
Part 33
Keesokan harinya ...
Pagi ini, Mentari, Abidzar dan Cahaya akan kembali ke desa meminta izin untuk menetap di kota begitu juga dengan Mentari. Sebab, gadis itu ingin bekerja di salah satu perusahaan di kota.
"Mentari, kamu tinggal di sini saja! Bersama ummi dan Abah," ucap Inem dengan lembut.
Mentari tersenyum dan menolak keinginan Inem dengan lembut, karena dia tidak enak kalau tinggal bersama Toyib yang bukan siapa-siapa nya. Takut akan menjadi fitnah nantinya.
"Baiklah. Jadi, kamu akan tinggal bersama siapa di sini nantinya?" tanya Inem dengan lembut.
Sejujurnya dia ingin sekali tinggal bersama Mentari, karena dia senang ada anak gadis di rumahnya. Namun, Inem juga harus menghargai keputusan gadis itu.
"Tidak usah sedih Ummi, karena Mentari akan sering menjenguk Ummi," ucap Mentari dengan lembut.
Inem tersenyum dan memeluk Mentari, kalau saja dia memiliki anak laki-laki satu lagi maka akan ia nikahkan dengan gadis itu.
"Ayo, Tari kita sudah terlambat," ucap Abidzar.
Mentari bangun dan mencium tangan Inem dengan lembut, begitu juga dengan Abidzar dan cahaya.
"Kalian juga, kenapa harus tinggal di apartemen? Seharusnya, tinggal di sini saja?!" tanya Inem kesal.
Karena Abidzar dan Cahaya tidak tinggal bersamanya, malah lebih memilih tinggal di apartemen berdua.
Abidzar tersenyum, dah memegang tangan sang Ummi kembali berkata, "Anak Ummi ini sudah menjadi iman."
Inem tersenyum, karena sang anak terlihat dewasa setelah menikah. Tidak salah ia menikahkan Abidzar walaupun umurnya masih di bilang muda. Sejujurnya dia ragu saat menikahkan sang anak.
Namun, sekarang ia bersyukur karena sang anak menikah dan menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.
"Baiklah, kalian hati-hati ya," ucap Inem dengan lirih.
Semua menganggukkan kepala dan bergegas masuk ke dalam taksi, sebelum pergi mereka bertiga mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Assalamualaikum Ummi," ucap mereka bertiga.
"Waalaikumsalam," jawab Inem dengan lembut.
Taksi yang membawa mereka mulai menjauh dari hadapan Inem, dan semakin tidak terlihat. Wanita paruh baya itu pun masuk ke dalam rumah yang sudah sunyi.
. . .
Beberapa jam kemudian . . .
Kini mereka telah tiba di pondok pesantren, dan bergegas masuk ke dalam rumah. Membawa barang masing-masing.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap ketiganya.
Tidak ada jawaban, karena semua orang tidak ada di dalam rumah. Sebab, sedang mengerjakan tugas masing-masing.
"Tidak ada orang kelihatannya," ucap Mentari.
"Iya, kalau begitu kita bersiap-siap saja! Besok berangkat," ucap Cahaya dengan lembut.
Mentari tersenyum, dan bergegas pergi dari sana menuju kamarnya begitu juga dengan Cahaya. Sedangkan Abidzar bergegas ke pondok mengambil ijazah kelulusannya.
Saat tengah berjalan, tiba-tiba tangannya ditarik seseorang dari belakang membuatnya terjatuh.
"Astaghfirullah!" pekik Abidzar.
Putra tertawa lepas, karena dia sengaja membuat sang sahabat terjatuh. Sebab, sudah lelah ia memanggilnya, malah sang sahabat terus saja berjalan.
"Putra, kok elo ada di sini? Buahnya elo dah tamat ya?" tanya Abidzar.
Pria itu heran kenapa sang sahabat ada di pondok. Padahal, mereka sudah lulus kemarin.
"Elo lupa? Dari kemarin gue masih di sini, nungguin orang tua gue yang gak datang?" ingat Putra pada sang sahabat.
Abidzar tersenyum, karena dia baru ingat kalau sahabatnya masih menunggu jemputan.
"Sebenarnya gue berat hati pergi dari sini," ungkap Putra membuat Abidzar terkejut.
"Elo sakit?" tanya Abidzar.
Putra menggelengkan kepalanya, dan menceritakan kalau dia menyukai adik Cahaya dan tidak ingin pulang.
Abidzar tertawa, dan menceritakan kalau Mentari akan ke kota untuk bekerja. Membuat Putra tersenyum bahagia.
"Bagus kalau begitu, jangan beritahu siapapun ya! Tentang masalah ini, karena sangat rahasia," ucap Putra.
Abidzar menganggukkan kepala, dan mereka bergegas pergi dari sana menuju ruang guru dan mengambil ijazah masing-masing.
. . .
Jinan tersenyum puas, karena dia tahu Abidzar akan bekerjasama dengan perusahaan temannya. Gadis itu pun mulai menyusun rencana agar mantan kesahinya bisa jatuh.
"Lihat saja! Aku akan menjatuhkan mu, karena kau tidak mau menikah denganku," ucap Jinan dengan licik.
Walaupun sudah memiliki suami, Jinan tetap menginginkan Abidzar menjadi suaminya dan dia juga tidak mencintai Eza.
Jinan: Pastikan semuanya berjalan lancar!
Tanpa nama: Baik!
__ADS_1
Jinan tertawa lepas, karena dia sedikit lagi bisa menjatuhkan Abidzar. Walaupun dia mencintai pria itu, tetap saja, ia ingin menghancurkan karir dan kehidupan Abidzar.
Eza terdiam, karena sejak tadi dia menguping pembicaraan Jinan pada seseorang dan dia langsung pergi. Sebab, ingin memberitahu sang sahabat akan rencana jahat sang istri.
"Eza!" panggil ayahnya Jinan.
Eza menghela nafas panjang, karena dia tidak bisa pergi kalau sang mertua sudah memanggilnya.
"Iya, Ayah." Eza langsung berbalik badan dan menghampiri sang mertua.
"Mau ke mana? Temani ayah main catur dulu!"
Eza hanya diam saat sang mertua manarik tangannya, dan bermain catur bersama. Padahal, ia hendak memberitahu pada Abidzar rencana jahat sang istri.
Namun, Eza sudah lupa karena asik bermain catur bersama sang mertua sampai mereka lupa waktu.
. . .
Keluarga Cahaya berkumpul di ruang tamu, karena Abidzar ingin menyampaikan bahwa dia dan sang istri akan menetap ke kota.
Hati Anto teriris, saat Abidzar akan membawa sang anak pergi jauh darinya. Namun, dia tidak bisa melarang, karena sang anak sudah menjadi milik pria itu.
"Abi setuju saja! Asalkan kalian jangan! Lupakan kami, ingat shalat juga," ucap Anto dengan lirih.
Abidzar dan Cahaya menjawab semua nasehat sang Abi, karena semua yang di ucapkan oleh pria itu benar semua.
"Abi hanya berpesan pada Tari, kalau merantau di kota orang harus memegang iman agar tidak muda tergoda dosa," pesan Anto pada sang anak.
Mentari mengangguk kemudian mencium tangan sang Abi, dan juga sang Ummi secara bergantian.
"Tapi, kalau boleh Ummi saran, lebih baik tinggal saja bersama kakak mu. Sebab, kamu wanita tidak baik tinggal sendirian," ucap Juminten dengan lembut.
Wanita paru paya itu takut anaknya berbuat dosa kalau tinggal sendirian, apa lagi tidak ada yang menemani di sana.
"Benar itu, aku juga setuju kamu tinggal sama Mbak Cahaya," tambah Awan.
Karena dia berpikir hal yang sama dengan sang Ummi, karena dia tahu hidup di kota sangat kejam dan banyak yang salah jalan.
"Tari, aku sudah menganggap mu sebagai adik. Jadi, jangan takut kalau tinggal bersama kami," ucap Abidzar.
Pria itu tahu kalau Mentari segan padanya, dan dia juga mengerti bahwa tidak boleh yang bukan mahram tidak bersama. Namun, kali ini hanya untuk sementara waktu sampai gadis itu menikah.
"Baiklah," jawab Mentari.
Gadis itu terpaksa harus tinggal bersama sang kakak, karena dia tidak ingin membuat ummi dan Abi nya terus memikirkannya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1