Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Berkorban Sedikit


__ADS_3

Juminten bercerita pada sang suami kalau anak mereka tengah mengandung, dan Anto berniat akan mengadakan syukuran agar kandungan Cahaya sehat.


"Kita tunggu besan kita sampai dulu, baru kita adakan syukuran kehamilan Cahaya, Abi." Juminten berucap dengan sangat bergembira.


Anto tersenyum dan memeluk sang istri, karena ia tidak percaya akan segera menimang cucu. Padahal, baru kemarin dia menimang Cahaya.


"Terserah sama Ummi saja, abi ikut," jawab Anto dengan gembira.


Mereka berdua menyusun rencana syukuran yang akan di adakan di rumah, bersama para santri di sana untuk mendoakan kehamilan Cahaya.


'Ya Allah, semoga Cahaya dan calon anaknya selalu sehat dan di berikan kelancaran sampai bersalin nanti,' doa Anto dalam hatinya.


. . .


Toyib dan Inem sangat gembira saat mendengar kabar sang menantu hamil, dan mereka akan langsung menghampiri sang anak malam ini juga.


Sebab, suami-istri itu sudah tidak sabar melihat menantu mereka yang tengah mengandung, juga tidak sabar mengadakan syukuran di sana.


"Abah, jangan ngebut! Hati-hati saja!" pinta Inem pada sang suami.


Toyib langsung menghentikan laju mobilnya, karena dia merasa gugup dan meminum air putih agar gugupnya hilang.


"Maafkan abah, ya Ummi?" ucap Toyib dengan gugup.


Pria itu melanjutkan kembali perjalanannya dengan perlahan, karena dia takut terjadi sesuatu padanya dan sang istri.


"Iya, Abah." Inem menjawab dengan sangat lembut.


Selama di perjalanan, mereka terus-menerus bercerita kalau sang cucu sudah terlahir maka wajahnya akan mirip siapa?


Tiga jam kemudian ...


Inem dan Toyib baru saja tiba di pondok pesantren milik Anto, dan mereka langsung di sambut hangat oleh pada anggota keluarga Anto.


"Assalamualaikum saudara ku!" Toyib langsung memeluk sang sahabat, yang sekarang sudah menjadi besan.


"Waalaikumsalam," jawab Anto dengan lembut.


Abidzar dan Cahaya hanya bisa tersenyum melihat kedua orang tuanya seperti kakak dan adik, yang sudah lama tidak bertemu. Padahal, mereka sering bertemu.


"Assalamualaikum Ummi," ucap Cahaya dengan lembut.


Gadis itu mencium tangan mertuanya dan Inem tersenyum bahagia kemudian memeluk Cahaya.


"Waalaikumsalam," jawab Inem dengan lembut dan meneteskan air mata.

__ADS_1


Juminten hanya tersenyum dengan haru saat melihat sang besan memeluk anaknya, sama sepertinya tulus.


'Ya Allah, hamba sangat bahagia Cahaya bisa mendapatkan mertua yang baik seperti Inem,' batin Juminten dengan lirih.


"Ayo semuanya masuk!"


Semua masuk ke dalam dan duduk di sofa, sambil melanjutkan kembali cerita mereka yang tertunda tadi.


"Sebaiknya Cahaya masuk ke dalam dan beristirahat. Kami masih lama mengobrol di sini," ucap Inem dengan lembut.


Cahaya tersenyum dan pamit undur diri bersama dengan Abidzar, karena mereka sudah lelah dan ingin beristirahat.


Setelah kepergian Cahaya dan Abidzar, mereka melanjutkan kembali cerita mereka di masa lalu. Saat kedua anaknya masih kecil dan sampai sekarang sudah menikah.


Waktu terasa cepat sekali berlalu, tidak terasa Abidzar dan Cahaya akan segera memiliki keturunan.


. . .


Di dalam kamar, Jinan terus-menerus muntah sejak pagi tadi, sehingga dia lemas dan tidak bisa berbuat apa-apa.


"Ya ampun, apa seperti ini rasanya jadi seorang ibu!" geram Jinan.


Gadis itu merasa ingin mengugurkan kandungannya, karena tidak sanggup harus muntah dan mual selama sembilan bulan.


Namun, ia urungkan niatnya karena ingin mendapatkan Abidzar kembali, dan ia hanya perlu berkorban sedikit.


Gadis itu tidak sabar menunggu hari demi hari, karena dia akan menikah dengan Abidzar dan menyingkirkan Cahaya dari sang kekasih hati.


. . .


Acara yang di nanti-nanti akhirnya tiba, hari ini acara syukuran kehamilan Cahaya di adakan dengan sederhana. Namun, mengandung doa yang banyak dari para santri di sana.


Jinan kesal melihatnya, karena dia berpikir seharusnya dia yang ada di posisi Cahaya. Sebab, ia juga sedang mengandung.


'Berbahagialah mbak, karena kamu bakalan menderita setelah ini!' geram Jinan dalam hatinya.


Jinan tidak ada habisnya iri pada Cahaya, karena dia menginginkan hal yang sama seperti gadis itu rasakan.


Setelah acara selesai, semua santri pergi dan tinggalah para keluarga di dalam sana bersama Jinan juga. Sebab, gadis itu ingin membuat Abidzar semakin takut dan cepat menikahinya.


"Kita hanya tinggal menunggu Kak Fatimah saja," canda Mentari.


Fatimah tersipu malu, karena dia juga menginginkan hal yang sama seperti Cahaya, bisa mengandung dengan cepat.


"Kita doakan saja," sahut Awan dengan bergembira.

__ADS_1


Abidzar dan Cahaya tersenyum, karena Meraka tahu apa yang sedang di rasakan oleh pengantin baru itu.


"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar," ucap Toyib dengan bergembira.


"Alhamdulillah," jawab Anto.


Keuda pria itu bertukar cerita masing-masing, sehingga semua yang ada di sana menjadi pendengar setia.


Jinan mencuri-curi kesempatan, memandang Abidzar dan pria itu mengetahui, sehingga dia berpura-pura tidak melihat. Sebab, ia takut keluarganya tahu scandal bersama Jinan.


'Ya Allah, semoga hamba bisa segera mendapatkan jalan ke luar,' doa Abidzar dalam hatinya.


Jinan semakin genit mengedipkan sebelah mata, dan pada saat itu juga Mentari melihatnya dan semakin curiga.


'Aku yakin sekali, kalau ular itu suka pada Mas Abidzar dan mereka memiliki hubungan,' batin Mentari.


Setelah selesai bercerita, Toyib merasa malu, karena ia bercerita masa mudanya saat bertemu dengan Inem dan menikah.


"Wah, ternyata Paman dan Bibi sangat romantis dulu sampai sekarang, sama seperti Abi dan Ummi," ucap Mentari dengan polos.


Membuat Juminten tersipu malu, karena dia tidak pernah bertengkar dengan sang suami dari dulu sampai saat ini.


"Abah berharap, agar Abidzar dan Cahaya bisa bersama selamanya dan selalu mesra," sahut Toyib.


"Aamiin!" jawab semua orang dengan serempak.


Membuat Toyib tersenyum, karena semua orang bisa mendoakan hubungan anaknya. Sedangkan Jinan hanya berputar-putar tersenyum.


'Itu tidak akan bertahan lama, karena aku akan menghancurkan hubungan mereka. Sebab, pencuri itu harus di berikan balasan yang setimpal,' batin Jinan licik.


Jinan masih saja, menganggap kalau Cahaya mencuri Abidzar darinya. Padahal, gadis itu sama sekali tidak tahu apa-apa tentang hubungan mereka.


Tiba-tiba, Jinan merasa mual dan langsung berlari menuju kamar mandi memuntahkan isi perutnya.


Huek ... huek ...


Semua orang yang ada di sana saling menatap satu sama lain, karena melihat Jinan muntah.


"Apa Jinan sakit?" tanya Fatimah dengan cemas.


Gadis itu bergegas menghampiri Jinan, dan membantu sang sahabat muntah sampai selesai. Sedangkan yang lain hanya diam dan menerka-nerka.


'Tidak mungkin Jinan hamil, karena kami baru melakukan hal itu, 'kan?' batin Abidzar sambil berpikir.


Juminten menghampiri Jinan dan membantu gadis itu duduk di sofa, kemudian memberikan air putih.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2