Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Berbeda


__ADS_3

Keesokan harinya . . .


Mentari sudah pergi pagi-pagi sekali, karena dia tidak ingin terlambat bertemu dengan CEO hari ini. Sebab, adalah hari pertamanya bekerja.


Sebelum berangkat, Mentari sudah menyiapkan sarapan untuk kedua kakaknya yang belum ke luar kamar. Bahkan, dia tidak berpamitan.


Gadis itu memaki ojek agar segera sampai di perusahaan penerbit buku Jaya Kusuma. Ya, Mentari di terima kerja di sana karena nilainya dalam ujian kerja bagus.


'Ya Allah, semoga hamba bisa bekerja dengan baik,' batin Mentari.


Setelah sampai, Mentari langsung masuk ke dalam dan bertemu resepsionis kemudian membawanya ke ruangan CEO, dan menunggu sang bos datang.


Mentari duduk di sofa sambil membaca ulang, apa saja pekerjaannya sebagai asisten Exel Jaya Kusuma.


"Alhamdulillah aku sudah mengerti semuanya," ucap Mentari sambil menutup buku.


Tak berselang lama akhirnya yang ditunggu-tunggu datang, dan Mentari membuka mulutnya dengan lebar saat melihat siapa orang yang bersama Exel Jaya Kusuma.


"Mentari!"


"Kak Abidzar!"


Ya, yang tangan bersama Exel adalah Abidzar. Sebab, hari ini pria itu akan menerbitkan satu buku yang akan menjadi flm dan beberapa buku komik.


"Kalian saling kenal?" tanya Exel dengan heran.


Abidzar menganggukkan kepala dan memberitahu Exel kalau Mentari adalah adik iparnya, membuat pria itu tersenyum dan mulai duduk di bangku kekuasaannya.


"Baguslah kalau kalian saling mengenal, karena itu akan memudahkan kita bekerjasama," ucap Exel.


Abidzar dan Mentari hanya tersenyum, karena mereka tidak tahu akan bekerja di perusahaan yang sama.


"Mari kita mulai pekerjaan kita," ucap Exel.


Abidzar dan Mentari mulai mengerjakan tugas masing-masing, dengan sangat baik.


. . .


Pagi ini, Putra akan mendaftar kepundahan kuliahnya di salah satu universitas di kota ini. Pria itu menaiki motor dengan perlahan agar selamat sampai tempat tujuan.


Putra bernyanyi, karena dia mendapatkan kabar kalau pujaan hatinya sudah ada di kota ini dan bekerja. Ingin rasanya dia langsung melamar gadis itu.


Namun, ia belum memiliki apapun. Walau orang tuanya memiliki segalanya, dia ingin memiliki harta sendiri dari kerja kerasnya. Bukan pemberian papa mama nya.


"Hatiku gembira saat mengingat nya!" teriak Putra di sepanjang jalan.

__ADS_1


Pria itu tidak malu sedikitpun, saat berteriak-teriak banyak pengguna jalan yang terus menatapnya.


"Ya Allah, semoga dia mau menjadi istriku," doa Putra.


Sejak mencintai gadis itu, Putra semakin giat mengenal tentang Agama Islam dengan dalam. Sebab, itu adalah bekal untuknya saat melamar Mentari kelak.


Setelah sampai, Putra langsung bergegas masuk dan mendaftar kepindahanb kuliahnya di sana. Setelah itu dia akan mencari pekerjaan sambil kuliah. Saat naik ke atas motornya tiba-tiba ponselnya bergetar.


"Abidzar ngirim pesan," gumam Putra sambil membuka pesan tersebut.


Abidzar: Put, elo yang semangat kerjanya karena ada bidadari mu di sini.


Putra tersenyum bukan main, karena tahu di mana Mentari bekerja. Sebab, itu akan memudahkan dia untuk melihat pujaan hatinya.


"Asik! Bisa melihat dia dong," ucap Putra dengan girang.


Pria itu langsung membalas pesan Abidzar dengan rasa bahagia yang mendalam, bisa segera melihat sang kekasih bekerja dengan kedok melihat sang sahabat.


Putra: Terimakasih atas infonya, gue bakalan sering-sering ngeliat elo kerja di sana.


Abidzar tersenyum saat membaca pesan dari Putra, karena sang sahabat bisa membuatnya tertawa akan tingkah lakunya.


'Astaghfirullah Putra, bisa saja dia membuatku tertawa,' batin Abidzar.


Pria itu harus menahan tawanya, karena dia masih bersama Mentari dan Exel di dalam ruangan yang sama. Sebab, sedang mengerjakan tugas mereka.


. . .


"Menunggu jam makan siang di sini saja! Tidak usah masuk ke dalam," ucap Putra sambil terus menatap ke arah dalam.


Pria itu memilih duduk di bangku samping taman, dan bermain ponsel sambil mengirimkan pesan pada Abidzar.


Putra: Gue nunggu di luar, kalau udah jam istirahat jangan lupa ke luar!


Putra berulang kali mengirimkan pesan singkat pada Abidzar, karena dia takut sang sahabat tidak datang menemuinya.


Beberapa jam kemudian . . .


Abidzar menghampiri Putra dan duduk di samping sang sahabat, dan bercerita bersama.


"Makan siang yuk, gue lapar," ucap Putra di sela-sela percayakan mereka.


Abidzar tersesemum dan mengangguk tanda setuju, kemudian mereka bergegas pergi dari sana menuju cafe terdekat dan makan siang bersama.


Setelah selesai, Abidzar berpamitan karena adzan Dzuhur berkumandang. Begitu juga dengan Putra, sebab mereka ingin shalat bersama di masjid.

__ADS_1


. . .


Mentari melaksanakan shalat Dzuhur sendiri di ruangan Exel, karena perusahaan itu tidak memiliki musholah. Saat shalat, sang CEO terus memperhatikan gadis itu dengan dalam.


'Dia benar-benar taat pada agama, sedangkan aku saja jarang ke gereja,' batin Exel.


Setelah selesai shalat, Mentari melepaskan mukenah dan kembali mengerjakan tugas. Tanpa pergi makan siang.


"Mentari," panggil Exel.


Mentari menoleh dan menjawab dengan gumam, karena dia baru saja selesai mengerjakan tugas dari sang CEO.


"Makanlah dulu, kamu belum makan siang," ucap Exel dengan lembut.


Mentari menganggukkan kepala, karena pekerjaannya sudah selesai dan dia menghampiri sang CEO dan mengambil kotak makan siangnya.


"Terimakasih Pak," ucap Mentari.


Saat gadis itu memberikan berkas, dia terdiam saat melihat isi kota makan siang milik Exel.


'Ya Allah, apakah itu pig?' batin Mentari.


Exel menyadari dan langsung menutup makanannya, kemudian dia mengambil berkas dari Mentari.


"Saya permisi dulu Pak, karena tugas kita bersama sudah selesai," ucap Mentari dengan lembut.


Exel mengangguk tanda setuju, dan Mentari bergegas pergi dari sana menuju ruangannya sambil membawa kotak makan siang dari sang CEO.


Setelah sampai di ruangannya, Mentari duduk dan memakan makanannya yang berbeda dengan punya Exel. Sebab, pria itu tahu kalau Mentari adalah Muslim dan dia non muslim jadi akan sangat jauh berbeda.


"Apa itu tadi benar pig," ucap Mentari.


Karena dia penasaran, saat melihat sekilas kulit pig yang ada di makanan Exel tadi. Namun, dia tidak terlalu yakin kalau itu benar-benar pig.


"Ternyata yang di ucapkan oleh ummi benar, di kota keras karena semua agama ada di sini. Kalau aku tidak pandai jaga diri, maka aku akan berjalan di jalan yang salah," ucap Mentari.


Gadis itu berucap seperti itu karena dia melihat semua karyawan Exel berpakaian kurang bahan, dan hal itu sedikit mengganggunya.


Mentari juga kepikiran, bagaimana Abidzar tidak tergoda pada gadis-gadis seksi itu, kalau melihat mereka setiap hari.


. . .


Cahaya merasa mual, sehingga dia tidak membuat makan malam. Gadis itu hanya tidur seharian ini sambil menunggu kepulangan sang suami dan adiknya.


"Ternyata seperti ini rasanya hamil," ucap Cahaya dengan lembut.

__ADS_1


Gadis itu senang bisa merasakan seperti apa sang ummi mengandungnya dulu, karena tidak semua wanita merasakan hal ini. Sebab, masih banyak di luar sana wanita yang tidak bisa hamil.


BERSAMBUNG.


__ADS_2