Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Karena Obat.


__ADS_3

Bunga terduduk diam di sofa besar rumah itu, pagi hari yang seharusnya cerah tapi membuat Bunga pusing. ia meminum jus lemon di pagi hari, dengan tatapan tajam menatapnya didedap. Bunga tidak. berani menoleh ke siapapun, paginya sangat kecut seperti minuman yang ia minum rasanya asam. ia merasa malu saat terbangun berada dikamar Rayhan, masalah awal saja belum tuntas tapi terjadi masalah lagi dijam berikutnya. ia berpikir telah membuat banyak masalah, padahal dirinya baru sehari memasuki rumah itu.


"sudah enakan? " tanya Rayhan, Bunga mendongakkan kepala dan tersenyum tipis.


"sudah, Terima kasih! " saut Bunga, Rayhan berdehem dan melipat kedua tangannya di dada. Bunga merasa seperti sedang di sidang orang tuanya, ditatap tanpa berkedip.


"kakak aku sungguh tidak berniat minum itu, aku tahu itu milikmu. aku bilang pada Miss Bunga kalau itu minumanmu, tapi dia sudah meneguk nya habis! " ucap Riyan tiba tiba muncul, Bunga mendelik kearah Riyan.


"tapi saya tidak menyuruhmu untuk minum, saya hanya bertanya minuman apa itu kok rasanya aneh. tiba tiba kamu juga meminumnya! " saut Bunga, Rayhan menatap dua orang itu yang saling menyalahkan.


"lalu siapa yang membawa Miss Bunga ke kamarku saat sore hari, dia tertidur ditempat tidurku! " ucap Rayhan, Riyan terdiam dan menatap Bunga yang menatapnya dengan tajam.


"pelayan, saat aku memintanya untuk menyiapkan kamar tamu, mereka malah membawa Miss Bunga kekamarmu kak! " saut Riyan berbohong, karena memang dirinya yang meminta pelayan untuk membawa kekamar Rayhan.


"saya tidak ingin berdebat, saya harus pergi karena ada kelas mengajar hari ini! " ucap Bunga kemudian berpamit pergi, Rayhan yang gemas dengan Riyan memukul pundak Riyan dengan sedikit keras.


Bunga yang sudah terlambat segera menuju mobilnya, ternyata mobilnya sudah siap dan tinggal dikendarai saja. Bunga mulai melajukan mobilnya, ia berpapasan dengan sebuah mobil berwarna putih. seorang pria didalam mobil tersebut, tapi Bunga tidak melihat siapa yang disana. hanya terlihat rambut, karena kepala pria itu sedang menunduk. dan Bunga pun melewati mobil tersebut, tiba tiba saja hati Bunga tidak tenang dan tampak gelisah. ia menoleh kebelakang, melihat mobil putih yang baik baik saja jika dilihat. ia memegang dadanya sendiri, dan berulang kali menghembuskan nafasnya.


mobil putih tersebut adalah milik Reyvan, pria itu datang dari luar kota setelah beberapa minggu yang lalu pergi. Reyvan melihat mobil Bunga yang baru saja pergi, dengan coeat ia turun dari mobil dan berjalan menghadiri Rayhan yang juga bersama Riyan saat itu.


"apa baru saja ada tamu, aku melihat mobil lewat tadi! " ucap Reyvan menghempaskan tubuhnya di sofa, Riyan bersandar di tubuh sang kakak kedua. "bagaimana keadaamu, baik baik saja kan? "


"iya kak sudah mendingan! "


"dia minum wine milikku, tanyakan apa yang dirasakan kepalanya! " ucap Rayhan, Reyvan langsung menoleh kearah sang adik yang menggaruk kepalanya padahal tidak gatal.


"mana aku tahu kak, dosenku yang pertama minum! " saut Riyan, Reyvan menepuk pundak remaja itu dengan pelan.

__ADS_1


"dosen, siapa? "


"mobil yang kau lihat adalah mobil dosennya, aku memanggil dosennya untuk belajar dirumah. aku ingin dia lulus dan tetap belajar, ya jadi nya dosen privat! " Reyvan hanya menanggapinya dengan anggukan, tiba tiba suara dering telfon berbunyi begitu nyaring. suara itu berasal dari dering telfon Reyvan, pria itu segera melihat ponselnya dan membaca siapa yang menelfonnya.


"itu kakak ipar, angkatlah!" ucap Riyan tiba tiba, Reyvan tersenyum dan mematikan ponselnya. membuat Rayhan heran, karena yang dimaksud Riyan adalah istri Reyvan. meskipun Rayhan adalah anak pertama, tapi adik keduanya memilih menikah terlebih dahulu. karena Rayhan memang tidak tertarik untuk menikah, dan pilihannya membiarkan sang adik menikah terlebih dahulu.


"apa kau sedang ribut dengannya? " tanya Rayhan, Reyvan tersenyum simpul menanggapi hal itu.


"sejak kapan kakak dan kakak ipar itu tidak ribut, setiap harinya ribut kakak! " saut Riyan, hal itu mendapat pukulan ringan dari Reyvan.


"aku ingin bercerai dengannya!" perkataan Reyvan membuat Riyan dan juga Rayhan terkejut, pasalnya pria itu sendiri yang memilih sang istri dulunya dan sekarang dengan tenang mengatakan ingin bercerai.


"dia pilihanmu kan, kenapa kau ingin bercerai? " tanya Rayhan melipat kedua tangannya, Reyvan bernafas berat kemudian menyandarkan punggungnya disofa.


"karena pilihanku lah yang membuatku menyesal, aku memilih orang yang salah. dia hanya ingin harta, bukan diriku! " ucap Reyvan, pria itu menatap keatas seperti menyesali sesuatu yang membuatnya tidak tenang. "apa dia bahagia sekarang, apa dia hidup bahagia? " gumamnya, sangat dimengerti oleh Rayhan dan hanya diam menatap sang adik. ia tidak ingin mencampuri urusan adiknya itu, dan memilih untuk tetap diam meskipun ia tahu.


...****************...


ketenangan Bunga berbelanja pun terganggu, sebuah dering telpon berbunyi di tasnya. sebuah nama tertulis disana, Tuan Rayhan Calling. tanpa berpikir gadis itu menjawab telpon tersebut, dan tidak ada suara dari seberang telpon.


"halo, ada apa tuan Ray?" tanya Bunga, masih tidak ada jawaban hanya ada suara bising dari seberang.


"apa kau mengenal pemilik ponsel ini, dia ada disebuah cafe dekat kota. pria ini tidak sadarkan diri, dan hampir saja seseorang membawanya pergi!"


Bunga terkejut setelah mendengar itu, dengan segera ia bergegas pergi dari tempatnya. Bunga melajukan mobilnya setelah memasukkan semua barang barangnya, ia tahu dimana tempat Rayhan yang dimaksud penelpon tersebut. setelah beberapa menit Bunga sampai dicafe, ia melihat cafe tersebut sangat ramai orang berlalu lalang. sampai pandangan Bunga melihat seseorang yang dikenalnya, duduk lemas disebuah sofa besar dengan keadaan tidak seharusnya.


Rayhan yang tidak kuat minum, akhirnya ambruk disebuah pesta. dirinya hampir saja akan dibuat bulan bulanan oleh banyak gadis, tapi seorang pelayan membantu mengusir gadis gadis penggoda dan Rayhan menekan tombol telfon secara acak kebetulan telpon Bunga. belum sampai berucap Rayhan tidak sadarkan diri, dan pelayan tersebut menggantikan Rayhan untuk bicara. Bunga melihat Rayhan dibawa seseorang, dengan cepat Bunga menghampiri Rayhan.

__ADS_1


"lepaskan dia, mau kau bawa kemana? " ucap Bunga tegas, gadis berpakaian seksi itu terkejut melihat Bunga.


"aku hanya membantunya untuk kekamar, dia terlihat lelah! "


"tidak perlu, aku mengenalnya dan aku yang akan membawanya! " gadis seksi itu kesal, akhirnya meninggalkan Bunga yang membawa Rayhan duduk disofa. "tuan Rayhan apa yang terjadi? " ucap Bunga, ia ragu menyentuh Rayhan tapi pria itu lemah karena kebanyakan minum anggur yang disuguhkan.


"sepertinya tuan kebanyakan minum nona, tapi tuan Rayhan selalu minum jika kemari dan tidak pernah terjadi hal seperti ini! " ucap seorang pelayan, Bunga yang tidak mengerti menepuk pipi Rayhan dan pemilik pipi membuka mata meskipun tidak sepenuhnya.


"aargghh... ada apa denganku? " ucap Rayhan serak, Bunga tetap diam dan menatap Rayhan. akhirnya Rayhan menoleh kearah Bunga, dan keduanya saling menatap. "anda disini? "


"anda menelpon ku tuan, anda butuh bantuan! " saut Bunga, tiba tiba saja kepala Rayhan berdenyut dan wajahnya menjadi merah.


"obat, seseorang mencampurkan obat! " ucap Rayhan, Bunga masih tidak mengerti dan pada akhirnya ia menopang tubuh Rayhan yang lemah. "antar aku kekamar, aku punya kamar pribadi dilantai atas! " ucap Rayhan, Bunga pun mengangguk untuk mengiyakan.


"tentu saya akan bantu, berdirilah! " ucap Bunga, tubuh kecil itu menopang tubuh kekar Rayhan yang lemah. Bunga dibantu seorang pelayan menaiki lift, dan keduanya dibawa lift hingga menuju lantai atas yang diinginkan Rayhan.


kamar VVIP yang megah, luas dan juga nyaman bagi siapapun pergi kesana. hal itu memang dirancang khusus untuk Rayhan, bisa dikatakan itu adalah kamar pribadi Rayhan jika merasa jenuh dengan pekerjaan. Rayhan membicarakan bisnis pada seorang client, dan tidak ada yang tahu kenapa minumannya dicampur sebuah obat. Rayhan ingat ada seorang wanita didekatnya, dan mungkin itu adalah jebakan yang tertuju untuknya.


Rayhan merasa panas pada semua tubuhnya, bahkan wajah pria itu menjadi merah dan berkeringat. berjalan cepat menuju kamar mandi, Bunga hanya diam tidak mengerti apa yang terjadi pada Rayhan. Bunga menatap kamar indah itu, menampilkan sebuah langit sore degan matahari yang akan tenggelam. ia berdiri di sebuah balkon, melihat ramainya kendaraan dari atas dan merasakan sejuknya udara angin yang berhembus.


Rayhan keluar dari kamar mandi, tubuhnya basah kuyup karena tersiram air dingin. bisa terlihat gigit tergertak, menandakan pria itu kedinginan. Bunga berlari kearah Rayhan, dan terkejut melihat pria itu basah kuyup.


"anda harus melepas baju saat akan mandi, bagaimana bisa anda mandi dengan pakaian lengkap! " ucap Bunga, gadis itu mencari sebuah handuk dan diberikan kepada Rayhan. tidak banyak bicara, Bunga mengusap rambut Rayhan yang basah dengan handuk tebal. tiba tiba saja tangan Rayhan terulur memeluk pinggang Bunga, ia menenggelamkan kepalanya tepat diperut Bunga. gadis itu terkejut, ia terdiam melihat tingkah Rayhan yang tiba tiba seperti itu.


"tidak ada orang yang baik padaku, mereka hanya memanfaatkan diriku! " ucap Rayhan, Bunga masih terdiam tanpa bicara apapun. "kamu... apa kamu melihatku sebagai pria kaya, apakah semua gadis selalu berpikir seperti itu! " ucapnya lagi, Bunga merasa Rayhan tidak sadar mengatakan semua itu. entah inisiatif dari mana, Bunga mengusap rambut hitam tebal Rayhan.


"anda sebenarnya baik, hanya saja anda orang yang pendiam dan tidak banyak bicara! " Rayhan menarik Bunga hingga terduduk, ditatapnya wajah Bunga yang masih terkejut karena tingkahnya. terlihat wajah Rayhan yang tidak garang, wajah itu terlihat sendu menatap Bunga. tiba tiba terlihat wajahnya memerah, Bunga menyentuh wajah itu dan merasakan panas. "anda demam, aku akan meminta obat!" saat akan berdiri Rayhan menarik tangan Bunga, seketika tubuhnya jatuh diatas pangkuan Rayhan.

__ADS_1


Bunga mendelik saat tiba tiba Rayhan mencium bibirnya, pria itu memegang kedua tengkuk Bunga dan memaksakan lidahnya masuk lebih dalam. Bunga meronta tapi kekuatannya tidak lebih kuat, ia merasa lemah dengan tangan Rayhan yang menahannya. tidak ada perlawanan, Rayhan melakukan apa yang ia lakukan pada Bunga.


"bantu aku... obatnya tidak bisa hilang... "


__ADS_2