Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Terhenti


__ADS_3

Cahaya membuka mata, dan melihat sekelilingnya. Terlihat banyak sekali orang dengan wajah seram ada di hadapannya.


Jantung Cahaya berdegup kencang, seakan ia akan mati detik ini juga. Namun, itu semua tidak terjadi.


'Ya Allah, lindungilah hama dari mereka semua,' doa cahaya dalam hati.


Gadis itu benar-benar sangat takut, karena bukan hanya satu pria yang ada di sini akan tetapi, ada banyak dan hanya dia seorang wanita.


"Bos, dia sudah bangun," ucap salah satu pria yang ada di sana, dengan datar tidak mengekspresikan apapun.


Seorang pria memakai jas, berjalan menghampiri Cahaya dan gadis itu langsung bangun. Sebab, ia takut akan di bunuh atau lainnya.


"Kau sudah bangun, Nona?" tanya Exel dengan datar.


Cahaya hanya diam, karena dia melihat tatapan seram dari pria itu. Namun, ia harus memberanikan diri dan menyelamatkan dirinya.


"Kau wanita bercadar, aku tahu bagaimana cara memperlakukan mu," ucap Exel dengan lembut.


Cahaya terkejut, karena dia mengira pria itu jahat dan akan melukainya. Namun, malah bersikap lembut padanya.


Exel duduk di samping Cahaya, kemudian pria itu memperlihatkan sebuah Poto bersama wanita bercadar ungu.


"Kau lihat dia, sama seperti mu. Mengunakan cadar, dan sangat cantik," ucap Exel.


Cahaya tidak mengerti apa maksud Exel berkata seperti itu, sehingga dia masih diam membisu.


"Aku sangat mencintainya. Tapi, dia sudah meninggal," ungkap Exel lirih.


Cahaya mengerti apa yang di ucapkan oleh Exel. Namun, dia masih takut menjawab atau berbicara sehingga ia hanya diam.


"Kau jangan takut! Karena, aku orang baik. Semalam aku hanya ingin menolong mu. Tapi, kau malah pingsan saat melihat wajah ku yang setengah buruk ini," ucap Exel.


Pria itu menutup separuh wajahnya dengan penutup wajah, agar Cahaya tidak takut lagi dengannya.


"Maaf Tuan, ada apa dengan Anda?" tanya Cahaya dengan berani.


Namun, dia masih menundukkan wajah. Sebab, takut menatap wajah Exel terlalu lama dan menjadi zinah mata.


Exel tersenyum, karena Cahaya mau berbicara dengannya. Pria itu mengibaskan tangan ke udara, dan semua anak buahnya bergegas pergi.


Kini tinggalah Cahaya dan Exel berdua di ruang tamu. Jantung gadis itu semakin berdetak kencang, rasa takut datang melanda kembali.


'Ya Allah, lindungilah hamba dari niat jahat orang,' doa Cahaya dalam hati.


Exel menceritakan semua pada Cahaya, saat dirinya kecelakaan bersama sang kekasih dan meninggal. Sedangkan dia, masih hidup. Namun, separuh wajahnya habis hancur sehingga dia terlihat seperti monster.


Cahaya sedih mendengar Exel bercerita, dan dia ingat kalau sang suami akan menikah nanti. Membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.

__ADS_1


"Nona, mengapa kau bersedih?" tanya Exel.


Karena ia melihat kalau Cahaya bersedih, walaupun gadis itu mengunakan cadar. Sebab, ia sudah berpengalaman.


"Tidak tuan, hanya saya ingin pergi," jawab Cahaya lirih.


Exel tersenyum, kemudian menganggukkan kepala, karena dia tidak mungkin menahan Cahaya lebih lama lagi.


"Apa aku antar kau pulang?" tanya Exel.


Cahaya menggelengkan kepala, karena dia juga tidak tahu akan ke mana kakinya melangkah.


"Hati-hati, aku berharap kita bisa bertemu lagi," ucap Exel dengan lembut.


"Assalamualaikum," ucap Cahaya dengan lembut.


"Waalaikumsalam," jawab Exel.


Cahaya berjalan dengan cepat menuju luar, dengan sangat takut akan tatapan anak buah Exel yang sangat mengerikan.


Gadis itu berjalan menyusuri jalan, sambil membawa tas besar yang berisikan baju-baju miliknya. Kemudian dia menghentikan langkah di masjid dan melaksanakan shalat Subuh.


Setelah selesai, Cahaya berdoa agar dia diberikan kemudahan dalam menghadapi hidupnya.


"Apa aku ke kota saja? Pasti, mereka tidak tahu kalau aku akan ke kota," ucap Cahaya lirih.


Gadis itu mulai bergegas pergi dari Masjid dan melanjutkan kembali perjalanannya menuju kota.


Orang tua Jinan sudah sampai, dan kini semua orang berkumpul di Masjid menunggu ijab kabul yang akan di mulai.


"Saya tidak bisa," ucap Abidzar.


Pria itu tidak bisa menikahi Jinan, karena Cahaya belum di temukan sejak pagi tadi, membuatnya sangat cemas dan khawatir.


"Bukankah ada dia atau tidak, kamu harus menikahi ku?" tanya Jinan.


Abidzar menghela nafas panjang, karena saat ini ia berada di dalam situasi yang salah dan rumit.


"Bener itu Nak, sebelum dan sesudah Cahaya di temukan, kamu harus tetap menikahi Jinan," sambung Anto.


Walaupun dia sangat cemas akan keadaan sang anak. Tetap saja, ia harus menikahkan menantunya dengan wanita lain yang sedang mengandung.


"Itu sangat benar, karena sekarang anak saya hamil dan harus di nikahkan," tambah ayah Jinan.


Mau tidak mau, Abidzar harus menikahi Jinan hari ini juga. Sebab, ia sudah tidak bisa mengelak lagi.


"Baiklah, mari kita mulai," ucap Abidzar dengan datar.

__ADS_1


Jinan tersenyum bahagia, karena sebentar lagi dia akan menikah dengan Abidzar dan memiliki pria itu seutuhnya.


'Baguslah kamu pergi. Jadi, aku tidak repot-repot untuk menyingkirkan mu,' batin Jinan licik.


Abidzar mulai menjabat tangan ayahnya Jinan, dan akan menjawab pertanyaan pria itu dan melangsungkan pernikahan.


"Saya terima nikah dan kawannya Jinan bi-" terputus, karena seseorang telah menyerang ucapannya.


"Berhenti!" teriak seorang pria.


Semua orang yang ada di sana langsung menoleh, dan melihat seorang pria yang seusia Abidzar datang dengan tergesa-gesa.


"Pernikahan ini tidak boleh terjadi!" teriak pria itu.


Jinan bangun dan semua orang yang ada di sana juga ikut bangun, dan menatap wajah pria itu.


"Apa maksudmu?!" tanya Jinan dengan sangat emosi.


Karena tadi, sedikit lagi dia akan menjadi istri Abidzar. Namun, pria itu datang dan menghancurkan semua.


"Jinan, biarkan dia menjawab," sambung Abidzar.


"Siapa kamu, Nak?" tanya Anto.


Pria itu tersenyum kemudian melirik ke arah perut Jinan yang terlihat membuncit.


"Saya adalah ayah dari bayi yang di kandung Jinan," ungkap Eza.


Ya, Eza dan Jinan sudah melakukan hubungan terlarang itu dengan sengaja, karena ingin bersenang-senang. Namun, siapa sangka Jinan hamil.


"Tutup mulutmu!" sentak Jinan.


Semua orang yang ada di sana sangat terkejut mendengar ucapan Eza, terutama Abidzar karena dia tidak tahu sang pacar dan sahabatnya berselingkuh.


"Jinan, biarkan dia menjelaskan semuanya," ucap Abidzar.


Jinan terpaksa diam sambil memeluk ayahnya, dan pria itu hanya diam sambil menyimak apa yang terjadi.


"Kalau semuanya tidak percaya, saya akan memperlihatkan video kami tidur bersama," ucap Eza sambil memperlihatkan ponselnya.


Abidzar tersenyum, karena dia yakin sekali tidak meniduri Jinan dan tidak berbuat dosa.


"Astaghfirullah," ucap Anto.


Pria itu sangat tidak percaya kalau Jinan sudah berbuat dosa dengan sengaja, apa lagi sampai bersama dua pria sekaligus.


"Semuanya tidak benar!" teriak Jinan.

__ADS_1


Ayah Jinan melihat video itu, dan merasa malu karena sang anak sudah berbuat dosa besar. Sehingga dia menikahkan anaknya dengan Eza, detik itu juga.


BERSAMBUNG.


__ADS_2