketika aku menyadarinya aku melihat ustadzah Fatimah dan ustad Aldi sedang asik mengobrol. Mereka terlihat serasi dan cocok pada saat itu, membuat ku merasakan sakit hati karena cemburu." Mengatur nafasnya setenang mungkin, Dea masih belum mendengar respon apapun dari teman-temannya.


"Ya, aku akui memang menyukai ustad Aldi dan karena itulah aku cemburu dengan kedekatannya bersama ustadzah Fatimah. Karena cemburu aku berusaha acuh dengan keberadaan mereka berdua namun sayangnya ustad Aldi tidak memberikan ku kesempatan. Ia melihatku dan menyapaku, karena marah aku berusaha mengabaikannya. Lalu, melihat kecanggungan kami berdua ustadzah Fatimah datang ikut menengahi suasana diantara kami. Sebenarnya itu semakin membuat ku marah karena di saat aku mengabaikan ustad Aldi, ustadzah Fatimah justru mengajaknya berbicara lagi. Di depan ku mereka bertindak layaknya sepasang kekasih dan itu membuat ku begitu cemburu. Di saat asiknya mereka berbicara, tiba-tiba ustad Aldi mendapatkan telepon dari orang lain dan menyuruh kami untuk mengobrol bersama sementara ia pergi menjawab telepon."


"Aku pribadi tidak terlalu mengenal ustadzah Fatimah dan juga saat itu masih dilanda cemburu jadi aku memutuskan untuk mengabaikan ustadzah Fatimah dan kembali bekerja lagi. Nah, di saat itulah semua itu terjadi. Aku yang sedang marah harus menyingkirkan batang pohon mati yang menghalangi ku memetik sayur terong. Memang aku agak kesulitan menyingkirkannya tapi aku tidak mau menyerah, bagiku kesempatan itu justru untuk melampiaskan kecemburuan ku. Akan tetapi lagi-lagi ustadzah Fatimah membuat ku marah, ia mengatakan ingin membantuku tapi dengan sengaja ku acuhkan. Mungkin karena melihat ku yang tidak merespon, ustadzah Fatimah akhirnya mengulurkan tangannya ke arah batang mati yang sedang ku coba singkirkan menggunakan silet charter. Bukannya menyingkirkan batang itu aku malah melukai tangan ustadzah Fatimah, jadi seperti itulah ceritanya. Kalian adalah orang-orang pertama yang ku beritahu dan aku harap kalian tidak memandang rendah diriku yang kekanak-kanakan seperti ini."


"Jadi itu semua berawal dari kecemburuan.." Gumam beberapa suara.


"Kamu tidak perlu takut Safira karena aku pikir jatuh cinta itu wajar terlebih lagi pada ustad Aldi yang sudah tidak perlu ditanyakan lagi ketampanannya. Aku juga mengerti jika kamu masih belum memupuk kesabaran mu sehingga membuat mu dengan mudah terbakar marah jadi semuanya masih bisa dimaklumi. Dea, dari cerita mu tadi aku mendapatkan sebuah pelajaran penting bahwa semarah apapun kamu tidak pernah menyuarakannya. Akan tetapi kamu lebih memilih memendamnya sendiri, ini sudah menunjukkan bahwa kamu selalu melangkah menjadi orang yang baik." Menghela nafas lega, sebenarnya masalah ini hanya kesalahpahaman saja dan sepertinya tidak bisa Dea ceritakan kepada pihak kedisiplinan. Ini adalah rahasia hati, paham!


"Jangan berkecil hati Dea, jika ustad Aldi adalah jodoh mu maka ia akan berakhir dengan mu tapi jika ustad Aldi adalah jodoh ku maka kamu harus bersiap-siap menahan cemburu yang lebih banyak lagi!" Mendengar kata-kata penghiburan dari Wati, sontak semua orang langsung tertawa senang. Mencairkan suasana sedih dan tegang beberapa detik yang lalu.


"Tidak... sebenarnya aku sudah memutuskan untuk melupakan ustad Aldi." Dea memberi tahu dengan suara tenangnya. Namun meskipun tenang siapapun yakin jika hatinya saat ini pasti sedang terluka.


"Dea... jangan mudah menyerah seperti ini.." Masha merasa sedih melihat Dea yang putus asa seperti ini.


"Aku pikir ini adalah langkah terbaik.." Dea pikir menjauhi ustad Aldi adalah langkah yang baik karena jika terus berkubang dalam harapan hanya akan ada sakit hati saja yang menantinya. Ia tidak ingin terus seperti ini karena rasa sakit di hati itu sangat jauh berbeda dari fisik.


Hah.. entahlah, Dea juga sebenarnya takut membuat ustad Aldi semakin membencinya. Mengingat betapa marahnya ia tadi Dea memutus untuk tidak mengganggunya lagi.


"Terus tentang hukuman yang kamu dapatkan, apakah itu berat?" Merasakan suasana yang kembali menurun, Ririn mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


Dea dengan tenang menggelengkan kepalanya, "Hukuman yang diberikan sama sekali tidak berat, ini hanya membereskan dan mencuci peralatan makan yang kalian gunakan berbuka dan sahur selama sampai bulan Ramadan ini berakhir." Jawabnya dengan tenang.


Mendengar jawaban Dea sontak membuat mereka semua tidak habis pikir. Dea adalah orang yang baru berdaptasi dengan lingkungan pondok pesantren, dipaksa melakukan pekerjaan kasar sebanyak ini tentu saja akan menyulitkan Dea. Ditambah itu bukan tentang sehari atau dua hari, tapi ini hampir satu bulan!


Mereka tidak yakin jika Dea bisa melewatinya.


"Satu bulan? Bukankah ini terlalu keterlaluan!. Kamu masih belum terbiasa dengan tempat ini tapi sudah dipaksakan melakukan pekerjaan kasar itu selama satu bulan, ini tidak bisa dibiarkan. Kamu harus protes kepada pihak pondok karena hukuman yang kamu dapatkan tidak sebanding dengan kesalahan mu." Ajeng sungguh merasa jika pondok pesantren terlalu tidak adil untuk Dea.


Seharusnya mereka bisa mengerti dan mempertimbangkan keadaan Dea sebelum memberikan hukuman!


Dea tersenyum tipis, merasa tidak keberatan sama sekali. "Tidak apa-apa Ajeng, lagipula aku terbukti bersalah jadi hukuman ini tidak sebanding dengan kesalahan ku." Dea dengan sabar menjelaskan, meredakan kemarahan teman-temannya.


"Tapi ini terlalu keterlaluan buat kamu." Ajeng masih mengeluh, ia sungguh tidak bisa mempercayainya.


"Aku sama sekali tidak keberatan." Ujarnya tenang. Justru Dea merasa terbantu dengan hukuman ini karena ketika ia sibuk melupakan ustad Aldi akan sangat mudah.


"Baiklah, tapi kami semua akan membantu-"


"Jika kalian membantu maka hukumanku akan bertambah lagi." Potong Dea menyampaikan informasi dari kantor kedisiplinan. Jika teman sekamarnya datang membantu maka hukumannya akan ditambah lagi.


"Astagfirullah, aku sungguh tidak percaya pondok pesantren bisa sekejam ini." Gumam mereka tidak habis pikir jika pondok pesantren terlalu kejam.


Hukuman ini memang kejam, namun Dea jauh lebih tahu jika patah hatinya adalah hukuman yang paling kejam di dunia ini untuknya.


🥀🥀🥀

__ADS_1


__ADS_2