
Seminggu kemudian . . .
Juminten sudah sembuh total, dan hari ini dia akan ke kota menemui sang anak bersama Awan dan juga Fatimah. Sedangkan Anto tetap di pondok karena tidak ada yang menjaga pesantren.
"Kalian hati-hati ya," ucap Anto dengan lembut.
"Abi juga, maaf kami semua pergi untuk tiga hari," jawab Awan dengan lembut.
Anto tersenyum, karena dia senang sang anak masih perhatian padanya. Padahal, ia tidak sendiri di pondok, ada para santri di sini yang akan menemaninya.
"Sudah, jangan khawatir Abi di sini," ucap Anto dengan lembut.
"Kami pergi dulu, Abi. Assalamualaikum," ucap mereka bertiga secara bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab Anto dengan lembut.
Taksi yang membawa mereka bertiga mulai melajukan mobil menjauh dari pondok, menuju kota.
. . .
Cahaya memasak makanan yang lumayan banyak, karena sang Ummi akan datang ke apartemen-nya.
Hatinya sangat gembira, karena dia sangat merindukan sang Ummi. Walaupun dia masak sendiri tidak ada yang membantu tetap ia sangat bersemangat.
"Alhamdulillah, ummi akan datang ke sini," ucap Cahaya dengan lembut.
Gadis itu harus masak sendiri, karena sang adik harus bekerja pagi ini. Sedangkan sang mertua sore baru datang, sebab menunggu kepulangan suaminya.
"Alhamdulillah sudah selesai," ucap Cahaya dengan lembut.
Gadis itu langsung menyusun semua makanan ke meja makan, dan bersiap-siap karena sang adik juga ikut bersama sang Ummi.
. . .
Mentari sudah menyelesaikan tugasnya, karena dia ingin pulang cepat. Sebab, sang ummi akan tiba di kota. Dia tidak mau membuat orang tuanya bersedih kalau ia tidak menyambut kedatangan mereka.
"Alhamdulillah sudah selesai," ucap Mentari.
Gadis itu melirik jam, yang masih pukul 11.00 WIB, yang artinya jam kerjanya masih banyak. Namun, dia sudah izin dan di perbolehkan pulang oleh Exel.
"Aku pulang sekarang saja, siapa tahu aku bisa membantu mbak Cahaya, karena dia bilang mau masak banyak hari ini," gumam Mentari sambil berjalan.
Saat dia sampai di luar, Exel memanggilnya dan dia langsung menghentikan langkah karena takut ada masalah penting.
"Ada masalah, Pak?" tanya Mentari dengan lembut.
"Euum tidak, apa ibumu akan datang?" tanya Exel dengan lembut dan Mentari menganggukkan kepala.
__ADS_1
Pria itu diam seperti ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Namun, terlihat masih sangat ragu-ragu terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Pak, kalau tidak ada lagi saya ingin pulang sekarang?" tanya Mentari dengan lembut, karena dia takut menyakiti perasaan sang-bos.
Exel tersenyum dan menggelengkan kepala, kemudian Mentari bergegas pergi dari sana karena dia takut sang kakak kelelahan memasak makan yang lumayan banyak.
Setelah sampai di apartemen, Mentari langsung masuk ke dalam dan melihat sang kakak sudah rapi juga semua makanan sudah siap.
"Assalamualaikum Mbak," ucap Mentari dengan lembut.
Gadis itu langsung mencium tangan sang kakak, kemudian duduk di sofa sambil merebahkan tubuhnya.
"Waalaikumsalam," jawab Cahaya dengan lembut.
Gadis itu langsung duduk di samping sang adik, dan mengelus kepala Mentari dengan lembut.
"Kenapa pulangnya, cepat sekali?" tanya Cahaya.
Karena sang adik, selalu pulang sore hari dan kini sebelum jam makan siang Mentari sudah sampai di rumah.
"Sengaja Mbak, karena, 'kan ummi akan datang. Jadi, aku tidak mau sampai beliau kecewa anaknya tidak menyambut kedatangannya," jawab Mentari dengan lembut.
Cahaya tersenyum, karena sang adik sangat mengutamakan ummi mereka yang akan tiba hari ini ke apartemennya.
30 menit kemudian . . .
"Assalamualaikum semuanya," ucap Cahaya dan Mentari secara bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab Awan dan Juminten bersamaan dengan Fatimah.
Cahaya dan Mentari memeluk sang ummi dengan rasa rindu yang mendalam, karena sudah beberapa Minggu tidak bertemu.
"Ummi, kami rindu pada Ummi dan abi," ucap Cahaya dan Mentari secara bersamaan.
Juminten tersenyum, karena dia sangat bahagia anak-anaknya masih sama seperti waktu di pondok.
"Alhamdulillah, ummi senang mendengarnya, sekarang kita duduk. Kamu lagi hamil," ucap Juminten dengan lembut.
Cahaya tersenyum dan membawa semua duduk ke sofa, sedangkan Mentari. Dia membuat minum untuk saudara dan umminya.
"Berapa usia kehamilan kamu, Nak?" tanya Juminten dengan lembut.
"Sudah lima Minggu Ummi," jawab Cahaya dengan tutur kata yang sopan pada sang ummi.
Juminten tersenyum, karena dia tidak sabar untuk segera menimang cucu. Sebab, ini adalah cucu pertama untuknya.
"Alhamdulillah, sebentar lagi kami akan memiliki keponakan," ucap Fatimah dengan senyuman.
__ADS_1
"Benar itu, aku akan menjadi paman," tambah Awan.
Cahaya tersenyum, karena kedua adiknya sudah menikah dan cocok memiliki anak. Namun, belum diberikan rezeki oleh Allah.
"Semoga kalian segera diberikan keturunan oleh Allah," ucap Cahaya dengan lembut.
"Aamiin," jawab Awan dan Fatimah bersamaan.
Meraka berdua sudah siap menerima anak. Namun, belum diberikan kepercayaan oleh Allah, dan keduanya sabar menunggu walaupun akan lama.
"Suami kamu belum pulang?" tanya Juminten.
Karena, dia melihat Mentari sudah pulang sedangkan sang menantu belum juga kembali. Sebab, mereka satu kantor.
"Belum Ummi, karena Mentari tadi meminta izin pulang awal," jawab Cahaya dengan lembut.
Juminten mengerti, dan kembali melanjutkan cerita sampai Mentari datang membawakan minuman.
. . .
Exel merasa sunyi, karena Mentari sudah pulang. Entahlah dia menyukai gadis itu. Padahal, ia tahu mereka berbeda keyakinan.
"Tuhan, salahkan aku mencintai wanita muslim?" ucap Exel dengan lirih.
Sebab, dia benar-benar menyukai Mentari dan membuatnya dilema. Karena, tidak mungkin di antara mereka yang berganti keyakinan.
Karena, keyakinan adalah hal yang terpenting untuk mereka berdua yang tidak bisa di ubah dengan sesuka hati.
"Semoga aku bisa melupakannya, karena tidak mungkin aku berpindah keyakinan, dan juga dia. Sebab, dia sangat dalam mengenal agamanya," ucap Exel dengan lirih.
Pria itu sengaja tidak memberitahu perasaannya pada siapapun, karena dia tidak ingin menyatakan cinta pada Mentari. Sebab, mereka tidak akan bisa bersama.
Tanpa disadari oleh Exel, ternyata Abidzar ada di sebalik pintu pria itu. Karena, ia ingin mengantarkan naskah yang sudah disiapkannya.
'Ya Allah, ternyata dugaan ku benar, karena dia menyukai Mentari. Semoga engkau memberikan kemudahan pada mereka berdua,' batin Abidzar.
Sejujurnya dia tidak suka Exel mencintai Mentari, karena sahabatnya menyukai adik iparnya. Ia juga menginginkan Putra yang menjadi suami Mentari karena Abidzar tahu seperti apa pria itu.
"Permisi Pak, saya membawa naskah untuk besok," ucap Abidzar dengan lembut.
Exel langsung menoleh dan mempersilahkan Abidzar masuk, kemudian pria itu memberikan naskah untuk besok.
"Terimakasih," ucap Exel dengan lembut.
Abidzar langsung pergi dari sana, karena dia tahu Exel tengah bersedih terlihat jelas dari sikap dan wajah sang bos tadi.
BERSAMBUNG.
__ADS_1