Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Ketagihan


__ADS_3

Abidzar merasa jantungnya akan copot karena tiba-tiba saja dia merasakan gejolak aneh, dia langsung memeluk sang istri kembali kemudian membisikan sesuatu di telinga Cahaya.


"Mbak, saya ingin memberikan nafkah batin pada Mbak," bisik Abidzar dengan sangat lembut.


Cahaya terdiam dan menganggukkan kepala tanda setuju, karena dia juga berpikir kalau sang suami berhak atas dirinya.


"Terimakasih," ucap Abidzar dengan sangat lembut.


Setelah memberikan nafkah batin pada Cahaya, Abidzar menyelimuti seluruh tubuh sang istri dengan selimut. Kemudian dia mengecup kening Cahaya dengan sangat lembut.


'Ternyata sangat indah melakukannya,' batin Abidzar.


Pria itu bergegas masuk ke dalam kamar mandi, dan memulai mandi besar karena sudah melakukan hal itu.


Abidzar mengetahui semua dari mertuanya yang menjelaskan macam-macam jenis mandi, dan dia mengerti dengan mudahnya.


Sedangkan Cahaya masih tertidur pulas, rasa sakit yang di rasakan untuk yang pertama kalinya.


Abidzar sudah menyelesaikan ritual mandinya, kemudian bergegas mengunakan baju dan menghampiri sang istri yang masih tertidur pulas.


"Mbak, bangun sudah siang. Sebentar lagi adzan Dzuhur," ucap Abidzar dengan sangat lembut.


Cahaya membuka matanya dan tersenyum malu-malu karena dia masih membayangkan yang tadi.


"Mau saya mandikan, Mbak?" tanya Abidzar membuat Cahaya malu dan dia langsung menurunkan kaki ke lantai.


Saat hendak berjalan, dia menghentikan langkahnya karena merasa sangat sakit di bagian sensitifnya.


"Aaahhh!" jerit Cahaya.


Abidzar langsung duduk di samping sang istri kemudian memegang tangan Cahaya dengan sangat lembut.


"Saya batu ya, Mbak?" ucap Abidzar dengan sangat lembut karena dia tahu sesakit apa yang di rasakan oleh sang istri.


"Terimakasih," jawab Cahaya.


Abidzar tersenyum dan mulai menggendong tubuh Cahaya masuk ke dalam kamar mandi, dan meninggalkan sang istri karena gadis itu malu kalau di lihat saat mandi.


.


.


.


Toyib: Tapi, kenapa mereka belum sampai-sampai?


Toyib merasa heran, karena besannya menelpon mengatakan bahwa sang anak dan menantunya sudah kembali. Namun, mereka tak kunjung sampai.


Anto: Tunggu saja! Mungkin mereka berjalan-jalan dulu di kota.

__ADS_1


Toyib: Iya, kalau begitu aku tutup dulu telponnya Mas. Assalamualaikum.


Anto: Wa'alaikum salam.


Toyib memutuskan sambungan telepon dan bergegas menghampiri sang istri, yang berasa di kamar.


"Ummi!" panggil Toyib dengan tergesa-gesa, membuat Inem terkejut.


"Ada apa Abah?" tanya Inem dengan sangat cemas, takut ada hal yang buruk terjadi.


Toyib duduk di samping sang istri yang tengah melipat kain, dan dia tersenyum bahagia.


"Anak dan menantu kita akan segera Sampai," jawab Toyib dengan sangat bergembira.


Inem tak kalah gembira dari sang suami sehingga dia memeluk pria itu dengan sangat lembut.


"Ummi senang sekali Abah, mereka akan tinggal di sini untuk beberapa hari," ucap Inem dengan sangat bergembira.


Mereka berdua berpelukan karena sudah tidak sabar segera bertemu dengan sang anak.


"Ummi mau masak dulu untuk mereka, Abi di sini saja! Atau ikut?" tanya Inem sambil bergegas bangun.


"Tentu saja ikut, Abi akan membantu Ummi nantinya," jawab Toyib dengan sangat lembut.


Inem tersenyum dan mereka berdua berjalan menuju dapur dan mulai memasak, segala macam masakan kesukaan Abidzar. Sebab, sudah lama sekali Inem tidak masak untuk sang anak.


Setelah selesai shalat, tamu yang di tunggu tak kunjung sampai sehingga mereka berdua tertidur pulas.


Kamar Hotel . . .


Abidzar dan Cahaya memakan makanan mereka dan Abidzar terus-menerus menatap wajah sang istri, kemudian datanglah sisi nakalnya dan langsung mengecup bibir Cahaya dengan lembut.


Cahaya terdiam karena dia sangat terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang suami.


"Maaf, apakah saya bisa memberikan nafkah batin lagi pada Mbak?" tanya Abidzar dengan sangat lembut.


Cahaya malu-malu dan menganggukan kepalanya, membuat Abidzar tersenyum bahagia karena dia menginginkan hal itu lagi dan lagi.


Malam hari tiba . . .


Abidzar dan Cahaya bersiap-siap untuk pergi menemui sang Abah dan Ummi, karena mereka akan menginap di sana untuk satu malam ini.


Sebab, Abidzar tidak mau sampai merepotkan orang tuanya karena dia sudah menikah.


Kini mereka berdua ada di dalam taksi menuju rumah Toyib, dan keduanya hanya diam dalam pikiran masing-masing.


Abidzar terus-menerus memikirkan hal tadi, dan dia masih menginginkan hal itu karena masih kemaruk.


'Aku tahu kenapa semua orang sangat senang melakukan hal itu, karena aku juga salah satunya,' batin Abidzar.

__ADS_1


Abidzar merangkul sang istri, karena dia sangat nyaman seperti ini. Namun, Cahaya malah sebaliknya karena mereka ada di tempat umum.


"Mas, jangan di sini," bisik Cahaya dengan sangat lembut.


Abidzar langsung menuruti keinginan sang istri, dan melepas rangkulan. Kemudian tersenyum bahagia.


"Maaf ya, nanti saat sampai di rumah Ummi, katakan saja kita sangat lelah. Sebab ... " Abidzar memberikan kode pada Cahaya.


Membuat gadis itu terdiam dan langsung membuang pandangannya, ke arah lain karena dia merasa malu pas sang suami.


'Mas Abidzar selalu membuat aku malu, karena pertanyaan itu terus-menerus,' batin Cahaya.


Abidzar sangat menginginkan hal itu kembali, entah kenapa rasa itu semakin igin di ulang terusan. Namun, waktu membuat mereka tidak bisa terus melakukan hal itu.


'Seperti ini rasanya kenikmatan surga dunia,' batin Abidzar.


Setelah sampai di rumah Abah dan Ummi, Cahaya bersama Abidzar turun dan masuk ke dalam.


"Assalamualaikum!" ucap Abidzar dan Cahaya bersamaan.


Betapa gembiranya Inem dan Toyib mendengar suara yang sejak pagi di nanti-nantikan. Dengan sangat cepat mereka langsung berjalan menuju pintu.


"Wa'alaikum salam," jawab Toyib dan Inem bersama.


Abidzar dan Cahaya mencium tangan kedua orang tua mereka dan memeluk mereka dengan sangat erat.


"Ayo masuk, kita makan malam bersama," ucap Inem dengan sangat lembut.


"Ayo," tambah Toyib.


Semuanya berjalan masuk ke dalam dan duduk di bangku meja makan, karena mereka semua akan makan malam bersama.


"Abah, Ummi, tadi Cahaya tidak enak badan dan dia tidak bisa berlama-lama mengobrol dengan kalian," ucap Abidzar dengan sangat lembut.


Inem dan Toyib langsung menatap ke arah Cahaya, dan mereka mengangguk karena Cahaya memang terlihat kelelahan.


"Ya sudah, selesaikan makan kalian dan beristirahat," ucap Toyib dengan sangat lembut.


"Terimakasih Abah," sahut Abidzar dengan sangat sopan.


Cahaya mulai memakan makanannya, dengan perlahan karena dia sudah tidak sabar untuk segera beristirahat.


Abidzar tersenyum dengan sangat bahagia, karena dia sudah tidak sabar ingin berjalan menuju awan bersama Cahaya.


'Maafkan saya Mbak, harus membuat kamu lelah setiap saat,' batin Abidzar.


Inem dan Toyib saling menatap ke arah sang anak, dan mereka tahu bahwa Abidzar sedang menatap Cahaya dengan sangat dalam.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2