Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Keluar dari Rumah Sakit


__ADS_3

"Safira, aku tahu bahwa kau sangat kecewa dengan Nanda tapi bukan berarti kau bisa bersikap seperti ini kepadanya. Yah, kau mungkin benar bahwa tidak ada yang paling berharga dari nyawa Annisa dan aku pun berpikiran yang sama dengan mu tapi apakah kau tidak bisa memberikannya kesempatan? Setidaknya biarkan ia menebus kesalahannya sendiri." Ucap Mira mengeluh setelah keluar dari kamar inap Annisa.


Berbicara tentang kecewa Mira pun tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya terhadap Nanda. Tapi mau bagaimana lagi?


Semuanya sudah terjadi dan tidak ada kesempatan untuk memutar ulang waktu. Yang ada hanyalah kesempatan untuk memperbaiki..yah, cukup berikan Nanda kesempatan untuk memperbaiki semua yang telah ia lakukan.


Menghela nafas, "Aku tahu bahwa ini mungkin terlalu berlebihan untuk Nanda. Yah aku akui itu." Respon Nanda mengakui sikapnya yang terlalu berlebihan untuk Nanda.


Mendudukkan dirinya di kursi tunggu, "Aku sebenarnya akan berusaha bersikap acuh kepadanya tapi entah mengapa setiap kali aku melihatnya maka di saat itu pula aku teringat akan kekecewaan ku terhadapnya. Aku marah karena ia sudah melanggar janjinya dan ia bahkan hampir saja membuat nyawa Kakak ku melayang. Aku tidak bisa menerima hal itu begitu saja." Safira sebenarnya sudah berusaha mengabaikan Nanda akan tetapi entah mengapa ketika ia melihatnya amarah yang ia pendam di dalam hatinya seakan ingin keluar meneriakinya.


Ini persis ia rasakan saat Safira bertemu Dimas, hah.. laki-laki itu tidak ada bedanya dengan Nanda.


"Aku..Safira, aku mengerti." Mira menatap lemah, ia bisa mengerti bahwa Safira pasti sangat tersiksa dengan ujian ini.


Menghela nafas lelah, "Terserah, lakukan apapun yang kalian ingin lakukan karena aku sudah tidak perduli lagi. Mungkin besok atau lusa masalah yang terjadi di pondok pesantren akan ku selesaikan dan setelah itu aku akan membawanya pulang, apapun yang terjadi." Putus Safira tidak mau tahu seraya bangun dari duduknya tanpa menunggu respon dari Mira.


Akan tetapi tiba-tiba langkahnya dihentikan oleh suara getaran handphonenya.


Mengangkatnya, ada nama 'Mas Gio' yang tertera di sana. Lalu dengan gerakan alami ia menjawab telpon tersebut dan mengangkatnya sejajar dengan posisi telinga kanannya.


"Halo, assalamualaikum Mas Gio." Suara Safira tenang setelah mengangkat telpon dari Gio.


"Waalaikumussalam, Safira." Suara kelelahan Gio dapat terdengar di seberang sana. Safira tidak tahu apakah Gio benar-benar kelelahan atau tidak karena suaranya yang terdengar tidak biasa menciptakan rasa penasaran untuk Safira.


"Apakah ada sesuatu yang ingin Mas katakan?" Tanya Safira langsung tidak ingin berbasa-basi.


"Yah, ini tentang pembicaraan kita tadi pagi." Jawab Gio langsung tanpa berbelit-belit.


Mengerutkan keningnya, "Katakan, apapun itu Safira akan mendengarkannya." Safira tidak ingin terlalu menebak dan tidak ingin terdengar terlalu bersemangat.


Menghela nafas lelah, "Safira kami sudah menemukan racun yang ada di tangan Reina. Sekarang racun tersebut sudah ada ditangan ku dan seperti yang kamu duga bahwa pelakunya memang Reina. Hal ini juga diperkuat ketika Kak Rumi mengatakan orang terakhir yang ada di dalam dapur adalah Annisa dan Reina, jadi satu-satunya tersangka yang dapat kita duga adalah Reina. Adapun dari mana Reina menemukan racun ini aku juga sudah mengetahuinya. Rara, sepupu ku yang satu kamar dengannya mengatakan bahwa racun itu Reina dapatkan dari Umi. Untuk Umi rencananya aku akan menanyakannya sekarang setelah menelpon mu. Jadi bersabarlah, sebentar lagi semuanya akan selesai." Jelas Gio di seberang sana tidak menyembunyikan apapun. Untuk menanyakan hal ini kepada Umi, Gio rencananya ingin bertanya langsung akan tetapi ketika ia melihat Umi sedang sibuk memasak di dapur Gio akhirnya memutuskan untuk bertanya lain kali saja.


Tersenyum dingin, sinar matanya menunjukkan kepuasan yang langka. "Tidak perlu Mas Gio, aku sudah puas dengan semua yang Mas katakan tadi. Untuk masalah Umi biarkan Safira yang akan menanganinya langsung karena sore ini Kakak sudah bisa diizinkan pulang." Tolak Safira halus. Pagi ini setelah berkonsultasi dengan dokter, Annisa sudah bisa di izinkan pulang asalkan ia bisa menjaga pola makan dan minum obat secara teratur. Dokter juga mengatakan jika saat-saat ini Annisa tidak bisa melakukan pekerjaan yang berat bahkan sampai menimbulkan kelelahan.


Terkejut, "Annisa sudah boleh di bawa pulang?" Tanya Gio tidak percaya.


Mengangguk pelan, Safira bersikap seolah Gio dapat melihatnya. "Benar Mas, sore ini Annisa sudah bisa di bawa pulang." Jawab Safira membenarkan.


Ragu-ragu, "Lalu apakah kau akan langsung membawa Annisa pulang ke kota?" Tanya Gio terdengar enggan. Jika Annisa pergi maka ia sekali lagi akan terbelenggu rindu. Berada di tempat yang sama saja mereka belum tentu bertemu lalu bagaimana dengan berjauhan?


Gio masih enggan berpisah dengan Annisa.


Tersenyum puas, "Tidak Mas, Safira akan membawa Annisa pulang ke pondok pesantren dulu untuk menyelesaikan masalahnya. Adapun jika kami benar-benar pulang Mas Gio adalah laki-laki dan tahu betul langkah apa yang harus di ambil untuk Kakak ku."


Merasa lega, "Tentu saja, bahkan tadi malam aku sudah membicarakannya dengan Abi dan Umi. Mereka berdua sangat mendukung ku untuk mengikat Kakak mu." Gio tersenyum senang ketika mengingat percakapan singkat ia dan kedua orang tuanya. Meski singkat akan tetapi ada kepuasan tersendiri yang ia dapatkan dari kedua orang tuanya.


Berdiri di depan pintu kamar Annisa, Safira masih sibuk dengan pembicaraannya dengan Gio. "Mas Gio jangan mengatakan hal ini kepada pihak perempuan, cukup Mas dan pihak laki-laki saja yang tahu. Aku ingin seperti yang lain bersikap polos dan murni, seakan kedatangan Mas adalah kejutan yang begitu luar biasa dan mendebarkan."


Gio di seberang sana tidak bisa menahan tawanya yang terdengar berat, "Itu sungguh tidak cocok untuk mu, Safira. Kau sudah terlanjur tahu dan akan sangat sulit untuk bersikap tidak tahu apa-apa." Jujur Gio berbicara apa adanya. Seperti yang ia katakan tadi, Safira itu adalah gadis yang aneh. Bersikap imut dan manis selayaknya gadis di luar sana begitu tidak cocok untuknya.


Menghela nafas pasrah, "Hah..aku tahu tapi mengapa Mas harus mengatakannya sejujur itu." Suara Safira terdengar tidak berdaya. Kakak iparnya ini-ah, masih belum. Jadi calon Kakak iparnya ini masih belum sah menjadi keluarganya tapi sudah bisa membuatnya pusing dan tidak berdaya seperti ini. Ini membuatnya tidak bisa mengatakan apa-apa.


"Jadi kamu juga menyadarinya? Hahah.. apakah ini karena Aldi sehingga kamu menjadi tidak berdaya seperti ini?" Tawa Gio sekali lagi menggelegar, mengingatkan Safira pada sosok laki-laki yang sudah lama ia tidak lihat lagi.


Merasakan panas di wajahnya, Safira yakin kedua pipinya sekarang merona merah. "Aldi.. bagaimana kabarnya sekarang Mas?" Tanya Safira ingin tahu. Sikapnya seolah mengatakan kejujuran bahwa ia memang tertarik dengan laki-laki ini.


Tersenyum penuh maksud, "Alhamdulillah dia baik dan in shaa Allah bulan depan dia akan kembali dari studinya di Mesir." Jawab Gio terdengar tenang, tidak ada lagi suara tawa mengejek yang sedari tadi terdengar.


Meremat pakaiannya, "Apakah Aldi akan langsung kembali ke pondok pesantren?" Tanya Safira ragu-ragu. Entah kenapa setiap mengingat nama laki-laki ini jantungnya selalu berdetak cepat dan tanpa sadar tubuhnya pun akan terasa hangat.


Apakah ini yang dirasakan Annisa ketika mengingat Gio?


Mengingat percakapan mereka tempo hari lalu, "Aldi mengatakan jika ia akan mengabdikan dirinya di sini secara langsung. Ia ingin membagikan ilmu yang ia telah dapatkan di sini agar ilmunya dapat berguna untuk semua orang." Jawab Gio santai. Aldi bilang setelah ia kembali dari Mesir ia akan langsung membagikan ilmunya di pondok pesantren ini. Mengabdi dan membagikan semua yang ia dapatkan pada yang lain, sejujurnya Gio kagum pada pemuda ini.


Tertegun, Safira kemudian membawa pandangannya melirik Mira yang kini telah berdiri di sampingnya. Mungkin ia sudah mendengarkan percakapannya jadi Safira tidak merasa terganggu. "Aku mengerti, ketika Aldi kembali ke Indonesia tolong kabari aku Mas." Safira sudah memutuskan langkah apa yang akan ia pilih. Ia tidak ingin seperti Annisa yang hanya diam dan kurang percaya diri pada dirinya sendiri sehingga membuatnya sulit untuk mendapatkan cintanya. Safira tidak ingin seperti itu.


Tapi Safira ingin menjadi dirinya sendiri, bertindak berani dan langsung mengejar cintanya tanpa malu-malu. Hei, ini soal kebahagiaan dan Safira tidak ingin kebahagiaannya berlalu begitu saja.


"Jangan khawatir, aku akan langsung memberi tahu mu jika dia pulang nanti. Baiklah, Mas harus menyiapkan mobil untuk menjemput kalian jadi bersiaplah."


Menutup teleponnya, Safira memandang layar handphone yang menampilkan punggung tegap dan lebar seseorang yang selama ini ia kagumi. Ah, mungkin yang selama ini ia sukai.


"Mira, ketika ia pulang nanti itu bertepatan dengan hari libur ku di kampus." Suara Safira diam-diam terdengar bersemangat.


Tersenyum ringan, "Hem datanglah, saat ia pulang nanti ku pikir hanya aku yang bisa menemani mu di sini karena aku yakin Annisa dan Nanda saat itu sudah mempunyai kehidupan yang lain. Siapa yang bisa menebak apa yang akan terjadi satu minggu lagi." Respon Mira terdengar mengeluh. Melihat semua yang telah terjadi beberapa hari ini, Mira seakan mendapatkan sebuah firasat bahwa Annisa dan Nanda mungkin akan berlabuh ke kehidupan yang lebih tinggi lagi. Mereka akan menikah dan sibuk dengan urusan rumah tangga mereka yang memabukkan.


Tersenyum geli, Safira merasa hatinya lebih ringan dari yang sebelumnya. Lalu dengan suasana senang ia merangkul pundak Mira agar lebih dekat lagi dengannya, "Maka ini adalah giliran kita untuk mencari kebahagiaan kita yang lain." Ucap Safira terdengar bersemangat dan terkesan tidak sabar menunggu satu bulan lagi terlewat.


Membalas rangkulan Safira, "Hem, sudah saatnya kita mencari kebahagiaan seperti mereka. Tidak apa-apa, jika mereka lebih dulu menikah maka itu mungkin adalah awal bagi kita untuk mengejar kebahagiaan kita." Ucap Mira menyetujui yang langsung di sambut tawa senang oleh mereka berdua.


Suasana akrab ini, sudah satu tahun lamanya Safira tidak merasakannya.


                                       ***


"Assalamualaikum." Salam Safira dan Mira seraya memasuki kamar inap Annisa.


"Waalaikumussalam." Annisa dan Nanda menjawab salam dengan tenang dan santai.


"Kak Annisa, sore ini Kaka sudah bisa pulang." Suara Safira seraya mengumpul barang-barang Annisa yang ada di kamarnya.


Tertegun, "Apakah itu benar?" Tanya Annisa bersemangat.


Mengangguk senang, "Iya Kak, sore ini Kakak sudah boleh pulang." Ucap Safira mengulangi ucapannya.


"Safira..aku.. apakah aku bisa bantu?" Tanya Nanda ragu yang kini berdiri di sampingnya.


Terdiam, Safira sejenak berpikir lama sampai akhirnya bibir tipisnya menyunggingkan sebuah senyuman yang langka."Hem, tolong bantu aku." Jawab Safira tenang yang langsung direspon semangat oleh Nanda. Saat ini hatinya sedang terasa ringan dan dalam keadaan yang menyenangkan sehingga Safira bisa begitu mudah melupakan masalah Nanda yang ceroboh.


Yah, siapa yang tidak senang jika semua yang terjadi hari-hari ini berjalan dengan sangat baik.


Apalagi beberapa kabar gembira yang sudah ada di kantongnya, ia sudah tidak sabar untuk menjemputnya.


"Annisa, diam di tempat mu dan jangan bergerak. Biarkan semua ini kami yang membersihkan dan kau diam saja di sini." Mira bersuara protes menghentikan Annisa dari kegiatan bersih-bersihnya.


Merasa tidak nyaman, "Aku sudah sembuh Mira jadi kau tidak perlu khawatir lagi." Annisa tetap kukuh dengan kemauannya untuk membantu mereka.


Menggeleng teguh, "Tidak bisa tetap tidak bisa!. Annisa, jangan keras kepala dan duduk diamlah di sini. Aku tidak ingin karena kepala mu yang begitu keras membuat kita berakhir tinggal di rumah sakit lebih lama lagi, jadi ku mohon menurut lah sekali saja." Karena Annisa keras kepala maka Mira lebih keras kepala lagi. Ini ia lakukan karena Mira tidak ingin Annisa kenapa-napa dan berakhir di rawat lagi jadi pilihan terbaik adalah membiarkan Annisa tidak melakukan apa-apa.


Menghela nafas pasrah, "Baiklah, aku mengerti." Annisa tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi karena sangat membosankan.


"Hem, bagus." Senang Mira seraya kembali fokus mengumpulkan barang-barang yang sebenarnya tidak banyak karena Annisa di sini tidak sampai tiga hari.


Setelah satu jam'an melakukan bersih-bersih, kamar inap Annisa sudah bersih seperti saat pertama kali mereka datangi. Bahkan alat medis yang semula mengitari Annisa kini telah disingkirkan dan memberikan ruang kosong.


Colek


"Assalamu'alaikum?" Pintu kamar terbuka dan menampilkan wajah tampan Gio yang menyenangkan mata.


"Waalaikumussalam." Mereka semua menjawab salam dengan pengucapan terbiasa.


Membawa tatapannya menatap Annisa, Gio tersenyum senang ketika mendapati Annisa terlihat lebih baik dari terakhir kali mereka bertemu. "Sudah siap pulang?" Tanya Gio terdengar perhatian.


Tersenyum malu, "Iya Mas, Annisa sudah siap pulang." Jawab Annisa tidak menyembunyikan suara antusiasnya.


"Yah, sepertinya kita harus membawa barang-barang ini ke mobil lebih dulu." Suara Nanda mengalihkan perhatian semua orang, membuat Safira dan Mira mengangguk semangat setelah mengetahui maksud Nanda.


"Benar, Mas Gio tolong urus Kak Annisa dulu karena kami akan membawa barang-barang ini ke mobil lebih dulu." Safira mendukung rencana tak kasat mata Nanda seraya membawa barang-barang tersebut ke dalam pegangannya.


"Mas Gio bawa Annisanya hati-hati aja yah, kasian dia baru aja sembuh." Lalu dengan sikap santai mereka meninggalkan Gio dan Annisa yang masih tercengang.


"Sebenarnya aku juga bisa memban-"


"Tidak perlu, kami bertiga juga kuat membawa semuanya." Potong Mira memberikan seringai seraya menutup pintu kamar Annisa dengan gerakan menggoda.


Sunyi, tak ada suara atau pembicaraan akrab yang muncul di antara mereka berdua.


Canggung


Hal yang paling mendominasi secara nyata adalah sebuah suasana yang canggung dan gugup. Akan tetapi jika diperhatikan lebih tajam lagi sebenarnya jantung mereka sedang berdetak hebat di dalam sana. Bahkan perasaan hangat dan lembut perlahan-lahan menguasai tubuh mereka yang terlihat kaku.


"Mas-"


"Annisa-"

__ADS_1


Canggung, mereka kemudian mengalihkan pandangan mereka ke sembarang arah.


"Mas Gio.. lebih dulu." Suara lembut Annisa mengalah.


Tidak bisa menahan senyum kebahagiaan, "Apakah kamu sudah merasa lebih baik?" Suara Gio menanyakan kondisinya saat ini.


Tapi bukankah Gio sudah menanyakan hal ini saat pertama kali datang tadi?


Tersenyum lembut, Annisa dengan gugup merendahkan pandangannya. "Alhamdulillah, Annisa merasa jauh lebih baik dari hari kemarin." Jawab Annisa jujur. Kondisi tubuhnya jauh lebih ringan dan bertenaga daripada kemarin.


"Lalu apakah itu baik-baik saja jika kamu berjalan? Jika tidak aku bisa meminjamkan kursi roda di salah satu perawat yang bertugas." Gio bertanya khawatir, takut jika Annisa tidak bisa berjalan karena masih merasa lemah dan lemas.


Merasakan pipinya memanas, "Alhamdulillah Annisa masih kuat untuk berjalan, apalagi jaraknya tidak jauh jadi tidak apa-apa untuk berjalan. Lagipula Annisa sudah sembuh dan tidak merasa lemas sehingga kursi roda tidak diperlukan untuk Annisa." Jawabnya optimis. Ia masih kuat berjalan dan tidak lumpuh jadi mengapa ia harus menggunakan kursi roda?


Ragu, "Apakah kamu yakin?"


Menganggukkan kepalanya tenang, "In shaa Allah Annisa yakin." Jawabnya yakin seyakin-yakinnya yang langsung di angguki lega oleh Gio.


"Maka kita seharusnya menyusul mereka sekarang." Ucap Gio bernada ajakan yang langsung disanggupi dengan canggung oleh Annisa.


"Umi tadinya ingin datang ke sini untuk menjenguk mu, akan tetapi ia tidak jadi karena aku memberitahukannya tentang kepulangan mu sore ini." Gio memulai pembicaraan lagi setelah melihat Annisa bisa dengan mudah turun dari ranjangnya.


Merasa senang, "Umi seharusnya tidak perlu datang ke sini lagi karena aku yakin ia pasti sangat kelelahan di pondok pesantren." Umi adalah wanita yang aktif dan tidak suka duduk santai. Jadi melihat segala kegiatannya di pondok pesantren Annisa tahu bahwa Umi pasti kelelahan.


Tersenyum lembut, Gio membuka pintu kamar untuk mempersilakan Annisa lewat lebih dulu. "Untuk orang sepenting kamu, Umi akan mengabaikan rasa lelahnya." Ucap Gio santai seraya menutup pintu kamar Annisa.


Ia tidak tahu jika apa yang ia katakan ini memicu badai kesemutan yang manis di dalam hati Annisa. Perasaan diperhatikan seperti ini adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Ibu mertua kepada menantunya.


"Aku..aku tidak sepenting itu." Gumam Annisa bingung karena teringat jika Gio sebenarnya disukai banyak gadis!


Jadi mustahil rasanya ia mampu bersanding dengan Gio dengan gelar jandanya yang sudah diketahui oleh banyak orang, terutama Gio.


Melirik Annisa, Gio tahu jika kekasihnya belum halalnya ini masih meragukan dirinya. "Tidak, kamu adalah orang yang penting bagi kami, yakinlah." Gumam Gio juga kepada Annisa. Ia tidak tahu apakah Annisa bisa mendengar dengan jelas apa yang ia katakan tadi atau tidak.


Merendahkan pandangannya, Annisa berusaha wajahnya tidak dilihat oleh Gio karena jika ya maka ia bingung kemana harus menyembunyikan wajahnya. "Mas, aku ingin menanyakan sesuatu. Hal ini sudah lama ku pendam, tapi karena kita hanya berdua saja rasa penasaran ku bangkit lagi. Jadi apakah boleh?" Mengalihkan pembicaraan, Annisa meremat kedua tangannya dengan gelisah.


Menganggukkan kepalanya senang, Gio tidak ingin melewatkan kesempatan ini dan mengatakan "Boleh, katakan saja dan aku akan menjawabnya semampu ku." Jawab Gio membuat Annisa semakin gelisah.


Ragu, "Apa...apa Mas mengenal Saqila?"


Tentu saja jawabannya adalah iya!


Tersenyum, "Hem sama seperti Safira, ia juga adalah salah satu murid ku." Jawab Gio jujur. Saqila tidak lebih dari sekedar murid dihadapannya.


"Lalu, apakah Mas pernah menjanjikan sesuatu kepadanya?" Tanya Annisa hati-hati.


Berpikir, "Sepertinya tidak pernah karena seingat ku kontak kami sangat minim." Karena orang yang ia urus bukan hanya Saqila sehingga ia tidak terlalu memperhatikan gadis ini meskipun sesungguhnya ia juga cantik.


Berdegup kencang, Annisa dapat merasakan jika darahnya saat ini mengalir cepat. Bahkan suhunya benar-benar menghangatkannya. "Bahkan.. bahkan sekalipun itu sebuah hubungan, apakah Mas Gio pernah menjanjikan ini kepadanya?" Langkahnya mungkin tidak cepat dan lambat akan tetapi entah mengapa Annisa seakan ia sedang dipaksa berjalan sangat cepat dengan jarak yang jauh.


Ini hanya ilusinya bukan?


Tertegun, Gio akhirnya tahu kemana arah pembicaraannya mereka. Tersenyum lembut, Gio senang jika Annisa akhirnya berani menanyakan hal ini kepadanya. "Sekalipun itu adalah sebuah hubungan yang manis aku tidak pernah menjanjikan apapun kepadanya. Di mata ku, ia hanyalah seorang murid yang berbakat dan tidak lebih dari itu. Apalagi kontak kami di kota dulu sangat minim sehingga tidak jelas rasanya jika aku menjalin hubungan dengan seorang gadis yang kurang aku perhatikan." Gio menjawab dengan suara yang tidak keras dan berusaha terdengar selembut mungkin. Membuat Annisa yang ada di sampingnya tanpa sadar menghela nafas lega.


Ia lega karena Gio dan Saqila tidak punya hubungan apapun akan ia bingung mengapa Saqila mengatakan bahwa Gio adalah calon suaminya.


"Hem..aku mengerti." Gumam Annisa merasa lebih nyaman.


"Wah, Annisa kenapa dengan wajah mu?" Tiba di parkiran rumah sakit, sudah ia dapati Mira yang kini menatapnya dengan tatapan menggoda.


Gugup, Annisa mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh wajahnya dengan ekspresi panik. "Apa? Kenapa dengan wajah ku?" Tanyanya panik, bahkan ia begitu takut mengalihkan wajahnya dari Mira sehingga Gio dapat melihatnya.


Annisa tidak ingin Gio melihatnya dalam keadaan yang tidak baik.


Menjaga wajahnya tetap tenang, "Tidak..ini hanya memerah saja, apakah ini efek samping dari obat yang kamu makan?" Seakan bodoh, Mira mempertanyakan wajah Annisa yang merah merona kini semakin merona ketika mendengar pertanyaannya.


Gugup, "Ini..ini bukan apa-apa jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya." Tentu saja ia harus mengatakan ini daripada harus mengatakan yang sebenarnya.


"Oh.. selama kau merasa tidak terganggu maka itu baik-baik saja." Putus Mira seraya masuk ke dalam mobil ikut bergabung dengan Safira dan Nanda yang sudah duduk santai di dalam.


Melihat kursi penumpang yang sudah penuh Annisa tahu jika ia akan berakhir duduk di kursi depan bersama Gio.


"Silakan masuk, hati-hati jangan sampai melukai lutut mu." Gio mempersilakan Annisa masuk ke dalam mobil dan membimbingnya dengan lembut untuk duduk di kursi depan.


Tersenyum lembut, "Asal kamu merasa nyaman maka semuanya akan baik-baik saja." Ucap Gio seraya menutup pintu mobilnya dan masuk lewat pintu mobil bagian kemudi.


Bahkan sikapnya yang terlihat tenang tidak luput dari perhatian mereka bertiga yang ada di belakang. "Mas Gio sedang gugup." Bisik mereka mulai bergosip ria melihat kegugupan yang sebenarnya cukup terlihat di wajah Gio meskipun ia berusaha menutupinya.


"Hem, Annisa juga terlihat sangat gugup di sana." Kemudian enam pasang mata memfokuskan atensinya mereka melihat Annisa yang kini sedang meremat kedua tangannya dengan gugup.


"Cukup meyakinkan jika mereka sepertinya sedang dilanda virus Corona." Gumam yang lain.


Mencubit lengannya, "Kalau ngomong jangan asal bicara karena bagaimanapun itu adalah doa." Orang yang ada di tengah memberikan nasihat.


Mengangguk dengan ekspresi bersalah, "Hem, tadi itu lidah ku keseleo." Belanya mulai fokus lagi terhadap gibahan sepintas mereka.


"Ini namanya virus merah jambu." Gumam yang ada di samping kiri, lalu dengan kompak mereka menganggukkan kepala mereka mengerti.


                                      ***


"Assalamualaikum, Umi." Begitu turun dari mobil Annisa langsung di sambut oleh Umi di halaman depan rumah utama.


"Waalaikumussalam, Nak, bagaimana keadaan mu hari ini? Apa ada yang masih kurang nyaman?" Tanya Umi masih khawatir seraya membimbing Annisa masuk dengannya ke dalam rumah.


Meremat tangannya cemburu, gadis yang sedari tadi ada di samping Umi kini dilupakan keberadaannya oleh Umi. Bahkan Gio yang baru turun dari mobil saja tidak meliriknya sama sekali.


"Kak Reina, bantuin kita dong bawa barang-barang ini masuk ke dalam." Suara halus nan lembut Safira mengalihkan perhatian Reina dari rasa kecemburuannya.


Tertegun, Reina baru menyadari jika yang memanggilnya tadi adalah Safira, gadis iblis yang pernah mempermalukannya.


"Di bawa ke ruang bagian mana?" Reina mendekati mereka bertiga seraya membawa beberapa barang ditangannya.


Karena ia sudah ada di sini maka kenapa tidak memberikannya sedikit pelajaran saja?


"Kamar tamu." Jawab Nanda lugas seraya membawa barang ditangannya dan memimpin jalan untuk mereka berempat.


Mengikuti langkah, Reina dengan diam memilih urutan terakhir. Bahkan meskipun dalam keadaan diam, Reina sebenarnya saat ini sedang berpikir keras bagaimana membuat Safira merasakan rasa sakit seperti Kakaknya yang ceroboh.


"Apa kau pikir hanya kau yang bisa mempermalukan ku? Hah, jangan terlalu arogan Safira karena percaya atau tidak aku juga akan membuat mu merasakan malu seperti yang ku rasakan. Ah.. bagaimana jika itu lebih sakit maka ku yakin kau tidak akan berani mengganggu ku lagi gadis iblis." Gumam Reina muram seraya memandang punggung tipis yang ada di depannya.


Ia tidak bisa menahan kebenciannya ketika berdekatan dengan Safira dan ia sudah tidak sabar untuk membuat Safira merasakan apa itu perasaan ditindas yang sebenarnya.


"Kak Reina, dimana Dea? Sedari tadi aku masih belum melihatnya dimana pun." Safira memperlambat jalannya agar bisa sejajar dengan Reina yang ada dibelakangnya.


Menatap dingin, ada senyuman yang ramah di bibir tipisnya. "Dea masih belajar bersama dengan teman-temannya yang lain jadi ia tidak sempat datang ke sini untuk membantu karena biar bagaimanapun ilmu lebih penting dari apapun." Jawab Reina manis menyindir dengan halus.


Mengangkat alisnya, Safira tahu ada makna penyindiran dari kata-kata halus Reina. "Oh, jadi Dea sudah berubah. Syukurlah ia bisa berubah dan mengirimnya ke sini sepertinya cukup efektif untuk memperbaiki moralnya sebagai perempuan yang 'terhormat'." Respon Safira senang mengetahui perubahan positif pada Dea, bahkan wajahnya yang terlihat polos saat mengatakan ini membuat apa yang ia katakan tadi adalah sesuatu yang normal.


Menatap sinis, Reina tidak mau kalah dari gadis ingusan seperti Safira. "Tentu saja, di sini jauh lebih baik dari kota yang penuh akan kemunafikan. Aku jauh lebih nyaman mengirimnya ke sini karena seperti yang kau katakan tadi ia sudah berubah lebih baik lagi. Setidaknya ini lebih baik dari orang-orang di kota yang hanya mengenakan topeng munafik."


Indikasinya adalah semua yang ia katakan tadi ia tujukan pada Annisa dan Safira. Jelas, Safira tahu betul maksud Reina mengatakan hal ini.


Tersenyum manis, "Hem, orang kota memang banyak yang menggunakan topeng munafik tapi tidak menutup kemungkinan jika orang yang ada di sini juga sama. Malahan jauh lebih mengerikan jika orang-orang yang ada di sini bertopeng munafik, membuat pondok pesantren yang mempunyai kesan yang suci dan damai menjadi kotor dan mengerikan. Ah, tapi aku yakin Dea tidak seperti itu.. bukankah aku benar Kak Reina?" Tersenyum puas, ia bersikap seolah semuanya terdengar normal.


"Yah, itu...Dea sudah berubah menjadi lebih baik jadi yakinlah bahwa ia tidak akan seceroboh dulu." Jawab Reina mau tidak mau mengiyakan Safira.


Yah karena lagi-lagi kelemahan terbesarnya adalah Dea, gadis bodoh dan tidak berguna yang merangkap sebagai saudaranya itu benar-benar membuatnya malu.


Bahkan ini sudah kedua kalinya Reina dipermalukan oleh Safira dan lagi-lagi penyebab ia kalah adalah selalu karena Dea!


"Oh, berbicara tentang kota apakah kau pernah bertemu lagi dengan mantan suami Annisa?" Mengalihkan pembicaraan, Reina memulainya dengan topik yang cukup panas untuk Safira.


Tersenyum dingin, Safira mengerti jika Reina saat ini sedang mencari peruntungan dengannya. "Ah, Mas Dimas..kami sudah beberapa kali bertemu." Jawab Nanda tanpa menyembunyikan kebenarannya.


Bingung, "Apa ia datang untuk mengajak Annisa kembali bersama?"


"Ahahahah..itu tidak seperti yang Kakak pikirkan. Kami hanya bertemu karena sama-sama membawa perdamaian." Tertawa kecil, ada seringai samar yang tercipta di wajah cantiknya.


"Perdamaian?" Reina bingung perdamaian seperti apa yang mereka maksud.


"Hem, Mas Dimas datang dan mengatakan kepada ku bahwa ia akan menikah dengan seseorang. Menerima kabar gembira itu tentu saja aku juga menyampaikan kabar gembira dari keluarga ku kepadanya. Aku mengatakan bahwa Kak Annisa juga akan menikah bulan ini." Jawab Safira santai. Benar, beberapa waktu yang lalu Dimas mengatakan bahwa ia akan menikah dengan seorang gadis yang baru-baru ini membuatnya merasa nyaman. Mendengar itu tentu saja Safira merasa senang, bahkan ia tidak bisa menahan mulutnya untuk mengatakan bahwa Annisa juga akan segera menikah dengan Gio walaupun pada saat itu Safira masih belum mengkonfirmasi bahwa Gio menyukai Annisa tapi ia yakin bahwa apa yang ia katakan akan segera terjadi.


Terkejut, "Apakah Annisa akan menikah?" Tanya Reina tidak bisa menahan keterkejutannya.

__ADS_1


Tersenyum senang, "Hem, itu benar." Jawab Safira mantap.


Penasaran, Reina tidak akan perlu repot-repot mengurus Annisa jika ia tahu bahwa Annisa sudah punya calon suami. "Dengan siapa ia akan menikah?"


"Tebak, siapa laki-laki yang begitu beruntung mendapatkan Kakak ku?" Suara Safira senang seraya membawa langkahnya menjauh dari Reina yang masih tercengang dengan tindakan Safira. Laki-laki yang beruntung mendapatkan Annisa?


Apakah ia tidak salah dengar? Laki-laki itu bukannya beruntung mendapatkan Annisa justru ia seharusnya merugi.


Apa gadis itu...gila?


            .                         ***


Setelah merapikan mukenanya, Safira sekali lagi dapat merasakan suasana yang khusyuk ketika datang ke tempat ini lagi. Sholat subuh yang begitu menenangkan dan mendamaikan hatinya membuat Safira merasa lebih nyama lagi untuk melakukan aktivitas hari ini.


"Ayo Saf." Ajak Nanda seraya menariknya untuk mengikuti langkahnya keluar dari masjid.


"Nan, aku dengar kau akan menikah dengan Mas Dimas." Suara Safira memulai pembicaraan.


Tertegun, Nanda awalnya tidak yakin jika Safira akan bersikap seperti biasa kepadanya. Akan tetapi setelah mendengar suara akrab Safira yang tanpa nada dingin sebelumnya, entah kenapa Nanda tahu bahwa Safira sudah tidak marah lagi dengannya.


"Alhamdulillah Saf, aku dan Mas Dimas in shaa Allah akan menikah bulan depan setelah Gio dan Annisa menikah. Aku..yah, aku sangat berterima kasih kepada mu dan Annisa karena sudah mau membantu ku. Kau tahu, kemarin setelah Annisa dilarikan ke rumah sakit Papa tiba-tiba menelpon ku bahwa ia merestui ku dengan Mas Dimas. Aku tidak tahu mengapa Papa berubah pikiran secepat itu tapi sungguh..aku sangat berterima kasih atas bantuan kalian berdua." Dalam perjalanan pulang mereka ke kamar, Nanda menceritakan tentang Papanya yang berubah pikiran. Ia juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Safira dan Nanda karena selama ini sudah membantunya.


Tersenyum canggung, "Aku juga minta maaf karena kesalahan yang ku buat Annisa sampai harus memakan racun dan dilarikan ke rumah sakit. Safira, aku tidak tahu harus mengatakan apa karena sungguh aku sangat menyesal sekarang. Tapi..tapi aku janji akan membantu mu menyelesaikan masalah Annisa di sini jadi..jadi jangan bilang bahwa kita tidak perlu saling mengenal seperti kemarin." Nanda sangat menyesali apa yang telah ia lakukan dan ia juga tidak mau jika Safira tidak mau lagi berteman dengannya. Ia tidak mau jika itu sampai terjadi karena jauh dari dalam hatinya Nanda sudah menganggap Safira sebagai keluarganya. Jadi ia tidak rela berpisah dengan Safira.


Menghela nafas, "Nanda, aku sangat bersyukur akhirnya kau dan Dimas mendapatkan restu dari orang tua mu. Aku juga sudah melupakan tentang kejadian kemarin karena biar bagaimanapun kau adalah keluarga juga sahabat untuk ku dan Annisa. Adapun jika kau ingin membantu ku untuk menyelesaikan masalah ini maka aku akan sangat berterima kasih dengan hal itu. Karena aku ingin segera menyelesaikan semua masalah yang ada di sini dan membawa Annisa pulang untuk menyelesaikan masalah penting yang ada di rumah. Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini dan ingin segera mengakhirinya. Melihat Kakak ku tersenyum bahagia bersama orang yang ia sukai adalah yang paling ku tunggu, jadi jika kau tidak keberatan Nanda, tolong bantu aku." Yah, Safira sudah bertekad untuk melupakan semua kesalahan yang Nanda buat dan memutuskan untuk fokus pada masalah Annisa. Ia ingin segera menyelesaikannya dan membawa Annisa pulang ke rumah untuk pesta selanjutnya.


Ia sudah tidak sabar dengan hidangan utama itu.


Menggelengkan kepalanya tidak berdaya, kadang Nanda meragukan apakah Safira adalah seorang gadis seusia mereka atau tidak karena jalan pikiran Safira yang tajam jauh melampaui pikiran mereka. "Jangan khawatir, aku akan membantu mu menyelesaikan masalah ini di sini." Ucap Nanda bertekad ingin membantu juga membalas jasa Annisa dan Nanda.


"Yah, sebagai awalnya kita harus bekerja di dapur dulu. Kegiatan rutin kami selama di sini ya mengurus dapur bersama yang lain." Lanjut Nanda dengan suara yang jauh lebih tenang.


Tersenyum tipis, "Apa ia juga ada di sana?" Tanya Safira ingin tahu.


Menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan, "Hem, dia selalu di sana." Jawab Nanda yakin seyakin-yakinnya.


"Baiklah." Gumam Safira tidak sabar seraya mempercepat langkah mereka kembali ke kamar. Untuk sementara Nanda yang tidur di ranjang Annisa dikarenakan Annisa tidak diizinkan tidur dimana pun kecuali rumah utama oleh Umi.


Setelah sampai kamar, mereka langsung mengembalikan mukena mereka yang sudah terlipat rapi di tempat semulanya. Setelah rapi, mereka bertiga kemudian dengan penuh semangat membawa langkah mereka ke dapur umum yang memang sudah ada beberapa orang di sana.


Mengucapkan salam, Nanda dan yang lain langsung masuk untuk bergabung bersama yang lain.


"Hari ini kita akan masak apa?" Tanya Nanda seraya memperhatikan beberapa sayuran yang sudah dicuci bersih.


"Seperti biasa, ini hanya bubur ayam." Jawab seorang wanita yang cukup tidak asing untuk Nanda.


"Baiklah, aku dan yang lain akan menyuir ayam goreng ini." Putus Nanda sambil menarik tangan Mira dan Safira mengikutinya mengambil wadah yang sudah penuh dengan potongan ayam goreng yang masih hangat.


Tanpa protes, Mira dan Safira dengan patuh ikut mendudukkan diri mereka di salah satu kursi dengan meja besar yang hampir penuh dengan berbagai macam sayuran.


"Apa Kakak ku selama di sini selalu melakukan ini?" Tanya Safira penasaran tanpa mengalihkan perhatiannya dari kedua tangannya yang sedang asik ia lap dengan sebuah kain bersih.


"Annisa selalu di sini setiap kali pondok menyiapkan makanan untuk para santri." Angguk Mira yang kini juga ikut-ikutan membersihkan tangannya dengan kain bersih yang lain.


"Sudah ku duga Annisa pasti akan sering bergelut di sini." Gumam Safira tersenyum senang karena tebakannya ternyata memang benar.


Bingung, "Kenapa kau bisa mengatakan seperti itu?" Tanya Nanda penasaran.


Mulai menyuir daging ayam yang ada di tangannya, "Annisa adalah gadis yang pandai memasak di dapur jadi wajar saja ia bergelut di dapur ini." Jawab Safira yakin yang langsung diangguki setuju oleh Nanda dan Mira.


"Hem, masakan Annisa sangat enak. Apalagi daging ikan tawar yang ia buat sambal balado, uh..aku tidak bisa melupakan rasanya." Ujar Mira mengenang ikan tawar yang sudah payah ia bersihkan dan di masak oleh Annisa hari dimana ia keracunan. Hari itu meskipun mereka berduka karena musibah yang menimpa Annisa, tetap saja makanan itu harus dihabiskan karena takut mubazir. Nah, di sanalah Mira berperan penting dalam melahap semua makanan itu.


Ia tidak bisa menyangkal bahwa masakan Annisa memang yang terbaik.


"Huh.. sayangnya hari itu aku sangat takut jadi tidak bernafsu untuk melanjutkan makan." Keluh Nanda karena tidak bisa merasakan makanan yang Annisa buat.


"Tenang saja, lain kali saat kalian berkunjung ke rumah kami akan ada hidangan lezat yang menyambut kalian. Dan aku bisa pastikan bahwa makanan itu dimasak oleh Annisa." Janji Safira bertekad.


"Aku bisa bantu kupas bawang merahnya?" Tiba-tiba suara yang lembut dan hangat mengalihkan perhatian mereka bertiga.


"Ayo Rein, kupas aja dan gak usah sungkan-sungkan."


Tersenyum lembut, "Terimakasih." Ucapnya sopan seraya mendudukkan dirinya di salah satu kursi samping mereka.


Diam, Nanda, Safira dan Mira bersikap seolah mereka masih belum menyadari keberadaan Reina di dekat mereka.


"Oh yah, kami dengar Annisa sudah dipulangkan kemarin dari rumah sakit. Bagaimana kabarnya sekarang?" Perempuan yang mempersilakan Reina bergabung memulai obrolan ringan biasanya.


Tersenyum hangat, Reina bisa menebak jika obrolan ini akan berujung sangat baik."Alhamdulillah, Annisa baik-baik saja dan untuk sementara waktu ia tidak diperbolehkan beraktivitas untuk menjaga daya tahan tubuhnya yang masih belum stabil." Ujar Reina seraya menundukkan lagi kepalanya lebih rendah, menyembunyikan senyuman samar.


Di samping Safira hanya bersikap acuh dan tak acuh, seakan ia adalah orang asing untuk Reina.


Menghela nafas, "Annisa adalah gadis yang cantik dan baik, melihatnya sampai seperti ini sangat mengejutkan bagi kami yang ada di sini." Ujar perempuan itu terlihat prihatin terhadap Annisa yang bersikap impulsif.


"Yah siapa yang akan menduga jika rahasianya bisa tersebar di pondok pesantren dan memicunya untuk meracuni dirinya sendiri." Perempuan yang lain ikut bergabung dalam obrolan menyenangkan ini, membicarakan aib orang lain adalah kenikmatan tersendiri bagi kaum hawa.


Tertegun, dengan marah Safira mencoba mengontrol dirinya agar bersikap lebih tenang lagi. Mencoba meminimalkan kehadirannya di antar mereka semua. Beruntung sekali posisinya di apit dengan baik oleh Nanda dan Mira.


"Aku juga tidak menyangka jika Annisa melakukan hal gila itu karena biar bagaimanapun bunuh diri bukanlah solusi yang baik untuk menyelesaikan masalah." Hah, tidak apa-apa berbohong sedikit demi sebuah kebaikan. Lagipula momentum ini sangat baik untuk membingkai Annisa.


Di saat aibnya mulai tersebar, Annisa akan mulai mengalami depresi dan berakhir meracuni dirinya sendiri. Huh..ini adalah cerita yang sangat menghibur di musim hujan ini.


"Oh ya, siapa bilang jika Annisa mencoba melakukan bunuh diri dengan meracuni dirinya sendiri?" Tiba-tiba suara sinis Mira menginterupsi pembicaraan mereka.


"Aku ingat jika itu karena," Mengalihkan matanya menatap Reina, ada emosi yang rumit terlintas di matanya.


"Seseorang ingin meracuni anak kecil namun itu semua gagal karena Annisa lebih dulu mencicipi makanan yang telah diracuni itu."


Dug


Dug


Dug


Suara jantung Reina berdetak keras membunyikan sebuah alarm peringatan tanda bahaya.


Gadis idiot ini mengapa aku tidak menyadari jika ia juga berada di sini. Dan jika gadis idiot ini ada di sini maka gadis iblis itu juga ada di sini. Tidak..itu tidak mungkin bukan?


"Aa.. berbicara tentang rumor Kakak ku bukankah orang yang mengetahui ini hanya Kak Reina dan saudaranya, lalu mengapa rumor yang belum tentu kebenarannya itu bisa menyebar luas di sini?" Tiba-tiba Safira menegakkan duduknya, memperlihatkan kepada semua orang yang tadi asik membicarakan Kakaknya bahwa ia ada di sini.


Meremat tangan gemetarnya, Reina dengan paksa mengangkat bibirnya untuk memberikan sebuah senyuman. "Safira..itu bukan aku yang membocorkannya-"


"Ah, jadi itu saudara mu?" Potong Safira tidak ingin mendengar pembelaan lagi.


Hening, mereka yang asik berbicara kini memfokuskan atensi mereka pada sosok Safira yang terlihat tidak bersahabat.


"Itu.."


"Yah, itu pasti dia. Kalian bersekongkol bukan?" Tanya Safira terkesan menuduh.


Merasakan keringat dingin, "Kami tidak bersekongkol-"


"Kau sudah mengakuinya. Dengan membantah tuduhan ku, kau seakan mengatakan bahwa saudara mu lah pelaku dibalik semua itu. Tapi Kak Reina, jika semua maling mengakui kejahatan mereka maka penjara pasti akan penuh. Kau di posisi ini sedang mengelak dari perbuatan mu sendiri dan memilih menyalahkan semua perbuatan mu pada saudara mu." Jelas Safira terdengar mencemooh. Bahkan Mira yang ada di sampingnya begitu takjub dengan sikap langsung Safira yang tidak main-main, menakutkan.


"Berhenti, kau tidak bisa memakan suwiran ayam ini lagi." Nanda menepuk tangannya dari menjangkau ayam suwir di dalam wadah plastik. Dengan wajah polos Mira menarik tangannya dan kembali memfokuskan dirinya pada tontonan perang dingin tak kasat mata antara Reina dan Safira.


"Safira, kau tidak bisa mengatakan hal ini tanpa bukti. Ini..ini terlalu berlebihan." Reina berkata dengan sedih, menampilkan ekspresi teraniaya yang bisa saja menarik simpati orang-orang di sekeliling mereka.


Tersenyum dingin, Safira kemudian melepaskan sarung tangan plastik yang ada di tangan kirinya. "Aku tidak mungkin mengatakan hal ini tanpa bukti yang jelas. Hal semacam ini bukanlah sesuatu yang sulit untuk aku temukan kebenarannya. Apalagi di sini buktinya sudah jelas bahwa orang yang tahu rumor ini hanya Kakak dan Dea. Jika bukan kalian siapa lagi yang membocorkan hal ini?"


Menatap wajah Reina dengan tatapan provokasi, ada kekosongan yang jelas di dalam matanya yang tadi bersinar terang. "Kasus ini sudah ditangani oleh pihak pondok pesantren dan ya, Dea sudah mengakui semuanya tadi malam. Adapun hukuman yang akan kalian dapatkan itu akan ku serahkan pada pihak pondok pesantren yang berhak atas tempat ini. Yah.. maksud ku.. begini, Reina lepaskan saja topeng mu itu dan bersikaplah sebagaimana kamu jati dirimu." Tersenyum sinis, Safira begitu menikmati ketakutan yang terlihat jelas di mata Reina. Ini seperti ia kembali mengingat tatapan ketakutan Puspa kepadanya saat di kafe dulu.


"Huh.. baiklah, meskipun aku yang menyebarkan rumor itu lalu kenapa? Bukankah Kakak mu memang benar seperti itu?. Kotor dan hina, mereka menyebutnya janda yang malang." Balas Reina tidak tahan lagi dengan kesombongan yang Safira lemparkan kepadanya. Jika yang membocorkan rumor ini adalah Reina memangnya kenapa?


Bukankah apa yang ia sebarkan itu adalah sebuah fakta dan terbukti benar?


Tertawa kecil, Safira akhirnya berhasil menarik topeng Reina dari wajah murninya. Sekarang orang-orang yang ada di sini pasti akan menatapnya dengan sebelah mata.


"Oh yah? Apakah kau berani membuktikan jika Kakak ku seperti itu? Aku akan ingat jika hal ini hanya omong kosong mu maka aku bisa membawanya ke meja hijau sebagai pencemaran nama baik Kakak ku."


"Tentu saja ini bukan omong kosong karena saat pernikahan itu terjadi aku juga ada di sana!" Marah Reina seraya berdiri dari tempat duduknya, menatap Safira dengan mata merah yang menyala.


Iblis sialan, akan ku buka aib Kakak mu sekarang juga!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2