Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Melahirkan


__ADS_3

Jinan merasa sangat mulas, sepertinya dia akan segera melahirkan bayinya. Namun, tidak ada siapapun di rumah hanya ia sendiri.


"Aaahhh! Sakit sekali, perut ku!" teriak Jinan.


Gadis itu langsung menghubungi sang suami, dan Eza langsung buru-buru pulang. Sebab, sang istri akan segera melahirkan, dia tidak peduli pada tugas yang sedang di kerjakan. Karena, istrinya sedang bertarung nyawa dan mati.


"Ya Allah, selamatkan anakku dan Jinan, aku tidak mau kehilangan mereka," ucap Eza dengan lirih.


Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah, setelah sampai. Eza langsung masuk ke dalam dan melihat Jinan.


"Sayang!"


Eza langsung membawa Jinan yang sudah sangat kesakitan, dengan sangat terburu-buru. Sebab, dia takut sang istri tidak bisa bertahan.


"Tahan ya sayang, kita ke rumah sakit sekarang," ucap Eza dengan lirih.


"Za, sakit sekali!" rintihan Jinan.


Eza langsung mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah sakit. Sebab, sang istri sudah berteriak-teriak kesakitan.


Eza tidak sanggup melihat sang istri sakit, seperti ini. Ingin rasanya dia yang menggantikan posisi Jinan. Namun, tidak bisa.


"Sabar ya sayang," ucap Eza dengan nada bergetar.


Setelah sampai di rumah sakit, Eza langsung membawa Jinan masuk ke dalam ruang bersalin. Sebab, Dokter yang memintanya membawa sang istri ke sana.


"Anda bisa menunggu di luar," ucap Dokter Ike dengan lembut.


"Tapi, saya ingin menemani istri saya Dokter," jawab Eza.


Dokter Ike memperbolehkan Eza masuk dan menemani Jinan. Gadis itu berusaha sekuat tenaganya untuk melahirkan anaknya ke dunia, walaupun nyawanya taruhannya.


Satu Jam kemudian . . .


Oek ... oek!


Bayi kecil Eza dan Jinan sudah terlahir dengan selamat, tidak kekurangan apapun. Bagitu juga dengan Jinan, selamat sehat, saat melahirkan sang anak.


"Selamat Pak, anaknya Pria," ucap Dokter Ike.


Eza sangat senang melihat anaknya mirip sekali dengannya, dan dia langsung menghampiri sang anak yang tengah di bersihkan oleh para perawat.


"Anak papa," ucap Eza dengan nada bergetar.

__ADS_1


Bagaimana tidak bergetar, karena dia sudah menjadi seorang ayah dan melihat perjuangan sang istri melahirkan anak untuknya.


Pria itu menghampiri Jinan yang tertidur lemas di ranjang rumah sakit, dan dia mencium sang istri dengan lembut.


"Terimakasih atas perjuangan mu, melahirkan anak kita," ucap Eza dengan sangat bergembira.


Jinan tersenyum dan mengangguk kepalanya. Sebab, ia masih lemas tidak bisa berbicara pada sang suami.


'Aku juga sangat senang bisa melahirkan anakku, dan merasakan menjadi seorang ibu yang sempurna,' batin Jinan lirih.


. . .


Mentari tidur di dalam kamar, dan Cahaya bersama sang suami di ruang tamu. Sebab, masih ada Putra di sini.


"Zar, lihatlah Eza sudah menjadi ayah," ucap Putra.


Abidzar langsung mendekati Putra dan melihat foto bayi kecil dari ponsel sang sahabat.


"Masya Allah, anaknya sangat lucu. Tidak terasa dia sudah menjadi seorang ayah," ucap Abidzar dengan lembut.


Cahaya juga penasaran dan melihat Poto anak Jinan dan Eza, membuatnya tidak sabar ingin segera bertemu sang anak yang masih ada di dalam perutnya.


'Ya Allah, semoga hamba dan bayi kecil ini bisa bertemu di dunia ini,' batin Cahaya lirih.


Sebab, dia takut kalau sang anak atau dia tidak selamat saat hari persalinan nanti. Namun, semuanya sudah di pasarkan pada Allah dan juga ia berdoa agar diberikan kemudahan saat hari kelahiran sang anak nanti.


Karena, dia senang menjadi paman walaupun bukan paman kandung, tetap saja dia sangat gembira.


"Setuju!" jawab Abidzar.


Pria itu senang, karena wajah anak Jinan sangat mirip dengan Eza yang artinya memang dia tidak berbuat zina dengan gadis itu.


Jujur saja, selama ini dia masih belum tenang dan berpikir memang ia sudah tidur bersama dengan Jinan. Walaupun, gadis itu sudah mengakui mereka tidak melakukan apapun.


"Mas, saya siapkan kado untuk anak mereka," ucap Cahaya dengan lembut.


"Iya sayang," jawab Abidzar dengan lembut dan tersenyum manis.


Cahaya bergegas pergi dari sana, karena dia ingin membuat hadiah untuk anak Jinan dan Eza. Sedangkan Abidzar masih melihat Poto sang keponakan bersama Putra.


"Zar, elo sama Eza sudah menjadi ayah dan gue masih menunggu waktu," ucap Putra dengan lirih.


Bagaimana tidak lirih, karena semua sahabatnya sudah menjadi ayah dan dia belum menikah. Bahkan, masih lajang.

__ADS_1


"Sabar, karena Allah sudah mempersiapkan jalan yang indah untukmu," ucap Abidzar dengan lembut.


Putra tersenyum dan memeluk Abidzar, karena pria itu sahabat yang terbaik untuknya selama ini.


Setelah selesai bercerita, Putra berpamitan pulang. Sebab, dia ingin membuat hadiah untuk anak Eza dan Jinan.


. . .


Eza sangat bahagia dan terus menggendong sang anak yang masih tertidur pulang, walaupun dia lelah. Tetap saja tidak mau meletakan sang anak di box bayi.


"Za, letakan saja anak kita. Apa kamu tidak lelah?" tanya Jinan dengan lembut.


Eza tersenyum dan menggelengkan kepalanya, karena dia masih ingin terus bersama sang anak seperti ini.


"Kalian sangat mirip. Padahal, selama ini aku yang mengandung dia," ucap Jinan dengan lembut.


Eza tersenyum dan mencium sang anak dengan lembut, kemudian dia meletakkan bayi kecil itu di box bayi dan menghampiri sang istri.


"Nama apa yang cocok untuk anak kita?" tanya Eza.


Sebab, dia dan sang istri belum memberikan nama anak mereka. Padahal, Jinan memiliki saran nama yang bagus.


"Jizan Farul," jawab Jinan.


Eza tersenyum karena nama itu sangat indah untuk anaknya, dan mereka memutuskan nama bayi itu adalah, Jizan Farul.


"Anak papa harus menjadi pria kuat, seperti papa," ucap Eza dengan lembut.


Rasa bahagianya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, karena dia sangat bahagia bisa menjadi seorang ayah.


'Ternyata seperti ini rasanya menjadi seorang ayah, aku bisa merasakan hal yang sangat membahagiakan dalam hidupku,' batin Eza.


Pria itu mencium sang anak lagi, sehingga bayi kecil itu menangis dan Eza memberikan pada sang istri. Agar Jinan menyusui putra mereka.


"Sakit sekali," ucap Jinan.


Saat sang putra meminum susu, dan Eza menjelaskan apa saja yang diucapkan oleh Dokter Ike tadi. Kalau menyusui pertama akan sakit rasanya.


Jinan mengerti dan bersabar, karena dia sangat menyayangi bayi kecil itu, dan tidak mau marah. Padahal, rasanya sangat sakit sampai dia menutup kedua matanya.


Agar rasa sakit itu berkurang, dan Eza langsung memeluk sang istri dan Jinan langsung tersenyum.


'Aku bahagia bisa memiliki suami seperti Eza, karena dia adalah pria baik. Walaupun aku awalnya tidak mencintai dia,' batin Jinan.

__ADS_1


Jinan sadar, kalau dia sekarang sudah benar-benar mencintai Eza dan berharap mereka bisa bersama selamanya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2