
Satu Minggu kemudian . . .
Mentari baru saja selesai shalat Subuh, dan membereskan kamar pada saat itu juga Putra masuk ke dalam kamar. Sebab, ia baru pulang dari Masjid.
"Sayang, tamu bulan mu sudah pergi?" tanya Putra dengan sangat bergembira.
Mentari menoleh dan menganggukkan kepala, kemudian Putra mengunci pintu dan mendekati sang istri.
"Ada apa?" tanya Mentari dengan sangat polos.
Putra langsung tersenyum dan membawa sang istri naik ke atas ranjang, kemudian membisikan sesuatu di telinga sang istri.
Membuat Mentari malu, sambil mengangguk tanda setuju dan Putra langsung melompat turun dari ranjang. Kemudian, melancarkan aksinya menanam benih-benih cintanya.
. . .
Abidzar dan Cahaya akan bersiap-siap kembali ke kota, karena pekerjaannya tidak bisa di tinggal terlalu lama. Padahal, Anto dan Juminten masih sangat merindukan mereka.
"Cucu nenek mau pulang ya, jangan lupa datang lagi ke sini ya," ucap Juminten dengan lembut.
Wanita itu sudah tidak bersedih lagi, karena dia sudah terbiasa jauh dari anak dan cucunya. Walaupun ia akan sangat merindukan mereka semua.
"Iya, kami pulang bersama tante Mentari," jawab Hazar dengan sangat lancarnya.
"Jaga tante ya," pesan Juminten dan Hazar menganggukkan kepala.
Cahaya hanya tersenyum melihat sang ummi berbicara pada anaknya, dan Abidzar menghampirinya memberikan sebuah alat tes kehamilan.
"Cepat tes, sebelum kita kembali harus memberikan kabar gembira ini pada ummi dan abi," ucap Abidzar dengan lembut.
Cahaya mengangguk tanda mengerti dan bergegas pergi dari sana, untuk memeriksa apakah dia hamil atau tidak.
"Alhamdulillah ya Allah, aku akan segera memiliki dua anak," ucap Cahaya dengan sangat gembira.
Gadis itu buru-buru berjalan menghampiri sang suami, dan memberikan tes kehamilan yang bergaris dua.
"Alhamdulillah sayang, kita akan memiliki anak lagi," ucap Abidzar dengan sangat bergembira.
Juminten mendengar dan langsung menghampiri anak-anaknya, dan dia juga senang Cahaya bisa memiliki anak lagi.
"Jaga kesehatan dan jangan lupa, selalu berdoa dan meminta agar semua dilancarkan sampai bersalin nanti," ucap Juminten dengan sangat gembira.
"Pasti Ummi," jawab Cahaya dengan lembut.
Mereka kembali bercerita dan memberitahu Anto kalau Cahaya hamil lagi, pria itu sangat senang akan menerima cucu lagi, yang artinya ia akan memiliki banyak cucu.
. . .
Mentari sudah siap membawa kopernya, karena dia akan segera kembali ke kota bersama sang suami.
__ADS_1
"Hati-hati Nak, jaga kesehatan dan jangan lupa selalu shalat," ucap Juminten dengan lirih.
Mentari memeluk sang ummi dengan sangat erat, karena dia sedih akan berpisah. Walaupun mereka masih bisa bertemu, tetap saja gadis itu sedih.
"Ummi juga, selalu jaga kesehatan dan ingat shalat jaga Abi juga," jawab Mentari dengan lirih.
Juminten menangis dan mencium wajah Mentari dengan lembut, kemudian memeluk sang anak lagi. Ingin rasanya dia selalu bersama putrinya. Namun, semua tidak bisa karena Mentari sudah menjadi istri orang.
"Ummi, Abi, kami permisi dulu," ucap Putra dengan lembut sambil mencium tangan Anto.
"Hati-hati, dan selalu ingat shalat, abi titip Mentari," jawab Anto dengan lembut.
"Insyaallah Abi," sahut Putra.
Semuanya bergegas masuk ke dalam mobil, setelah berpamitan dan Putra langsung mengemudikan mobil dengan perlahan.
"Assalamualaikum Kakek!" teriak Hazar, karena dia tadi tidak mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam!" jawab Anto.
Setelah mobil sang anak pergi, hatinya langsung sedih, karena sejak tadi Anto menahan kesedihannya agar anak-anak tidak tahu kalau dia rapuh.
"Abi, sudahlah karena anak-anak sudah menikah," ucap Juminten dengan lembut.
Sebab, dia melihat kesedihan pada sang suami. Bahkan, pria itu meneteskan air matanya.
Mereka berdua kembali mengerjakan tugas masing-masing, mengurus pesantren dengan baik seperti biasanya.
Sembilan bulan kemudian . . .
Kini Cahaya akan segera melahirkan, karena usia kehamilan hampir menginjak sepuluh bulan, dan kini ia harus di operasi bersama dengan Mentari.
Ya, Mentari hamil dan kehamilan pertamanya sangat lema sehingga dia tidak bisa melahirkan secara normal.
Kedua gadis itu tengah berjuang nyawa dan mati di dalam ruangan operasi, dan beberapa saat kemudian tangisan kedua bayi terdengar jelas.
"Alhamdulillah," ucap Juminten dan yang lain secara bersamaan.
Mereka sangat bahagia bisa mendengar tangisan bayi Mentari dan Cahaya, karena ada dua suara bayi menangis dari dalam.
"Keluarga Cahaya, dan Mentari!"
Abidzar dan Putra langsung bergegas masuk untuk mengadzankan sang anak yang baru terlahir.
Putra menitihkan air mata, karena dia terharu bisa melihat sang anak yang sangat mirip dengannya. Sebab, anaknya perempuan.
"Alhamdulillah, anak pertama kami sudah lahir," ucap Putra dengan sangat gembira.
Setelah selesai adzan, Putra bergegas ke luar kamar sang anak akan dipindahkan ke ruangan inap Mentari dan Cahaya.
__ADS_1
Putra dan keluarga menunggu di dalam ruangan inap, dan juga keluarga Abidzar dan Cahaya.
"Anak Abidzar perempuan, dan wajahnya mirip Abidzar," ucap Abidzar dengan sangat gembira.
"Alhamdulillah," ucap Anto dengan senang.
"Selamat Nak," ucap Toyib dengan sangat gembira.
Sebab, ia sangat menginginkan anak perempuan. Namun, mereka hanya diberikan satu anak oleh Allah. Sekarang, pria itu sangat senang.
"Putra, mama senang sekali memiliki cucu perempuan," ucap mamanya Putra, yang tak kalah senangnya dari semua orang.
"Alhamdulillah," jawab Putra.
Sebab, ia juga senang memiliki anak perempuan apa lagi wajahnya sangat mirip dengannya.
Satu jam kemudian . . .
Cahaya dan Mentari di bawa ke dalam ruangan inap mereka, dan bertemu dengan bayi-bayi mereka.
"Masya Allah, anakku sangat cantik," ucap Cahaya dengan lembut.
"Kenapa dengan wajah anakku?!" tanya Mentari dengan histeris.
Semua orang langsung menghampiri Mentari, dan melihat wajah bayi kecil itu normal seperti manusia pada umumnya.
"Kenapa?" tanya mamanya Putra dengan sangat cemas.
"Ada apa, Sayang?" tambah Putra.
"Wajah anakku, kenapa mirip sekali dengan ayahnya, sedangkan aku yang mengandungnya tidak ada sama sekali," jawab Mentari.
Semua orang yang ada di sana langsung tertawa, mendengar ucapan Mentari. Sebab, mereka mengira anak gadis itu cacat atau apa.
Ternyata hanya mirip dengan sang ayah, dan Mentari tidak terima karena dia yang mengandung selama sembilan bulan.
"Insyaallah semuanya berkah, dan beruntung," ucap Anto dengan lembut.
Cahaya tersenyum, dan Mentari juga karena tadi ia hanya bercanda agar sang suami cemas padanya.
'Ya Allah, aku sangat bahagia bisa memiliki anak yang sangat cantik, dan cantikkan akhlaknya, juga sikapnya,' batin Mentari dengan sangat bergembira.
Semua orang yang ada di sana tertawa bersama, karena ada dia bayi perempuan yang sangat cantik tengah menangis, meminta susu mereka.
"Mereka sama seperti kembar," ucap Inem dengan lembut.
Sebab, kedua bayi kecil itu sama-sama menangis hanya ingin meminta susu yang mereka butuhkan.
TAMAT
__ADS_1