Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Kekesalan Eza


__ADS_3

Dua tahun kemudian . . .


Hari yang di tunggu-tunggu oleh semua orang telah tiba, karena Mentari akan segera menikah dengan Putra. Sebab, janji mereka sudah sampai.


Mentari sangat bahagia, karena besok dia akan menikah dengan pujaan hatinya yang selama ini dia cintai.


"Ya Allah, semoga Putra adalah jodoh yang terbaik untuk Hamba," ucap Mentari dengan sangat gembira.


Karena, besok akan menjadi hari yang paling membahagiakannya dan semua keluarga. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.


Ceklek!


"Tante, Hazar mau susu," ucap Hazar dengan lembut.


Mentari tersenyum, karena keponakannya baru berusia dua tahun setengah dan sudah pandai berbicara walaupun terkadang juga masih celat.


"Hazar mau minum susu?" tanya Mentari dengan lembut.


Hazar menganggukkan kepala, dan Mentari langsung mengendong keponakanya, kemudian mencium pria itu tanpa ampun sehingga pria kecil itu menangis.


"Ummi, Abi, hiks ... hiks!" Hazar menangis dan memanggil keuda orang tuanya.


"Sayang, maafkan tante ya," ucap Mentari dengan lembut.


"Tidak mau, Tante jahat cium Hazar," jawab Hazar dengan sangat bijak.


Mentari hanya tersenyum, dan terus membawanya ke dapur dan membuat susu tanpa melepaskan gendongannya.


Setelah selesai membuat ausu, dia membawa Hazar masuk ke dalam kamar dan membiarkan sang keponakan minum susu sampai tertidur pulas.


'Masya Allah, dia sangat baik, umminya masih banyak pekerjaan dia Alhamdulillah sudah tidur,' batin Mentari dengan sangat kagum.


Sebab, Hazar baru berusia dua tahun setengah. Namun, pria kecil itu sudah sangat bijak sama seperti anak usia lima tahun.


. . .


Cahaya baru selesai membuat buket seperangkat alat shalat dari Putra, karena pria itu ingin memberikan mahar untuk Mentari.


Setelah itu, dia langsung membawanya ke pondok. Sebab, keluarga Putra sudah ada di sini sejak tadi pagi, karena jarak rumah mereka sangat jauh.


"Assalamualaikum Tante," ucap Cahaya dengan lembut.


"Waalaikumsalam," jawab mamanya Putra.


Cahaya memberikan buket tersebut, kemudian pamit undur diri karena sang anak entah pergi ke mana. Sebab, tadi berpamitan bertemu dengan Mentari dan dia tidak yakin.

__ADS_1


"Hazar!" panggil Cahaya. Namun, tidak ada jawaban.


"Ke mana ya Hazar?" gumam Cahaya sambil terus berjalan.


Cahaya berjalan menuju kamar Mentari, karena dia berpikir kalau sang anak benar berkata ingin menemui sang tante.


"Mentari," panggil Cahaya dengan lembut sambil masuk ke dalam kamar Mentari.


Cahaya bernafas lega, karena sang anak tengah tertidur dengan pulas di ranjang. Kemudian dia menghampiri sang adik.


"Mbak pakaikan kamu Henna ya," ucap Cahaya dengan lembut.


"Baik Mbak. Tapi, jangan terlalu terlihat karena Mentari malu," jawab Mentari dengan lembut.


Sebab, dia takut Hazar terbangun dan menangis karena belum puas tidur.


"Baiklah, Mbak akan bekerja dengan apa yang kamu inginkan," sahut Cahaya dengan lembut.


Cahaya mulai mengukir tangan sang adik dengan sangat indah, karena dia sangat pandai membuat Henna seperti sekarang.


"Mbak, apa saat Mbak akan menikah sama kak Abidzar, terasa deg-degan?" tanya Mentari dengan lembut.


Cahaya tersenyum, dan mengingat kembali saat dirinya akan menikah dengan Abidzar, pria yang sama sekali tidak ia kenal dan menikah tanpa adanya cinta, juga menikah dadakan.


"Dulu ... "


"Masya Allah, sekarang sudah ada cinta diantara kalian berdua dan ada Hazar juga," ucap Mentari dengan lembut.


"Insyaallah, semua ada jalan. Sebab, Allah memiliki jalan yang indah untuk parah umatnya," jawab Cahaya dengan lembut.


Mentari merasa gugup untuk besok, karena dia malu dan bingung harus bersikap seperti apa pada Putra, bila pria itu sudah menjadi suaminya besok?


. . .


Putra diam sambil terus menghafalkan ijab Kabul besok, karena dia takut salah dan tidak jadi menikah. Hal itu akan sangat membuatnya mati seketika.


'Ya Allah, semoga hamba besok bisa menjadikan Mentari makmum untuk hamba,' batin Putra dengan sangat berharap.


Pria itu gugup dan cemas menjadi satu, entah mengapa dia juga tidak tahu, rasanya ingin dia pergi sejauh mungkin dan berteriak-teriak. Aku mencintaimu Mentari. Seperti itulah pemikirannya saat ini.


"Putra, jangan tegang dan cemas, coba bawa tenang karena gugup bisa membuatmu gagal menikahi Mentari," ucap Abidzar yang baru saka sampai.


Putra hanya diam, karena sekarang dia belum mau bicara apapun pada orang. Sebab, ia merasa gugup dan takut menjalani besok.


"Put, kamu harus tenang karena dulu, aku baru datang langsung menikah tanpa mengetahui apapun," tambah Abidzar.

__ADS_1


Putra langsung menoleh dan menghampiri sang sahabat, kemudian banyak yang ditanyakan olehnya, apa saja yang harus dipertanyakan.


"Hanya itu saja?" tanya Putra, karena dia tidak yakin akan ucapan Abidzar.


"Iya," jawab Abidzar.


Putra terdiam, karena dia tidak percaya bila mengucap ijab kabul semudah itu, dan ia sudah pasti akan mudah bisa.


"Zar, doakan gue ya, semoga besok bisa ijab kabul dengan lancar," ucap Putra dengan lembut.


"Aamiin," jawab Abidzar.


Putra tersenyum, karena sang sahabat datang membawakan keceriaan untuknya, dan sekarang dia sudah tenang dan semangat untuk besok.


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Sebab, ada Eza akan sampai sebentar lagi," ucap Abidzar dengan lembut.


Putra menganggukkan kepala, dan Abidzar bergegas pergi dari sana karena dia akan menyambut sang Abah dan ummi juga Eza bersama Jinan juga.


Sesampainya di depan pondok, Abidzar tersenyum karena kedua orang tuannya sudah sampai dengan selamat.


"Assalamualaikum," ucap Toyib dengan lembut.


"Waalaikumsalam," jawab Abidzar.


Pria itu mendekati keuda orang tuanya dan mencium tangan mereka dengan lembut dan sopan.


"Masuk saja Abah dan Ummi, karena Abidzar masih menunggu Eza dan keluarga kecilnya," ucap Abidzar dengan lembut.


"Iya, kami masuk dulu," jawab Toyib.


Inem dan Toyib masuk ke dalam dan meninggalkan Abidzar seorang diri di sana. Sebab, pria itu masih menunggu kedatangan sahabatnya.


Tak berselang lama, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, Abidzar langsung mengambil Jizan karena dia ingin anak sahabatnya bermain bersama anaknya.


"Kami masuk dulu, kalian terserah mau masuk atau tidak"," ucap Abidzar sambil bergegas masuk ke dalam.


Jinan dan Eza terdiam karena mereka baru saja sampai, dan anaknya sudah dibawa masuk sedangkan mereka tidak dipersiapkan masuk.


"Sudahlah, bila dia berkunjung ke rumah kita, kita ambil anaknya dan dia kita usir," ucap Eza dengan kesal.


Sebab, sang sahabat tidak menyambutnya sama sekali malah memperdulikan sang anak saja.


"Sudahlah, untuk apa seperti itu, bila kamu juga bersikap kasar seperti Abidzar," sambung Jinan sambil berjalan masuk.


Eza tertawa, karena dia juga seperti Abidzar bila bertemu hanya menginginkan Hazar saja. Namun, dia tidak sadar diri, dan malah kesal padanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2