
Mentari akan pulang ke kota hari ini, dan kini ia tengah mengemasi barang-barang. Setelah itu, dia bergegas pergi dari dalam kamar menghampiri sang Abi dan ummi di ruang tamu.
Gadis itu memeluk sang ummi dan abi secara bergantian, dengan sangat sedih karena mereka akan terpisah, tidak tahu kapan akan bertemu. Yang pasti akan lama.
"Ummi, Abi, Mentari kembali bekerja ya?" ucap Mentari dengan lembut dan lirih.
Juminten menangis karena dia sedih sang anak akan pergi, wanita paruh baya itu mencium wajah Mentari dengan sangat lembut.
"Kami hanya berpesan, jangan tinggalkan shalat, dan menjaga jarak dari Putra, karena kalian hanya bertunangan," pesan Anto dengan sangat lembut.
Mentari menganggukkan kepala karena dia pasti akan menuruti keinginan sang Abi. Sebab, bukan kali ini dia pergi jauh dari mereka.
"Abi dan Ummi, jangan khawatir karena Mentari akan selalu ingat pesan Abi sama Ummi," jawab Mentari dengan lembut.
Juminten tersenyum dan Anto juga, karena mereka sangat senang sang anak bisa mengerti dan tidak membantah sedikitpun.
"Kalua begitu, Mentari pergi dulu, Ummi, Abi," ucap Mentari dengan lembut.
Gadis itu bergegas pergi dari sana dan di antara sampai depan oleh orang tuanya. Sebelum masuk ke dalam mobil, Mentari mencium tangan sang ummi dan abi.
"Assalamualaikum," ucap Mentari dengan lembut.
"Waalaikumsalam," jawab Anto dan Juminten bersamaan.
Mentari masuk ke dalam mobil dan supir melajukan mobil dengan perlahan dari sana, dan Juminten mulai menangis tersedu-sedu. Sebab, anak-anak pergi meninggalkannya di sini sendiri.
Walaupun ada Fatimah dan Awan, Juminten tetap merasa sedih, karena sang anak masih belum lengkap seperti biasanya.
"Sudahlah jangan menangis, karena anak-anak kita memang akan pergi bersama suaminya," ucap Anto dengan lembut.
Karena dia tahu, seperti apa perasaan sang istri saat ini. Sebab, dia juga merasakan hal yang sama.
"Iya Abi, ummi mencoba menerima semua ini," jawab Juminten dengan lembut.
Mereka berdua masuk ke dalam dan mengerjakan tugas masing-masing, sebagai pemilik pondok pesantren.
. . .
Mentari bersedih karena dia tahu seperti apa perasaan sang ummi tadi. Namun, dia tidak mau ambil pusing dan berdoa agar kedua orang tuanya diberikan kesehatan selalu.
"Sebenernya aku juga sedih. Tapi, bagaimana lagi aku ingin mengejar impian ku sebelum menjadi seorang istri," ucap Mentari dengan lirih.
Gadis itu menutup matanya dan membayangkan kalau dia akan menjadi seorang CEO, dan ia langsung teringat uang Exel masih ada padanya.
__ADS_1
'Ya Allah, aku baru ingat kalau uang pak Exel masih ada bersamaku,' batin Mentari.
Gadis itu berniat akan menyerahkan uang tersebut sebelum dia menikah, karena setelah menjadi seorang istri. Mentari tidak akan bekerja di manapun.
Setelah sampai di apartemen, Mentari langsung bergegas masuk karena dia ingin beristirahat. Sebab, besok akan kembali bekerja.
"Assalamualaikum Mbak," ucap Mentari dengan lembut.
"Waalaikumsalam," jawab Cahaya sambil membersihkan debu-debu di ruang tamu.
Mentari langsung bergegas masuk ke dalam kamar dan Cahaya hanya diam, karena tahu sang adik pasti lelah abis melewati berjalan yang lumayan jauh.
"Pasti dia lelah, sebaiknya aku siapkan semua makan malam karena akan ada Putra makan di sini," ucap Cahaya.
Gadis itu langsung bersiap masak untuk makan malam, karena Putra akan makan bersama. Sebab, ingin bicara dengan Mentari malam ini.
Tanpa sepengetahuan Mentari, karena mereka ingin memberikan kejutan pada gadis itu.
. . .
Putra bergegas pulang dari tempat kerjanya, dan berhenti di salah satu tokoh kue yang terkenal enak. Kemudian dia membeli kue kesukaan Mentari.
Ya, Putra bertanya pada Abidzar apa kesukaan Mentari dan Abidzar bertanya pada Cahaya, kemudian memberitahu pria itu lagi.
"Pasti Mentari akan suka," ucap Putra dengan senyuman manisnya.
Setelah sampai, dia langsung masuk ke dalam dan mengetuk pintu apartemen tersebut. Tak berselang lama akhirnya pintu terbuka.
"Assalamualaikum Mbak," ucap Putra dengan lembut.
"Waalaikumsalam," jawab Cahaya dengan lembut.
"Ayo masuk!" ucap Cahaya.
Putra masuk ke dalam dan melihat Abidzar sudah santai bermain ponsel di sofa, dan dia langsung menghampiri sang sahabat.
"Zar, elo enak banget udah main ponsel aja. Gue malah baru pulang kerja," ucap Putra dengan lirih.
Abidzar langsung tersenyum, karena dia juga baru saja sampai dan langsung bermain ponsel.
"Oh, di mana Mentari? Gue bawa ini." Putra memperlihatkan kota kue pada Abidzar dan pria itu tersenyum.
"Terimakasih banyak, karena elo memang baik sama gue," ucap Abidzar yang hendak mengambil kue tersebut.
__ADS_1
Namun, Putra melarangnya, karena kue ini untuk Mentari bukan Abidzar, membuat pria itu mengendus kesal.
"Lain kali, bawa buat gue juga," ucap Abidzar dengan kesal.
"Iya," jawab Putra dengan lembut.
Mereka kembali bercerita bersama sampai Adzan Magrib berkumandang, dan mereka berdua melaksanakan shalat berdua.
Sedangkan Mentari dan Cahaya shalat di kamar masing-masing. Setelah shalat, Mentari bersiap karena ada Putra di luar.
Setelah memakai jilbab, Mentari ke luar dan duduk di sofa sambil menunggu Putra dan Abidzar membaca doa.
'Alhamdulilah, ternyata Putra adalah pria baik dan Sholeh, dia berdoa apa ya?' batin Mentari sambil berpikir.
Putra tersenyum dan menghampiri Mentari kemudian memberikan kota kue pada gadis itu.
"Terimakasih banyak," ucap Mentari dengan lembut.
"Terimakasih saja, jangan pakai banyak juga," ucap Putra dengan senyuman manisnya.
Mentari tersenyum dan mengulang kembali ucapannya, dan mereka semua bergegas untuk makan malam bersama.
Sepanjang makan, Putra terus melihat Mentari karena ini kali pertamanya bisa melihat wajah gadis itu.
'Masya Allah, dia benar-benar sangat tenang di pandang,' batin Putra.
Abidzar menyadari kalau Putra tersenyum sambil menatap Mentari, dan dia jahil menendang kaki sang sahabat.
'Awas elo Lek, nanti gue bakalan bales elo!' geram Putra.
Karena, dia tahu Abidzar yang menendang kakinya, karena pria itu tersenyum sambil meliriknya.
Setelah makan malam selesai, semua duduk di sofa dan Mentari membawakan kue dan jus untuk mereka makan.
"Silakan di makan semuanya," ucap Mentari dengan lembut.
"Mentari, apakah kita boleh berbalas pesan?" tanya Putra dengan terus terang.
Sebab, dari semalam pesannya tidak di balas oleh gadis itu maka-nya dia bertanya langsung.
"Lebih baik, kalau kita menjaga jarak, karena kita hanya bertunangan. Sebenarnya juga itu tidak boleh, lebih baik kalau menikah. Tapi, aku belum siap karena umur kamu masih sangat mudah," jawab Mentari.
Putra mengerti maksud dan keinginan Mentari, sehingga dia harus lebih sabar agar sang pujaan menjadi miliknya.
__ADS_1
Sedangkan Abidzar dan Cahaya, asik meminum jus dan makan kue dari Putra tadi tanpa melihat sepasang kekasih itu.
BERSAMBUNG.