Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Eza Marah


__ADS_3

Abidzar tersenyum sambil menetap wajah sang istri dari bawah. Ya, pria itu sekarang ada di pangkuan Cahaya sejak tadi. Sebab, hari ini mereka berdua ingin bersantai.


"Mbak, boleh tanya sesuatu tidak?" tanya Abidzar.


Cahaya langsung menatap wajah sang suami, kemudian dia menganggukkan kepala. Abidzar langsung bangun dan memegang tangan istrinya.


"Apa ustadz Ammar, menyukai Mbak?" tanya Abidzar dengan lembut.


Cahaya mengerutkan keningnya, karena dia bingung harus menjawab apa. Sebab, dari dulu ia dan ustadz Ammar bersahabat dengan baik.


"Tidak tahu, karena kami sudah seperti adik dan kakak. Memangnya ada apa?" jawab Cahaya.


Abidzar tersenyum dan memegang wajah sang istri dengan halus, kemudian membisikan sesuatu di telinga Cahaya.


"Mas!" geram Cahaya.


Abidzar tertawa kecil, karena dia sudah berhasil membuat Cahaya marah. Sejujurnya ia sangat cemburu saat ustadz Ammar mengirimkan pesan kepada sang istri.


'Sebaiknya aku diam saja, jangan beritahu Mbak Cahaya kalau aku cemburu pada ustadz Ammar,' batin Abidzar.


Abidzar tidak mau sampai sang istri berpikir yang bukan-bukan, karena dia cembur melihat ustadz Ammar selalu mengirim pesan singkat.


"Tidak cemburu, 'kan?" tanya Cahaya.


Abidzar terkejut, karena sang istri tahu apa isi hatinya saat ini, sehingga pria itu diam tidak menjawab pertanyaan Cahaya.


"Mas," panggil Cahaya dengan lembut.


Karena sang suami tidak menjawab pertanyaan darinya, dan pria itu langsung menatap wajah Cahaya.


"Iya," jawab Abidzar dengan sangat lembut.


Cahaya mengerti dengan sikap Abidzar padanya, sehingga gadis itu tertawa kecil sambil memeluk suaminya.


"Cemburu itu manusiawi, Mas." Cahaya berucap sambil melepaskan pelukannya.


Abidzar tersenyum dan langsung mencium kening Cahaya, kemudian dia memeluk tubuh istrinya dengan lembut.


"Jangan buat saya terus cemburu, Mbak!" pinta Abidzar.


Cahaya menganggukan kepalanya, dan Abidzar mulai membawa tubuhnya dengan perlahan naik ke atas ranjang.


Saat hendak mencium sang istri, tiba-tiba saja pintu kamar di ketuk dari luar dengan sangat kuat. Membuat Abidzar terkejut.


Tok!


Tok!

__ADS_1


"Astaghfirullah," ucap Abidzar.


Pria itu bangun dan memberika hijab sang istri, dan bergegas pergi menuju pintu dan membukanya.


"Abidzar, ada Putra dan Eza di ruang tamu," ucap Inem dengan lembut sambil bergegas pergi dari sana.


Abidzar menghela nafas panjang, karena dia tidak jadi menyalurkan hobi barunya mengganggu sang istri. Sebab, kedatangan para sahabatnya.


"Mbak, saya ke luar dulu. Jangan ke mana-mana!" Abidzar menutup pintu kamar dan bergegas pergi dari sana.


Cahaya menuruti keinginan sang suami dan tetap di dalam kamar, karena dia tahu Abidzar merasa cemburu kalau ia ke luar menemui para sahabat pria itu.


. . .


Abidzar tersenyum dan duduk di antara sang sahabat, kemudian memeluk kedua pria itu dengan sangat lembut.


"Rindu masa-masa, kita seperti ini. Hanya saja! Rio tidak ada saat ini," ucap Abidzar lirih.


Entah kenapa dia sangat sedih, salah satu sahabatnya tidak ada saat ini. Sebab, besok ia harus kembali ke pesantren, yang sudah jelas tidak bisa menemui Rio.


"Sudahlah, dia banyak pekerjaan," ucap Eza sambil menepuk pundak Abidzar dengan pelan.


"Benar tu, teman kita yang satu itu, giat banget deh ngumpulin uang modal nikah," tambah Putra.


Ketiga pria itu tertawa kecil, karena menggosipkan Rio yang terus bekerja keras tanpa hentinya.


"Abidzar, kalau elo udah balik ke pondok. Jangan lupa! Selalu waspada. Karena, bakalan ada ulat bulu yang mengganggu," ucap Eza.


Abidzar menganggukkan kepala, karena dia yakin kalau Allah akan mempermudah segala urusannya.


"Gue salut banget sama elo, baru juga mondok sebentar udah tobat aja," ucap Eza dengan kagum.


Abidzar langsung memukul lengan Eza, dan mereka bertiga kembali tertawa sehingga salah satu batuk.


"Ya Allah, Abidzar amnilin air doang!" ucap Putra dengan panik.


Karena Eza batuk-batuk tidak henti-hentinya, dan Abidzar langsung mengambil air putih. Tak berselang lama akhirnya pria itu kembali kemudian memberikan pada yang membutuhkan.


"Tunggu Za, gue haus!" Putra meminum air itu.


Setelah hausnya hilang, dia langsung memberikannya kepada Eza dan pria itu meminum habis air tersebut.


"Alhamdulillah," ucap Abidzar.


Pria itu menatap wajah sang sahabat yang baru saja terkena karma kontan, karena menceritakan Rio dengan sangat sadis.


"Sepertinya itu karma," ucap Putra dengan polos.

__ADS_1


Abidzar langsung menghela nafas panjang, karena dia juga berpikir yang sama. Namun, masih menutup mulut agar Eza tidak sakit hati.


"Elo ya, emang bener-bener!" ucap Eza dengan ketus.


Putra tersenyum sambil menatap wajah Abidzar, karena dia tidak sanggup menahan tawa kalau melihat muka Eza.


'Ya Allah, wajah Eza terlihat sangat menoncolok, ingin segera di hakimi,' batin Putra.


Pria itu benar-benar tidak sanggup, melihat wajah Eza yang terlihat sangat ingin di hakimi, sehingga dia langsung menghampiri pria itu.


"Astaghfirullah," ucak Putra.


Eza heran kenapa sahabat mengucap seperti ini. Namun, dia masih diam tidak menjawab apapun.


"Wajah mu, terlihat jelas ingin di hakimi," ucap Putra dengan sangat geli.


Eza menghampiri Abidzar, dan terlihat pria itu juga tertawa sambil membalikkan wajah, agar tidak terlihat kalau ia tertawa.


"Astaghfirullah Abidzar! Elo juga sama!" Eza bergegas pergi dari sana.


"Za!" teriak Abidzar sambil menatap ke arah Putar.


Terlihat pria itu masih saja tertawa, saat korban sudah pergi. Abidzar berlari mengejar Eza. Namun, sayang sekali karena sang sahabat tidak terlihat lagi.


"Eza! Kamu di mana!" teriak Abidzar sambil terus menatap ke arah jalanan.


Namun, dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Sehingga ia bergegas masuk ke dalam dan melihat Putra masih tertawa.


"Astaghfirullah, Putra!" teriak Abidzar.


Putra langsung berhenti tertawa. Namun, di dalam hatinya masih menertawakan sahabatnya di dalam hatinya.


"Jangan seperti itu lagi! Lihat, Eza sudah pergi," ucap Abidzar.


Putra mengangguk, tanda menerima. Namun, dia tidak janji akan merubah sikapnya seperti itu.


'Maaf Zar, aku gak bisa kalau tidak menghakimi orang yang ingin di hakimi seperti Eza tadi,' batin Putra.


Mereka berdua melanjutkan kembali cerita, sampai keduanya lelah dan Eza tak kunjung kembali, yang artinya marah pada kedua pria itu.


"Elo tenang aja! Gue balik dan bujuk dia," ucap Putra dengan pelan.


"Terimakasih," jawab Abidzar.


Putra bergegas pergi dari sana, karena hari sudah semakin siang dan juga ia ingin mencari kebenaran Eza. Untuk meminta maaf seperti ucapan Abidzar tadi.


"Putra, kita tidak boleh membuat hati sahabat sakit, apalagi sampai dia tidak bisa memaafkan kita," ucap Abidzar.

__ADS_1


Yang terus-menerus masuk ke dalam pikiran Putra, dan pria itu semakin giat mencari keberadaan Eza.


Bersambung.


__ADS_2