Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Kepergok


__ADS_3

Abidzar semakin takut dan memegang tangan Cahaya dengan sangat kuat, membuat sang istri terkejut.


"Ada apa, Mas?" tanya Cahaya.


Abidzar langsung memeluk sang istri dan berkata jujur kalau dia takut ketinggian. Cahaya langsung tersenyum dan tertawa kecil.


"Kenapa tidak bilang dari tadi?" tanya Cahaya sambil menutup mata Abidzar.


Cahaya mengunakan hijabnya untuk menutup mata sang suami, agar pria itu tidak terlalu takut sampai permainan selesai.


"Ya Allah, selamatkan kami," doa Abidzar.


Cahaya hanya bisa tertawa melihat Abidzar yang sangat takut akan ketinggian. Bahkan, pria itu juga berulang-ulang membaca Al-fatihah dan doa lainnya.


Setelah permainan usai, Cahaya dan Abidzar turun. Pria itu langsung berlari ke tempat sunyi dan memuntahkan isi perutnya.


"Astaghfirullah, Mas!" Cahaya menghampiri sang suami, dan membantu Abidzar sampai selesai muntah.


Gadis itu memberikan air mineral untuk sang suami dan Abidzar langsung meminumnya, kemudian dia duduk lemas di trotoar.


"Kita pulang, Mas?" tanya Cahaya dengan sangat lembut.


Abidzar menganggukkan kepala, karena dia merasa pusing setelah muntah tadi. Namun, siapa yang akan membawa mereka? Sebab, pria itu tidak akan sanggup mengemudikan motor.


"Biar saya saja! Mas." Cahaya berjalan sambil memapah Abidza menuju perkiraan.


Setelah di parkiran, Cahaya dengan perlahan naik dan membenarkan bajunya agar tidak tersangkut. Kemudian Abidzar naik dan memeluk Cahaya dengan sangat erat.


'Ya Allah, terimakasih sudah memberikan hamba istri seperti Mbak Cahaya,' batin Abidzar.


Cahaya mengemudikan motor dengan sangat pelan, karena dia takut berjalan di kota karena biasanya dia hanya membawa motor di desa.


Setelah sampai di rumah, Cahaya membantu Abidzar berjalan masuk ke dalam. Padahal, pria itu sudah tidak lemas lagi.


Namun, dia tetap berpura-pura agar sang istri perhatian lebih dari biasanya. Walaupun Cahaya selalu memperdulikan pria itu.


Setelah sampai di dalam, Abidzar langsung segar dan mengunci pintu membuat Cahaya terkejut.


"Loh? Mas sudah sehat?" tanya Cahaya dengan sangat polos.


Abidzar tersenyum nakal dan langsung menarik tangan sang istri, naik ke atas ranjang dan langsung melahapnya.


. . .


Putra bersama Eza duduk di cafe, karena mereka akan kembali berpisah lama. Setelah Putra kembali ke pondok lusa.


Banyak sekali yang mereka ceritakan, sampai Eza menceritakan kalau Jinan meminta alamat pesantren Abidzar.

__ADS_1


"Gue yakin banget, kalau si Jinan bakalan ngerusuhin hubungan Abidzar sama bu Cahaya," ucap Putra dengan sangat yakin.


Karena dia tahu bagaimana rasa cinta Jinan untuk Abidzar, sehingga gadis itu tidak akan menyerah untuk mendapatkan Abidzar lagi.


"Elo di sana. Jadi, jangan sampai tu ulat bulu ngerusuhin hubungan mereka ya" ucap Eza dengan kesal.


Bagaimana dia tidak kesal, karena Jinan masih ada permasalahan dengannya dan tidak ada yang mengetahui.


"Elo tenang aja! Gue ada di sana, setiap saat sama Abidzar," ucap Putra sambil meminum jus miliknya.


Eza merasa sangat sunyi. Sebab, kedua sahabatnya sudah di pesantren yang akan jarang bertemu seperti biasanya.


Mereka berdua kembali melanjutkan cerita tentang masa lalu, dan masa yang akan datang. Bahkan, juga tentang jodoh meraka seperti apa nantinya.


. . .


Fatimah baru saja menyelesaikan shalat Tahajud, dan dia duduk sambil mengingat Cahaya yang sudah beberapa hari ini tidak bertemu.


Walaupun mereka hanya terpisah satu Minggu, tetap saja gadis itu sangat merindukan sang sepupu.


"Ya Allah, hamba sangat merindukan Cahaya. Semoga dia di sana baik-baik dan sehat," ucap Fatimah.


Gadis itu melepaskan mukena dan segera naik ke atas ranjang, kemudian mengirimkan pesan singkat ke WhatsApp Cahaya.


Fatimah: Neng, kamu sehat?


Keesokan harinya ...


Setelah melaksanakan shalat subuh, Fatimah kembali mengirim pesan singkat ke WhatsApp Cahaya, dan sama masih tidak ada jawaban sama sekali.


"Sudahlah, mungkin dia masih sibuk di sana," gumam Fatimah sambil berjalan ke luar kamarnya.


Gadis itu berjalan menghampiri sang Bibi yang tengah sibuk memasak berbagai macam makanan, sehingga Fatimah heran karena wanita itu jarang masak sampai sebanyak ini.


"Bi, apa akan ada acara?" tanya Fatimah.


Juminten menghentikan aktivitasnya, dan menghampiri Fatimah kemudian memperlihatkan sebuah pesan singkat.


"Alhamdulillah, kalau begitu ayo kita masak lagi Bi," ucap Fatimah dengan sangat antusias.


Meraka berdua melanjutkan kembali memasak makanan yang luman banyak, dalam beberapa macam menu.


Juminten sangat gembira akan ada tamu istimewa yang akan datang sebentar lagi, sehingga dia terburu-buru memasak. Takut akan terlambat menyambut tamu tersebut.


. . .


Cahaya sedang masak sarapan bersama Inem, dan mereka berdua sangat kompak dalam memilih bahan-bahan masakan.

__ADS_1


Inem dan Cahaya memilih sarapan roti bakar. Namun, kedua wanita itu juga memasak nasi goreng kesukaan Abidzar dan Toyib.


"Selesai!" ucap Inem dan Cahaya bersamaan.


"Alhamdulillah," ucap Cahaya.


Gadis itu membawa masakannya ke meja makan, dan bergegas untuk membuat susu rempah yang pasti di tanyakan kalau tidak ada di meja nanti.


"Cahaya, Ummi mau memanggil Abah dulu, ya!" Inem bergegas pergi dari sana, saat Cahaya menganggukan kepalanya.


Setelah selesai membuat susu, Cahaya hendak memanggil Abidzar. Namun, sang suami sudah muncul dan langsung mencium puncak kepalanya.


"Assalamualaikum, bidadari ku," ucap Abidzar sambil duduk di bangkunya.


Cahaya juga ikut duduk kemudian menatap wajah sang suami, yang semakin hari


semakin tampan dan dewasa.


"Wa'alaikumsalam, Mas," jawab Cahaya, walaupun sedikit terlambat.


Abidzar langsung meminum susu rempah itu sampai habis, setelah itu mencium kepala sang istri lagi.


"Sepertinya besok kita akan kembali ke pondok," ucap Abidzar dengan sangat pelan.


Cahaya menganggukan kepalanya, karena sejujurnya dia sudah merindukan mengajar mengaji dan kunci anggora yang di temukan beberapa bulan lalu.


"Tidak apa-apa bukan?" tanya Abidzar dan Cahaya menganggukan kepalanya.


Abidzar tersenyum lagi, dan langsung mencium kening sang istri. Pada saat itu juga Abah dan Ummi nya sampai.


"Ehem!"


Abidzar langsung cepat-cepat membenarkan posisinya, karena dia sangat malu kepergok Abah dan Ummi mencium sang istri.


"Maklumlah Bah, pengantin baru," ucap Inem sambil melirik ke arah sang anak.


Abidzar semakin malu sehingga dia tidak berani menatap wajah sang Abah dan Ummi.


"Sudahlah, kasihan Abidzar malu," ucap Toyib.


Karena dia juga pernah merasakan posisi Abidzar, saat dia baru menikah dengan Inem karena perjodohan.


Cahaya hanya tersenyum, karena dia juga sangat malu karena ulah sang suami tadi, yang sangat tidak sabar menciumnya di tempat umum.


'Ya ampun, aku menyesal sekali tadi. Seharusnya aku bisa menahan diri, mencium Mbak Cahaya di kamar saja,' batin Abidzar.


Meraka semua mulai memakan makanan masing-masing, dalam keadaan senyap tiada yang bersuara sedikitpun.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2