Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Bab 62


__ADS_3

Abidzar dan Putra berpisah, karena mereka hampir terlambat karena sibuk bercerita tentang cafe Putra. Yang tidak diketahui siapapun termaksud papa mamanya.


Abidzar memarkir motor dan masuk ke dalam, terlihat banyak orang yang mengerjakan tugas masing-masing, dan ia juga masuk ke ruangan kerja dan mengerjakan tugasnya sebagai penulis novel dan komik.


. . .


Cahaya bersama sang anak masih tidur, karena sehabis kepergian Abidzar, gadis itu kembali tidur sebab satu malam dia tidak tidur.


Karena, dia terus menyusui sang anak dan menganggatikan popok bila anaknya baung air kecil dan besar.


Pada saat itu juga Inem baru sampai, dan tidak ada yang membuka pintu. Untungnya dia memiliki kunci dari Abidzar saat pindah ke apartemen tersebut.


"Assalamualaikum," ucap Inem dengan sangat lembut.


Tidak ada jawaban, membuat Inem sangat khawatir dan langsung masuk ke dalam kamar sang anak. Terlihat menantunya tengah tertidur bersama sang cucu dengan sangat pulas.


'Mereka masih tidur,' batin Inem dengan lembut.


Inem mengambil sang cucu, karena bayi itu sudah mulai bangun dan dia tidak tega melihat sang menantunya bangun.


"Sayang, sama nenek ya," ucap Inem dengan lembut sambil mencium sang cucu.


Wanita paru baya itu membawa sang cucu ke ruang tamu, dan bermain bersama sampai bayi kecil itu tertidur kembali.


"Cucu nenek sudah tidur lagi," ucap Inem dengan lembut.


. . .


Cahaya terbangun dan membuka kedua matanya, dan melihat tidak ada anaknya lagi di sampingnya. Sontak, dia sangat terkejut dan langsung bangun.


"Astaghfirullah, di mana Cahazar!" pekik Cahaya.


Gadis itu langsung bergegas ke luar dan melihat sang anak bersama mertuanya, gadis itu langsung bernafas lega karena anaknya tidak hilang.


"Ummi, sejak kapan datang?" tanya Cahaya dengan lembut sambil mencium tangan sang mertua.


"Sejak tadi, ummi tidak tega membangunkan kamu jadi ummi bermain dengan Cahazar berdua di sini," jawab Inem dengan lembut.


Cahaya tersenyum, karena dia sangat malu sang mertua datang dia tidak mengetahuinya dan semakin asik tidur.


"Sudahlah tidak apa, karena ummi juga tahu seperti apa kamu sekarang. Sebab, ummi sudah merasakannya duluan," ucap Inem dengan lembut.


Cahaya tersenyum, karena dia senang mendapatkan mertua yang sangat baik padanya, bisa mengerti keadaan dia sekarang seperti apa.

__ADS_1


"Biar ummi bantu masak, untuk makan malam mumpung Cahazar tidur," ucap Inem dengan sangat lembut.


"Terimakasih Ummi, karena sudah membantu Cahaya seperti ini," ucap Cahaya dengan sangat lembut.


"Kamu itu putri ummi, dan seharusnya ummi memperlakukan kamu seperti anak sendiri bukan menantu," ucap Inem dengan lembut.


Cahaya tersenyum dan memeluk sang mertua dengan sangat lembut, sama seperti dia memeluk umminya.


. . .


Hari-hari yang dilalui oleh Cahaya dan Abidzar, sangat membahagiakan mereka. Sebab, Sekarang usia Cahazar sudah tujuh bulan, dan bayi itu sudah sangat pandai. Bahkan, sudah tumbuh gigi satu.


"Hazar, hari ini kita akan ke rumah nenek dan kakek yang ada di kampung," ucap Abidzar dengan lembut.


Walaupun mereka mengunjungi Anto dan Juminten selama satu bulan sekali, tetap saja seperti satu tahun lamanya bagi mereka.


"Pasti mereka akan senang, karena kali ini Hazar sudah tubuh gigi dan bisa merangkak," ucap Cahaya dengan lembut.


Gadis itu membawa perlengkapan Cahazar, dan mereka bergegas pergi karena taksi sudah menunggu mereka di bawah.


Abidzar mengendong Cahazar dengan gendongan depan sambil membawa tas mereka. Sebab, Cahaya hanya diperbolehkan membawa tas berisi perlengkapan Cahazar yang ringan.


Setelah sampai di bawah, mereka langsung masuk ke dalam mobil dan supir melajukan dengan perlahan, karena takut membawa bayi.


Keluarga Cahaya menyambut mereka dengan sangat gembira, dan langsung membawa Cahazar masuk tanpa mempersilahkan kedua pasangan itu masuk juga.


"Sayang, lihatlah. Mereka melupakan kita bila sudah ada Hazar," ucap Abidzar dengan pelan agar tidak ada yang mendengarkannya.


"Sudahlah Mas, biarkan saja! Yang penting, mereka bahagia karena kita datang," sahut Cahaya sambil berjalan masuk ke dalam.


"Walaupun lebih tepatnya, mereka senang karena kedatangan Hazar," ucap Abidzar dengan lembut.


Mereka berdua tertawa, karena bayi kecil itu sudah mengantikan posisi mereka di keluarganya.


Anto sangat senang menggendong Hazar yang sudah sangat pandai sekarang, dan mereka semua berebut untuk bermain bersama bayi kecil itu.


"Abi, biarkan Mentari menggendong Hazar dulu," ucap Mentari dengan sangat tidak sabar.


Anto mengalah dan memberikan sang cucu pada Mentari, kemudian dia duduk bersama anak-anaknya.


"Abi sehat?" tanya Abidzar dengan sangat lembut.


"Alhamdulillah sehat," jawab Anto dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Alhamdulillah," ucap Cahaya dengan lembut sambil memeluk sang ummi.


"Kalian beristirahat saja! Hazar, kami yang akan mengurusnya," ucap Mentari dengan lembut.


Abidzar dan Cahaya langsung bergegas masuk ke dalam kamar, karena mereka sangat lelah sejak malam belum ada tidur sampai sekarang.


Mentari membawa Hazar berkeliling pondok, karena dia ingin sang keponakan menjadi santri bila sudah besar nanti.


"Hazar, apa om Putra sering menjenguk mu!" tanya Mentari dengan lembut dan Hazar tersenyum sambil mengangguk.


"Masya Allah, kamu sangat pandai sayang," tambah Mentari.


Gadis itu sudah beberapa bulan tidak ada komunikasi dengan Putra, hanya bertukar kabar melalui Abidzar dan Cahaya.


Sebab, Mentari takut salah dan mendapatkan dosa karena berpacaran dilarang.


"Hazar bila sudah dewasa nanti, tante mau kamu menjadi salah satu santri di sini dengan prestasi yang bagus, bila perlu kamu menjadi seorang ustadz," ucap Mentari dengan lembut.


Hazar hanya tersenyum sambil memegang hijabnya, dan mereka kembali mengelilingi pondok pesantren agar bayi kecil itu hafal akan tempat kakeknya.


Setelah puas berkeliling, mereka kembali dan Mentari memberikan Hazar pada sang ummi karena dia lelah.


"Sini biar Fatimah saja!" ucap Fatimah sambil memegang perut yang sudah besar.


Sebab, ia hanya tinggal menunggu hari kelahiran sang anak.


"Fatimah, perut mu itu sudah besar sebaiknya kamu banyak istirahat," sahut Juminten sambil menggendong Hazar.


"Benar itu Kak, sebaiknya istirahat saja di dalam kamar," tambah Mentari.


Fatimah tersenyum dan bergegas pergi menuju kamarnya, karena dia ingin segera beristirahat di dalam kamar.


Juminten membawa sang cucu ke dalam kamar, dan menidurkan bayi itu. Sebab, terlihat jelas sudah mengantuk.


Benar saja, bayi itu langsung tertidur pulas dan Juminten menemaninya dengan sabar, dan Awan masuk ke dalam.


"Anak paman lagi tidur?" tanya Awan dengan sangat pelan.


Juminten menganggukkan kepalanya, dan Awan bergegas pergi dari sana. Sebab, dia takut akan membangunkan sang keponakan.


'Nanti saja aku menemui dia lagi, karena sekarang dia masih tidur pulas,' batin Awan.


Padahal, dia ingin sekali bermain dengan bayi kecil itu. Sebab, tadi ia masih ada pekerjaan dan tidak menyambut kedatangannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2