
Sebuah taksi tiba-tiba berhenti di depan pondok pesantren, dari dalam taksi keluar seorang laki-laki tampan dengan penampilannya yang cukup sederhana namun masih terlihat mewah dan berwibawa di tubuhnya yang maskulin. Sejenak, laki-laki ini tampak tidak asing untuk sebagian orang namun di saat yang bersamaan ia juga cukup asing untuk sebagian orang.
Menatap ke arah pondok pesantren, matanya yang tertutupi kaca mata hitam sedikit menyipit. Ia menilai perubahan apa saja yang telah terjadi di sini setelah dua tahun kepergiannya.
Tersenyum tipis, dengan lembut ia melepas kacamata hitamnya yang membuatnya tampak arogan. Lalu, dari balik pakaiannya ia mengeluarkan sebuah kacamata bening yang sudah menemaninya beberapa bulan ini. Kacamata itu sebenarnya tidak terlihat terlalu kuno ataupun moderen, namun justru terlihat berkelas dan sederhana di saat yang bersamaan. Tidak, laki-laki tampan ini tidak bermaksud menggunakan kacamata untuk bergaya atau apalah itu karena sejujurnya laki-laki ini menggunakannya untuk kebutuhan.
Benar, matanya punya gangguan penglihatan. Ia tidak bisa melihat terlalu jelas jika lebih dari seratus meter oleh karena itu ia lebih nyaman menggunakan kacamata. Jangan tertawa, meskipun jaraknya tidak terlalu membebani tapi orang seperti dia ini selalu menjadi incaran banyak orang. Bahkan, entah itu beratus-ratus meter jaraknya pasti akan ada seseorang yang sekedar menyapanya, dan ia tidak nyaman jika tidak melihat tampang orang itu dengan jelas. Oleh karena itu ia lebih memilih menggunakan kacamata untuk merasa lebih nyaman.
Dert
Dert
Dert
Ada getaran halus dari dalam sakunya, laki-laki itu tidak menunggu lama dan dengan cepat mengambil benda yang sedang bergetar itu dari dalam sakunya.
"Assalamualaikum?" Suaranya mengucapkan salam setelah melihat sang penelepon adalah seseorang yang sangat ia kenal.
"Waalaikumussalam, darimana saja kamu dan kenapa nomor handphone mu baru aktif?" Ini adalah suara laki-laki, terdengar cukup kesal di seberang sana.
"Nomor ku tidak aktif karena dari tadi handphone ku mati, apakah ada masalah? Suara mu terdengar kesal." Laki-laki itu bisa menebak jika orang yang sedang menelepon ini pasti sedang mendapatkan masalah. Karena sangat jarang baginya bersikap tidak sabaran jika menyangkut satu orang.
"Pantas saja." Suara laki-laki diujung sana terdengar lelah.
Kemudian terdengar suara benda jatuh di seberang sana yang mana membuat laki-laki ini mengernyit khawatir, "Apa kamu baik-baik saja?" Tanya laki-laki ini khawatir setelah beberapa detik tidak mendapatkan respon dari orang diseberang sana.
"Aku sungguh tidak baik-baik saja, lebih tepatnya saat ini aku dalam masalah besar." Laki-laki diseberang sana mulai mengeluh, menceritakan jika ia benar-benar kewalahan menghadapi masalah ini.
"Masalah apa yang kamu hadapi? Ini bukan seperti kamu saja yang suka membuat masalah." Laki-laki ini tahu betul jika orang yang ada diseberang sana bukanlah tipe orang yang suka membuat masalah. Karena selama mereka hidup bersama selama ini orang yang ada diseberang sana justru lebih suka menghindari masalah apapun.
"Hei, ini bukan tentang aku tapi ini tentang adik mu yang manja." Keluhnya terdengar putus asa.
Mendengar titik terangnya, bibir laki-laki ini segera bergerak otomatis. Menciptakan sebuah senyuman tipis yang terlihat sangat tampan dan mempesona!
"Dia juga adik mu, Aldi." Suaranya santai.
Benar, orang yang sedang berbicara dengannya adalah saudara kandungnya keras kepala. Hem, meskipun mereka bersaudara, mereka lebih layak dilihat sebagai sahabat yang sangat dekat.
"Entahlah, ini adalah masalah terbesar yang pernah dibuat dalam hidupnya. Apa kau tahu apa yang ia lakukan di sini?"
"Tentu saja tidak." Jawabnya jujur.
Aldi diseberang sana menghela nafas lelah, "Dia menampar seorang santriwati yang juga teman sekamarnya. Tidak hanya itu saja yang ia lakukan, tapi dia juga mendorong kedua teman sekamarnya ke dalam sungai sehingga membuat mereka basah kuyup. Ini.. masalah ini terlalu banyak apa kamu tahu?"
Laki-laki ini mengernyitkan keningnya heran, ia berpikir dalam jika adik perempuannya bukanlah tipe orang yang seperti itu. Adiknya yang perempuan memang terkadang membuat masalah namun itu bukanlah masalah yang sangat serius seperti ini. Jika dilihat cerita dari saudaranya, pasti ada sesuatu yang membuat adik perempuannya terpancing sehingga bisa melangkah sejauh itu.
"Pasti ada sesuatu yang memancingnya." Laki-laki ini yakin jika intuisinya mengatakan sesuatu yang benar.
"Mengenai itu..." Aldi sedikit bimbang mengungkitnya.
"Ada apa?" Ini sedikit mencurigakan pikir laki-laki ini.
"Ah..kau bisa menanyakan langsung kepadanya. Maka dari itu, kapan kamu menyusul kami, Aldo?" Aldi tidak ingin berbicara banyak untuk sekarang karena ia juga sedikit bermasalah dengan gadis itu. Jadi satu-satunya adalah menunggu Aldo kemari dan membantunya untuk mendisiplinkan adik mereka. Lalu setelah itu Aldi ingin membicarakan tentang gadis yang akhir-akhir ini mengganggu tidurnya. Gadis murung yang entah mengapa selalu memenuhi pikirannya.
"Aku sudah ada di sini." Jawab Aldo santai seraya menarik kopernya berjalan menjauh dari taksi yang sudah ia bayar.
"Di sini?" Aldi terdengar terkejut diseberang sana.
"Lebih tepatnya sekarang aku ada di depan pondok pesantren, kemarilah jemput aku dan jangan lupa untuk memberi tahu Gus Gio tentang kedatangan ku." Kemudian sambungan mereka terputus.
Aldo menyeret kopernya untuk menapaki jalan yang akan mengarahkannya ke depan gerbang pondok pesantren yang amat sangat ia rindukan. Dari luar ia bisa melihat bahwa para santri tidak ada yang berlalu lalang di sekitar pondok pesantren. Mungkin saat ini mereka sedang mengaji sore atau menyetorkan hapalan Al-Qur'an mereka, yah melihat waktu sudah sore maka bukan tidak mungkin jika itu yang terjadi.
"Safira," Gumam Aldo teringat pada sosok gadis yang ia jumpai dua tahun yang lalu.
"Gus Gio bilang ia sekarang ada di sini." Suaranya lembut, ada jejak manis yang tersungging di sudut bibirnya. Sebuah perasaan manis yang lebih manis dari gula dan lebih menggoda dari madu, Aldo sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.
๐น๐น๐น
"Mir, temenin aku ke Mas Gio, dong." Setelah melakukan bersih-bersih kamar Safira langsung memakai jilbabnya dan berniat untuk mencari Gio.
"Kamu mau ngapain ke Gus Gio, Fir? Mau gangguin dia sama Annisa lagi ya?" Mira yang terdampar lelah di atas ranjangnya menatap ngeri Safira yang sibuk memasang jilbabnya. Bagaimana ia tidak ngeri jika hobi baru sahabatnya ini adalah mengganggu waktu mesra Gio dan Annisa. Yah, jika suaminya Annisa orang lain sih Mira gak apa-apa yah, malahan ia berniat ikut andil untuk mengganggu pengantin baru itu. Tapi masalahnya suami Annisa adalah calon pewaris pondok pesantren ini, yang kalau Mira mengikuti jejak Safira maka ia pasti akan dicungkil dari tempat ini.
Yah, kalau itu Safira mungkin tidak masalah secara Annisa adalah Kakaknya jadi wajar saja Gio duduk santai menerima perlakuan aneh Safira. Tapi kalau itu Mira, Hem... Mira sudah tahu akhir dari ceritanya di tempat ini.
__ADS_1
"Astagfirullah, kamu yah otaknya mikir aneh mulu. Jadi orang jangan negatifan aja, struk baru tau rasa kamu nanti." Safira tidak habis pikir mengapa isi otak sahabatnya ini selalu tidak sehat. Yang benar saja coba, hanya karena sekali ia menggoda waktu mesra Annisa dan Gio, ia langsung dicap aneh oleh Mira.
Hem... karena ini adalah Mira jadi Safira seharusnya tidak perlu merasa terkejut.
"Astagfirullah ya Allah, doa kamu bagus banget buat temen sendiri. Nyebut Fir, ini tuh bulan puasa jadi apapun yang kamu ucapkan sangat mudah dikabulkan Allah." Mendengar doa Safira sontak membuat Mira langsung bangun dari acara rebahannya. Kedua tangannya tidak menganggur karena secepat kilat ia juga mengambil jilbabnya yang tadi tersampir rapi di samping ranjangnya.
"Lagian siapa suruh mikir yang aneh-aneh." Dumel Safira tidak terima disalahkan.
"Ya terus kamu ke Gus Gio mau ngapain, kasih tahu aku dong biar semuanya jelas." Mira sudah selesai menggunakan jilbabnya. Ia kini sibuk memasang kaos kakinya yang baru karena yang ia kenakan tadi sudah kotor saat bersih-bersih kamar.
"Ada yang aku mau tanyain ke Mas Gio, yah.. mumpung semuanya sudah beres dan masakan untuk buka sudah selesai dibuat gak ada salahnya kan kita ngabuburit di rumah Mas Gio?" Semuanya sudah selesai dikerjakan jadi daripada menganggur lebih baik mereka menghabiskan waktu di rumah Gio saja.
"Hem..iya juga sih, ya udahlah kita jalan aja langsung. Takutnya Gus Gio keburu pergi lagi."
Mira tidak lagi menanyakan urusan apa yang membuat Safira terlihat kebingungan sejak tadi siang. Karena baginya Safira itu berbeda dari orang-orang yang ia kenal. Safira terlalu teliti dan dewasa diantara mereka. Apalagi saat menghadapi masalah, satu-satunya orang yang berpikiran tenang dalam menghadapinya yah hanya Safira. Lihat saja kasus Annisa yang begitu mengejutkan.
Dibalik hancurnya kehidupan Annisa ternyata adalah Saqila, adik kandungnya sendiri. Tidak ada satupun diantara mereka semua yang menduga jika pelakunya adalah Saqila, apalagi jika dilihat dari sikapnya yang lemah lembut itu membuat semuanya menjadi tidak mungkin. Tapi bagi Safira tidak, apa yang tampak diluar belum tentu juga sama dengan di dalam. Hati manusia itu terlalu misteri dan menakutkan.
Itu dalam dan penuh akan kegelapan, Safira bisa menebak sisi itu. Ia dengan santai mengamati orang-orang dan secara perlahan membongkar rahasia yang selama ini terkubur.
Yah, itulah Safira, dia cantik namun terlalu menakutkan untuk dekat dengannya.
Tanpa menunggu lama lagi mereka akhirnya pergi menemui Gio yang diduga masih berada di dalam rumahnya. Tidak ada yang tahu jika skenario Sang Pencipta itu kapan akan bekerja. Entah itu mampu disadari atau tidak tapi yang pasti semuanya terlalu indah saat benang merah itu perlahan terurai, melepaskan kusut yang sempat membingungkan menjadi benang merah panjang yang penuh akan fantasi.
Hem, itu karena Allah Kuasa akan semuanya dan manusia yang lemah tidak akan bisa menampiknya.
๐น๐น๐น
"Jujur, hari ini kamu aneh banget." Ucap Dea mengawali pembicaraan setelah sekian lama mereka terdiam. Saat ini mereka sedang duduk menganggur di luar masjid setelah menyelesaikan hukuman yang diberikan pondok pesantren.
"Aku aneh hari ini, maksud kamu apa De?" Masha bertanya bingung karena tanpa mengalihkan perhatiannya dari dalam masjid yang menggemakan suara merdu nan penuh kerinduan para santri kepada Sang Pencipta. Masha juga ingin bergabung dengan mereka, ia juga ingin mengawali bulan yang suci ini dengan penuh ayat-ayat suci yang indah.
Melihat ketenangan Masha yang tidak biasa, diam-diam Dea mengalihkan perhatiannya menatap ke arah masjid yang saat ini sangat sibuk. "Kamu hari ini bukanlah kamu yang biasanya." Bisik Dea hati-hati. Jarang sekali Dea bersikap sehati-hati ini di depan orang lain, yah.. kecuali kan saja ustad Aldi dan Ali. Bagi Dea, mereka sedikit membuatnya malu untuk bersikap kurang ajar.
"Jadi apakah itu mengganggu mu?" Tanya Masha balas berbisik, mengalihkan perhatiannya dari masjid dan menatap Dea yang masih asik menatap suasana sibuk masjid.
Dea dengan jujur menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tidak terganggu dengan perubahan cepat Masha. "Aku sama sekali tidak terganggu tapi itu kamu, Sha-" Mengalihkan pandangannya dari masjid. Ia menatap Masha dengan pandangan sendunya yang menyedihkan, "Bagi orang-orang aku bersikap kurang ajar dan keras sudah biasa, akupun sangat menyadari hal itu semua. Aku tidak marah atau membantah mereka karena apa yang mereka katakan itu benar tentang diriku, adapun kamu Masha, kamu adalah orang yang baik. Aku tidak ingin kamu seperti aku dan membuat nama baik mu menjadi tercemar. Aku tidak ingin mendengar orang-orang mengatakan jika kamu seperti ini karena terpengaruh oleh pertemanan kita. Aku gak mau membuat nama kamu hancur di sini Sha, karena aku tahu kamu dan tempat ini tidak bisa dipisahkan. Kamu adalah cerminan tempat ini sedangkan aku adalah sampah masyarakat yang sangat mencemari tempat ini. Kamu adalah orang yang baik dan penuh akan budi yang baik sedangkan aku tidak ada bedanya dengan kotoran-"
Masha tidak suka melihat Dea yang lemah dan putus asa seperti ini, ia lebih suka melihat Dea yang keras seperti biasanya. Karena jika ia memperlihatkan sisi putus asa ini Masha tidak akan sanggup untuk terus melihat betapa menyedihkannya Dea. Masha tidak sanggup melihat wajah kesakitan Dea yang langka, ia sama sekali tidak menyukai ini.
"Siapa bilang berteman dengan kamu membuat ku menjadi buruk, itu sama sekali tidak benar, Dea. Lagipula kamu bukanlah seperti apa yang dikatakan mereka dan mereka tidak berhak menghakimi hamba Allah sebelum Allah yang menghakimi kamu. Apa yang mereka katakan-"
"Itu benar!" Dea menarik tangan Masha dari wajahnya, menggenggamnya dengan kuat sebagai pertanda bahwa saat ini hatinya sangat sakit. Sakit sampai rasanya begitu putus asa.
Ia tidak menggambarkannya, hatinya benar-benar perih saat ini. Bahkan bernafas saja rasanya amat sangat menyakitkan.
Bagaimana cara mengatakannya?
Ketika ia terjatuh dalam sebuah kesesatan orang-orang yang ia cintai dan kasihi seharusnya merangkulnya untuk menguatkan hatinya. Tapi Dea tidak mendapatkannya dan malah perlakuan yang ia dapatkan adalah dibuang jauh dari lingkungan mereka, bahkan orang yang paling ia cintai mengkhianati kepercayaannya. Setelah semua, apa yang harus Dea lakukan untuk tetap hidup?
Ia sudah kehilangan kehormatannya sebagai seorang perempuan, ia tidak punya keluarga maupun teman yang menjadi penyokongnya. Apa lagi yang seharusnya Dea lakukan?
Ia benar-benar putus asa memikirkan ini!
"Masha, apa yang mereka semua katakan itu benar. Aku adalah gadis yang kotor dan aku dibuang oleh keluarga ku, ini memang adalah faktanya. Kamu tidak perlu menghibur ku karena semua itu tidak akan merubah apapun-"
"Itu bisa!" Potong Masha tidak mau mendengarkan lebih jauh lagi.
"Kamu bisa merubahnya." Beritahu Masha dengan pandangan yang meyakinkan.
Ragu, "Bagaimana caranya?"
Menggenggam erat tangan Dea, "Menjadi lebih baik dari Dea yang mereka lihat. Berhijrah Dea, dekatkan diri kamu dengan Allah. Jadikan Allah satu-satunya penolong kamu karena yakinlah sebaik-baik penolong hanya Allah SWT. Perlahan-lahan dekatkan diri kamu kepada-Nya, cintai Allah dengan tulus selayaknya kamu mencintai seorang kekasih. Bahkan, jika kamu sangat tulus mungkin perasaan itu akan lebih menjadi ketergantungan. Kamu hanya bergantung kepada Allah SWT dan hanya kepada-Nya lah hati kamu menjadi hidup." Masha dengan semangat memberikan Dea sebuah saran.
"Dea, yakinlah kamu tidak akan menyesal jika bergantung kepada Allah karena Dia tidak akan pernah mengecewakan kekasih-Nya."
Dea tertegun, kedua matanya yang berair perlahan menumbuhkan sebuah sinar harapan. Namun, ketika ia mengingat dirinya yang sekarang sinar matanya menjadi redup kembali. Ia sudah tidak punya harapan.
"Masha, aku pikir itu tidak mungkin." Dea memberi tahu dengan sendu. Ia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Masha dan membawa pandangannya menatap ke dalam masjid yang menggemakan suara merdu dari para santri yang melantunkan ayat-ayat cinta yang indah.
"Mengapa tidak mungkin?" Tanya Masha tidak habis pikir.
Tersenyum tipis, "Aku kotor Masha dan aku pikir tidak pantas rasanya manusia sampah seperti ku merindu pada Sang Kuasa. Itu..aku yakin Allah tidak menyukainya." Suara Dea sendu.
__ADS_1
Menundukkan kepalanya, diam-diam tangannya terangkat mengusap cairan hangat yang lagi-lagi menetes dari matanya. Ini sangat menyusahkan, ia tidak pernah merasa sesedih ini sebelumnya. Mungkin, mungkin karena ia punya teman mengobrol dari hati ke hati yang mau mendengarkan kebingungannya membuat Dea gampang merasa sedih dan menangis.
"Kamu salah Dea, dihadapan Allah kita semua sama. Hanya intensitas keimanan lah yang membedakan kita semua. Ini seperti ketika kamu melihat seorang wanita yang terlihat Soleha dan taat namun nyatanya itu hanya topeng saja. Kemudian ketika kamu melihat seorang pembuat onar yang menyeramkan namun di dalamnya ia tidak seperti itu. Seperti yang aku katakan tadi, itu semua tergantung hati manusia karena hati yang baik dan tulus tentu saja mempunyai keimanan yang tinggi."
Menepuk pundak Dea yang semakin tipis, "Tidak perduli sebesar apapun dosa yang kita buat di masa lalu itu tidak akan mempengaruhi penilaian Allah terhadap kita jika ada keinginan untuk berubah. Dea, apa kamu tahu bagaimana senangnya Allah ketika melihat hamba-Nya datang kembali kepada-Nya?"
Tidak menunggu respon Dea, Masha langsung menjawab pertanyaannya sendiri. "Perasaan itu lebih tinggi dari orang yang kehilangan untanya di Padang pasir dan akhirnya menemukan unta tersebut setelah sekian lama mencari. Perasaan bahagia itu lebih dari yang orang kehilangan unta itu rasakan, apa kamu mengerti Dea? Allah akan sangat senang jika kamu datang kepada-Nya."
Dea tertegun, " Apakah yang kamu katakan itu benar?" Tanya Dea berbisik.
Masha dengan antusias menganggukkan kepalanya, "Yakinlah." Jawabnya yakin seyakin-yakinnya.
Ragu, perlahan Dea mengangkat kepalanya menatap masjid yang kini sedang memperlihatkan seorang laki-laki tampan yang sudah beberapa hari ini membuat hatinya gelisah. Laki-laki tampan dengan karismanya yang tinggi, penuh akan aura seseorang yang taat dan menjadi damba sebagian besar perempuan di sini.
"Jika..jika aku dekat dengan Allah maka apakah Allah akan memberikan ku laki-laki yang ku sukai?"
Masha menjawab positif, "In shaa Allah karena jodoh mu adalah cerminan dari dirimu sendiri. Oleh karena itu teruslah memperbaiki diri agar dia juga mememantaskan dirinya sebelum kalian dipertemukan."
"Cerminan diri sendiri?" Gumam Dea berbisik.
Sekali lagi sinar matanya meredup, menampilkan wajah cantik yang pucat dan menyedihkan, terlihat sangat putus asa.
"Yah, jodoh ku adalah cerminan dari diriku sendiri." Ucapnya sambil tersenyum getir, ah.. betapa mirisnya ia saat ini. Menyukai seseorang yang seharusnya tidak boleh ia harapkan. Jangankan berharap, bermimpi saja Dea tidak diizinkan karena...
Mana mungkin laki-laki sesempurna dia mendapatkan Dea yang kini menjelma menjadi gadis kotor. Sekalipun Dea bertaubat, Allah tidak akan pernah sudi menyerahkan hamba-Nya yang taat kepada mahluk hina seperti Dea.
Tentu saja, laki-laki sesempurna dia akan mendapatkan perempuan yang sempurna pula. Batin Dea meringis.
๐๐๐
Safira tidak pernah tahu jika ada hari dimana ia sangat gelisah. Entahlah, ia hanya ingin berjalan lebih cepat saja ke tempat tujuannya. Meskipun harus mendengarkan ocehan kesal Mira yang sedari tadi mengeluh betapa cepatnya mereka berjalan, Safira masih saja tidak perduli dengan itu semua. Karena satu-satunya yang ada di kepalanya saat ini adalah menemukan Gio dan mengkonfirmasi apakah dugaannya ini benar atau salah.
Benar, ia menduga jika ada dua ustad Aldi namun ini hanya hipotesisnya saja dan belum mendapatkan jawaban.
"Safira, pelan-pelan atuh jalannya. Ini teh puasa pertama jadi stamina kita harus tetap terjaga." Stamina?
Mengapa harus perduli? Bukankah satu setengah jam lagi mereka akan berbuka jadi tidak masalah menghabiskan tenaga sekarang. Toh, ketika mereka berbuka tenaganya akan balik sendiri jadi itu tidak perlu dipusingkan.
"Jalan aja Mira, gak usah banyak ngeluh. Ingat, ini hari pertama jadi harus banyak bersabar." Jawab Safira acuh tidak terlalu perduli dengan ketidak nyamanan Mira dibelakang.
Safira sebenarnya tidak lebai, hanya saja ia sedikit objektif. Katakanlah mereka memang puasa tapi sebelum-sebelumnya mereka pernah melaksanakan puasa sunah-sunah yang dianjurkan. Dan ketika mereka berpuasa sunah pekerjaan yang mereka lakukan di pondok pesantren cukup berat namun untuk mengeluh itu sungguh sulit terucap dibibir. Tapi, ketika dihadapkan puasa pertama ramadan hari ini Mira tiba-tiba mengeluh. Tentu saja Safira tidak akan menganggapnya serius.
"Ih, bukan ngeluh tahu. Nanti kalau kamu jalan terburu-buru gini dan nabrak orang-"
Brugh
Belum selesai Ucapan Mira tiba-tiba Safira menabrak seseorang yang sedikit familiar untuknya.
Sebuah lengan kuat menahan tubuh Safira agar tidak terjatuh ke tanah. "Astagfirullah, saya minta maaf-" Safira meminta maaf dengan nada penyesalan, namun sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, pandangannya tiba-tiba jatuh pada seseorang yang ia tabrak.
Tenggorokannya tiba-tiba tercekat melihat sosok tubuh tinggi dengan wajah tampan yang cukup ramah, kacamata bening yang terlihat kolot namun cukup anggun di wajahnya. Terlihat sangat sempurna!
Lalu, kejadian ini seakan dejavu untuk mereka berdua. Ini persis seperti ini 2 tahun yang lalu, ketika pertama kali mereka bertemu dengan satu sama lain. Pertama kali saling menatap dan merasakan debaran jantung yang menggetarkan, itu adalah kenangan terindah yang paling tidak ingin mereka berdua lupakan.
Kedua mata mereka bertemu, menimbulkan suasana sunyi yang membisu namun sarat akan perasaan yang manis. Kata yang awalnya terlempar dari belahan bibir mereka tiba-tiba tertahan begitu saja. Memberikan mata dan detak jantung mereka mengambil alih tubuh mereka sepenuhnya, membuat mereka melupakan waktu yang bergerak.
"Aldo!" Kontak mereka langsung terputus dan dengan cepat Safira menjauh dari lengan kuat yang sempat memeluknya. Kedua pipinya merona merah merasakan hawa panas yang terasa membakar wajahnya. Safira dengan malu-malu menundukkan kepalanya seraya mengingat dengan baik-baik nama orang yang sudah 2 tahun ia sukai ini.
Jadi, namanya adalah Aldo! Batin Safira bersorak setelah menemukan jawabannya.
Bersambung...
Hello?
Ok, selamat hari raya Idul Adha, mohon maaf lahir dan batin. Maafin author yah yang ngilang hampir 2 bulan lamanya. Nah, jadi alasan author ngilang gitu tuh di mulai dari author yang tiba-tiba jatuh sakit selama beberapa hari. Kemudian setelah dua atau tiga hari sembuh author ada UAS yang dijalankan selama 2 minggu. Author mikir tuh gak mungkin dong author nulis sambil belajar buat ulangan kan? Iya, author benar-benar gak sanggup jalanin makanya nulis ditunda dulu. Setelah dua minggu UAS, author punya masalah dengan dosen yang mengampu mata kuliah tambahan author. Dosennya masyaa Allah, semoga Allah membuka pintu hatinya dan memberikannya hidayah. Masalah sama dia hampir satu kelas yang gak beres-beres maka jadilah author pasrah aja, biar Allah yang balas๐คฃ. Kelar dengan urusan kuliah, author jatuh sakit lagi dan ini lebih lama sakitnya. Hampir dua minggu, ini aja author masih belum bisa nyium apapun dan lidah author juga belum bisa merasakan perasa apapun selain manis, pedas dan asin. Semuanya kayak samar-samar aja buat author kalo lagi makan.
Tuh penjelasannya, drama banget kan hidup author labil ini๐คฃ๐คฃ๐คฃ. Jadi jangan pada suudzon yah author pindah lapak atau berhenti nulis novel ini karena penjelasannya udah author jabarin.
Okay, sekian dari author dan sampai jumpa di part selanjutnya ๐
Author labil
Lili H.
__ADS_1