Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Lamaran Ditolak


__ADS_3

Cahaya tersenyum melihat janin yang masih sebesar biji kacang, tumbuh dengan sehat dah bagus. Abidzar sampai menitihkan air mata melihat calon anaknya walaupun masih sangat kecil.


"Janinnya berkembang dengan baik, dan saya akan memberikan vitamin saja! Sebab, ibu tidak ada keluhan," ucap Dokter Ike.


Abidzar dan Cahaya mengikut saja, karena mereka tidak tahu apapun tentang kehamilan, apa lagi Abidzar yang masih remaja. Bahkan, dia seringkali bersikap kanak-kanak.


"Alhamdulillah," ucap Abidzar dengan Cahaya bersamaan.


Setelah Dokter itu memberikan sejumlah vitamin, Abidzar dan Cahaya bergegas pergi dan menghampiri Eza dan Jinan yang masih di sana.


"Kami duluan, ya?" Abidzar bergegas pergi dari sana bersama Cahaya, dan Jinan masuk ke dalam bersama Eza.


Abidzar mengantarkan Cahaya pulang, setelah itu. Dia langsung ke kantor karena ada beberapa komik yang harus di tanda tangani. Sebab, sang pemilik ingin tanda tangan sang penulis.


Abidzar sangat bahagia karena ada yang menyukai tulisannya. Bahkan, ada beberapa orang yang meminta foto di kantor bersamanya.


Setelah sampai di kantor, Abidzar melihat Exel dan Mentari berdua tengah menyusun buku yang akan di kirimkan pada sang pemilik.


'Apa Bos menyukai, Mentari?' batin Abidzar.


Sebab, dia dapat jelas melihat kalau sang Bos menyukai Mentari dari gaya pria itu yang selalu ingin berdekatan dengan adik iparnya.


"Ini tidak bisa di biarkan, karena Putra menyukai Mentari. Aku harus membantu sahabat ku menikahi Tari," gumam Abidzar sambil berjalan masuk.


"Pagi semuanya," ucap Abidzar dengan lembut.


Mentari dan Exel menoleh, dan Abidzar menghampiri mereka dan langsung mengerjakan tugasnya.


"Tumben telat?" tanya Exel dengan lembut.


Abidzar tersenyum dan berkata, "Tadi habis mengantar istri memeriksa kandungan."


Mentari tersenyum, karena dia sudah tahu sang kakak pergi memeriksa kandungan. Sebab, sebelum dia pergi Cahaya mengatakan hal itu padanya.


"Selamat ya, kamu akan menjadi seorang ayah," ucap Exel dengan lembut.


"Terimakasih banyak, Bos," ucap Abidzar dengan sangat bahagia


Bagaimana tidak bahagia, karena sang anak sehat di dalam kandungan istrinya, dan juga sang istri sehat tidak ada keluhan selama kehamilannya.


"Aaahhh!" jerit Mentari, karena dia terkejut ada cicak jatuh di atas buku yang tengah dia susun.


Membuat Exel dan Abidzar langsung menoleh, dan menghampiri gadis itu.


"Ada apa?" tanya Exel dan Abidzar secara bersamaan.

__ADS_1


Mentari menunjuk cicak itu, dah bergegas menjauh karena dia fobia pada hewan tersebut dari kecil.


'Seingat ku kalau ada cicak jatuh, akan ada pertanda buruk,' batin Abidzar cemas.


Entah mengapa rasa cemas langsung menghampirinya, dan mengingat ucapan Eza beberapa hari lalu.


"Sudah, aku buang," ucap Exel membuat Abidzar tersenyum.


Karena dia sudah membuat sang Bos membuang cicak tersebut, sedangkan Mentari langsung kembali mengerjakan tugas.


"Bos kembali saja ke ruangan, biar saya dan Mentari yang mengerjakan tugas ini," ucap Abidzar dengan lembut.


Exel tersenyum, karena dia melakukan tugas itu untuk mendekati Mentari agar mereka semakin dekat. Ya, pria itu menyukai gadis berhijab tersebut, entah mengapa dia juga tidak tahu.


Padahal, mereka berdua berbeda keyakinan. Sudah pasti akan di tentang kalau mereka saling mencintai.


"Iya Tuan, biar kami berdua saja," tambah Mentari.


Exel tidak bisa menolak keinginan Mentari, dan bergegas pergi dari sana karena dia tidak mau sampai gadis itu kesal padanya.


Setelah kepergian Exel, Abidzar mendekati Mentari, karena dia ingin memberitahu ada pria yang ingin melamar sang adik ipar.


"Siapa pria itu?" tanya Mentari.


Karena, sejujurnya dia sama sekali belum siap menikah. Apa lagi dengan perjodohan, karena dia tidak ingin menikah tanpa cinta.


Mentari langsung curiga pada pria yang memanggilnya kemarin, karena remaja itu adalah sahabat kakak iparnya.


"Putra?" tanya Mentari.


Abidzar terkejut, karena Mentari mengetahui setiap yang di maksud olehnya. Mau tidak mau dia harus berkata jujur.


"Iya. Walaupun umurnya masih muda, dia sudah dewasa dan akan menjadi imam yang baik," ucap Abidzar dengan jujur.


Mentari mendengkus kesal, karena dia tidak menyukai pria remaja itu yang kelihatan seperti preman pasar.


"Katakan padanya, kalau aku tidak menerima lamarannya. Sebab, penampilannya masih seperti preman pasar," jawab Mentari dengan ketus.


Abidzar bergegas pergi dan mengerjakan tugasnya kembali, sambil mengirimkan pesan pada Putra.


Abidzar: Put, elo temui gue di cafe biasa makan siang nanti!"


Abidzar sudah selesai mengerjakan tugas, sebab itu dia meninggalkan Mentari sendiri. Sebab, dia masih banyak pekerjaan menyiapkan naskah baru.


. . .

__ADS_1


Putra tersenyum bahagia, karena sang sahabat akan membahas tentang Mentari, dah dia berharap kalau gadis itu akan menerima lamarannya.


"Semoga saja, aku di terima dan menikah dengan pujaan hatiku," ucap Putra dengan girang.


Pria itu melanjutkan kembali pekerjaannya, sebagai pelayan cafe milik pamannya yang ada di kotanya.


Sebab, dia ingin membeli cincin emas untuk Mentari saat melamar gadis itu kelak.


. . .


Cahaya menyiapkan makan siang untuk sang suami, karena Abidzar akan makan siang bersamanya di rumah, karena pria itu sudah berjanji tadi saat pulang dari rumah sakit.


"Alhamdulillah sudah selesai semuanya," ucap Cahaya dengan bergembira.


Gadis itu menyusun semua makan ke meja dan menunggu sang suami. Sudah satu jam lamanya, dan Abidzar belum juga sampai rumah, sampai Cahaya tertidur pulas di sofa.


. . .


Abidzar bersama Putra makan siang bersama dan dia melupakan janji bersama sang istri, karena dia ingin menyampaikan pesan Mentari untuk sang sahabat.


Abidzar menyampaikan, kalau Mentari tidak ingin menerima lamaran sang sahabat karena penampilannya yang masih seperti preman pasar.


"Zar, ada yang patah. Tapi, bukan kayu," ucap Putra dengan lirih.


Abidzar langsung tertawa lepas, karena sang sahabat sangat lebay hanya karena di tolak lamarannya.


"Tapi Zar, kok adikmu itu tahu aku orangnya?" tanya Putra penasaran.


Sebab, Mentari dengan muda menebak kalau dia orang yang ingin melamarnya. Padahal, Abidzar tidak memberikan bocoran sedikitpun.


"Sudahlah, mungkin karena kamu sering mengintip dia di kantor, apa lagi kejadian yang kemarin," jawab Abidzar.


Putra langsung tersenyum, saat mengingat kembali saat dia memanggil Mentari, gadis itu malah berlari naik ojek.


"Sudahlah, aku mau kembali bekerja," ucap Putra.


Abidzar langsung mengingat kalau dia ada janji pada sang istri, dan langsung bergegas pergi dari sana.


"Ya Allah, bagaimana ini? Kenapa aku bisa lupa janji pada Cahaya," gumam Abidzar sambil terus mengemudikan motornya.


Rasa menyesal dan bersalah menghampirinya, karena sudah ingkar janji pada sang istri.


'Semoga saja Cahaya tidak marah padaku, dan dia bisa memaafkan kesalahan yang aku berbuat,' batin Abidzar lirih.


Setelah sampai di apartemen, dia langsung masuk dan melihat sang istri tertidur di sofa sambil memegang perut.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2