
Malam hari tiba . . .
Toyib sangat bergembira, saat pulang kerja anak-anak ada di rumah berkumpul. Hal itu membuat lelah nya seketika hilang.
'Alhamdulilah ya Allah, hamba senang ada anak-anak hamba di sini berkumpul,' batin Toyib.
Toyib makan malam bersama anak-anaknya, dan juga ada Mentari kali ini bersama mereka.
"Alhamdulillah ya, kita berkumpul bersama," ucap Toyib dengan bergembira.
Abidzar tersenyum sambil menganggukan kepala, karena dia juga bahagia bisa seperti ini. Sebab, selama di pondok, dia tidak bisa makan bersama kedua orang tuanya.
"Iya Abah, ummi sangat bahagia karena ada dia gadis cantik malam ini di sini," sahut Inem dengan bergembira.
Mentari tersipu malu, karena Inem mengatakan kalau dia gadis cantik. Padahal, ia tidak terlalu cantik.
"Alhamdulillah," jawab Abidzar dengan lembut.
Semua sudah selesai makan malam, dan kini mereka semua kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Sebab, hari sudah semakin laut.
Mentari merasa sunyi, karena malam ini ia tidur sendiri tidak seperti malam sebelumnya, dia di temani Fatimah atau sang ummi. Sebab, gadis itu takut tidur sendirian.
"Ya Allah, semoga malam ini hamba berani tidur sendirian," doa Mentari.
Gadis itu masuk ke dalam selimut dan memejamkan mata. Namun, dia malah melihat bayangan hitam menyeramkan.
"Astaghfirullah!" pekik Mentari.
Gadis itu mengatur nafas panjang, dan kembali tidur dan membaca doa agar dia berani tidur sendirian.
Entahlah, yang pasti gadis itu sudah sejak kecil takut tidur sendirian. Bahkan, waktu kuliah dia tidur bersama temannya dan tidak terpisahkan.
. . .
Pagi hari tiba . . .
Di desa.
Anto senang, karena ia mendapatkan kabar dari Mentari kalau Cahaya sudah di temukan dengan selamat dan sehat. Tidak kekurangan apapun.
"Alhamdulillah Abi, anak kita sudah ditemukan," ucap Juminten dengan bergembira.
Anto tersenyum dan mengelus puncak kelapa sang istri dan berkata, "Alhamdulillah."
Awan menguping pembicaraan orang tuanya, dan langsung menghampiri mereka karena tadi ia mendengar kalau sang kakak sudah ditemukan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, mbak Cahaya sudah ditemukan," ucap Awan.
Juminten dan Anto terkejut mendengar Awan berbicara, karena tadi mereka hanya berdua dan sang anak datang dengan tiba-tiba tanpa mengucapkan salam.
"Assalamualaikum dulu, Awan!" tegur Juminten.
Awan tersenyum dan duduk di bawa kaki sang Ummi dan berkata, "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Juminten dan Anto secara bersamaan.
Anto tersenyum, karena anak laki-laki nya sangat sopan duduk di bawa tidak duduk di bangku bersamanya.
"Alhamdulillah kalau mbak Cahaya sudah ditemukan," ucap Awan dengan lembut.
Juminten senang dan mengelus rambut sang anak yang sudah mulai panjang, agar Awan peka memotong rambutnya.
'Pasti Ummi mengingatkan aku, agar memotong rambut,' batin Awan.
Anto tersenyum dan berpikir tentang rumah tangga sang anak. Sebab, Awan adalah kepala keluarga yang wajib memberikan nafkah lahir dan batin untuk Fatimah.
"Awan, kamu harus bekerja. Sebab, kamu adalah kepala keluarga, jika satu hari kamu tidak memberikan nafkah pada Fatimah. Maka, akan menjadi hutang, yang harus kamu bayar," ucap Anto, dan Awan menganggukkan kepala.
"Satu lagi, kamu harus menghargai Fatimah sebagai istri ... bahagiakan dia, karena rezeki mu ada pada kebahagiaan nya," tambah Anto.
"Insyaallah Abi, Awan akan menjadi suami yang baik untuk Fatimah," jawab Awan dengan sopan.
Juminten tersenyum dan mengingatkan pada sang anak, kalau Awan harus membawa Fatimah berlibur. Sebab, semakin jauh pria itu membawa sang istri jalan-jalan, maka semakin luas pula rezeki yang datang.
Fatimah tersenyum, karena sejak tadi ia mendengar dan melihat sang suami di nasehati oleh kedua mertuanya. Membuat hatinya sejuk karena Awan tidak membantah perkataan keuda orang tuannya.
'Masyaal Allah, Mas Awan sangat sopan dan baik. Aku sangat beruntung bisa menikah dengannya,' batin Fatimah.
Gadis itu bergegas pergi dari sana, untuk menyiapkan sarapan untuk sang suami dan mertuanya.
. . .
Abidzar tersenyum sambil merapikan penampilannya, karena hari ini ia akan pergi ke perusahaan penerbit buku. Sebab, perusahaan itu memanggilnya dan meminta kerjasama dengannya.
"Mas, minum dulu susu rempah nya." Cahaya meletakan susu yang di bawa ke meja.
Kemudian dia berjalan menghampiri Abidzar dan membantu menyisir rambut sang suami.
"Terimakasih istriku. Oh iya, sepertinya besok kita akan berpamitan pada abah kembali ke desa," ucap Abidzar dengan lembut.
Cahaya tersenyum dan mengangguk tanda mengerti. Abidzar menjelaskan semua pada sang istri kemungkinan mereka akan menetap di kota dan tinggal di kota, karena ia akan bekerja di kota.
__ADS_1
"Baik Mas, kalau semua adalah keputusan kamu, saya setuju," jawab Cahaya.
"Terimakasih sayang." Abidzar mengecup kening sang istri.
Karena dia sangat bahagia bisa memilih istri yang pengertian dan penurut tidak membantah sedikitpun.
'Masyaallah, saya sangat bahagia bisa memiliki istri seperti Cahaya yang sangat bijak,' batin Abidzar.
Abidzar memakai peci, kemudian bergegas pergi dari kamar menuju ruang makan dan sarapan bersama-sama. Setelah selesai, dia langsung pergi menuju perusahaan penerbitan buku dan komik.
Abidzar sangat bahagia, karena kemungkinan dia akan menjadi penulis buku yang terkenal. Sebab, perusahaan itu sangat terkenal di Indonesia.
Kini Abidzar sudah tiba di perusahaan tersebut, hati nya sangat gembira bisa menginjakkan kaki di sini. Sebab, itu adalah impiannya sebelum menulis novel dan komik.
"Subhanallah, sungguh aku bisa menginjakkan kaki di sini?" gumam Abidzar sambil berjalan masuk ke dalam.
Abidzar menghampiri resepsionis dan diantara ke ruangan CEO bertemu dengan pemilik perusahaan tersebut.
"Assalamualaikum Pak," ucap Abidzar dengan lembut sambil masuk ke dalam.
Pria itu hanya diam, karena dia non muslim dan tidak tahu apa yang diucapkan oleh Abidzar.
"Maaf, saya non muslim," jawab Kristian.
"Maaf Tuan, saya tidak tahu. Yang seharusnya minta maaf adalah saya," ucap Abidzar dengan sangat bersalah.
Kristian tersenyum, dan memaafkan Abidzar kemudian mereka membahas kerjasama. Hal itu membuat Abidzar sangat bergembira. Sebab, buku yang ditulis akan menjadi sebuah film.
"Ya Allah, terimakasih sudah memberikan hamba anugerah seperti ini," ucap Abidzar sambil bersujud syukur.
Kristian tersenyum, karena melihat Abidzar yang senang atas kerjasama yang dibuatnya.
"Terimakasih banyak Tuan," ucap Abidzar dengan girang.
"Sama-sama, kamu itu adalah penulis yang bagus dan menarik. Sebab, itu saya ingin bekerjasama denganmu," jawab Kristian.
Abidzar tersenyum, karena dia tidak menyangka akan menjadi penulis yang terkenal. Sebab, menulis hanya hobi di masa luangnya.
"Mulai besok kamu sudah bisa menerbitkan buku di sini, dan buku kamu akan dijadikan film oleh salah satu stasiun televisi," ucap Kristian.
"Baik Tuan," jawab Abidzar.
Tidak henti-hentinya Abidzar mengucapkan syukur, karena semua yang ia dapat adalah pemberian dari Allah. Jadi, dia tidak boleh sombong dengan apa yang didapatkan sekarang.
BERSAMBUNG.
__ADS_1