
Setelah makan kue bersama, Putra berpamitan pulang. Sebab, dia tidak mau berlama-lama di apartemen Abidzar, takut menjadi fitnah.
"Permisi dulu, assalamualaikum," ucap Putra dengan lembut.
"Waalaikumsalam," jawab semua secara bersamaan.
Putra tersenyum dan bergegas pergi dari sana, karena hari sudah semakin malam. Setelah kepergian Putra, Mentari bergegas masuk ke dalam kamar dan bersiap-siap.
Sebab, waktu Magrib sudah tiba dan dia langsung melaksanakan shalat Maghrib sendirian. Setelah selesai, ia berdoa terlebih dahulu.
"Ya Allah, semoga hamba bisa mendapatkan jodoh yang baik dan bisa menjadi imam yang bertanggung jawab," doa Mentari.
Gadis itu langsung minum obat dari Dokter tadi, dan bergegas tidur sambil menunggu waktu Isya tiba. Namun, Cahaya datang sehingga dia tidak jadi tidur.
"Kok sudah mau tidur?" tanya Cahaya dengan lembut.
Gadis itu menghampiri Mentari, dan memegang kening sang adik, karena dia takut kalau Mentari demam.
"Mentari sehat Mbak, hanya ingin istirahat. Karena, Mentari terkena anemia," jawab Mentari dengan lembut.
Cahaya bernafas lega, karena sang adik baik-baik saja. Tidak sakit dan dia langsung memberikan sang adik vitamin.
"Vitamin ini jangan lupa kamu minum, karena sangat bagus," ucap Cahaya dengan lembut.
Mentari heran karena vitamin itu setahunya hanya untuk wanita hamil, sedangkan dia tidak hamil bukan?
"Mbak, itu vitamin untuk wanita hamil," ucap Mentari dengan lembut.
Cahaya tertawa, karena vitamin yang dia berikan bukan vitamin wanita hamil. Namun, itu untuk semua orang.
"Oh, Mentari kita ini punya Mbak," sahut Mentari.
"Tidak, itu mbak belikan untuk mas Abidzar. Tapi, dia tidak mau," jawab Cahaya dengan lembut.
Sebab, biasanya Cahaya minum vitamin itu kalau sudah sakit atau kekurangan darah, sewaktu dia belum hamil.
"Yasudah kamu makan dulu dan, mbak pergi mau istirahat," ucap Cahaya dengan lembut.
Mentari menganggukkan kepalanya, kemudian bergegas istirahat. Sebab, tadi dia sudah minum obat dari Dokter, sehingga ia tidak minum vitamin dari Cahaya.
"Ya Allah sembukan hamba," doa Mentari dengan lirih.
Sejujurnya, dia ingin pulang ke desa dan melanjutkan perjalanan hidupnya di pesantren. Sebab, ia tidak sanggup akan pekerja yang sangat banyak.
__ADS_1
Namun, dia harus melihat Cahaya melahirkan dulu baru setelah itu ia pulang ke desa dan membantu sang Abi mengurus pondok pesantren.
. . .
Pagi hari tiba . . .
Setelah selesai shalat Subuh, Mentari menelpon kakak iparnya di desa dan juga mengobrol bersama sang ummi. Membuat hatinya sangat rindu pada kedua orang tuanya.
Setelah satu jam menelpon orang tuannya, Mentari bersiap-siap ingin berlari lagi di sekitar apartemen. Sebab, hari ini Sabtu jadi ia tidak masuk kantor.
"Ya ampun, aku lupa di mana aku meletakan ponsel ku," ucap Mentari.
Gadis itu langsung mencari di mana keberadaan ponselnya. Sebab, tidak mungkin dia pergi tanpa membawa ponsel.
"Alhamdulillah ketemu juga," ucap Mentari.
Gadis itu lupa meletakan ponsel di sebalik bantal tadi, dan ia langsung bergegas pergi dari apartemen.
"Sebaiknya aku kirim pesan saja, karena mereka belum bangun," gumam Mentari sambil terus berjalan.
Mbak Cahaya: Mbak, aku berlari pagi, jangan tunggu aku sarapan.
Setelah mengirimkan pesan, Mentari menyimpan ponselnya di dalam tas kemudian melanjutkan perjalanan.
Saat di tengah jalan, Mentari melihat sekelilingnya banyak orang yang berlari pagi di sana dan dia melihat sosok yang sangat familiar sekali di matanya.
Gadis itu semakin, mendekati Putra dan pria itu terkejut saat melihat sang kekasih ada di hadapannya.
"Mentari!" pekik Putra.
Mentari tersenyum, dan mereka berlari bersama. Putra menceritakan kenapa dia bisa ada di sini, karena ia habis bertemu temannya.
. . .
Abidzar sudah bangun sejak Subuh bersama Cahaya. Namun, mereka tidak ke luar kamar karena menonton film bersama.
"Mas, bagaimana jika Cahaya sudah melahirkan, kita adakan syukuran di rumah abah?" usul Cahaya.
Abidzar tersenyum, karena dia juga berpikir hal yang sama dengan Cahaya. Mereka berdua akan mempersiapkan semua sebelum Cahaya melahirkan.
Sebab, agar semuanya berjalan dengan lancar saat Anto dan Juminten datang ke sini.
"Kamu tenang saja! Biar, semua mas yang atur," ucap Abidzar dengan lembut.
__ADS_1
Pria itu akan mengatur semuanya, agar sang istri tidak lelah karena pekerjaan ini dan Cahaya menuruti keinginan suaminya.
"Anak abi bagaimana di dalam sana?" tanya Abidzar dengan lembut.
Pria itu mengelus-elus perut Cahaya dengan lembut, dan sang anak menendangnya dengan kuat, sampai Cahaya meringis kesakitan.
"Sakit ya sayang?" tanya Abidzar dengan cemas.
Cahaya menggelengkan kepala, dan tersenyum bahagia karena buah hatinya bergerak dengan lincah.
"Mas, anak kita sangat aktif, Cahaya jadi senang dan tidak sabar ingin segera bertemu," ucap Cahaya dengan sangat bergembira.
Abidzar tersenyum, dan mencium sang istri dengan sangat lembut. Kemudian dia mencium sang anak yang masih ada di dalam kandungan sang istri.
"Anak abi ingat Ummi ya, kasihan dia kalau kamu menendang kuat seperti tadi, karena Ummi kesakitan," ucap Abidzar dengan lembut.
Cahaya tersenyum, karena sang suami sangat pengertian padanya, dan juga sangat cemas akan keaannya.
'Ya Allah, terimakasih sudah memberikan hamba semua yang baik seperti Mas Abidzar,' batin Cahaya dengan sangat bersyukur.
Jujur saja, awalnya dia mengira kalau Abidzar tidak akan bersikap dewasa. Namun, ternyata dia salah, pria itu lebih darinya walaupun umur mereka terpaut sedikit jauh.
"Sayang, mas buatkan susu dulu ya?" Abidzar bergegas pergi dari sana.
Cahaya langsung membuka ponselnya, karena sejak tadi bergetar. Namun, dia tidak mau membuka karena masih ada sang suami.
"Mentari pergi ke luar," gumam Cahaya sambil membaca pesan dari sang adik.
Gadis itu kembali menonton sambil membalas pesan sang adik, agar Mentari tahu kalau dia sudah membaca pesan itu.
Mentari: Tar, kamu jangan pulang lama sekali, mbak khawatir.
Mentari membaca pesan dari Cahaya, dan tersenyum membuat Putra cemburu. Sebab, pria itu mengira kalau sang pujaan hati tengah berbalas pesan pada orang lain.
"Siapa sih, kok sampai senyum seperti itu?" tanya Putra dengan kesal.
Mentari semakin tersenyum, karena Putra salah paham padanya, dan ia menjelaskan semua pada Putra kalau yang mengirim pesan adalah Cahaya.
"Kamu sangat beruntung, bisa memiliki kakak yang sangat baik. Sedangkan aku sama sekali tidak memiliki saudara," ucap Putra dengan lirih.
Pria itu sedih, karena dia anak satu-satunya orang tuanya. Entah mengapa dia juga tidak tahu kenapa mama nya hanya memiliki satu anak.
"Sabar, mungkin Allah memberikan ujian pada mama kamu agar lebih sabar lagi, dan kamu juga sudah cocok menjadi ayah, tidak cocok lagi memiliki adik," sahut Mentari.
__ADS_1
Putra langsung tersenyum, dan Mentari langsung menutup mulutnya, karena sudah salah bicara tadi.
BERSAMBUNG.