
Tetap pada jam 23.00, Abidzar pulang ke rumah dengan sangat cepat karena dia merasa sedikit takut.
"Ya Allah, lindungilah hamba," doa Abidzar sambil terus berjalan, dan dia mulai membaca ayat kursi.
Setelah sampai di dalam rumah, Abidzar bernafas lega dan dia berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Assalamualaikum," ucap Abidzar dengan sangat pelan, dan masuk ke dalam.
Terlihat sang istri sudah tidur dan dia tersenyum, kemudian berganti baju. Setelah selesai Abidzar mendekati sang istri.
Pria itu menidurkan tubuhnya di samping sang istri dengan jantung yang berdegup kencang, karena ini kali pertama dia tidur bersama seorang wanita.
"Ya Allah, semoga hamba kuat dan tidak terkena serangan jantung," ucap Abidzar dengan sangat lembut.
Pria itu mulai memejamkan kedua matanya, dan mulai tertidur pulas dengan membelakangi Cahaya, karena dia takut berhadapan dengan sang istri.
Sebab, dia masih belum terbiasa tidur bersama istrinya. Abidzar adalah pria yang tidak terlalu fokus pada wanita, walaupun dia memiliki seorang pacar di kota.
.
.
Adzan Subuh berkumandang, Cahaya bangun walaupun dia tidak melaksanakan Shalat dan ia melihat sang suami masih tertidur pulas.
"Mas, bangun sudah Subuh." Cahaya menggoyangkan tubuh Abidzar dengan perlahan dan sang empunya terbangun.
"Euum, sudah adzan ya?" ucap Abidzar dengan sangat lemas.
"Iya," jawab Cahaya.
Abidzar bergegas bangun dan mandi, setelah selesai dia langsung mengunakan baju Jubah karena sudah terlambat Shalat berjamaah kalau mengunakan sarung.
.
.
.
Setelah selesai Cahaya mandi, dia bersiap-siap membuatkan sarapan untuk semua orang dan suaminya yang akan bersekolah hari ini.
Lucu saja dia menyiapkan perlengkapan sekolah untuk suaminya, dan dia merasa memiliki anak kalau seperti ini.
"Ya Allah, ampunilah dosa hamba sudah berpikir yang bukan-bukan," ucap Cahaya sambil meletakan persiapa untuk sang suami, dan tas yang sudah lengkap dengan alat tulis.
Setelah itu dia berjalan menuju dapur, dan mulai membuat sarapan. Namun, kali ini dia membuat sarapan yang sedikit berbeda karena dia membuat nasi goreng seafood untuk Abidzar.
"Wah, enak sekali sarapan pagi ini," ucap Fatimah sambil membuat jus.
__ADS_1
"Tentu saja! Ini aku buat khusus untuk suamiku," jawab Cahaya degan sangat lembut.
"Tunggu!" tahan Cahaya, karena dia melihat Fatimah membuat jus untuk Abidzar, dan gadis itu mengentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Fatimah, sambil menatap wajah sang sahabat.
"Untuk mas Abidzar, aku sudah membuatkannya susu rempah," jawab Cahaya, dan Fatimah tersenyum bahagia.
"Masya Allah, kamu adalah istri yang baik, kalau saja aku pria sudah jelas aku akan menjadikan mu istriku," ucap Fatimah sambil tersenyum.
Cahaya tersenyum dan menyelesaikan masakannya, kemudian menyiapkan untuk semua orang di meja makan.
"Sudah selesai. Tapi, mas Abidzar ke mana ya?" heran Cahaya sambil terus menatap ke arah pintu namun, tidak ada orang masuk.
Cahaya bergegas pergi ke dalam kamarnya, dan melihat Abidzar sedang bersiap-siap menggunakan pakaiannya, kemudian dia datang dan membantu pria itu.
"Cahaya bantuan ya, Mas?" Cahaya mengambil bangku pendek, kemudian naik ke atas karena dia mau membenarkan kerah kemeja sang suami.
"Terimakasih Mbak," ucap Abidzar dengan sangat lembut, dan Cahaya menganggukkan kepala sambil bergegas turun.
"Mas, sarapan sudah siap sekarang makan saja! Takutnya Mas akan terlambat," ucap Cahaya dengan sangat lembut.
Abidzar menganggukkan kepala dan berjalan bersama Cahaya menuju meja makan, dan duduk di sana bersama Abi dan Ummi Juminten.
"Assalamualaikum pengantin baru," ucap Juminten dengan sangat lembut.
Anto tersenyum, karena sang anak menerima perjodohan yang dibuat bersama Toyib. Hatinya terasa dingin dan luluh melihat Cahaya menerima suami pilihannya.
'Aku sangat bahagia melihat Cahaya, bisa menerima Abidzar dengan baik. Walaupun mereka belum saling kenal,' batin Anto dengan sangat gembira.
"Abidzar suka susu?" tanya Juminten yang tidak mengetahui kalau anak sebesar Abidzar suka susu.
Abidzar tersenyum kemudian menatap sang istri dengan sangat dalam, dan menatap ke arah mertuanya yang ada di hadapannya.
"Iya Ummi, karena Mbak Cahaya yang membuat saya suka susu rempah," jawab Abidzar dengan sangat lembut.
"Alhamdulillah kalau kalian bisa akur, walaupun kami menjodohkan kalian dengan terburu-buru," ucap Juminten sambil tersenyum manis kepada Abidzar.
Cahaya dan Abidzar hanya bisa tersenyum, karena mereka tidak tahu harus menjawab apa. Yang pasti kedua pasangan baru itu ingin menerima satu salam lainnya.
.
.
.
Inem merasa sedih sambil melihat bangku kosong yang ada di sampingnya, karena setiap hari ada Abidzar di sana dan kini pria itu tidak ada.
__ADS_1
Toyib mengetahui kalau sang istri tengah merindukan anak mereka, sehingga dia tersenyum sambil memegang tangan sang istri.
"Jangan bersedih, anak kita di sana adalah hal yang baik. Sebab, kalau dia masih di sini sudah pasti akan membuat kesalahan setiap hari, ucap Toyib dengan lembut.
Inem tersenyum, dan dia menganggukkan kepalanya menerima semua karena untuk kebaikan Abidzar juga.
"Semoga saja dia di sana bisa berubah, dan menjadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya," ucap Inem dengan penuh harapan.
"Aamiin," ucap Toyib.
Inem memeluk sang suami dengan sangat lembut, kemudian meneteskan air mata karena merasa sangat rindu pada anak satu-satunya.
"Kita berdoa saja! Agar anak kita bisa menjadi pria yang bertanggung jawab, Menjadi suami yang baik untuk istrinya," ucap Toyib sambil mengelus-elus kepala sang istri.
"Aamiin," ucap Inem dengan sangat lembut.
Mereka berdua kembali melanjutkan makan bersama tanpa adanya Abidzar untuk yang pertama kalinya.
.
.
.
Abidzar duduk di kursi kosong, dan melihat semua santri semua bercanda tawa sedangkan dia hanya bertemankan sepi.
"Andai saja ada Putra di sini, saya pasti akan sangat senang," ucap Abidzar dengan sangat lirih.
Bel berbunyi dan semua santri duduk di bangku masing-masing, kemudian Ustadz Ammar datang.
"Assalamualaikum semua," ucap Ustad Ammar dengan sangat lembut.
"Wa'alaikumsalam, Ustadz!" jawab semua dengan serempak.
"Pagi ini kita kedatangan murid baru dua, yang pertama ada di sana, yang kedua. Silahkan masuk!" ucap Ustadz Ammar.
Abidzar merasa penasaran, siapa yang baru masuk sama sepertinya. Karena, biasanya santri yang ada di sana masuk dari sejak kelas satu SMP.
Pria yang mengunakan seragam khas pesantren dan mengunakan peci masuk ke dalam, membuat Abidzar membuka mulut lebar-lebar.
"Perkenalkan nama saya, Putra," ucap Putra dengan sangat lembut, kemudian dia membuka mata lebar-lebar melihat adanya Abidzar.
'Ya ampun, ternyata dia di sini,' batin Putra.
Abidzar tersenyum karena doanya baru saja di kabulkan, dan sekarang dia sudah memiliki teman di pesantren tersebut.
"Alhamdulillah, saya punya teman juga di sini," ucap Abidzar dengan sangat pelan.
__ADS_1
Bersambung.