Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Meminta Hak


__ADS_3

Putra dan Abidzar duduk di taman, setelah pelajaran usai dan mereka saling bertukar cerita. Abidzar menceritakan semua pada sang sahabat, membuat Putra terkejut mendengar temannya itu sudah menikah.


"Elo emang deh, gara-gara merokok jadi nikahi wanita. Mana bercadar lagi," ucap Putra sambil menatap wajah Abidzar dengan sangat dalam.


Abidzar tersenyum, karena dia tidak bisa menceritakan betapa cantiknya sang istri. Pria itu teringat pada sang pacar yang belum ia kasih kabar apapun.


"Put, kalau elo pulang atau pegang ponsel, gue pengen ngomong sama Jinan. Soalnya gue mau putusin dia," ucap Abidzar dengan sangat pelan.


Karena dia tidak mau sampai ada yang mendengarkan ucapannya barusan, dan Putra menganggukan kepala tanda setuju.


"Elo tenang aja, gue pasti bantuin elo," ucap Putra dengan sangat lembut, dan Abidzar tersenyum bahagia.


'Ya Allah, semoga hamba tidak melukai hati wanita,' batin Abidzar.


Pria itu sangat takut kalau melukai hati sang pacar. Namun, dia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa saat sang Abah memintanya untuk menikahi Cahaya.


.


.


.


Satu Minggu kemudian . . .


Abidzar dan Cahaya sudah semakin dekat, karena satu sama lainnya saling menerima dan mencoba untuk menjadi yang terbalik.


Kini kedua pasangan itu tengah melaksanakan shalat subuh berjamaah, karena Cahaya sudah bisa shalat kembali setelah tamu bulanya pulang.


Setelah selesai, Cahaya mencium tangan Abidzar dan pria itu tersenyum bahagia karena melihat wajah sang istri yang sangat dingin di kandang.


"Masya Allah, wajah Mbak enak banget dipandang. Hati jadi tenang dan tentram," ucap Abidzar dengan sangat lembut.


Cahaya tersenyum manis, karena pujian dari Abidzar sehingga wajahnya memerah dan dia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Kok di tutup?" tanya Abidzar saat melihat Cahaya menutup wajah.


Cahaya bergegas bangun dan tangannya ditarik oleh Abidzar, membuat gadis itu terjatuh di atas tubuh sang suami.


Kedua pasangan mata itu saling mengagumi masing-masing, dan mereka berdua sadar langsung menjauh.


"Maaf Mbak, tadi saya tidak sengaja membuat Mbak terjatuh," ucap Abidzar dengan sangat lembut.


Cahaya tersenyum dan berkata, "Tidak apa, jangan merasa bersalah seperti itu!"

__ADS_1


Abidzar tersenyum, dan dia menarik tangan Cahaya kembali dan masuk ke dalam pelukannya. Kemudian pria itu mencium pipi sang istri dengan sangat lembut.


Cahaya terdiam karena ini kalau pertamanya di cium pria dan jantungnya seakan berhenti berdetak, karena jarak mereka yang sangat dekat seperti saat ini.


'Apa Abidzar meminta hak seorang suami?' batin Cahaya.


Abidzar hanya mencium wajah Cahaya, karena dia tidak akan meminta haknya. Sebab, pria itu masih polos tidak mengerti apa-apa tentang malam pertama dan cara melakukannya.


'Sebenarnya malam pertama itu apa sih? Kok, saya sama Mbak Cahaya tidak merasakannya?' batin Abidzar penuh tanya.


Abidzar memang tidak pernah tau menahu soal hal hal berbau ****. Dia nakal, namun tidak untuk hal seperti itu.


Kalau saja dia memegang ponsel, sudah pasti langsung bertanya pada Mbah Google apa itu malam pertama dan seperti apa melakukannya.


"Mas, ini sudah pagi. Sebaiknya kita bersiap karena hari ini kamu akan kuliah," ucap Cahaya dengan sangat lembut.


Abidzar tersadar dan melepaskan pelukannya, kemudian bergegas mengunakan seragam pesantren khas anak kuliahan, begitu juga dengan Cahaya yang bersiap-siap memakai cadar dan lainnya.


Karena, dia ingin menyiapkan sarapan untuk sang suami. Lucu saja rasanya saat dia mengajar di kelas sang suami, dan memberikan pelajaran seperti guru pada anak muridnya.


.


.


.


Selama makan, semua orang hanya diam saja sampai selesai barulah mereka mulai bersuara.


"Cahaya, Abidzar. Minggu depan libur sekolah selama satu Minggu. Abi ingin kalian berbulan madu," ucap Anto dengan sangat lembut.


Abidzar dan Cahaya saling menatap satu sama lainnya, karena mereka sangat canggung harus berlibur berdua dan berbulan madu.


"Tapi Abi," ucap Cahaya dan Anto mengibaskan tangannya, yang artinya sang anak di larang berbicara dan menantang ucapannya.


'Ya Allah, semoga hamba bisa menjadi suami yang baik untuk Mbak Cahaya dan menafkahinya,' batin Abidzar.


Pria itu sebenernya memiliki pendapatan. Namun, setelah masuk pesantren dia tidak bisa melanjutkan usahanya itu.


Akan tetapi, uang yang selam ini dia simpan masih ada dan lumayan banyak cukup untuk menafkahi sang istri.


"Kita berlibur ke kota saja bagaimana? Tapi, di sana kita menginap di hotel jangan tinggal bersama abah," ucap Abidzar sambil menatap ke arah Cahaya.


"Benar itu," sahut Anto yang sangat setuju dengan usul Abidzar.

__ADS_1


Cahaya menganggukan kepala tanda setuju dan Abidzar tersenyum, karena sang istri tidak membantah sedikitpun pada keputusan yang diambil.


'Ya Allah, ternyata sangat bahagia memiliki istri yang tidak melawan sedikitpun pada keputusan ku,' batin Abidzar.


Pria itu benar-benar sangat bahagia karena Cahaya adalah istri yang tebaik di muka bumi ini.


. . .


Cahaya mengajar di kelas Abidzar, karena ustadz Ammar sakit tidak bisa mengajar sehingga dia yang mengganti posisi sang ustadz.


"Sekarang kumpulkan tugas yang sudah kalian selesaikan!" pinta Cahaya dengan sangat lembut.


"Siap Bu!" ucap semua santri di sana dengan serempak.


Abidzar tersenyum dan langsung berjalan mendekati sang istri kemudian memberikan tugas kuliah miliknya.


"Selamat siang," ucap Abidzar dengan sangat lembut. Membuat Cahaya tersenyum dan tidak ada yang bisa melihat senyumannya karena dia mengunakan cadar.


'Masya Allah, suamiku benar-benar sangat romantis membuatku semakin menyukainya,' batin Cahaya dengan sangat bergembira.


Abidzar kembali ke tempat duduknya dan bergantian dengan santri yang lain mengumpulkan tugas masing-masing.


Setelah jam pelajaran usai, semuanya bergegas pergi karena sebentar lagi adzan Dzuhur berkumandang. Sedangkan Abidzar membantu Cahaya membawa semua tugas sekolah teman-temannya.


"Terimakasih sudah membantu," ucap Cahaya sambil terus berjalan menuju ruangan guru.


"Sama-sama," jawab Abidzar dengan sangat lembut sambil masuk ke dalam, dan meletakan semua ke meja.


"Selesai!" ucap Abidzar dengan sangat lembut.


"Terimakasih sekali lagi," ucap Cahaya dengan sangat lembut dan menatap wajah sang suami.


"Iya, kalau begitu saya pergi dulu ya. Mbak!" Abidzar bergegas dari sana, karena dia akan terlambat shalat berjemaah di masjid.


Sedangkan Cahaya membereskan semua barulah dia pulang ke rumahnya, karena sore nanti dia akan mengajar mengaji untuk anak di desanya. Setelah libur panjang karena tamu bulanya selama satu Minggu.


"Sebaiknya aku langsung mandi dan menyiapkan makanan untuk suamiku," ucap Cahaya.


Gadis itu bergegas untuk bersiap-siap dengan pakaian sederhana yang selalu di gunakan. Kini Cahaya tengah menyiapkan makanan ke meja makan, karena Juminten sudah menyiapkan semua.


Wanita paruh baya itu tahu kalau sang anak akan lelah jika sampai di rumah dan harus memasak. Sehingga dia yang memasak untuk makan siang semua orang.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2