
Putra mengambil makanan untuk Mentari, dan semua temannya mengejek termaksud Abidzar. Pria itu senang melihat sang sahabat malu.
"Adu, senangnya pengantin baru," sindir Abidzar.
Eza dan Abidzar terkekeh, dan para istri mereka langsung datang, pada saat itu juga keduanya diam tidak bersuara.
Giliran Putra yang tertawa, melihat kedua sahabatnya diam karena para istri mereka datang.
"Senang?" kekeh Putra sambil bergegas pergi dari sana.
Cahaya dan Jinan sengaja menghampiri sang suami, karena mereka tidak ingin Putra semakin malu karena sindiran Abidzar dan Eza.
"Mas, kasihan Putra, pasti dia malu tadi karena ledekan kalian," ucap Cahaya dengan lembut.
"Benar itu, seperti tidak pernah menikah saja kalian ini," tambah Jinan.
Abidzar dan Eza hanya diam sambil menganggukkan kepala mereka, dan kembali memakan makanan masing-masing.
. . .
Mentari dan Eza makan berdua, dengan sangat canggung saat ini. Sebab, sudah sah menjadi suami-istri.
'Putra, kamu terlihat sangat tampan. Dulu, aku tidak berani melihat wajahnya dengan dalam, karena kami bukan mahram. Tapi sekarang, kami sudah menikah,' batin Mentari.
Putra sadar kalau Mentari terus memandanginya, dan ia sengaja diam. Agar sang istri tidak malu karena ketahuan curi-curi pandang.
'Senangnya dalam hati, karena istriku memandang wajahku selalu, mungkin dia sudah terpesona,' batin Putra dengan sangat bergembira.
Wajah Putra sampai berwarna merah, karena malu terus dipandang oleh sang istri yang sangat cantik, walaupun gadis itu memakai cadar.
"Putra, Mentari," panggil Juminten dengan lembut.
Mentari langsung tersadar dan membuang pandangannya, kemudian Juminten menghampiri mereka berdua.
"Kalian makan saja! Setelah itu, kita bersiap, karena acara sudah selesai," ucap Juminten dengan lembut.
"Baik Ummi," jawab Mentari dan Putra hanya mengangguk.
"Beristirahatlah, nanti Dzuhur shalat di masjid untuk kamu Putra. Sebab, Mentari kedatangan tamu," ucap Juminten sambil bergegas pergi dari sana.
Putra langsung diam dan lemas, karena hari yang ditunggu-tunggu tiba. Namun, tamu bulan yang tidak di harapkan malah datang bersamaan.
'Ya ampun, aku harus puasa sampai satu Minggu?' batin Putra dengan sangat terkejut.
Mentari melanjutkan kembali makan, tanpa melihat ekspresi wajah sang suami saat ini, tanpa mereka sadari ternyata Abidzar dan Eza sejak tadi mengintip.
"Elo dengarkan?" tanya Eza dengan pelan.
"Iya," jawab Abidzar dengan pelan.
__ADS_1
Mereka berdua terkekeh, karena pengantin baru itu harus menahan selama satu Minggu lamanya.
"Sudah, kita pergi sebelum ketahuan," bisik Eza.
Abidzar menganggukkan kepala, dan mereka bergegas pergi dari sana dengan sangat cepat agar Mentari dan Eza tidak tahu mereka menguping tadi.
. . .
Mentari sudah selesai berganti baju, kini ia memakai baju muslim biasa. Sedangkan Putra masih memakai baju tadi, karena dia merasa tidak bersemangat.
"Put, ada masalah?" tanya Mentari dengan sangat polos.
Putra hanya diam, tidak menjawab karena dia berpikir Mentari sangat keterlaluan tidak memahami perasaannya.
"Put, apa aku buat kesalahan?" tanya Mentari lagi.
Sebab, sejak tadi Putra hanya diam tidak mau berbicara sedikitpun padanya. Entah apa yang terjadi, ia juga tidak tahu.
"Suamiku, apa ada masalah?" tanya Mentari lagi.
Putra langsung tersenyum, karena ia senang mendengar Mentari memangilnya dengan sebutan suamiku.
"Tidak ada, hanya aku harus puasa sampai tamu bulan mu pergi," jawab Putra.
Mentari langsung diam, karena dia malu pada Putra, yang membahas masalah malam pertama.
"Kenapa?" tanya Putra saat melihat Mentari membalikkan badannya.
Mentari bergetar, karena ini kali pertanyaan ia dipeluk pria yang menjadi suaminya. Sedangkan Putra, biasa saja, dan ia mencium puncak kepala sang istri.
"Aku sangat mencintaimu," ucap Putra dengan lembut.
Mentari tersenyum, dan wajahnya memerah karena merasa sangat malu saat Putra menyatakan cinta padanya barusan.
"Apa kamu tidak mencintai ku?" tanya Putra, karena Mentari hanya diam tidak menjawab ucapannya.
Mentari melepaskan pelukannya, kemudian menganggukkan kepala dan mengucapakan hal yang sama seperti sang suami tadi.
"Berjanjilah, bawa kita akan selalu bersama sampai maut yang memisahkan?" ucap Putra dengan lembut.
"Baiklah, aku berjanji akan selalu bersamamu sampai maut mengusahakan kita," jawab Mentari dengan lembut.
Putra tersenyum dan langsung memeluk sang istri dengan lembut, rasanya ia tidak ingin melepaskan pelukannya. Namun, adzab Dzuhur sudah berkumandang.
. . .
Cahaya dan Jinan shalat bersama, karena anak-anak mereka tengah tidur pulas. Setelah selesai, mereka langsung bertukar cerita tentang masing-masing.
Pada saat itu juga ada Abidzar dan Eza datang mengacaukan semua cerita mereka. Membuat Cahaya kesal.
__ADS_1
"Sayang, aku lapar," ucap Abidzar dengan lembut.
Mentari menaikan sebelah alisnya, karena baru tadi Abidzar makan bersamanya dan sekarang pria itu susah lapar lagi.
"Tadi, Jinan dan Eza juga melihat kalau Mas sudah makan banyak," jawab Cahaya dengan lembut.
"Benar," tambah Eza.
"Iya, aku juga melihatnya," tambah Jinan juga.
Sebab, ia benar-benar mengingat kalau Abidzar makan banyak tidak seperti biasanya. Entah apa yang merasuki pria itu tidak ada yang tahu.
"Kalian semua ada apa, Abidzar mau makan saja banyak sekali pertanyaan," ucap mamanya Putra yang baru sampai.
Mereka semua tersenyum, karena hanya penasaran mengapa Abidzar makan banyak tidak seperti biasanya.
"Ayo sama tante aja, kalau mereka tidak mau mengambil kamu makan," ucap mamanya Putra lagi.
"Tidak usah Tante, biar Cahaya saja yang mengambilnya," ucap Cahaya dengan sangat lembut.
Wanita paruh baya itu tersenyum, dan bercerita pada mereka yang ada di sana, dengan sangat bergembira.
Setelah mengambil makanan untuk Abidzar, Cahaya duduk di samping sang suami, kemudian menyuapi pria itu dengan lembut.
Orang yang ada di sana langsung bersiul-siul, karena keromantisan Abidzar juga Cahaya.
"Tidak ada habisnya pengantin baru kalian," ucap Eza sambil menatap sang sahabat.
Abidzar hanya diam, karena dia bingung harus menjawab apa lagi, dan membiarkan Eza mengatakan apapun padanya.
'Ya Allah, terima kasih sudah memberikan hamba suami yang baik seperti Eza,' batin Jinan.
Wanita itu hampir menyesal, karena ingin merusak rumah tangan Abidzar dan Cahaya. Walaupun belum terlaksana.
"Ma, papa juga mau seperti itu," ucap Eza dengan manja.
Jinan langsung tertawa, dan membuang pasangannya. Sebab, ia malu bila menyuapi sang suami di hadapan banyak orang, walaupun di sana hanya mereka berenang.
"Jangan iri," sindir Abidzar.
Eza langsung diam, kemudian dia melemparkan batang rokok pada Abidzar membuat pria itu kesal.
"Eza!" seru Abidzar tanpa sadar kalau anaknya masih tidur.
Untungnya sang anak tidak terbangun, juga anak Jinan masih tidur dengan sangat puas di samping Hazar.
"Hampir keduanya bangun," ucap Abidzar sambil bernafas lega.
Sebab, ia tahut sang anak akan marah bila dia bangun tidurnya tidak nyenyak.
__ADS_1
BERSAMBUNG.