Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Tertabrak


__ADS_3

Abidzar pulang dengan tergesa-gesa, karena dia ingin memberikan kabar gembira itu pada Cahaya. Namun, saat ia hendak memutar balik motornya. Ada sebuah Truk yang menyenggol motornya membantu pria itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


Bruk!


Rumah Toyib ...


Pyaar!


Cahaya terkejut karena dia menjatuhkan gelas, dan tiba-tiba saja hatinya cemas tidak karuan.


"Astaghfirullah, semoga tidak ada hal buruk yang terjadi," ucap Cahaya lirih.


Gadis itu duduk di bangku, sambil menenangkan hatinya. Inem menghampiri sang menantu di meja makan dan duduk di bangku.


"Ada apa, Nak?" tanya Inem cemas.


Karena dia melihat Cahaya terlihat lemas, entah kenapa, dia juga tidak tahu apa yang membuat menantunya bersedih.


"Tidak ada Ummi, tiba-tiba saja! Perasaan Cahaya tidak menentu seperti ini," jawab Cahaya.


Inem diam, karena dia juga merasakan hal yang sama seperti Cahaya. Namun, ia tidak tahu mengapa perasaan cemas itu datang.


"Sudahlah, sebaiknya kamu istirahat. Bayi kamu juga butuh istirahat," ucap Inem dengan lembut.


Cahaya tersenyum dan mengikuti keinginan sang mertua, kemudian bergegas pergi dari sana masuk ke dalam kamarnya.


"Ya Allah, semoga mas Abidzar tidak apa-apa," doa Cahaya.


Cahaya terkejut saat pintu kamarnya di buka tiba-tiba oleh Mentari, dan dia langsung mengelus dada.


"Astaghfirullah Mentari!"


Mentari tertawa dan menghampiri sang kakak, kemudian duduk di samping Cahaya dengan perlahan.


"Maaf Mbak, soalnya Mentari cariin tidak ada sih," ucap Mentari dengan lembut.


Cahaya hanya diam, karena gelisah hatinya semakin mengusiknya. Mentari tahu sang kakak tengah bersedih dan dia mencoba untuk bertanya.


"Ada masalah Mbak? Kenapa, terlihat gelisah dan sedih?" tanya Mentari.


Cahaya menggelengkan kepala, dan menidurkan tubuh. Sebab, tiba-tiba saja perutnya mual dan kepalanya terasa pusing.


"Kalau tidak ada apapun, kenapa Mbak bersedih dan cemas?" tanya Mentari lagi.


Karena dia khawatir kenapa sang kakak hanya diam tidak menjawab pertanyaannya, malah memilih tidur.


"Tidak ada Mentari, hanya perasaan tidak menentu saja," jawab Cahaya dengan lembut.

__ADS_1


Mentari bergegas pergi dari sana, karena sang kakak sedang tidak ingin di ganggu. Namun, dia penasaran apa yang membuat Cahaya cemas dan bersedih.


"Sudahlah, mungkin ada sesuatu yang tidak bisa di ceritakan oleh mbak Cahaya, karena rahasianya," gumam Mentari sambil berjalan.


...


Abidzar membuka mata, dan melihat dirinya ada di rumah sakit. Pria itu bangun sambil memegang kepala yang terasa sangat sakit.


"Ya Allah apa yang terjadi?" Abidzar bertanya-tanya, karena dia lupa apa yang sudah terjadi.


Seorang dokter datang memeriksa keadaan Abidzar, dan pria itu hanya diam tidak membantah.


"Kamu sudah boleh pulang, silahkan bersiap-siap," ucap dokter tersebut.


Abidzar tersenyum dan berkata, "Terimakasih Dok."


Dokter itu tersenyum sambil melepaskan jarum infus dan lainnya, kemudian bergegas pergi dari sana.


"Aku ingat kejadian tadi," ucap Abidzar.


Pria itu ingat kalau dia tadi di serempet oleh Truk besar dan terjatuh, membuatnya terluka ringan. Alhamdulillah ia tidak terluka parah.


"Aku harus segera pulang, karena pasti mbak Cahaya nungguin aku." Abidzar bergegas bangun dan pergi dari sana.


Namun, dia tidak tahu di mana sepeda motornya berada di mana? Karena, tadi dia pingsan tidak ingat apapun.


"Di mana motorku?" Abidzar mengelilingi parkiran, dan melihat motor yang hampir ringsek di parkiran. Kemudian dia menghampirinya.


Setelah sampai di rumah, Abidzar teringat kalau dia tidak membayar rumah sakit dan dia langsung masuk ke dalam.


"Assalamualaikum!"


Abidzar masuk dan duduk di sofa. Inem sedang memasak makan siang dan langsung menghampiri sang anak.


Betapa terkejutnya dia melihat sang anak luka-luka, walaupun tidak parah.


"Astaghfirullah, ada apa Nak?'' Inem menghampiri sang anak dan duduk di samping Abidzar.


Abidzar tersenyum, kemudian memegang tangan sang Ummi agar tidak cemas akan keadaan nya.


"Ummi, tadi Abidzar cuma terjatuh," jawab Abidzar dengan lembut.


Inem menghela nafas panjang, karena dia cemas akan keadaan sang anak. Namun, Abidzar masih berkata baik-baik saja.


"Ummi cemas sama kamu, kenapa tidak tidak berhati-hati saat berkendara!" ucap Inem kesal.


Abidzar tersenyum, karena sang ummi sangat cemas akan keadaan nya. Namun, kali ini dia memang baik-baik saja.

__ADS_1


"Coba Ummi lihat, keadaan Abidzar sekarang," jawab Abidzar lembut.


Inem menatap wajah sang anak, dan terlihat baik-baik saja. Barulah dia tenang dan lega.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Inem dengan lega.


Abidzar bergegas pergi dari sana, karena dia ingin menyampaikan kabar gembira tadi pada Cahaya.


Setelah sampai di dalam, dia langsung menghampiri sang istri yang tengah tertidur pulas.


"Assalamualaikum sayang," ucap Abidzar dengan lembut.


Cahaya bangun dan terkejut melihat sang suami luka-luka di sekujur tubuhnya. Bahkan, wajahnya terlihat jelas luka.


"Mas, apa yang terjadi?!" tanya Cahaya dengan cemas.


Gadis itu langsung duduk di samping sang suami, dan melihat setiap luka-luka itu yang masih basah.


"Tadi mas terjatuh," jawab Abidzar.


Cahaya menitihkan air mata, dan memeluk sang suami, karena dia sedih melihat keadaan Abidzar yang terluka walaupun tidak parah.


"Tapi, tetap Mas harus berhati-hati walaupun hanya luka ringan. Mulai besok jangan ngebut kalau bawa motor," ucap Cahaya lirih.


Abidzar tersenyum dan mencium tangan sang istri, karena begitu peduli padanya dan sangat sayang. Terlihat ada cerewetnya Cahaya.


"Baik, Ratu ku." Abidzar berucap dengan lembut membuat Cahaya luluh.


Abidzar mencium puncak kepala sang istri, kemudian menceritakan semua pada Cahaya, kalau dia sudah bekerjasama dengan perusahaan yang akan membuat namanya naik daun.


"Alhamdulillah Mas, kalau begitu kita akan menetap di sini?" ucap Cahaya dengan bergembira.


"Iya, dan flm pertama ini adalah kisah kita berdua yang di jodohkan," jawab Abidzar.


Cahaya senang karena kisahnya akan menjadi flm, dan juga sang suami bisa mengejar cita-cita yang sejak lama di impikan.


'Alhamdulilah keinginan Mas Abidzar tercapai, aku senang dia bisa membuktikan kalau seorang penulis itu luar biasa,' batin Cahaya.


Abidzar mengelus-elus perut Cahaya yang masih rata dan dia juga mengajak sang anak berbicara, karena dia senang di umur yang masih muda akan menjadi seorang ayah.


"Alhamdulillah semua yang Allah berikan sangat luar biasa, memberikan istri yang baik dan calon anak juga karir yang bagus," ucap Abidzar penuh syukur.


"Alhamdulillah," jawab Cahaya.


Cahaya juga senang karena sang suami sangat bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah, karena Alla tidak akan menguji manusia di atas kemampuan manusia itu.


Percayalah setelah ada badai akan ada pelangi, seperti apa yang di alami oleh Abidzar. Berbulan-bulan menahan cobaan dari Allah di fitnah menghamili wanita dan membuat rumah tangganya hampir hancur.

__ADS_1


Sekarang, Alhamdulillah sudah selesai dan dia melanjutkan hidup bersama sang istri dengan bahagia.


BERSAMBUNG.


__ADS_2