Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Bab 63


__ADS_3

Cahaya terbangun dari tidurnya, dan dia langsung mencari keberadaan sang anak. Gadis itu mendatangi Mentari di kamar sang adik.


"Loh Tar, di mana Hazar?" tanya Cahaya dengan cemas.


Sebab, tadi sang anak ada pada gadis itu dan sekarang bayinya tidak ada bersama adiknya membuat ia cemas.


"Sama ummi, kayanya Hazar tadi tidur Mbak, soalnya dia sangat mengantuk," jawab Mentari dengan lembut.


Cahaya bernafas lega, karena sang anak ada bersama umminya dan ia langsung bergegas mencari Hazar.


Sesampainya dia di kamar sang ummi. Terlihat Hazar tidur pulas di ranjang wanita paru baya itu. Dengan perlahan, ia langsung menghampiri anaknya.


"Ummi, maaf ya Cahaya tadi ketiduran lama sekali," ucap Cahaya dengan lembut.


Juminten tersenyum dan menganggukkan kepala, karena dia senang membantu sang anak merawat cucunya.


"Kamu seperti orang lain saja, ummi ini orang tua kamu, bila membantu menjaga Hazar ummi tidak keberatan malah merasa sangat bahagia," jawab Juminten dengan lembut.


Cahaya memeluk sang ummi dengan lembut, karena dia benar-benar sangat beruntung bisa memiliki ibu yang baik dan ibu mertua yang sayang padanya.


'Terimakasih ya Allah, sudah memberikan hamba kedua ummi yang sangat baik, dan menyayangi hamba dengan tulus,' batin Cahaya dengan sangat bersyukur.


Gadis itu langsung menyusui bayinya, karena Hazar sudah mulai bangun. Mungkin bayi kecil itu sudah haus karena belum meminum sejak tadi.


"Anak ummi sangat haus ya, maafkan ummi ya sayang karena tidur terlalu lama," ucap Cahaya dengan lembut.


Bayi kecil itu hanya diam sambil terus meminum susu, dan Cahaya tersenyum dengan sangat bahagia.


. . . .


Abidzar bersama Anto duduk di sebuah pondok, dan mereka berbincang tentang hari pernikahan Mentari yang sudah hampir dekat.


"Seperti Abi saja! Mereka, menikah di sini," ucap Abidzar dengan lembut.


Anto tersenyum, karena Abidzar bisa memberikannya masukan. Sebab, sudah beberapa hari ini dia bingung memikirkan hal itu.


"Terimakasih Nak, karena kamu sudah membuat abi lega. Sebab, memberikan masukan seperti itu, jujur saja abi bingung pernikahan Mentari akan di adakan seperti apa," ucap Anto dengan lembut.


Abidzar tersenyum dan memegang tangan sang mertua, karena dia sudah menganggap pria itu sebagai orang tuanya sendiri.


"Abi jangan sungkan-sungkan, bila ada masalah ceritakan pada Abidzar," ucap Abidzar dengan lembut.


Anto menganggukkan kepalanya, karena dia sekarang tenang memiliki teman bercerita, walaupun dia memiliki anak laki-laki. Namun, tidak semua hal Awan bisa mengatasi dan memberikan jalan ke luarnya.

__ADS_1


. . .


Mentari mendapatkan pesan singkat dari Putra. Pria itu sudah lama sekali tidak memberikan kabar apapun, juga sebaliknya.


Putra: Mentari, kamu sehat? Aku ada titipkan sesuatu pada Abidzar?


Mentari diam, dan berpikir mengapa Abidzar atau Cahaya tidak memberikan titipan dari Putra. Padahal, mereka sudah lumayan lama di sini.


"Nanti aku tanya pada mereka. Sebab, aku melihat banyak sekali barang bawaan mereka tadi," ucap Mentari.


Gadis itu bersiap-siap memakai hijab, dan berjalan ke luar kamar mencari kebenaran Cahaya. Sesampainya di kamar umminya, dia melihat sang kakak masih bercerita di sana kemudian menghampiri mereka.


"Mbak, kata Putra dia ada menitipkan pesan pada Mbak," ucap Mentari dengan lembut.


Cahaya tersenyum dan menepuk keningnya, karena sudah lupa dengan amanah Putra memberikan kue kesukaan Mentari.


"Nanti mbak ambil, di dalam kamar ada kue yang biasa dia belikan untuk kamu," jawab Cahaya dengan lembut.


Mentari tersenyum, karena dia sudah merindukan kue itu, di desa rasanya tidak sama dengan yang ada di kota.


"Kue apa?" tanya Juminten dengan lembut.


Cahaya menjelaskan pada sang ummi kue apa, dan wanita paru baya itu ingin merasakan kue dari calon menantunya.


"Sebentar ya, Cahaya ambil dulu." Cahaya bergegas pergi dari sana.


"Bukankah ini sama seperti yang ada di depan?" tanya Juminten.


Sebab, dia juga sering membeli kue itu di depan jalan pondok pesantren.


"Bukan Ummi, memang sama. Tapi, rasanya sangat jauh berbeda," sahut Mentari.


Gadis itu berkata, karena dia sudah merasakan sendiri seperti apa rasa kue tersebut.


"Baiklah, ummi coba dulu," ucap Juminten dengan lembut.


Wanita paru baya itu mulai mencicipi kue tersebut dan tersenyum, karena apa yang diucapkan oleh Mentari ada benarnya juga.


"Nanti bila Putra menelpon, katakan ummi sangat suka pada kue ini ya," ucap Juminten dengan lembut.


"Baik Ummi," jawab Mentari dengan lembut sambil tersenyum manis.


Sebab, Putra bukan hanya membahagiakannya. Namun, juga membahagiakan sang ummi.

__ADS_1


'Ya Allah, aku senang sekali karena pria itu bisa membahagiakan kami berdua,' batin Mentari.


Cahaya juga ikut memakan kue itu, karena ia sangat menyukai sama seperti Mentari.


. . .


Putra duduk di kasir sambil menghitung uang yang didapatkan kemarin. Sebab, ia belum sempat karena banyak pekerjaan di kampus.


Saat tengah menghitung uang, dia menerima pesan dari Mentari dan tersenyum bahagia sambil berlompatan.


Mentari: Terimakasih atas kuenya, ummi sangat suka dan mengatakan banyak terimakasih.


Putra kembali duduk, karena banyak tamu yang datang dan melihat ke arahnya sejak tadi. Membuatnya sangat malu.


"Pasti mereka mengira aku gila," gumam Putra.


Pria itu melanjutkan kembali pekerjaannya, sampai selesai. Setelah itu, dia ikut membantu para pelayan mengantarkan makanan ke pelanggan.


Banyak orang yang tidak tahu kalau dia adalah pemilik cafe, karena dia banyak membantu para pelayan tidak terlihat seperti bos.


"Putra!" panggil Eza yang baru saja sampai di cafe.


Putra langsung menoleh dan menghampiri sang sahabat di bangku, kemudian duduk di sana sambil berjabat tangan.


"Elo gak kuliah?" tanya Eza dengan lembut.


"Enggak, ini hari gak ada tugas sama sekali, dan elo sendiri?" jawab Putra dengan pertanyaan.


Eza tersenyum, karena mereka satu kampus yang arti akan selalu sama mengapa tidak masuk kuliah.


"Dasar elo ya, buat gue kesel aja!" geram Putra.


Sebab, dia sudah bertanya-tanya tadi dan langsung menyadari kalau mereka satu kampus.


"Jangan galak-galak dong, gue cuma mau ngetes elo doang. Ternyata masih sama bodohnya," kekeh Eza.


Putra langsung menoyor lengan Eza karena tega mengatakan kalau dia bodoh. Padahal, memang sedikit bodoh. Namun, dia tidak mau sampai ada yang tahu.


"Za, gue balik ke kasir lagi ada yang mau bayar," ucap Putra dengan lembut.


Eza menganggukkan kepalanya, dan Putra bergegas pergi dari sana karena ia harus mengerjakan tugas sebagai kasir.


"Putra emang benar-benar rajin, pasti bosnya senang karena kinerjanya sangat bagus," ucap Eza dengan kagum.

__ADS_1


Sebab, sang sahabat sangat cekatan saat bekerja seperti saat ini. Bahkan, pria itu juga membantu melayani para pengunjung di sana.


BERSAMBUNG.


__ADS_2