
Mentari merasa pusing, karena sejak kemarin dia tidak ada istirahat sedikitpun. Sebab, pekerjaan yang menumpuk sekali.
"Ya Allah, sakit sekali kepala ini," ucap Mentari dengan lirih.
Ingin rasanya dia pulang detik ini juga. Namun, pekerjaannya masih sangat banyak, harus segera di selesaikan.
"Astaghfirullah, aku rasa tidak sanggup lagi," ucap Mentari.
Gadis itu langsung menghubungi Abidzar, karena ingin meminta bantuan pada kakak iparnya.
Abidzar: Halo Mentari, ada apa?
Mentari: Kak, tolong aku!
Abidzar sangat cemas akan keadaan sang adik, sehingga dia langsung berlari dengan kencang menuju ruangan Mentari. Sebab, gadis itu langsung memutuskan sambungan telepon tadi.
Ceklek!
"Mentari!" teriak Abidzar.
Sebab, ia melihat Mentari sudah jatuh di lantai. Dengan sangat terburu-buru dia langsung menghampiri gadis itu.
"Astaghfirullah Mentari," ucap Abidzar dengan cemas.
Abidzar langsung menggendong Mentari dan membawa gadis itu ke luar, pada saat itu juga ada Exel yang baru sampai langsung menghampirinya.
"Ada apa, dengan Mentari?!" tanya Exel dengan sangat panik.
"Pingsan, bawa ke rumah sakit!" jawab Abidzar.
Exel langsung membuka pintu mobilnya dan Abidzar masuk ke dalam bersama Mentari, kemudian Exel mengemudikan mobil menuju rumah sakit terdekat.
"Kenapa bisa terjadi?" tanya Exel dengan sangat cemas.
"Entahlah Pak, karena saat dia menelepon tadi suaranya sudah sangat lemas," jawab Abidzar.
Exel benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan Mentari, dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah sakit.
Setelah sampai, mereka langsung membawa Mentari ke UGD dan di tangani oleh dokter yang bekerja di sana
. . .
Juminten merasa cemas. Namun, dia tidak tahu cemas akan hal apa. Sehingga ia tidak bersemangat membuat apapun.
"Ummi, makan dulu. Sejak pagi tidak ada makan apapun," ucap Fatimah dengan lembut.
Sebab, dia mengkhawatirkan keadaan sang mertua yang sejak pagi tadi memakan apapun. Bahkan, minum pun tidak.
"Entahlah, kenapa ummi seperti ini, merasa cemas tidak karuan," jawab Juminten.
Tiba-tiba saja, dia mengingat sang anak yang jauh darinya. Wanita paruh baya itu langsung menelpon Cahaya dan bertanya apakah mereka sehat.
Cahaya: Alhamdulillah, kami semua sehat.
Juminten: Alhamdulillah Nak, karena sejak tadi ummi cemas tidak karuan.
__ADS_1
Cahaya: Mungkin, karena Ummi kurang istirahat.
Juminten: Iya, kalau begitu ummi istirahat dulu ya?
Cahaya: Iya Ummi. Assalamualaikum.
Juminten: Waalaikumsalam.
Juminten langsung tidur, walaupun rasa cemasnya belum juga hilang. Setidaknya dia mendengar sang anak baik-baik saja.
. . .
Cahaya bingung, karena sang ummi cemas tanpa alasan yang jelas. Sebab, ia tidak tahu kalau Mentari sakit dan tengah di rawat di rumah sakit.
"Ya Allah, semoga keluarga kami diberikan keselamatan dan kesehatan," doa Cahaya.
Sejujurnya, ada rasa cemas juga menghampirinya. Namun, dia mencoba berpikir positif.
. . .
Abidzar sangat khawatir, karena Mentari belum juga sadar sejak tadi. Sedangkan Exel sudah kembali ke kantor sebab tidak ada orang di sana.
"Ya Allah, semoga Mentari lekas sadar dan sembuh," ucap Abidzar dengan lirih.
Pria itu benar-benar cemas, sampai dia lupa untuk mengabari Cahaya, kalau Mentari sakit sampai masuk rumah sakit.
"Astaghfirullah, aku lupa mengabari Cahaya. Apa sebaiknya aku tidak memberikan tahu dia?" ucap Abidzar dengan bimbang.
Karena dia bingung, kalau memberitahu Cahaya maka sang istri akan cemas, dan dia mengkhawatirkan keadaan bayi yang ada di dalam kandungan gadis itu.
Pria itu memutuskan tidak memberitahu Cahaya, kalau Mentari masuk rumah sakit dan menunggu gadis itu sadar seorang diri.
"Keluarga Mentari!"
Abidzar langsung bangun dan menghampiri dokter yang ada di dalam ruangan Mentari.
"Saya kakaknya Dok," ucap Abidzar.
"Mari duduk, ada hal yang penting saya ingin sampaikan," ucap Dokter tersebut.
Hati Abidzar cemas, karena Dokter itu akan menyampaikan sesuatu padanya, dah hal apakah yang akan di sampaikan olehnya.
"Adik Anda sakit, yang biasa. Tapi, ingin saya sampaikan, kalau dia harus banyak istirahat," ucap Dokter tersebut.
Abidzar bernafas lega, karena Mentari hanya kelelahan bisa saja, sehingga dia langsung tersenyum.
"Alhamdulillah, kalau adik saya tidak sakit apapun hanya kelelahan biasa saja!" jawab Abidzar dengan lega.
Dokter tersebut tersenyum dan memberikan resep obat untuk untuk Mentari, dan Abidzar langsung mengambilnya.
"Terimakasih banyak Dok," ucap Abidzar dengan lembut.
"Sama-sama Pak," jawab Dokter tersebut.
Abidzar langsung bergegas pergi dari sana, karena dia ingin menebus obat Mentari dengan segera.
__ADS_1
Setelah selesai, Abidzar langsung kembali dan melihat Mentari sudah sadar. Kemudian, ia menghampiri adik iparnya.
"Mentari, kamu sudah baik?" tanya Abidzar dengan lembut.
"Alhamdulillah sudah, pusing Mentari juga sudah berkurang," jawab Mentari dengan lemas.
Abidzar membantu Mentari minum obat, kemudian dia duduk di sofa sambil menunggu kedatangan Putra.
Ya, dia meminta Putra untuk datang menjenguk Mentari dan juga memberitahu Cahaya.
Tak berselang lama, akhirnya Putra sampai dan langsung masuk ke dalam, kemudian menghampiri Mentari.
"Mentari, kamu masih sakit?" tanya Putra dengan cemas.
"Alhamdulillah sudah membaik, sebentar lagi juga sudah di perbolehkan pulang," jawab Mentari dengan lema.
Putra bernafas lega, karena keadaan Mentari sudah membaik dan dia tersenyum bisa melihat senyuman di wajah sang pujaan hatinya.
"Alhamdulillah," ucap Putra dengan lega.
Mentari dan Putra bercerita bersama, tanpa memperdulikan Abidzar yang sejak tadi hanya menonton mereka berdua.
'Sepertinya mereka memang menjaga jarak,' batin Abidzar.
Sebab, ia melihat Mentari tidak terlalu banyak bicara dan juga Putra, dan mereka berdua berbicara dari jarak jauh.
. . .
Cahaya baru tiba di rumah sakit, dan dia langsung berjalan menuju ruang Mentari, kemudian masuk ke dalam.
"Astaghfirullah Mentari," ucap Cahaya dengan lirih.
Gadis itu langsung menghampiri sang adik, dan memeluknya dengan erat dan tangisannya.
"Mbak, Mentari tidak apa-apa," ucap Mentari dengan lembut.
Cahaya melepaskan pelukannya, kemudian menatap wajah pucat Mentari. Gadis itu langsung bersedih.
"Ayo kita pulang, biar kamu beristirahat," ucap Cahaya dengan lembut.
Mentari menganggukkan kepala, dan mereka menuggu dokter memeriksa keadaan gadis itu, sebelum mereka pulang.
'Ya Allah, sembuhkan Mentari,' batin Putra.
Pria itu sedih karena sang pujaan hatinya sakit, dan berharap bisa menggantikan posisi Mentari saat ini, agar dialah yang merasakan sakit.
Namun, tidak bisa dan dia hanya bisa berharap agar Mentari lekas sembuh. Dokter datang dan memeriksa keadaan Mentari, dan di perbolehkan pulang.
"Tapi, harus istirahat. Karena, kamu terlalu kelelahan," ucap Dokter tersebut.
"Baik Dokter," jawab Mentari.
Setelah Dokter itu pergi, Cahaya dan yang lain langsung membawa Mentari pulang agar gadis itu beristirahat dengan cukup.
BERSAMBUNG.
__ADS_1