Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Jinan dan Exel


__ADS_3

Saat jam pulang kerja tiba, Mentari ke luar dari ruangannya dan berjalan dengan perlahan menuju luar. Tiba-tiba saja namanya dipanggil.


"Mentari!"


Gadis itu langsung menoleh, dan melihat siapa yang memanggilnya. Kemudian dia berhenti menunggu pria itu datang.


"Pulang sama aku aja," ucap Abidzar.


Ya, sejak tadi Abidzar memanggilnya namun Mentari tidak mendengar sehingga dia berteriak.


"Tidak usah Kak, Mentari tidak ingin ada fitnah dan sebaiknya kita menjaga jarak," tolak Mentari dengan lembut.


Abidzar mengerti keputusan Mentari, dan dia bergegas pergi dari sana. Sedangkan Mentari langsung berjalan perlahan menuju luar.


Saat di depan, dia melihat adanya sahabat Abidzar. Ya, sewaktu di pesantren dia pernah bertemu dengan Putra beberapa kali.


"Untuk apa dia di sini, dan mau apa dia melihat ku seperti itu?" gumam Mentari sambil terus berjalan.


Putra tersenyum bisa melihat Mentari, dan dia langsung mengejar gadis itu dengan sepeda motornya.


"Bu Mentari!" panggil Putra.


Karena Mentari terus saja berjalan, tidak berhenti meskipun dia memanggil gadis itu.


"Gadis itu aneh sekali, di panggil malah kabur," ucap Putra dengan heran.


Saat melihat Mentari berlari naik ojek, padahal dia sengaja menunggu kepulangan gadis itu, niat hatinya ingin mengantarkan pulang.


Namun, sangat sayang. Mentari sudah pergi naik ojek sehingga dia kehilangan jejak dan pulang dengan rasa kecewa yang mendalam.


. . .


"Astaghfirullah," ucap Mentari.


Gadis itu sangat takut, karena Putra mengejarnya tadi. Sebab, wajahnya sangat seram membuat Mentari ketakutan.


'Padahal, sebelum ke luar dari pondok pria itu terlihat biasa saja. Tapi, sekarang terlihat sangat seram,' batin Mentari.


Setelah sampai di apartemen, Mentari langsung masuk ke dalam dan melihat ada teman Abidzar yang lain datang. Dia pun langsung masuk ke dalam kamar tidak menyapa mereka.


Ya, Eza datang karena dia mendapat kabar dari Putra kalau Abidzar sudah pindah ke kota dan menetap di apartemen. Sebab, ia ingin menyampaikan rencana jahat sang istri.


"Astaghfirullah, aku tidak menyangka kalau Jinan akan senekad itu," ucap Abidzar dengan sangat terkejut.

__ADS_1


Bagaimana tidak terkejut, mendengar wanita yang pernah di cintai tega membuat rencana jahat untuk menghancurkan hidupnya.


"Elo tenang aja! Gue pasti bantuin kok. Eh, ngomong-ngomong yang tadi itu siapa?" tanya Eza.


Karena dia penasaran siapa wanita yang ada bersama Abidzar. Padahal, waktu di pondok dia pernah bertemu dengan Mentari.


"Jangan tanya-tanya! Dia milik Putra," jawab Abidzar.


Eza membuka mulut lebar-lebar, karena setahunya Putra tidak suka pada gadis yang tertutup. Sang sahabat lebih suka pada gadis seksi.


"Seriusan?" tanya Eza lagi, karena dia masih belum mempercayai ucapan Abidzar.


Abidzar menganggukkan kepala dan menceritakan semua tentang apa yang di ucapkan oleh Putra.


Eza mengerti dan memahami perasaan Putra, dan dia juga sangat menyesali perbuatannya berselingkuh dengan Jinan sampai gadis itu hamil.


"Sudahlah, lupakan saja! Lagi pula semua sudah berlalu, gue juga dah bahagia sama istri gue," jawab Abidzar.


Eza memeluk sang sahabat dengan lembut, dan mereka saling memaafkan satu sama lainnya. Berharap di kemudian hari, tidak ada lagi masalah yang sama.


"Kalau gitu, gue pulang ya. Soalnya bokap nya Jinan bawel bangat, gue gak boleh pergi lama-lama, terus juga gak boleh kerja," keluh Eza.


Abidzar tersenyum dan berkata, "Itu namanya, dia sayang sama elo."


Eza bergegas pergi dari sana, karena dia tidak bisa terlalu lama mengobrol dengan Abidzar, takut mertuanya mencari-cari nya.


. . .


Cahaya: Tari, mbak tidak bisa masak. Tolong beli saja! Di luar.


Mentari: Baik Mbak, tapi tunggu tamu kak Abidzar pulang dulu.


Cahaya: Baiklah.


Cahaya memutuskan sambungan telepon, dan Mentari bersiap-siap ke luar membeli makan malam untuk mereka semua.


Setelah selesai, ia langsung ke luar karena dia sudah tidak mendengar suara Abidzar dan sahabatnya tadi. Yang artinya tamu sudah pulang.


Mentari berjalan ke luar, dan berjalan kaki. Sebab, jarak restoran dari apartemen Abidzar tidak jauh hanya menyebrang jalan.


Setelah sampai, dia langsung memesan makanan dan menunggu di bangku sambil bermain ponsel. Matanya melirik ke arah meja yang tidak jauh darinya.


Terlihat Jinan bersama Exel makan bersama, membuat Mentari penasaran ada hubungannya apa mereka sebenarnya.

__ADS_1


'Astaghfirullah, Jinan sudah menikah. Tapi, dia masih pergi bersama pria. Bahkan, tidak memakai hijab,' batin Mentari.


Gadis itu sekarang tahu, karena Jinan wanita licik dan berbahaya dan dia harus waspada. Sebab, Exel mengenal wanita tersebut.


"Aku harus selalu waspada, karena bosku mengenali dia," ucap Mentari dengan pelan.


Setelah pesanannya selesai, Mentari langsung bergegas pergi sebelum Exel atau Jinan melihat keberadaannya di sana.


. . .


Sesampainya di apartemen, Mentari langsung menyiapkan makanan dan Cahaya ke luar. Dia langsung menarik tangan sang kakak duduk.


"Ada apa?" tanya Cahaya dengan cemas.


Karena Mentari menarik tangannya dengan terburu-buru, seperti ada masalah yang besar.


Mentari menceritakan semua pada Cahaya, dari ia bekerja di tempat yang sama dengan Abidzar dan para karyawan di sana memakai baju kurung bahan. Bahkan, kejadian barusan pun ia ceritakan juga.


"Sudahlah, kita tidak perlu ikut campur urusan orang," ucap Cahaya dengan lembut.


Mentari mengendus kesal, karena niatnya bercerita bukan untuk mengurusi kehidupan orang. Melainkan hanya untuk berwaspada dari wanita licik itu.


"Baiklah, mbak akan waspada dan kamu juga. Sebab, kita harus menghargai Agama orang lain, agama bukanlah penghalang untuk kita bersahabat dan berbuat baik," ucap Cahaya dengan lembut.


Mentari menganggukkan kepala, karena dia juga menghargai Agama orang lain, dan berpikir sama dengan sang kakak.


"Sekarang kita makan, mbak mau panggil mas Abidzar dulu." Cahaya bergegas pergi dari sana memanggil sang suami.


. . .


Jinan menceritakan masalahnya pada Exel, karena pria itu bisa membantunya. Namun, kali ini dia tidak bisa. Sebab, sang paman akan marah padanya.


"Ayolah, masa kamu tidak mau membantu ku?" bujuk Jinan.


"Aku tidak bisa, karena keputusan orang tua mu adalah yang terbaik, lagi pula pasti bibi akan marah padaku," jawab Exel.


Ya, ibunya Jinan adalah bibi Exel yang berpindah agama demi menikahi ayahnya Jinan.


"Dasar payah! Tapi, kamu bisa bukan membantu ku agar Abidzar terjatuh, dan karirnya hancur?" ucap Jinan.


Exel menuruti keinginan sang sepupu, karena menolak akan percuma baginya. Sejujurnya dia tidak ingin menghancurkan Abidzar, dan ia hanya berputar-putar menuruti keinginan Jinan.


'Bukannya aku tidak memilih Jinan, namun dia salah mana mungkin aku mendukungnya,' batin Exel.

__ADS_1


Pria itu senang pada Abidzar, apa lagi pria itu adalah emas untuk perusahaannya maju. Mana mungkin dia menghancurkan Abidzar dan perusahan nya juga akan hancur nanti.


BERSAMBUNG.


__ADS_2