Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Semoga Masih Bisa Bersama


__ADS_3

Satu Bulan kemudian . . .


Abidzar dan Cahaya sangat senang, karena mereka tinggal menunggu hari kelahiran anak mereka yang hanya menghitung hari lagi.


Mereka juga sudah mempersiapkan semuanya, dari perlengkapan bayi sampai acara syukuran di rumah Toyib dengan sempurna.


"Alhamdulillah ya Mas, semua sudah selesai. Kita hanya tinggal menunggu kelahiran bayi kita," ucap Cahaya dengan lembut.


Sambil memegang perlengkapan bayi yang sudah mereka persiapkan, secara bersamaan. Sedangkan Abidzar, masih mempersiapkan tempat tidur calon anaknya.


"Alhamdulillah," jawab Abidzar dengan sangat bersyukur.


Cahaya sudah kesulitan berjalan, karena berat badannya semakin bertambah sejak kehamilannya. Namun, dia tetap beraktivitas seperti biasanya, karena dia adalah wanita kuat.


"Mas, Cahaya mau melihat Mentari dulu, tadi katanya dia pusing lagi. Entah ada apa dengannya," ucap Cahaya dengan cemas.


Abidzar juga merasa heran, karena Mentari tidak sakit, dan selalu saja pusing. Sebab, sudah sangat sering hampir setiap hari.


"Sepertinya kita harus memeriksa keaannya," ucap Abidzar dengan cemas.


Sebab, dia sering melihat Mentari pusing di tempat kerja hampir setiap hari, dan gadis itu juga selalu bekerja walaupun keadaan yang kurang baik.


"Iya Mas, besok kita akan membawanya ke rumah sakit, agar kita tahu kenapa dia sakit," jawab Cahaya dengan lirih.


Gadis itu bergegas pergi dari sana, karena dia ingin segera melihat keadaan sang adik yang masih pusing sejak tadi pagi.


Setelah sampai, dia langsung menghampiri Mentari yang tengah melakukan panggilan video dengan Exel. Sebab, mereka tengah membahas masalah pekerjaan.


"Astaghfirullah," ucap Cahaya.


Gadis itu menjauh, karena dia tidak mengunakan hijab, takut Exel akan melihatnya.


"Baik Pak, saya tutup dulu telponnya," ucap Mentari dengan lembut.


Setelah panggilan terputus, Cahaya mendekati Mentari dan memeriksa kondisi sang adik.


"Kamu masih saja! Bekerja walaupun keadaan mu seperti ini?!" tanya Cahaya dengan kesal.


Sebab, Mentari tidak memikirkan kondisi yang semakin menurun seperti ini. Gadis itu hanya bisa tersenyum, kemudian mencaritahu kalau dia akan ke luar dari kantor Exel.


Karena, dia sudah tidak sanggup bekerja di sana, dan tadi ia membahas masalah itu pada Exel jua uang pria itu padanya.


"Semoga keputusan mu adalah hal yang terbaik, karena sejak pekerja di sana, kondisi kesehatan mu terus menurun," sahut Cahaya dengan lembut.


Mentari memeluk sang kakak dengan lembut, karena dia senang memiliki seorang saudara yang sangat perhatian padanya.

__ADS_1


"Terimakasih, sudah menjadi kakak yang tebaik di dunia ini," ucap Mentari dengan lembut.


Cahaya tersenyum dan mencium Mentari dengan lembut, kemudian dia memijat kepala sang adik, agar pusingnya sedikit hilang.


"Alhamdulillaah Mbak, pusing Mentari sudah hilang," ucap Mentari dengan lembut.


Cahaya tersenyum dan bersyukur, karena Mentari sudah membaik, sehingga dia bisa pergi dan mengerjakan kembali tugas, menyusun perlengkapan untuk bersalin nanti.


. . .


Jinan dan Eza menikmati hari-hari mereka menjadi orang tua baru, dengan sangat bahagia. Sebab, sekarang sang anak sudah boleh dibawa pergi.


Hari ini, mereka akan membawa Jizan pergi ke taman dan melihat dunia. Sebab, selama lahir bayi itu masih terus di rumah.


"Zan, kamu sudah siap?" tanya Eza dengan lembut pada sang anak.


Jinan tersenyum dan memeluk Eza dari belakang, kemudian pria itu menciumnya dengan lembut.


"Mama tidak mau kalah dari anaknya," ucap Eza dengan lembut.


"Iya dong, masa anaknya doang yang di cium," jawab Jinan dengan lembut.


Eza menganggukkan kepala, ia kalau dia melawan akan menjadi panjang nantinya, dan mereka tidak akan jadi pergi.


Saat Jinan hendak menggendong Jizan, dan gadis itu langsung menghentikan langkah kemudian Eza yang menggendong bayi kecil itu.


Jinan sangat bahagia, karena Eza menjadi suami dan ayah yang baik untuknya dan juga Jizan. Padahal, saat awak pernikahan, dia benar-benar tidak menyukai pria itu.


'Aku sangat bahagia, karena Eza adalah suami yang sempurna,' batin Jinan.


Mereka pun bergegas masuk ke dalam mobil, dan Eza langsung mengemudikan mobil dengan perlahan menuju taman.


. . .


Exel bersedih, karena Mentari akan ke luar dari kantornya dan juga mengembalikan uangnya semua. Padahal, dia masih membutuhkan gadis itu.


'Semua akan berakhir, karena Mentari kembali ke kampungnya, dan aku tidak bisa bertemu dia lagi,' batin Exel.


Pria itu benar-benar menyesal, karena memberikan pekerjaan yang banyak untuk Mentari. Sebab, dia ingin bersama gadis itu selalu. Namun, mala kacau karena Mentari jatuh sakit.


"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu, agar Mentari menjadi milikku," ucap Exel dengan lirih.


Pria itu membuang pikirannya, karena mereka berbeda keyakinan, mana mungkin Mentari mau berpindah keyakinan, dan dia juga tidak mau berpindah keyakinan.


"Aku dan dia tidak berjodoh," ucap Exel lirih.

__ADS_1


Pria itu mengurus surat undur diri Mentari, dengan sangat berat hati. Sebab, gadis itu sangat baik dan pandai bekerja.


Bahkan, perusahaannya semakin maju karena gadis itu. Namun, dia harus melepaskan emas yang sangat berharga seperti Mentari.


"Sepertinya aku harus rela dan mencari pengganti Mentari," ucap Exel lirih.


Pria itu mengirimkan pesan pada Mentari dan gadis itu membalasnya dengan cepat.


Exel: Tar, kamu sudah sehat?


Mentari: Alhamdulillah sudah Pak.


Exel: Kamu benar-benar ingin ke luar?


Mentari: Insyaallah iya Pak.


Exel tidak menjawab pesan Mentari, karena dia tidak bisa berbuat apapun lagi. Sebab, semua keputusan ada pada gadis itu.


. . .


Sedangkan Mentari bernafas lega, karena selama ini dia bekerja di perusahaan Exel. Sebab, sengat melelahkan dia juga sering lembur.


"Walaupun gajinya banyak. Tapi, kesehatan ku menjadi taruhannya," ucap Mentari lirih.


Mentari sudah memberitahu Putra, kalau dia sudah ingin berhenti bekerja dan ingin pulang ke desa, setelah Mentari melahirkan satu bulan lagi.


Sejujurnya, Putra bersedih karena Mentari pulang ke desa. Namun, dia harus menerima keputusan Mentari.


"Semoga kami bisa bersama dua tahun lagi, dan kami sama-sama menjaga selama dua tahun kedepan," ucap Mentari dengan lembut.


Gadis itu langsung bergegas pergi dari dalam kamarnya, karena dia ingin berpamitan ke luar menjadi udara segar di sekitar apartemen saja. Sebab, ia tidak berani pergi jauh dalam keadaan yang masih belum benar-benar pulih.


"Tar, kamu yakin tidak mau di temani sama mbak?" tanya Cahaya.


Sebab, dia sangat cemas karena sang adik belum sembuh total. Namum, gadis itu tetap ingin pergi.


"Tenang saja! Mentari bawa ponsel, kalau nanti merasa sakit, akan segera menelepon ke rumah," jawab Mentari dengan lembut.


Cahaya tersenyum dan memperbolehkan Mentari pergi, dan gadis itu langsung bergegas pergi dari sana.


"Ya Allah, semoga Mentari baik-baik saja," doa Cahaya dengan sangat berharap.


Abidzar menyakinkan Cahaya, karena Mentari adalah gadis bijak. Kalau dia merasa sakit, pasti akan segera menelpon, seperti beberapa bulan lalu.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2