
Abidzar bergegas pergi dari sana, karena dia senang kalau ia terbukti tidak berbuat salah. Pria itu berlari menyusuri jalan mencari kebenaran sang istri. Namun, tak kunjung jumpa.
Karena, desa itu luas dan Cahaya juga pasti sudah jauh. Sebab, gadis itu pergi sudah dari malam.
"Cahaya, ke mana lagi mas harus mencari mu," ucap Abidzar dengan lirih.
Pria itu sangat mencemaskan calon buah hatinya, dan ia juga ingin menjelaskan pada Cahaya, kalau dia tidak tidur dengan Jinan.
"Ya Allah, lindungilah Cahaya dan anak kami," doa Abidzar.
Pria itu terus berjalan mencari kebenaran sang istri, keseluruhan desa dan kota terdekat. Namun, hasilnya tidak ada.
. . .
Juminten jatuh sakit, karena sang anak belum juga di temukan, dan juga tidak ada jejak ke mana Cahaya pergi.
"Ummi, Mentari cari mbak Cahaya ke kota saja. Ya?" tanya Mentari dengan lembut.
Karena dia menebak sang kakak akan ke kota, agar semua keluarga tidak tahu. Namun, ia bisa merasakan kalau gadis itu ada di kota besar.
"Nak, apa benar kakakmu ada di sana? Kalau tidak, bagaimana dengan kamu?" jawab Juminten dengan pertanyaan.
Mentari tersenyum dan mengelus punggung sang ummi, agar tenang dan mengizinkan dia ke kota mencari kebenaran sang kakak.
"Mentari akan pergi bersama Abidzar, mencari mbak Cahaya, Ummi, karena menantu Ummi itu tidak bersalah," ucap Mentari.
Gadis itu memang berniat mencari sang kakak ke kota bersama kakak iparnya, karena Abidzar terbukti tidak melakukan dosa besar itu.
Juminten tersenyum, karena dia juga bahagia kalau Abidzar tidak menghamili Jinan. Yang artinya sang menantu adalah pria baik-baik.
"Mentari menyesal Ummi, karena sudah memarahi kak Abidzar," ucap Mentari dengan sangat bersalah.
Karena, kemarin dia bertengkar dengan Abidzar dan Jinan. Bahkan, ia juga memaki Abidzar. Sebab, Mentari sudah kalut dalam emosinya.
"Sudah minta maaf?" tanya Juminten, sekaligus mengingatkan sang anak.
Mentari menggelengkan kepala, karena dia belum sempat meminta maaf pada Abidzar, karena pria itu langsung pergi saat Jinan dan Eza menikah.
"Kalau begitu, pergilah dan minta maaf padanya. Bagaimanapun dia adalah kakak ipar mu, walaupun kamu lebih dewasa dari dia," ucap Juminten dengan lembut.
Mentari tersenyum, kemudian gadis itu beranjak bangun dan berkata, "Mentari pergi dulu, Ummi!"
__ADS_1
Mentari bergegas pergi dari sana, karena dia ingin mencari kebenaran Abidzar dan mengajak sang kakak pergi ke kota mencari kebenaran Cahaya.
Saat tengah berjalan, Mentari melihat Jinan dan Eza bertengkar. Namun, dia tidak ambil pusing dan berlalu dari sana.
"Astaghfirullah, ada wanita licik seperti itu di dunia ini," gumam Mentari sambil terus berjalan mencari Abidzar.
Mentari melihat adanya Abidzar di depan gerbang pondok, dan dia langsung menghampiri pria itu.
"Kak Abidzar," panggil Menteri dengan lembut.
Abidzar langsung menoleh, dan menghampiri adik iparnya. Kemudian duduk di bangku sambil terus menatap jalanan, mengharap Cahaya lewat.
"Maafkan aku sudah salah menilai mu, dan semua ucapan ku kemarin," ucap Mentari dengan lembut.
Abidzar tersenyum, ia dia sudah menganggap Mentari sebagai adiknya sendiri, dan memaafkan gadis itu.
"Terimakasih banyak kak, karena sudah memaafkan Mentari," ucap Mentari dengan gembira.
"Sama-sama," jawab Abidzar.
Mentari membicarakan apa rencananya pada Abidzar, dan pria itu menyetujuinya karena dia juga sangat ingin bertemu Cahaya.
. . .
"Ya Allah, kenapa hamba bisa lupa tidak membawa uang," gumam Cahaya.
Gadis itu terus berjalan menyusuri jalanan, dan menghentikan langkahnya di halte bis sambil meminum air mineral.
Saat tengah duduk, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di hadapannya. Cahaya membuka mulut lebar-lebar melihat siapa orang itu.
"Cahaya!"
Inem berlari memeluk Cahaya, membuat gadis itu menangis tersedu-sedu. Karena, dia tidak berpikir akan bertemu sang mertua.
"Kamu di sini? Di mana, Abidzar?" tanya Inem sambil melepaskan pelukannya.
Cahaya bingung, harus menjawab apa? Karena, dia tidak mungkin berkata jujur kalau dia kabur dari pondok.
"Ayo kita pulang, dan ceritakan semua!" Inem membawa Cahaya masuk ke dalam mobil.
Selama di perjalanan, mereka diam dalam pikiran masing-masing sampai tiba di rumah.
__ADS_1
Inem membawa Cahaya duduk di ruang tamu, dan memberikan gadis itu makan karena dia tahu sang menantu belum makan apapun dari pagi.
Ya, Cahaya bercerita kalau dia hanya membawa uang untuk ongkos bus dari kampung ke kota.
'Ya Allah, apa yang sebetulnya terjadi? Kenapa, hamba sama mas Toyib tidak tahu apapun?' batin Inem.
Wanita paru paruh itu menyiapkan semua kebutuhan Cahaya, karena dia senang sang menantu datang ke rumahnya. Walaupun tidak di sengaja.
Setelah selesai makan, Cahaya menceritakan semua pada sang mertua, membuat Inem terkejut. Sebab, Abidzar menghamili anak orang.
"Ummi sangat kecewa pada Abidzar, apa dia tidak memikirkan kamu dan anaknya?" ucap Inem.
"Tidak tahu Ummi, yang pasti tadi mereka sudah menikah," jawab Cahaya lirih.
Gadis itu bersedih, karena dia mengira sang suami sudah menikahi Jinan. Yang artinya ia memiliki madu dan harus berbagi suami.
"Sabar ya Nak, ummi akan mencari tahu apa mereka sudah menikah," ucap Inem dengan lirih.
Hatinya sangat sakit melihat raut wajah sang menantu, yang terlihat jelas saat ini tengah bersedih karena suaminya menikah lagi.
"Tidak apa Ummi, anggap saja ini adalah ujian untuk Cahaya. Tidak usah mencari tahu, karena mas Abidzar harus bertanggung jawab atas kehamilan Jinan," sahut Cahaya dengan tegar.
Inem memeluk sang menantu, karena memiliki hati yang suci, membuatnya sangat bersalah atas apa yang di buat oleh Abidzar.
"Maafkan Abidzar ya Nak, ummi sangat malu atas apa yang dibuatnya," ucap Inem dengan lirih.
Wanita paru baya itu menangis, karena dia malu dan kecewa atas apa yang dilakukan oleh Abidzar pada Cahaya.
"Ummi, setiap manusia, pasti pernah membuat kesalahan apapun. Jadi, semua itu manusiawi kok," jawab Cahaya.
Inem semakin terisak-isak, karena sang menantu sangat sempurna untuk Abidzar. Namun, pria itu menyia-nyiakan hal itu.
'Ya Allah, apa salah hamba? Sampai engkau berikan ujian sebesar ini,' batin Inem sambil berpikir.
Inem membawa Cahaya masuk ke dalam kamar, karena ia ingin sang menantu beristirahat. Agar sang cucu terlalu lelah.
"Tidurlah Nak, ummi mau menyiapkan makan siang untuk kita." Inem bergegas pergi dari sana.
Cahaya tersenyum, karena sang mertua sangat menyayanginya seperti anak sendiri. Namun, dia bukanlah menantu satu-satunya, karena sang suami sudah menikahi Jinan.
"Sekarang, Jinan sudah menjadi menantu ummi juga," ucap Cahaya dengan lirih.
__ADS_1
Gadis itu menangis dan tertidur pulas, karena dia merasa sangat lelah, setelah perjalanan panjang tadi.
BERSAMBUNG.