Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Sangat Cantik


__ADS_3

Cahaya menemukan sang Abi di pondok, dan dia minat untuk berbicara berdua di ruangan Abi nya. Kini mereka duduk berdua.


"Ada masalah apa, Nak?" tanya Anto dengan cemas.


Karena dia takut kalau sang anak memiliki masalah bersama Abidzar. Sebab, mereka baru saja menikah.


"Masalah Awan dan Fatimah," jawab Cahaya lirih.


"Ada apa mereka?" tanya Anto.


Karena dia sama sekali tidak tahu kalau anaknya dan anak kakak iparnya menjalin kasih.


"Sebenarnya ... " Cahaya menceritakan semua pada sang Abi.


Sehingga pria paru baya itu terkejut, karena dia tidak menyangka kalau anak-anaknya menjalin hubungan yang tak semestinya.


"Astaghfirullah." Anto mengelus dada.


Pria itu takut kedua anaknya sudah berbuat dosa, dan melanggar batas saat berpacaran.


"Abi, bukankah mereka sama sekali tidak memiliki hubungan darah? Yang artinya bisa menikah?" tanya Cahaya dengan sangat lembut.


Anto tersenyum, karena sang anak sangat cerdas menghadapi masalah sebesar ini.


"Benar, nanti malam kita akan berkumpul membahas masalah ini," ucap Anto dengan lembut.


Cahaya tersenyum dan memeluk sang Abi, karena dia senang masalah sang adik dan sepupunya akan segera selesai.


"Alhamdulillah. Cahaya pergi dulu Abi," ucap Cahaya dengan sangat sopan.


"Iya," jawab Anto dengan lembut.


Cahaya bangun dari duduknya kemudian berjalan dan menatap sang Abi, karena dia lupa mengucapkan salam.


"Assalamualaikum Abi," ucap Cahaya dengan lembut.


"Wa'alaikumsalam," jawab Anto dengan senyuman manisnya.


Cahaya bergegas pergi dari sana, karena ia ada janji tadi bersama Jinan membantu sang Ummi masak.


Setelah sampai di rumah, Cahaya langsung berjalan masuk ke dalam dapur dan melihat sang Ummi dan Jinan tengah memasak bersama.


"Ummi, Cahaya bantu ya?" Cahaya melepaskan cadarnya dan mulai membantu memasak.


"Iya sayang, nanti kamu mengajar mengaji, 'kan?" tanya Juminten dengan lembut.


Cahaya menganggukan kepalanya, karena masih ada waktu beberapa jam lagi dia mengajar mengaji anak kampungnya.


"Masya Allah, Mbak Cahaya mengajar mengaji juga?" tanya Jinan dengan sangat lembut.


Juminten tersenyum karena Jinan sangat baik dan sopan di matanya, tanpa tahu sifat asli gadis itu.

__ADS_1


"Kamu juga bisa Jinan, kalau mau," jawab Cahaya dengan lembut.


"Benar itu," sambung Juminten.


Jinan hanya tersenyum karena dia sama sekali tidak pandai mengaji, ia masih belajar di pesantren itu.


"Mbak Cahaya saja! Saya mengajar kelas satu dulu, karena masih repot juga dan saya juga lagi belajar," jawab Jinan dengan sangat lembut.


Cahaya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, dan terus memasak makanan dengan lincah.


Jinan terus menatap wajah Cahaya sambil terus mencuci piring, karena dia mengagumi kecantikan gadis itu.


'Pantas saja Abidzar mempertahankan dia, ternyata wajahnya sangat cantik,' batin Jinan.


Ketiga wanita itu memasak dengan sangat kompak sampai selesai, dan meletakan semua masakan ke meja makan.


"Alhamdulillah sudah selesai," ucap Juminten sambil duduk di bangku.


"Iya Ummi, dan Adzan Dzuhur juga sudah berkumandang," ucap Cahaya dengan lembut.


Jinan tersenyum dan berpamitan untuk kembali ke kamarnya, karena dia ingin melaksanakan shalat Dzuhur. Padahal, itu hanya alibinya saja agar bisa pergi.


Cahaya bergegas pergi masuk ke dalam kamar dan melaksanakan shalat Dzuhur. Setelah selesai dia tidak melepaskan mukenah.


Gadis itu berjalan menghampiri sang Ummi di dalam kamar orang tuanya, karena dia ingin menceritakan masalah Awan dan Fatimah. Sebab, sang Ummi pasti belum tahu masalah ini.


"Ada apa, Nak?" tanya Juminten.


"Sudah Ummi, nanti malam kita akan berkumpul dan menyelesaikan masalah ini," ucap Cahaya.


Juminten diam dan memeluk sang anak, karena dia merasa kecewa pada Fatimah yang di anggapnya sebagai anak sendiri.


. . .


Malam hari tiba . . .


Kini tepat jam 23.00, semua keluarga Anto ada di ruang tamu termaksud Abidzar juga ada di sana, karena dia adalah bagian keluarga sang ustadz.


"Saya kumpulkan kalian semua di sini, untuk membahas permasalahan Fatimah dan Awan," ucap Anto dengan lembut.


Fatimah hanya bisa tertunduk malu, begitu juga dengan Awan karena mereka sudah berbuat salah.


Sedangkan Abidzar masih menyimak, karena dia tidak tahu apapun tentang adik iparnya itu.


"Saya kecewa pada kalian berdua, berpacaran yang jelas di larang oleh agama kita," ucap Anto lirih.


"Maafkan kami Abi," ucap Awan dan Fatimah secara bersamaan.


Juminten menangis di dalam pelukan Mentari dan gadis itu menyimak saja, karena dia tidak tahu kalau pacar sang kakak adalah sepupu mereka.


Ya, Mentari tahu kalau Awan memiliki pacar. Namun, dia tidak menyangka kalau sang kekasih saudara kembarnya adalah sepupunya.

__ADS_1


Abidzar hanya bisa diam, karena dia tidak tahu harus berbuat apa. Sebab, dia juga pernah berpacaran dengan Jinan.


"Besok setelah subuh, Abi akan menikahkan kalian. Yang pasti Abi kecewa." Anto bergegas pergi dari sana.


Dengan keadaan kecewa pada anak-anaknya yang tumbuh besar bersama dan menjalanin kasih.


"Fatimah, masuk ke dalam kamar ... bersiaplah untuk esok," ucap Cahaya dengan lembut.


"Iya, aku pergi dulu." Fatimah bergegas pergi dari sana dan Awan mengikutinya.


Sedangkan Cahaya membantu sang Ummi agar tidak menangis lagi, bersama dengan Abidzar. Mereka berdua membuat Juminten tidak bersedih lagi dan ceria kembali.


. . .


Fatimah dan Awan duduk bersama, karena pria itu memaksa untuk mengobrol berdua seperti biasanya.


"Sudahlah Awan, pergi dari sini," ucap Fatimah dengan lembut.


Awan duduk di hadapan Fatimah dan menatap wajah gadis itu, yang terlihat sangat sedih.


"Maafkan saya Mbak, karena sudah membuat rahasia kita terbongkar," ucap Awan dengan lembut.


Fatimah meneteskan air mata, karena dia sedih membuat Paman dan bibinya bersedih karena ulahnya.


Awan memeluk Fatimah dengan lembut, dan membuat gadis itu tidak bersedih lagi.


"Kembali ke dalam kamar mu, besok kita akan menikah bukan?" ucap Fatimah dengan lirih.


"Baiklah, besok kita akan menikah," ucap Awan.


Pria itu bergegas pergi dari dalam kamar Fatimah, dan gadis itu mulai menangis tersedu-sedu mengingat kembali wajah Juminten tadi.


"Maafkan Fatimah Bi, karena sudah membuat bibi bersedih," ucap Fatimah dalam isak tangisnya.


Gadis itu merasa bersalah membuat sang Bibi yang sudah membesarkannya, bersedih karena ulahnya.


. . .


Abidzar dan Cahaya duduk saling berhadapan dan membahas masalah Fatimah dan Awan, yang akan menikah besok pagi.


"Ya, awalnya saya sangat terkejut Mas," ucap Cahaya dengan lembut.


Abidzar tersenyum dan menidurkan kepala di pangkuan Cahaya sambil menatap wajah gadis itu.


"Sudahlah, mereka tidak ada hubungan darah jadi bisa menikah. Cinta itu buta," ucap Abidzar dengan lembut.


Cahaya tersenyum dan memegang wajah sang suami dengan lembut, karena pria itu sangat dewasa yang tidak mau ikut campur urusan keluarganya.


"Allah sangat baik pada saya, memberikan suami seperti Mas," ucap Cahaya dengan lembut.


Abidzar tersenyum karena dia juga berpikir hal yang sama seperti Cahaya tadi.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2