Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Manja


__ADS_3

Abidzar berjalan masuk ke dalam rumah, dan melihat semua orang ada di dalam kamarnya. Dengan langkah cepat ia masuk ke dalam.


"Ada apa, Ummi?" tanya Abidzar dengan cemas.


Saat melihat sang istri terbaring lema di atas ranjang, dan melihat semua wanita ada di sana menemani Cahaya.


"Tidak usah cemas! Cahaya tadi pingsan," jawab Juminten dengan lembut.


Abidzar langsung mencium tangan Cahaya dan mengelus kepala sang istri, kemudian dia meneteskan air mata.


"Maafkan mas sayang, semua ini salah mas. Kalau saja mas selalu memperhatikan mu, tidak mungkin ini terjadi," ucap Abidzar dengan lirih.


Cahaya tersenyum, karena sang suami masih sayang dan peduli padanya. Walaupun dia harus sakit baru Abidzar memperdulikannya.


"Mas, ini bukan salah kamu. Cahaya pingsan karena lelah," sahut Cahaya dengan lema.


Abidzar semakin terisak, dan mencium seluruh wajah sang istri karena sangat pucat.


"Sakit, atau hamil?" ucap Mentari sambil tersenyum manis.


Abidzar terdiam, sedangkan Cahaya tersenyum karena dia sudah terlambat datang bulan.


"Mungkin saja, karena Cahaya sudah telat bulan," jawab Cahaya dengan lembut.


Abidzar semakin diam, karena sekarang dia ada di dalam masalah besar. Sebab, tidak mungkin dia menikahi Jinan dalam keadaan seperti ini.


'Ya Allah, tunjukkan jalan ke luar untuk hamba,' doa Abidzar dalam hatinya.


Juminten memeluk sang anak, karena dia sangat bahagia sebentar lagi akan menimbang cucu.


"Alhamdulillah kalau kamu hamil," ucap Juminten dengan sangat bergembira.


Cahaya terdiam saat melihat Abidzar hanya diam saja saat mengetahui kalau dia hamil, dan mereka akan memiliki keturunan.


"Apa Mas tidak suka dengan kehamilan Cahaya?" tanya Cahaya dengan lirih.


Abidzar langsung menoleh dan tersenyum kemudian memeluk sang istri dengan lembut, karena dia bahagia bercampur cemas.


"Mas sangat bahagia, karena kita sebentar lagi akan memiliki keturunan," jawab Abidzar.


Cahaya tersenyum mendengar hal itu, dan dia menikmati pelukan yang sudah satu Minggu tidak di rasakannya.


Semua orang yang ada di sana langsung bergegas pergi, karena mereka ingin Cahaya dan Abidzar membaik.


Ya, Juminten dan Mentari tahu kalau Abidzar dan Cahaya sedang tidak baik-baik saja. Sebab, pria itu tidak pernah terlihat di meja makan selama satu Minggu.

__ADS_1


"Ummi." Mentari menahan tangan sang ummi dan membawanya duduk di sofa.


"Ada apa, Nak?" tanya Juminten dengan serius.


Mentari menceritakan gelagat aneh Jinan dan Abidzar yang sama-sama diam, dan tidak pernah bergabung dengan mereka lagi selama satu Minggu ini.


"Lalu? Apa hubungannya?" tanya Juminten.


Wanita paru paru itu masih belum mengerti apa yang di maksud oleh sang anak, sehingga Mentari menjelaskan dengan detil barulah Juminten mengerti.


"Itu, tidak mungkin Nak," ucap Juminten.


Wanita itu tahu seperti apa Jinan berpelukan selama di pesantren. Bahkan, gadis itu mengajar di kelas santri pria. Dengan muda bukan untuk mendapatkan pria remaja.


"Ummi ini sama seperti mbak Cahaya, terlalu percayalah pada manusia. Ummi, berharap dan terlalu percaya akan sakit," ucap Mentari dengan kesal.


Karena dia benar-benar tidak bohong, apa lagi ia pernah melihat Jinan menangis dan memohon pada Abidzar beberapa hari lalu. Namun, ia tidak mendengar percakapan mereka berdua..


"Sudahlah, jangan berburuk sangka pada gadis baik itu." Juminten bergegas pergi dari sana.


Mentari juga bergegas pergi dari sana, karena dia ingin menyelidiki masalah ini, dan membuktikan seorang diri.


. . .


Abidzar melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang istri, timbulah rasa bersalah yang mendalam saat melihat senyuman istrinya.


Abidzar mencium kening sang istri, kemudian bergegas pergi dari sana untuk membeli tas kehamilan yang di minta Cahaya.


Pria itu berjalan dengan perlahan menuju apotek, karena jaraknya tidak jauh dari pondok.


"Ya Allah, semoga ada jalan ke luar," ucap Abidzar dengan lirih.


Abidzar menyebrang jalan, dan masuk ke dalam apotek dan membeli alat tes kehamilan. Namun, ia malah di hakimi karena masih mengunakan seragam sekolah.


"Ya ampun, saya benar-benar sudah menikah Mbak," ucap Abidzar sekali lagi.


Karena dia sudah lelah menjelaskan. Namun, karyawan apotek itu tidak mau mempercayainya.


"Dek, saya sudah dewasa dan berpengalaman. Mana ada pria SMA sudah menikah dan masih sekolah," ucap karyawan apotek tersebut.


Abidzar menghela nafas panjang, kemudian memperlihatkan Poto dirinya dan sang istri saat ijab kabul dari ponsel Cahaya.


Karyawan itu percaya dan memberikan keperluan Abidzar, kemudian ia bergegas pergi dari sana.


'Kenapa sih, kalau aku masih sekolah dan sudah menikah? Padahal, bulan depan aku sudah tamat,' batin Abidzar.

__ADS_1


Seorang gadis sejak tadi memperhatikan Abidzar sambil membawa alat yang sama, dan gadis itu menghentikan langkahnya tepat di samping gerbang.


"Apa mbak Cahaya hamil?" tanya Jinan dengan bingung.


Ya, sejak tadi Jinan melihat gerak-gerik Abidzar saat di apotek yang sama dengannya. Namun, ia bergegas pergi dan bersembunyi agar tidak ketahuan.


Jinan menyembunyikan alat tes kehamilan yang di bawanya menuju kamar, dan bergegas mengetesnya.


Dengan tangan bergetar, Jinan menjatuhkan alat tes kehamilan yang bergaris dua merah terang.


"Tidak mungkin, aku hanya sekali melakukan hal itu dan hamil," ucap Jinan.


Gadis itu menangis dan menutup mulut, karena tidak percaya dengan kenyataan pahit hamil di luar pernikahan.


"Aku harus tenang, dan bulan depan meminta pertanggungjawaban Abidzar," ucap Jinan.


Gadis itu benar-benar licik, ia rela mendapatkan Abidzar dengan cara kotor tidak memikirkan dosa melakukan kebohongan itu.


. . .


Cahaya tersenyum saat melihat dia garis merah dan memeluk Abidzar yang juga ikut tersenyum, karena dia bahagia akan menjadi seorang ayah. Walaupun hatinya sedikit cemas dan gelisah menjadi satu saat ini.


"Alhamdulillah, kita akan menjadi orang tua Mas," ucap Cahaya dengan sangat bergembira.


Abidzar menganggukkan kepalanya dan mencium seluruh wajah sang istri dengan lembut.


'Maafkan aku Mbak, karena sudah membohongi kamu dan cinta kita juga anak kita,' batin Abidzar.


Cahaya sangat bergembira karena dia akan menjadi seorang ibu, dan ia langsung mengambil ponselnya ingin menghubungi sang mertua dan memberitahu kabar gembira ini.


"Mbak, saya ke luar sebentar ya?" ucap Abidzar dengan hati-hati.


Cahaya tidak membiarkan Abidzar pergi, dia menarik tangan sang suami dan mulai menelpon mertuanya melalui panggilan video.


Namun, sang mertua tidak menjawab, kemungkinan mereka masih sibuk kalau siang hari.


"Sudah, kita bisa telpon lagi nanti malam. Jangan bersedih!" pinta Abidzar.


Cahaya tersenyum dan mencium wajah sang suami dengan sangat lembut, kemudian dia tidur di pangkuan Abidzar.


"Maaf ya Mas, Cahaya manja seperti ini," ucap Cahaya dengan lembut.


Abidzar tersenyum dan menatap wajah sang istri dari atas.


"Tidak apa-apa," jawab Abidzar dengan lembut.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2