Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Melahirkan


__ADS_3

Mentari mencari udara segar, dan dia duduk di bangku taman. Kemudian, menelpon Putra, karena mereka sudah berjanji akan bertemu di sini.


Putra: Tar, aku sudah sampai. Kamu, di mana?


Mentari: Di taman.


Putra: Aku akan segera ke sana!


Putra memutuskan sambungan telepon, dan bergegas menghampiri Mentari kemudian duduk di samping gadis itu dengan jarak yang sedikit jauh.


"Put, mungkin setelah aku sampai di desa. Kita akan sangat jarang komunikasi, karena di sana aku mengajar, juga itu bagus agar kita terhindar dari dosa besar," ucap Mentari dengan lembut.


Putra diam, karena sejujurnya ia sedih Mentari kembali ke kampung. Sebab, di kota saja mereka jarang bertemu dan komunikasi, apa lagi bila sudah di kampung.


"Put, aku harap bila kamu memang benar-benar serius. Maka, dua tahun lagi datang dan kita langsung menikah," tambah Mentari.


Putra tersenyum, karena Mentari masih mau menjalankan hubungan mereka, kemudian pria itu mengangguk tanda setuju.


"Aku akan selalu sabar menunggu mu, sampai kapanpun itu," jawab Putra dengan lembut.


Mentari tersenyum, dan mereka kembali bertukar cerita tentang pekerjaan masing-masing.


. . .


Cahaya dan Abidzar berada di rumah sakit. Ya, tadi pria itu membawa sang istri mengecek kandungan Cahaya yang semakin membesar.


"Alhamdulillah, waktu kelahiran bayi kalian hanya tinggal menghitung hari lagi. Sebab, bulan depan pasti akan lahir, bersiap-siap selalu," ucap Dokter Ike dengan lembut.


Abidzar dan Cahaya tersenyum, karena mereka sudah melihat jelas bayi kecil yang ada di dalam kandungan.


"Alhamdulillah," ucap Abidzar dengan penuh syukur.


"Dok, apa istri saya bisa melahirkan normal?" tanya Abidzar.


Sebab, dia takut kalau Cahaya akan merasakan sakit dobel, dan Dokter Ike langsung menganggukkan kepala.


"Tentu saja bisa, karena Bu Cahaya sehat dan tidak ada masalah apapun," jawab Dokter Ike dengan lembut.


"Alhamdulillah," ucap Abidzar dan Cahaya bersamaan.


Dokter Ike membuatkan resep vitamin. Setelah itu, Abidzar dan Cahaya bergegas pergi dari sana.


Sesampainya di rumah.


Abidzar memijat kaki Cahaya, yang sudah membesar karena efek kehamilan sang istri. Bahkan, gadis itu sudah gendut sekarang.


"Mas, apa Mentari sudah kembali?" tanya Cahaya.

__ADS_1


Sebab, dia sama sekali tidak melihat adanya sandal Mentari di samping pintu yang artinya gadis itu belum pulang.


"Entahlah, seperti belum. Tapi, ke mana dia pergi?" jawab Abidzar dengan pertanyaan juga.


Cahaya mulai cemas, karena sang adik belum pulang sampai sekarang. Abidzar tahu sang istri cemas dan dia bergegas pergi mencari keberadaan Mentari.


'Aku juga cemas, ke mana Mentari pergi,' batin Abidzar.


Pria itu berjalan sampai di taman, dan melihat Mentari bersama Putra tengah bercerita bersama di bangku.


"Pantas dia tidak ingat pulang," gumam Abidzar sambil berjalan mendekati mereka.


Abidzar berdiri tepat di belakang Putra, sehingga pria itu tidak melihatnya dan Mentari langsung diam.


"Jadi, apakah kamu mau menonton Minggu?" tanya Putra dengan lembut.


Mentari hanya diam, karena ada Abidzar di sini dan Putra langsung menoleh. Kemudian pria itu menutup mulutnya mengunakan kedua tangannya.


'Sejak kapan ada dia di sini," batin Putra.


Abidzar tersenyum dan menepuk pundak Putra dengan lembut, kemudian mengibaskan tangan pada Mentari, gadis itu pun bergegas pergi dari sana.


Sebab, terlihat jelas kalau Abidzar marah padanya karena berduaan dengan Putra di taman.


"Elo tahu, 'kan? Mentari kurang sehat, kenapa jumpa tidak di rumah aja?!" tanya Abidzar dengan kesal.


Sebab, Abidzar sangat mengkhawatirkan keadaan Mentari yang belum sembuh total.


"Seharusnya elo tahu, dari kemarin dia tuh gak sehat. Tapi, elo mason aja ketemuan di sini!" Abidzar bergegas pergi dari sana.


Pria itu benar-benar sangat marah pada sang sahabat, karena dia dan juga istrinya khawatir Mentari akan jatuh sakit lagi.


Sedangkan Putra hanya diam, karena memang dia yang salah. Kemudian, pria itu bergegas pergi dari sana.


. . .


Mentari masuk ke dalam, dan bergegas masuk ke kamarnya. Sebab, dia takut Abidzar akan marah lagi padanya.


"Ya ampun, aku lupa tadi karena terlalu asik dengarkan cerita Putra, sampai kak Abidzar marah," ucap Mentari dengan pelan.


. . .


Cahaya tidak tahu kalau Mentari sudah pulang, dan dia menunggu si depan tv tak berselang lama akhirnya Abidzar pulang.


"Assalamualaikum," ucap Abidzar dengan lembut.


"Waalaikumsalam," jawab Cahaya.

__ADS_1


Cahaya langsung melihat ke arah belakang sang suami. Namun, Mentari tidak ada sama sekali, membuatnya sangat cemas.


"Di mana Mentari?" tanya Cahaya dengan sangat cemas.


Abidzar mengerutkan keningnya, karena dia mengira Mentari sudah pulang tadi. Sebab, saat ia marah gadis itu sudah pergi.


"Coba lihat dulu di dalam kamar," jawab Abidzar dengan lembut.


Cahaya menganggukkan kepala, dan bergegas pergi menuju kamar Mentari dan melihat sang adik tengah duduk sambil membaca buku.


"Mentari, kamu sudah pulang. Tapi, tidak bilang-bilang, membuat mbak cemas," ucap Cahaya sambil mendekati sang adik.


Mentari tersenyum kemudian memeluk sang kakak dengan lembut, karena dia tidak ingin Cahaya terlalu cemas padanya.


"Maafkan Mentari Mbak, karena tadi lupa mengucapkan salam saat masuk," jawab Mentari dengan lembut.


Cahaya menganggukkan kepala, dan mereka kembali bercerita. Sebab, Cahaya ingin memberitahu kalau Ummi mereka akan datang dua Minggu lagi.


. . .


Satu Bulan kemudian . . .


Hati-hati yang di nantikan oleh Abidzar dan Cahaya, juga seluruh keluarga mereka sudah tiba. Ya, hari ini gadis itu sudah merasa akan melahirkan.


Sehingga semua keluarga berkumpul di ruang sakit ingin menemani Cahaya melahirkan.


Juminten dan Anto sudah datang, sejak dua Minggu yang lalu. Sebab, mereka tidak ingin melawan hari bersama Cahaya, selama gadis itu hamil.


Cahaya di dalam ruang bersalin bersama Abidzar, dan gadis itu tengah berjuang nyawa dan mati, agar bisa membawa sang anak melihat dunia ini.


"Sedikit lagi, ayo kamu bisa," ucap Dokter Ike dengan lembut.


Cahaya menarik nafas dalam-dalam, dan mengembuskan dengan perlahan kemudian tangisan bayi mulai terdengar keras.


Oek .. oek!


"Alhamdulillah," ucap Abidzar dengan sangat bersyukur.


Abidzar menangis saat melihat anaknya sudah terlahir dengan keadaan sehat, tanpa kekurangan apapun.


"Sayang, anak kita sudah terlahir dengan selamat," ucap Abidzar dengan nada bergetar.


Cahaya hanya tersenyum, karena dia sangat lelah dan lema saat ini. Abidzar langsung bergegas pergi, karena dia harus mengadzankan sang anak yang baru terlahir.


'Ya Allah, terimakasih karena kami berdua selamat, dan sehat,' batin Cahaya dengan sangat bersyukur.


Abidzar tersenyum dan menangis saat memandang wajah sang anak, yang sangat mirip dengan Cahaya. Bahkan, mereka terlihat seperti kembar.

__ADS_1


"Masya Allah, kamu sangat tampan Nak, sama seperti ummi kamu," ucap Abidzar dengan sangat kagum.


BERSAMBUNG.


__ADS_2