
Hari-hari yang dilalui oleh Abidzar dan Cahaya sangat menyenangkan bagi mereka. Sebab, calon bayi yang ada di dalam kandungan cahaya sudah mulai bergerak-gerak karena usia kehamilannya sudah memasuki 16 Minggu.
Pagi ini, mereka berjalan-jalan di taman karena hari Minggu. Cahaya dan Abidzar menghabiskan waktu bersama dengan sangat bergembira.
"Kalau anak kita sudah lahir, pasti akan sangat menyenangkan," ucap Abidzar dengan lembut.
Cahaya tersenyum dan mengangguk, pada saat itu dia melihat adanya Jinan dan Eza tengah memberi makan burung-burung di sana.
"Mas, lihatlah mereka," ucap Cahaya dengan lembut.
Abidzar langsung menoleh, melihat Jinan dan Eza tengah memberi makan burung-burung dengan sangat bergembira, dan juga perut wanita itu sudah besar.
"Terlihat mereka sangat bahagia, dan sepertinya usia kehamilan Jinan sudah besar," ucap Abidzar sambil terus menatap mereka.
"Benar, karena memang dia yang duluan hamil," sahut Cahaya.
Mereka berdua terus melihat Jinan dan Eza yang tertawa bersama, sampai keduanya melihat mereka.
"Abidzar!" panggil Eza.
Jinan langsung menoleh dan dia langsung menghampiri Abidzar dan Cahaya, karena ia ingin meminta maaf atas segala kesalahannya.
"Mbak!"
Jinan memeluk Cahaya dengan lembut, dan dia juga meminta maaf pada gadis itu, kalau selama ini ia banyak salah dengan rencana liciknya.
"Mbak sudah memaafkan kamu, kita adalah saudara," ucap Cahaya dengan lirih.
Eza dan Abidzar hanya menatap mereka berdua. Sebab, juga merasakan haru melihat keduanya saling bermaafan.
"Hati Mbak baik sekali, aku jadi malu," ucap Jinan lirih.
Cahaya melepaskan pelukannya, dan menatap wajah Jinan dengan lembut. Mereka berdua sudah memaafkan satu sama lainnya.
"Alhamdulillah, kalau kalian sudah berdamai," ucap Abidzar dengan lembut.
"Benar," sahut Eza.
Mereka berdua tertawa bersama karena lucu melihat Cahaya dan Jinan selisih paham, hanya karena satu pria yaitu Abidzar.
"Sudahlah, aku malu jika membahas masalah itu lagi. Sekarang, kita mulai kehidupan baru kita," ucap Jinan dengan lembut.
"Setuju!" jawab mereka semua dengan serempak.
. . .
Mentari tengah duduk sambil memeriksa beberapa berkas, di cafe tempat kerja Putra. Sebab, mereka ingin membahas sesuatu masalah bersama.
__ADS_1
"Tari, aku buatkan kamu minum dulu ya?" ucap Putra dengan lembut.
Walaupun umurnya di bawah Mentari, dia tetap memanggil gadis itu dengan sebutan nama.
"Iya, jus saja," jawab Mentari dengan lembut.
Putra bergegas pergi dari sana, dan membuatkan jus jeruk untuk sang pujaan hati. Walaupun, tugasnya bukan sebagai pelayan, dia tetap membuat khusus untuk sang tunangan.
Setelah selesai, Putra langsung memberikan jus pada Mentari kemudian dia duduk di samping gadis itu.
"Masih banyak pekerjaan?" tanya Putra.
Sebab, sejak tadi dia terus melihat Mentari memeriksa berkas-berkas yang ada di meja.
"Iya, karena ini sangat penting, untuk besok. Kalau aku tidak mengerjakan maka perusahaan akan terkena masalah," jawab Mentari.
Putra sedikit paham sedikit-sedikit tentang perusahaan, dan dia membantu Mentari sampai selesai dalam waktu singkat.
"Terimakasih banyak Put, karena kamu aku bisa menyelesaikan semua ini," ucap Mentari dengan sangat bergembira.
Putra tersenyum, dan menganggukkan kepala kemudian dia bergegas pergi dari sana karena pekerjaannya sebagai kasir harus tetap di tempat.
"Ternyata dia pandai juga. Tapi, kenapa dia malah bekerja di cafe?" gumam Mentari dengan pelan.
Sebab, dia takut kalau Putra mendengar ucapannya walaupun jarak mereka jauh. Gadis itu membereskan barang-barang karena dia akan pulang.
Setelah menunggu lama, akhirnya Putra kembali dan duduk di samping Mentari, gadis itu berpamitan pulang. Sebab, ia ingin beristirahat.
Mentari tersenyum, karena dia mengerti posisi Putra di sana sebagai apa. Lagipula ia tidak mau kalau sampai mereka pulang berdua.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Assalamualaikum," ucap Mentari dengan lembut.
"Waalaikumsalam," jawab Putra.
Pria itu tersenyum melihat kepergian Mentari, karena dia senang mereka sudah mulai dekat dan akrab tidak seperti sebelumnya.
.
.
.
Malam hari . . .
Abidzar bermain dengan anaknya yang masih di dalam perut Cahaya, dia mengajak bayi kecil itu berbicara dan bercanda. Membuat, sang bayi bergerak-gerak.
"Masya Allah, anak Abi sudah bisa bergerak-gerak, di dalam sana," ucap Abidzar dengan sangat bergembira.
__ADS_1
Cahaya hanya tersenyum, karena dia menikmati setiap gerakan dari sang anak yang ada di dalam perutnya.
"Kalau kita sudah bertemu, Abi janji akan mencium kamu setiap hari, bila Abi memiliki umur panjang," ucap Abidzar dengan lirih.
Bahkan, dia sampai menitihkan air mata. Sedangkan Cahaya langsung terdiam saat mendengar sang suami berbicara seperti itu pada anak mereka.
"Mas, kenapa berbicara seperti itu?" tanya Cahaya dengan lembut.
Abidzar tersenyum dan langsung memeluk sang istri dengan lembut, dan juga mencium puncak kepala Cahaya.
"Karena, umur, jodoh, maut, tidak ada yang tahu dan tidak bisa kita hindari," jawab Abidzar.
Cahaya diam, karena dia tidak sanggup kalau harus kehilangan sang suami. Sebab, ia sangat mencintai suaminya.
"Tapi, bila Mas mati maka Cahaya juga harus mati," sahut Cahaya dengan lirih.
Abidzar memegang tangan Cahaya dengan lembut dan menjelaskan semua pada sang istri, kalau maut tidak ada yang tahu bisa saja mereka pergi lebih dahulu.
"Tetap saja! Cahaya tidak mau di tinggal," sahut Cahaya.
Abidzar tersenyum lagi, karena Cahaya seperti anak kecil yang tidak bisa di beritahu. Mungkin, karena kehamilan wanita itu.
"Baiklah, kita akan mati bersama saat anak kita sudah dewasa," jawab Abidzar.
Sebab, dia memikirkan tentang sang anak kalau ia sudah tidak ada lagi, dan berharap semua terjadi saat anak-anaknya sudah dewasa bisa mencari uang sendiri.
. . .
Putra baru saja pulang dari cafe, dan dia membeli kue kesukaan Mentari, berniat akan memberikan gadis itu kue.
Kini Putra ada di bawah, dan ia tengah menunggu kedatangan Mentari tepat di parkiran. Sebab, ia tidak mau masuk karena sudah malam.
"Assalamualaikum," ucap Putra dengan lembut, dan Mentari tersenyum.
"Waalaikumsalam," jawab Mentari.
Putra langsung memberikan kue tersebut dan Mentari menerimanya. Sebab, dia takut melukai hati sang tunangan kalau terus menolak.
"Terimakasih banyak, kamu baik sekali," ucap Abidzar dengan lembut.
Putra tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian berpamitan pulang karena dia tidak enak, berdua bersama gadis itu di parkiran.
Setelah Putra pergi, Mentari langsung masuk ke dalam dan sangat terkejut karena Abidzar dan Cahaya ada di hadapannya.
"Ada pacarnya tidak mau bicara," sindir Abidzar dan Cahaya bersamaan.
Mentari tersenyum dan memberikan kue dari Putra, karena dia tidak akan habis memakan kue itu seorang diri.
__ADS_1
"Wah, adik ipar kita sangat baik," ucap Abidzar dengan gembira.
BERSAMBUNG.