
Jinan terbangun dan langsung meneteskan obat tetes mata, agar ia terlihat jelas habis menangis dan Abidzar tidak mengetahui kalau ia berbohong.
"Hiks ... hiks ... " Jinan menangis tersedu-sedu.
Abidzar langsung menoleh dan memakai pakaian dan duduk di hadapan Jinna, dengan rasa yang tidak bisa di jelaskan lagi seperti apa.
"Jinan, aku tidak merasa kita sudah tidak bersama," ucap Abidzar.
Sebab, dia sudah berpengalaman berhubungan dengan sang istri, dan Abidzar tidak merasakan hal yang sama.
"Apa maksudmu?!" tanya Jinan dengan sangat emosi.
Gadis itu langsung bangun dan memperlihatkan seprai yang, terkena noda darah kesuciannya.
Abidzar membuka mulut lebar-lebar, dan dia bangun kemudian berjalan dengan cemas sambil menatap ke arah noda darah itu.
"Aku ingin, kau menikahi ku!" seru Jinan.
Abidzar menghentikan langkah dan duduk lemas, karena dia tidak bisa menikahi Jinan. Sebab, ia sudah menikah dengan Cahaya.
"Jinan, apakah kami bisa memberikan aku waktu untuk berbicara pada Cahaya?" tanya Abidzar.
Jinan terdiam dan berpikir, kalau dia harus menuruti keinginan Abidzar agar rencananya mulus lancar.
"Baiklah, aku akan memberikan mu waktu. Asalkan kamu menikahi aku," jawab Jinan.
Abidzar bergegas pergi dari sana sebelum ada yang melihatnya, dan ia berjalan pulang. Namun, tidak seperti biasa pria itu lewat depan, kini dia pulang dari jendela kamar.
Agar, tidak ada yang tahu kalau dia pulang hanya untuk mandi. Setelah sampai di dalam ia pun bergegas mandi besar.
Abidzar masih saja berpikir, karena dia sama sekali tidak merasa melakukan hal itu bersama Jinan. Namun, tadi jelas adanya noda darah.
Sama seperti dia melakukan hal itu untuk yang pertama kali bersama Cahaya dulu.
"Sudahlah, aku juga masih mencintai Jinan, kalau aku menikahinya juga tidak apa. Asalkan Cahaya menyetujui," ucap Abidzar dengan lirih.
Setelah selesai mandi, Abidzar bergegas mengunakan baju kembali dan mengeringkan rambut mengunakan pengering rambut.
Setelah rambutnya kering, ia bergegas pergi dari dalam kamar lewat jendela dan kembali ke kelas yang sudah tidak ada orang lagi di sana.
"Aku lupa ini sudah siang. Pantas saja tidak ada orang lagi," ucap Abidzar.
Pria itu bergegas pergi ke masjid untuk shalat Dzuhur yang sudah tertinggal satu jam, karena dia tertidur pulas di kamar Jinan.
__ADS_1
. . .
Jinan tersenyum penuh kemenangan, karena cepat atau lambat ia akan menikah dengan Abidzar.
"Rencana ku berhasil, dan akan menjadi istri Abidzar." Jinan berjalan dengan perlahan dan menari-nari.
Karena saat ini hatinya sangat bahagia, dia berhasil menjebak sang kekasih hati agar menikahinya.
'Maaf ya mbak, kamu itu terlalu tua untuk Abidzar. Jadi, aku akan menggantikan posisi mu,' batin Jinan licik.
Jinan berbahagia di atas permintaan yang akan di alami oleh Cahaya nantinya, karena dia tahu seperti apa perasaan istri Abidzar kalau mengetahui dia dan pria SMA itu sudah tidur bersamanya.
~ Satu Minggu kemudian ~
Abidzar sangat berubah setelah kejadian itu, karena dia merasa sudah mengkhianati Cahaya, dan tidak ada keberanian untuk membicarakan masalahnya.
Cahaya merasa heran, karena sikap Abidzar belakangan ini sangat dingin padanya. Bahkan, mereka tidak tidur satu ranjang, pria itu memilih tidur di sofa.
Namun, dia tidak mempermasalahkan hal itu, karena ia berpikir sang suami lelah tidak ingin di ganggu olehnya. Tapi, Cahaya tetap memenuhi tugas sebagai seorang istri yang menyiapkan segala keperluan Abidzar.
Hal itu membuat Abidzar semakin merasa bersalah, dan semakin dingin pula pada Cahaya.
"Mas, Cahaya ambilkan susu dulu ya?" Cahaya hendak ke luar.
Namun, tangannya di tarik oleh Abidzar dan ia langsung menoleh dan tersenyum. Karena, ia mengira pria itu sudah kembali seperti sebelumnya.
Cahaya bersedih, karena sudah satu Minggu sang suami selalu makan di kantin santri dan tidak mau makan bersamanya.
"Sebenarnya ada apa ya? Kenapa, mas Abidzar berubah seperti ini?" tanya Cahaya dengan cemas.
Terbesit di pikirannya kalau sang suami berubah karena adanya Jinan di pondok ini, dah ia merasa sangat gelisah.
"Ya Allah, semoga saja mas Abidzar bisa menjaga cinta kami," dia Cahaya.
Gadis itu tidak takut kalau sang suami menikah lagi, karena hal itu tidak haram. Jadi, ia harus belajar ikhlas mulai dari sekarang.
. . .
Jinan merasa mual dan muntah di kamar mandi, karena tadi ia habis memakan bubur ayam kesukaannya.
"Ya ampun, kenapa aku muntah? Padahal, bubur itu kesukaan ku?" Jinan berjalan menuju tempat tidur.
Kemudian dia tidur dan menenangkan perut yang terasa terus berputar-putar tidak karuan, sejak pagi tadi, entahlah ia juga tidak tahu mengapa hal itu terjadi.
__ADS_1
"Astaga! Aku telat datang bulan!" pekik Jinan.
Gadis itu bergegas melihat tanggal dan benar saja dia sudah terlambat satu bulan. Padahal, baru satu Minggu ia berhubungan dengan Abidzar.
"Bagaimana ini?" Jinan bingung harus berbuat apa.
Sehingga dia duduk dan memikirkan cara agar rahasia nya tersimpan rapat, dan tidak ada yang mengetahui.
"Aku bisa mengelabui Abidzar dan yang lain, aku harus bisa," ucap Jinan.
Gadis itu bertekad untuk memberitahu Abidzar kalau dia hamil satu bulan mendatang, karena dia tahu pria itu akan menikahinya.
. . .
Putra memperhatikan Abidzar selama satu Minggu ini, terlihat sangat aneh tidak seperti biasanya.
Pria itu pun menghampiri sang sahabat dan duduk di sampingnya, sambil memegang tangan Abidzar.
"Elo ada masalah?" tanya Putra dan Abidzar menggelengkan kepalanya.
"Elo ngomong aja! Gue gak bakalan bocor," ucap Putra lagi.
Abidzar langsung menoleh dan tersenyum, karena dia memang butuh teman curhat yang tidak bocor agar rahasianya tidak terbongkar.
"Elo yakin?" tanya Abidzar.
Putra menganggukkan kepala dan Abidzar mulai menceritakan semua pada pria itu.
Alangkah terkejutnya Putra mendengar hal itu, dan dia langsung menatap wajah Abidzar dengan dekat.
"Elo yakin, kalau kalian gak ngelakuin apapun? Sedangkan, ada noda darah keperawanan Jinan?" tanya Putra.
Abidzar terdiam, karena dia sendiri juga bingung dengan apa yang di alaminya saat ini.
"Entahlah, gimana gue menjelaskan semua ke mbak Cahaya," ucap Abidzar lirih.
Putra memberikan solusi agar Abidzar bisa berkata jujur, karena hanya itu yang bisa menyelesaikan permasalah pria itu.
"Gue butuh waktu, apa lagi udah satu Minggu gue pisah ranjang dan sama sekali gak ngomong sama mbak Cahaya," ucap Abidzar.
Putra menggelengkan kepala, karena sang sahabat sangat lebay menurutnya sampai pisah ranjang dan tidak mau bicara pada sang istri.
"Zar, pria boleh memiliki istri lebih dari satu. Asalkan dia bisa adil membagi semuanya," ucap Putra.
__ADS_1
Abidzar terdiam, dan berpikir akan berucap dengan jujur agar semua selesai dan tidak ada rahasia atau kebohongan darinya lagi.
BERSAMBUNG.