Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Bab 48


__ADS_3

Setelah selesai berbicara, Putra berpamitan pulang karena tidak enak kalau dia berlama-lama di rumah Abidzar. Sebab, ia dan Mentari belum menikah.


"Assalamualaikum," ucap Putra saat di depan pintu.


"Waalaikumsalam," jawab Mentari dengan lembut.


Putra bergegas pergi dari sana, karena dia tidak ingin membuat Mentari tidak enak kalau dia terlalu lama di sana. Sebab, ia ingin Mentari jatuh hati padanya dan mencintainya.


'Semoga saja, penantian ku indah pada waktunya,' batin Putra.


Putra mengemudikan motornya dengan perlahan, dan dia melihat setiap jalanan yang ramai orang berlalu lalang di sana.


"Andai saja umurku sudah dewasa, sudah pasti aku akan menikahi Mentari," ucap Putra dengan penuh harapan.


Pria itu benar-benar tidak sabar menunggu dua tahu lagi, ia dia takut Mentari akan di ambil orang lain dan dia hanya bisa bersama luka.


. . .


Keesokan paginya . . .


Mentari sudah bersiap-siap pergi ke kantor, karena di sana pekerjanya sudah sangat menumpuk. Sebelum pergi, ia sudah membersihkan rumah agar sang kakak tidak mengerjakan apapun lagi.


Sebab, dia kasihan kalau sang kakak bekerja dalam keadaan mengandung seperti itu, karena dia tahu seperti apa rasanya membawa perut berat.


Kini gadis itu sudah tiba di kantor, dan langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya. Kemudian dia mengerjakan satu persatu kerjaannya.


Saat tengah memeriksa berkas-berkas, pintu ruangannya terbuka dan ternyata Exel yang membuka.


Mentari terkejut, saat melihat wajah Exel yang masih mulus dan percaya kalau pria yang ada di sana adalah tuju kembar sang bos.


Gadis itu sekarang percaya, kalau memang manusia memiliki tuju kembaran di dunia ini. Sebab, pria yang ia temui di desa sangat mirip Exel.


"Bagaimana dengan acaranya?" tanya Exel dengan lembut.


Pria itu memberikan satu berkas lagi, dan semakin menumpuk berkas yang ada di mejanya.


"Alhamdulillah semuanya lancar," jawab Mentari dengan lembut.


Exel tersenyum, karena dia senang mendengar acara pertunangan Mentari dan Putra berjalan dengan lancar tanpa ada halangan sedikitpun.


"Kalau begitu, silahkan melanjutkan pekerjaan yang menumpuk," ucap Exel dengan lembut.


Pria itu bergegas pergi dari sana, karena dia tidak ingin menganggu pekerjaan Mentari yang lumayan banyak.

__ADS_1


. . .


Jinan tersenyum, karena dia mendapat susu dari Eza walaupun pria itu sudah pergi dari rumah karena ia lambat bangun.


"Kenapa aku senang mendapatkan susu dari Eza? Padahal, dia memberikan ini untuk anaknya bukan aku," ucap Jinan dengan bingung.


Entahlah, yang pasti beberapa Minggu ini dia benar-benar menyukai Eza dari segi manapun sehingga dia tidak pernah lagi marah.


'Tidak mungkin aku mencintainya,' batin Jinan.


Jinan langsung menghabiskan susu dari sang suami, kemudian dia bergegas mandi dan bersiap-siap. Sebab, ia akan datang ke kampus sang suami dan menjemputnya.


Walaupun hamil, Jinan masih sanggup kendarai mobil karena dia tahu Eza tidak akan berani membawa mobilnya. Sebab, pria itu hanya berani membawa mobil sang ayah.


Sebab itu, dia berniat akan menjemput sang suami di kampus. Setelah sampai, Jinan hanya di dalam mobil sambil menatap ke arah kampus.


"Apa masih lama ya?" ucap Jinan sambil melirik jam tangannya.


Tak berselang lama, akhirnya Eza ke luar bersama teman-temannya, dan ia menyadari kalau mobil sang istri ada di depan kampus.


'Aku tidak salah, karena itu adalah mobil Jinan,' batin Eza.


Pria itu langsung menghampiri mobil sang istri dan mengetuk kaca mobil. Jinan langsung membuka pintu dan Eza langsung masuk ke dalam.


"Kamu kok ada di sini?" tanya Eza dengan penasaran.


"Iya, aku sengaja ingin menjemput ku. Mungkin, ini adalah keinginan anakmu," jawab Jinan dengan senyuman manisnya.


Eza langsung tersenyum, karena sang anak sangat baik padanya mau menjemputnya. Padahal, itu hanya alasannya saja.


"Anak papa baik banget." Eza langsung mencium perut Jinan.


Membuat gadis itu tersenyum bahagia, karena hal ini yang diinginkan sejak tadi.


Eza juga mengelus perut sang istri dengan lembut, kemudian mereka bertukar posisi. Sebab, pria itu ingin membawa mobil.


"Lain kali, kamu jangan bawa mobil! Kasihan anak kita nantinya," ucap Eza.


Jinan tersenyum bahagia, karena Eza benar-benar sangat perhatian padanya. Walaupun hal hanya untuk sang anak yang masih ada di dalam kandungannya.


'Dia sangat menyayangi anaknya,' batin Jinan.


Eza langsung mengemudikan mobil menuju rumah, karena dia ingin Jinan beristirahat dengan cukup. Sebab, dia tidak ingin hal buruk terjadi pada sang anak.

__ADS_1


. . .


Setelah sore hari, pekerjaan Mentari belum juga usai. Sehingga dia harus membawanya pulang, karena dia masih banyak pekerjaan yang belum di kerjakan juga.


"Sudahlah, mungkin malam ini aku harus lembur di rumah. Sebab, besok aku harus membantu Abidzar mengirimkan buku-buku di beberapa daerah," ucap Mentari.


Gadis itu langsung memasukan semua berkas-berkas yang akan dikerjakan malam ini, ke dalam tas besar karena jumlahnya lumayan banyak. Padahal, sudah dibantu oleh Exel juga.


Saat dia ada di luar, terlihat Putra ada di depan yang sudah pasti pria itu tengah menunggunya.


"Aku harus menjawab apa ya?" ucap Mentari dengan bingung.


Sebab, dia tahu kalau Pria itu akan mengajaknya untuk pulang bersama.


"Mentari!" panggil Putra.


Pria itu langsung menghampiri sang pujaan hatinya, kemudian mengajaknya pulang bersama dan Mentari menolak.


Namun, hari sudah sore dan tidak ada lagi kendaraan sehingga dia harus naik motor bersama Putra.


Setelah naik, Putra langsung mengemudikan motor dengan perlahan karena dia takut terjadi sesuatu pada mereka berdua.


"Mentari, kalau boleh aku tahu. Apakah itu pekerjaan kamu?" tanya Putra dengan hati-hati.


"Iya, karena kemarin aku libur panjang. Jadi, masih banyak sekali pekerjaan," jawab Mentari dengan lembut.


Putra senang, karena dia bisa berbicara dengan Mentari walaupun mereka duduk berjauhan.


"Apa boleh aku membantu mu?" tanya Putra dengan lembut.


Mentari menolak, karena pekerjaan ini sengat rahasia, dan Putra mengerti karena tadi, dia hanya ingin membantu sang pujaan hati.


Setelah sampai di apartemen, Mentari langsung masuk ke dalam sedangkan Putra juga bergegas pergi dari sana.


"Kasihan sekali dia, harus bekerja keras karena acara pertunangan kami," ucap Putra dengan lirih.


Rasanya dia sudah tidak sabar lagi untuk menafkahi Mentari. Namun, waktunya belum tepat dan dia harus lebih sabar menunggu.


. . .


Mentari masuk ke dalam kamarnya dan bergegas mandi, setelah selesai, gadis itu langsung memeriksa berkas-berkas sambil menunggu adzan berkumandang.


"Aku rasa Putra adalah pria baik, karena dia tidak mau mengambil kesempatan saat kami di motor tadi," ucap Mentari dengan lembut.

__ADS_1


Gadis itu senang, karena Putra sama seperti yang di ceritakan oleh Abidzar kalau sang tunangan sangat baik dan sopan.


BERSAMBUNG.


__ADS_2