
Setelah selesai makan, Abidzar langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya bersama Cahaya. Karena, dia susah tidak sabar lagi ingin bertemu.
Namun, dia malah fokus memeriksa ponsel sang istri karena merasa sangat cemburu ada pesan masuk dari ustadz Ammar.
Ustadz Ammar: Assalamualaikum Cahaya.
Hati Abidzar seakan di bakar oleh api cemburu sehingga dia langsung menghampiri sang istri, yang tengah menyisir rambut di sofa.
"Ada apa?" tanya Cahaya dengan sangat penasaran, mengapa tiba-tiba suaminya cemberut.
"Lihat itu, pak Ammar mengirimkan pesan," jawab Abidzar dengan sangat manja.
Cahaya langsung melihat pesan masuk dari Ustadz Ammar dan tersenyum, karena suaminya sangat cemburu.
"Rasa cemburu itu wajar," ucap Cahaya dengan sangat lembut.
Abidzar tersenyum karena sang istri tahu kalau dia sedang cemburu pada pria yang mengirimkan pesan pada Cahaya.
"Maaf, saya tidak bisa melihat dia menyapa Mbak. Walaupun itu ucapan salam," ucap Abidzar.
Cahaya menganggukan kepalanya, karena dia paham dengan apa yang di rasakan oleh Abidzar sehingga dia menjelaskan apa maksud pria itu mengirimkan pesan padanya.
"Baiklah, sekarang saya yang akan memegang ponsel Mbak," ucap Abidzar dengan rasa cemburu yang masih membara di dalam hatinya.
"Mbak mau lihat komik dan novel yang saya buat?" tanya Abidzar dan Cahaya menganggukan kepalanya.
Abidzar memperlihatkan semua karyanya di salah satu aplikasi yang terkenal, dan dia juga banyak mendapatkan rangking di aplikasi tersebut.
"Masya Allah, kamu sangat berbakat," ucap Cahaya dengan sangat kagum.
Abidzar tersenyum karena sang istri memujinya, sehingga dia memperlihatkan uang yang di dapat di aplikasi tersebut.
"Ini semua kamu kumpulan berapa lama?" tanya Cahaya sambil melihat prestasi sang suami.
"Tidak lama kok, hanya satu tahun saja," jawab Abidzar.
Cahaya benar-benar sangat kagum pada Abidzar yang sangat berprestasi, bisa membuat Nobel dan berbagai komik menarik.
Abidzar dan Cahaya membaca komik buatan pria itu dan mereka sama-sama suka, karena mereka satu jalan menyukai cerita lucu dan positif.
Putra sedang bermain ponselnya di dalam kamar, karena dia sudah sangat merindukan ponselnya. Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan ternyata Eza yang masuk.
"Lek, gue kangen banget sama elo," ucap Eza sambil memeluk sang sahabat.
__ADS_1
Putra melepaskan pelukannya, karena dia masih normal tidak mau di peluk oleh sesama jenis.
"Gue masih norma, lek!" ucap Putra dengan sangat kesal.
Eza tertawa dan menceritakan kalau Jinan sangat gila semenjak kepergian Abidzar, beberapa bulan ini.
"Lebih parah lagi, gue satu pondok sama Abidzar," ucap Putra dan Eza membuka mulut lebar-lebar.
"Yang benar?" tanya Eza dengan sangat terkejut.
Putra menganggukan kepalanya, dan menceritakan semua kejadian di pondok sampai Abidzar menikahi gadis yang dewasa.
"Ya ampun, gue benar-benar gak nyangka kalau dia menikahi gadis dewasa dan bercadar. Lalu, bagaimana dengan Jinan?" ucap Eza dengan pusing memikirkan tentang Abidzar.
Karena dia tahu sang sahabat sudah berpacaran sejak masih duduk di bangku sekolah SMP sampai saat ini belum ada kata putus.
"Sudahlah, biarkan mereka menyelesaikan itu. Kita cukup diam dan menonton," ucap Putra.
Karena dia tidak mau ikut campur urusan sang sahabat yang lumannya rumit, saat di pikirkan tadi dan ia tidak mau terlibat dalam masalah itu.
"Gue setuju," ucap Eza.
Pria itu juga tidak mau berurusan dalam kisah cinta segitiga antara Abidzar dan kedua gadis beda generasi.
Keesokan harinya . . .
Pagi ini Cahaya dan Abidzar akan berjalan-jalan ke kebun binatang, karena di sana sangat sejuk dan menenangkan hati.
"Cahaya, bawa saja minum ini, Abidzar tidak suka minum beli," ucap Inem dengan sangat lembut.
"Baik Ummi," jawab Cahaya, sambil menyiapkan air minum untuk sang suami.
Inem menyiapkan sarapan dan memangil sang suami, sedangkan Cahaya langsung duduk karena Abidzar sudah datang.
"Assalamualaikum bidadari ku," ucap Abidzar dengan sangat sopan dan lembut, membuat Cahaya Semakin luluh.
"Wa'alaikumsalam," jawab Cahaya.
Abidzar duduk di samping sang istri dan minum susu rempah buatan Cahaya, yang sangat di sukai nya.
"Istriku benar-benar sangat pandai membuat suaminya bahagia," ucap Abidzar sambil menghabiskan susu tersebut.
Cahaya sangat bahagia bisa menjadi istri Abidzar, yang selalu bahagia dibuat oleh pria itu.
__ADS_1
'Ya Allah, terimakasih sudah menghadiahkan suami seperti Mas Abidzar,' batin Cahaya.
Inem dan Toyib baru tiba, dan melihat kedua anak nya tengah tertawa bersama, sehingga mereka juga ikut bahagia.
"Kalian sangat serasi, semoga berjodoh sampai mau yang memisahkan. Aamiin," ucap Toyib.
"Aamiin," sahut semua yang ada di sana.
Keluarga kecil itu makan dengan sangat lahap dan perlahan, sampai selesai dan Abidzar bersama Cahaya bergegas pergi. Sebab, takut terlalu siang.
Abidzar membawa Cahaya ke taman dan kebun binatang dengan mengendarai motor matic miliknya, dengan sangat perlahan. Sebab, dia takut membuat sang istri dalam bahaya.
"Mas, kota ini sangat enak ya. Udaranya masih sejuk belum tercemar, polusi," ucap Cahaya sambil terus menikmati pemandangan indah.
Abidzar tersenyum karena Cahaya melingkarkan tangan di pinggangnya, dan hal itu membuatnya sangat bahagia.
"Indahnya pacaran setelah menikah, semuanya halal di sentuh," ucap Abidzar dan Cahaya tersenyum bahagia.
Abidzar memang berpacaran dengan Jinan. Namun, dia masih menjaga dalam ajaran Islam dan menjaga jarak.
Abidzar jadi mengingat Jinan, dan akan memutuskan hubungan bersama gadis itu nanti Malam. Karena, ia tidak mau sampai ada kesalahpahaman.
Setela sampai, Abidzar dan Cahaya masuk ke dalam dan berjalan menuju taman hati yang banyak di hiasi bunga berwarna merah. Bahkan, ada yang berbentuk hati.
"Subhanallah, indahnya ciptaan Allah," ucap Cahaya kagum melihat taman bunga itu, yang terlihat sangat cantik.
Abidzar membawa Cahaya duduk di taman dan menikmati setiap hembusan angin. Namun, tiba-tiba pria itu mendengar suara yang sangat familiar sekali di telinganya.
'Bukankah suara itu adalah dia?' batin Abidzar sambil celingak-celinguk.
Mata pria itu membulat sempurna saat melihat wanita yang tadi ia pikirkan ada di hadapannya.
"Abidzar!" teriak Jinan saat melihat adanya pria yang sangat di rindukan.
Cahaya langsung menoleh dan terkejut saat seorang gadis yang seumuran Abidzar, datang dan memeluk suaminya di depan matanya.
Abidzar langsung melepaskan pelukannya, dan bangun kemudian menatap ke arah sang istri yang terlihat hanya dia saja.
"Zar, aku rindu sekali sama kamu. Dari mana aja kamu?" tanya Jinan sambil melirik ke arah wanita bercadar yang ada di samping Abidzar.
"Zar, dia siapa? Apa dia Tante kamu?" tanya Jinan lagi.
Cahaya hanya diam saja saat gadis itu bertanya pada suaminya, karena ia ingin tahu apa jawaban Abidzar.
__ADS_1
Bersambung.